Posted by on Jun 10, 2009 in Tips Menulis | 2 comments

Oleh: Radinal Mukhtar Harahap

writinglettersMenulis opini, bagi sebagian orang, merupakan pekerjaan yang susah-susah gampang. Banyak tips yang diberikan dalam menulis opini. Baik itu dengan mengenal ciri khas koran tersebut, ataupun dengan mengenal langsung redaksinya.

Walaupun begitu, dalam tulisan singkat ini, saya tidak akan membahas mengenai cara mengenal ciri khas koran ataupun cara mengirim tulisan tersebut. Dalam tulisan ini, saya akan membahas cara-cara menghasilkan sebuah opini yang akan dituangkan kepada publik. Terlepas dari definisi pasti mengenai opini, secara garis besar opini dapat diartikan dengan sebuah pendapat yang bersifat argumentatif atau mempunyai landasan. Setidaknya, ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk menulis sebuah opini.

Mencari Permasalahan
Yang dimaksud dengan permasalahan di sini adalah hal yang akan kita bahas. Bisa melalui berita-berita di koran, bisa juga melalui peringatan-peringatan hari besar, maupun musibah ataupun kejadian-kejadian penting.Sebagai contoh, permasalahan yang akan kita bahas adalah mengenai KORUPSI.

Menentukan Sikap
Untuk mengemukakan pendapat berupa opini, tentulah kita harus menentukan terlebih dahulu sikap terhadap permasalahan yang ada. Kita mendengar berita mengenai deklarasi calon presiden A dan B, tentulah setelah itu kita harus menentukan sikap. Apakah kita pro terhadap deklarasi tersebut, atau kita kontra. Atau ada hal lain yang ingin kita sampaikan! Yang terpenting, tentukanlah sikap yang harus kita ambil. Karena permasalahan yang kita bahas tadi adalah korupsi, dalam hal ini kita menentukan sikap untuk MENOLAKNYA.

Titik Permasalahan
Dalam sebuah permasalahan, tentulah banyak titik poin yang bisa kita bahas. Jika misalnya kita membahas mengenai pendidikan di Indonesia, kita bisa membahas mengenai pendidikan gratis, juga bisa mengenai kualitas guru, bisa membahas fasilitas pendidikan dan lain sebagainya. Titik permasalahan ini harus sesuai dengan permasalahan yang kita bahas dan sikap yang kita pegang.Dalam permasalahan korupsi yang akan kita bahas, kita akan mempersoalkan mengenai MOTIVASI KORUPSI.

Mencari Data
Nah, setelah kita menentukan titik permasalahan yang akan kita bahas, kita tinggal mencari data-data yang sesuai dengan pembahasan kita. Cara memperoleh data tidak akan saya bahas dalam tulisan ini, toh data dapat kita peroleh dari manapun, media massa ataupun elektronik. Data untuk opini korupsi yang kita kumpulkan adalah mengenai PEJABAT PEMERINTAH YANG KORUPSI. Selanjutnya data mengenai MOTIVASI.

Mengolah data
Tahap ini adalah tahap untuk mempelajari data-data yang kita peroleh dan kaitannya dengan permasalahan yang dibahas. Disinilah perlu latihan ekstra dan berulang-ulang agar kita dapat menafsirkan data yang diperoleh agar sesuai dengan fakta yang ada.

Setelah mengolah data berikut permasalahannya, kita tinggal menuliskannya. Teknik menuliskannya dapat dengan mempelajari opini-opini yang ada. Ingatlah APA YANG DIBACA AKAN SANGAT MEMPENGARUHI TULISAN. Bila sering membaca opini, tulisan-tulisanpun akan cenderung serius. Begitu pula bila sering membaca novel dan cerpen, bahasa sastra akan menjadi ciri khas tulisan.

Berikut opini saya mengenai MOTIVASI BERPOLITIK POLITIKUS yang dimuat di HARIAN SURABAYA PAGI edisi sabtu 16 MEI 2009

Motivasi Berpolitik Politikus
Berita korupsi para anggota dewan di Jawa Timur tidak pernah menghilang. Dari DPRD Surabaya, Sidoarjo, Probolinggo hingga malang. Disurabaya, kasus gratifikasi yang dilakukan Ketua DPRD Surabaya merupakan salah satu contohnya. Dimalang, Zaenuri menjadi terdakwa kasus korupsi tunjangan DPRD Kota Malang. Belum lagi yang di Sidoarjo, berpuluh-puluh anggota maupun mantan anggota DPRD yang dijebloskan Kejaksaan Negeri (Kejari) ke Lembaga Pemasyarakatan Delta Sidoarjo. Terakhir, wakil ketua DPRD Sidoarjo Sumi Harsono menyerahkan diri kepada kejari setelah beberapa hari menghilang dengan dalih menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai anggota partai politik tertentu.

Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar dalam benak kita masing-masing yang penting untuk dijawab dan diselesaikan bersama. Apa motivasi berpolitik para anggota DPRD secara khusus dan politikus ‘nakal’ secara umumnya? Apakah mereka memang ‘bercita-cita’ untuk melakukan ini sebelum memegang amanah rakyat?

Secara garis besar, Toto Suparto mengatakan bahwa ada dua motivasi besar dalam kiprah para politisi di Indonesia saat ini. Pertama adalah kebutuhan biologis. Mengutip pendapat filosof politik Arendt, Toto Suparto mengatakan bahwa berpolitik dengan mengedepankan kebutuhan biologis akan menjadikan politikus seperti binatang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja. Secara singkat ia mengistilahkan sebagai politikus yang bekerja.

Sedangkan motivasi kedua adalah motivasi berkarya. Yaitu motivasi yang berlandaskan nilai guna. Ukuran yang berlaku disini adalah kegunaan seorang politisi bagi rakyat luas. Inilah yang membedakan manusia dan binatang. Manusia dapat berkarya dengan memperlihatkan karyanya pada rakyat banyak. (Toto Suparto:2009)

Motivasi
Dalam kajian pengembangan diri, ada dua faktor yang mendorong manusia melakukan sesuatu. Yang pertama untuk mendapatkan kenikmatan (gaining pleasure) dan kedua untuk menghindari ketidaknyamanan (avoiding pain). Yang pertama dilihat dari prestasi, penghasilan yang layak, kebaikan materi lahir maupun batin dan lain sebagainya. Sedangkan yang kedua dapat dilihat melalui terhindarnya dari rasa malu, rasa takut, lingkungan yang buruk, kekhawatiran, atau jauh dari kesengsaraan dan penderitaan.

Akan tetapi, pada tahun 1959, melalui kajian dan penelitian terhadap para manajer perusahaan, Frederick Herzberg menyimpulkan bahwa “menghindari ketidaknyamanan” tidak bisa dijadikan dasar motivasi seseorang. Walaupun menghindari ketidaknyamanan dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu, namun dorongan tersebut lebih berjangka pendek. Artinya, dorongan tersebut akan hilang seiring hilangnya ketidaknyamanan.

Farid Poniman, Indra Nugroho dan Jamil Azzaini, master trainer pada sebuah lembaga konsultan pengembangan SDM di Jakarta, mengelompokkan motivasi dalam tiga kategori dasar, yaitu to be, to have, dan valency.

To be adalah keinginan untuk menjadi. Dalam hal ini dikaitkan pada proses pengejaran prestasi pada tahap akhir. To have adalah keinginan untuk memiliki sesuatu. Dalam hal ini dikaitkan pada hasil akhir yang berupa materi. Sedangkan valency adalah tingkat kualitas diri seseorang dalam mengarahkan hidupnya. Dalam hal ini berkaitan dengan kapasitas yang ada dalam manusia itu sendiri.

Dari ketiga motivasi tersebut, motivasi to have adalah satu-satunya motivasi yang menjadi parasit bagi kedua motivasi lainnya. Ketika to have lebih tinggi, ia cenderung akan membatasi to be dan valency. Ia akan membuka pintu menghalalkan segala cara atau kesesatan untuk memperoleh hasil akhir yang ia inginkan, dan secara tidak langsung ia akan merusak proses menuju prestasi (to be) dan pengembangan kapasitas diri (valency).

Akan tetapi jika to have dapat direndahkan dibandingkan to be dan valency, kesuksesan jangka panjanglah yang akan diraih. Karena prioritas yang dimiliki adalah prestasi dan kapasitas diri. To have, dalam hal ini cenderung menjadi efek samping dari prestasi yang terus melejit dan kapasitas diri yang terus bertambah. (Kubik leadership).

Motivasi Berpolitik
Sekarang, saatnya kita melihat dan memahami motivasi para politikus negeri ini. Apakah motivasi mereka untuk terjun kedunia politik? Menyejahterakan rakyatkah? Atau mencari fasilitas mewah? Menyuarakan aspirasi rakyatkah? Atau menyuarakan aspirasi kelompok atau partai?

Hal ini dapat dilihat juga dari partai politik yang mengusungnya. Iming-iming bonus bagi para caleg yang menang adalah sebuah motivasi to have yang membahayakan. Walhasil, tidak heran jika banyak caleg yang gila karena tidak mendapatkan bonus tersebut. Jangankan bonus, modal yang digunakan untuk mendapatkan bonus tersebut saja tidak kembali.

Dalam bahasa Toto Suparto, politisi seperti ini tak ubahnya seperti binatang yang bekerja demi menghidupi dirinya saja. Demi kelayakan kehidupannya saja. Politisi yang baik adalah politisi yang mengedepankan prestasi dan kapasitas dirinya agar terus bertambah demi kesejahteraan rakyat.

Tidak usah ditanya kepada politisi apa motivasi mereka, karena telah jelas terpampang dalam baliho-baliho politik. Sekarang, rakyatlah yang mengambil peran memantau prestasi-prestasi para politisi. Apakah politisi kita cenderung seperti binatang atau manusia yang mulia? Wallahu a’lam bis Shawab.

Mengirimkannya
Salah satu tujuan menulis adalah agar dibaca. Dan salah satu cara agar tulisan dapat dibaca orang banyak adalah dengan mengirimkannya ke media. Kirimkanlah, baik menurut email ataupun pos. Untuk hal ini, bisa diketahui dari media itu sendiri. Karena ada media yang maunya dikirimi melalui email, dan ada juga melalui pos.

Selamat mencoba tips menulis opini ini. Sekali lagi saya mengingatkan bahwa tips ini hanyalah sekedar ALAT BANTU. Jika tidak membantu, silahkan berpaling kepada tips-tips lain. Semoga bermanfaat.[]

Penulis adalah alumnus Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Kini nyantri di Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya

468 ad

2 Comments

  1. 4-10-2013

    mencoba menulis opini…
    terima kasih :)

  2. 6-10-2009

    ya nal betul tu…. sblmny q pgn berterima kasih kpd mu nal, krn berkat doronganmu tanpa kenal lelah, q skrq mulai menyukai dunia tulis menulis. Dan alhamdulillah karya awalq berupa gagasan langsung dimuat di jawapos. Kemudian q mncoba ngirim lg, namun g dimuat-muat. Tp itu q jdikan motivasi agar lebih baik lg dlm menulis. Eh nal, q tnya, label penulis di setiap opini yg qt kirim tu harus sama ta? dan saya sgt setuju dgn pa yg pyn jlskan diatas, krn disitulah titk point dari opini. Mungkin yg saya alami ksulitannya adalah dlm mngolah data, dmn data yang olah ujung2nya bsa mnjawab ato mndukung dari opini qt. Brp lama proses pyn untuk bsa membuat opini yg ketika dbca jelas, dan memahamkan? Bravo.. dunia tulis-menulis!!!!!

Berikan Komentar

%d bloggers like this: