Rayakan Hidup dengan Ikhlas

Posted by on Jan 22, 2012 in Esai | 1 comment

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc Setiap kita pasti pernah menolong orang lain. Namun, dalam setiap kali menolong seseorang perasaan kita tentu berbeda. Ada yang melupakannya setelah berbuat. Ada pula yang selalu diingat. Nah, yang mana perasaan yang mesti dimiliki? Tak mesti dijawab dengan kata-kata, karena Anda pun sudah bisa menjawabnya. Namun pertanyaanya, kenapa kita terkadang bisa melupakan perbuatan yang telah dilakukan? Jawabannya, karena kita merasa apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Padahal yang biasa itu sebenarnya memiliki nilai yang luar biasa. Karena yang biasa itu tersisipi keikhlasan untuk melakukannya. Ikhlas? Ya, I-K-H-L-A-S. Saat itu, secara tidak langsung, telah menjelmakan empat kehendak ikhlas dalam diri. Pertama, kehendak ikhlas beramal untuk mengagungkan Allah Swt. Kedua, kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah Swt. Ketiga, kehendak ikhlas untuk meraih balasan dan pahala dari Allah. Keempat, kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan melakukan hal yang ikhlas. Acap kali kita melakukan hal ringan saat membantu orang lain keempat kehendak tersebut dapat dengan mudah diraih. Bahkan secara tidak langsung kita membuktikan ke-Mahamelihat-an Allah terhadap diri kita, seperti yang difirmankan, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.” Namun, kenapa setiap kali kita melakukan perbuatan yang ‘bernilai besar’ untuk ikhlas? Jawabannya, karena belum merasuk dalam diri kita pesan hadis qudsi yang bernada, “Ikhlas adalah rahasia  dari rahasia-Ku, yang hanya Kutitipkan ke dalam hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” Secara sederhana, hadis ini berpesan, jika ingin selamat dari riya maupun tipu daya setan, maka ikhlaslah dalam beramal. Jadikan hanya Allah tujuan kita. Meskipun ada hasil yang didapat dibalik pekerjaan, tetap jadikan ikhlas sebagai tonggak utamaya. Sehingga wajar bila dalam melakukan pekerjaan kita harus selalu mengingat ucapan Imam al-Qusairy yang nadanya, “bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah, meski yang diperbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu menolong orang lain tetap dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang menolong. Ia bekerja tetap Allah yang jadi tujuannya, karena Allah memang Dzat yang suka berbuat untuk hamba-hamba-Nya.” Pernyataan Imam al-Qusyairi tersebut senada dengan pengertian ikhlas dalam pandangan imam Ali Kwh, “Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.” Artinya, orang ikhlas adalah orang yang tidak memanggil siapa pun untuk melihat pekerjaan kecuali Allah Swt. Cukup Allah Swt. menjadi saksi atas perbuatannya. Sehingga orang yang ikhlas adalah orang yang sengaja membuat jiwanya menjadi independen, merdeka, dan tak dibelenggu oleh pengharapan yang berbuah pujian. Hatinya selalu tenang. Apapun jabatan yang diampunya akibat keikhlasannya dalam bekerja tak membuatnya terpesona. Andaipun jabatannya tak naik meski dia sudah bekerja dengan maksimal, ia pun tak iri atau minder. Karena yang menjadi tujuannya adalah Allah, bukan jabatannya. Jika sudah demikian, ia berada pada posisi yang dikatakan Rasulullah Saw., “Belenggu tak akan masuk dalam hati seorang muslim, jika ia menetapi tiga perkara: ikhlas beramal hanya karena Allah, memberi nasehat yang tulus kepada penguasa, dan aktif berkumpul dengan masyarakat muslim.” Jika ikhlas sudah menjadi pola hidupnya, maka ia tak tergolong dalam apa yang dikatakan kata Abu Ya’qub as-Susi, “Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.” Oleh karena itu, mari rayakan hidup kita dengan ikhlas dalam bekerja dan beramal. Meski kita bekerja di instansi, pandanglah bahwa keikhlasan bekerja yang kita lakukan adalah karena Allah, bukan karena instansi. Meski tak dapat tambahan lebih dari sisi materi, tapi dari sisi Allah mendapatnya. Karena Allah senantiasa menyuruh kita untuk melakukan sebaik-baik pekerjaan. (QS. Al-Mulk: 2)[]   Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus  Lembaga Baca Tulis (eLBeTe)...

Read More

Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Posted by on Jan 21, 2012 in Tips Menulis | 7 comments

Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif  di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?” Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ” Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe… Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”. Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut: Mulailah dari sapaan. Bisa ditulis sebagai berikut: (Sobat muda muslim, gimana kabar kamu semua? Semoga tetap sehat, tetap sabar, tetap istiqomah dalam Islam. Jumpa lagi dengan tulisan saya di blog ini.. dst.. dst.) Insya Allah selanjutnya akan mengalir deras. Bisa dimulai dengan kutipan. Contoh: (Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (Hadits ditakhrij oleh Muslim). Setelah kutipan salah satu hadist Qudsi ini, bisa dilanjut dengan menuliskan pembahasan yang kita ingin tulis tersebut. Insya Allah selanjutnya kita lancar. Oya, boleh juga menulis kutipan dari pernyataan teman, guru atau orang tua atau siapa saja. Misalnya: (“Kamu harus rajin belajar!” kata-kata itu masih selalu aku ingat. Pesan dari ibu yang senantiasa aku ingat.) Seterusnya, bisa dilanjut dengan kalimat lainnya yang insya Allah bisa lebih mengalir. Bisa dimulai dari pertanyaan. Misalnya: (Belum tahu cara memilih baju? Coba ikuti saran dari ahlinya.) Seterusnya bisa ditulis lebih detil setelah kata atau kalimat pertama tadi ditulis. Insya Allah akan lebih lancar lagi. Boleh dengan cerita? Silakan saja. Misalnya: (Hari ahad kemarin adalah pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, hari itu saya untuk pertama kalinya belajar mengendarai sepeda motor.) Setelah itu, insya Allah bisa dilanjut dengan tulisan yang lebih panjang lagi. Baik, sebenarnya itu hanyalah contoh. Dan, sekadar ‘alat’ saja untuk memulai kalimat pertama dalam menulis. Artinya, masih banyak cara lain. Tetapi setidaknya empat poin tadi bisa membantu memudahkan untuk tak lagi bingung menulis kalimat pertama. Silakan divariasikan saja sesukanya, semaunya. Tentu, selama itu masih cocok dengan judul dan isi tulisannya. Untuk kian menghasilkan variasi dalam memulai...

Read More

Resolusi 2012 dan Surat Al-‘Ashr

Posted by on Dec 30, 2011 in Esai | 0 comments

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc Apa yang biasa dilakukan orang-orang produktif di akhir tahun? Jawabannya, menggagas resolusi. Karena resolusi menjadi pilar untuk menentukan harapan demi harapan yang ingin diraih di tahun yang bakal dilalui. Harapan tersebut selalu berisi keinginan- keinginan untuk menempatkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Bolehkah menggagas resolusi dalam pandangan Islam? Jawabannya,  boleh. Karena Allah SWT. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18) Berdasarkan ayat tersebut, resolusi yang dianjurkan dalam agama Islam adalah resolusi yang arahnya mesti menapaki jalan terbaik menuju akhirat. Artinya, tak boleh ada kezhaliman yang terjadi dalam meraih harapan demi harapan yang ditargetkan. Semuanya harapan yang dilakukan semata-mata untuk makin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lalu, adakah konsep resolusi yang terbaik dalam Islam? Ada. Adalah surat al-‘Ashr konsep terbaik untuk menjadi tolak ukur menggagas resolusi, karena di dalamnya tercakup peluang untuk meraih harapan-harapan yang positif, baik di dunia maupun di akhirat. Malah Imam Syafi’I, seperti yang dimaktubkan Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juz ‘Ammanya, sangat tegas menyatakan keistimewaan suat al-‘Ashr, “Kalau seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kecuali surat ini kepada hamba-hambanya, niscaya sudah cukup bagi mereka.” Tentu saja ucapan Imam Syafi’i tersebut membuktikan bahwa surat al-‘Ashr memiliki rahasia yang luar biasa. Makanya, bila ingin menggagas resolusi tahun 2012 layak merujuk ke surat al-‘Ashr. Karena di dalamnya terdapat empat kecerdasan yang siap membimbing siapa saja yang ingin menjadi orang yang berguna dan berbuah kesuksesan. Kecerdasan yang menjadi penyebab utama untuk bisa meraih apa yang diinginkan sesuai dengan perintah Allah SWT. karena tanpa keempat kecerdasaran tersebut akan sia-sia harapan yang ingin diraih dan bahkan minus nilai ibadah. Dalam surat al-Ashr yang pertama, “Demi Masa”, Allah menjadikan masa sebagai landasan dasar. Meski ulama berbeda maksud dari kata al-‘Ashr, namun intinya Allah menganjurkan umat Muhammad dalam menjalani hidup harus memiliki kecerdasan intelegensi. Karena waktu melambangkan kecerdasan intelegensi. Sedangkan intelegensi sendiri berkembang seiring tingkat kemampuan mental (mental age) dan tingkat usia (chronological age). Dalam menggagas resolusi hendaknya umat Islam tetap menjadikan peningkatan kecerdasan intelegensi menjadi bagian dari yang mesti diraih. Dengan memiliki kemampuan meningkatkan kecerdasan intelegensi mampu  membuktikan bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai ilmu, dan selalu siap untuk mengisi waktu demi waktu dengan belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bila dikaji pada diri Rasulullah SAW., kecerdasan intelegensinya memang cukup terlihat. Kecerdesan intelegensi sangat sebanding dengan sifat fathonah (cerdas). Muhammad muda berbeda dengan remaja muda di sekitarnya saat itu. Jika remaja muda sibuk bermain, maka Muhammad muda menyibukkan diri dengan berdagang untuk meraih masa depan yang gemilang. Dia sibuk ikut berdagang dengan pamannya hingga mampu mendagangkan barang Khadijah binti Khuwailid. Kecerdasannya dalam berdagang juga tidak stagnan. Ia selalu cerdas dalam memasarkan. Ia menggunakan beragam metode untuk menarik minat konsumen. Pertanyaannya, bukankah kecerdasan Muhammad muda dalam berdagang adalah bagian dari kecerdesan intelegensi? Dengan kecerdasan intelegensi yang dimiliki, Muhammad muda bisa mendagangkan barang dagangan Khodijah dengan keuntungan yang mengejutkan. Adapun ayat kedua surat al-Ashr, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” menjadikannya sebagai landasan finansial. Karena di dalam ayat ini ada bicara rugi, maka lawannya adalah untung. Bila bicara untung-rugi tentu bicara masalah perdagangan. Karena itu, dalam menggagas resolusi harus ada nuanasa dagang. Namun bukan artinya harus ada keinginan menjadi pengusaha atau pedanag di tahun mendatang. Tapi nuansa dagangnya yang harus dimiliki.Yaitu, adanya nilai-nilai dagang Rasulullah menghiasi kehidupan sehari-hari, seperti jujur (ash-shiddiq), terpercaya (al-Amiin), dan lain-lain. Harus mampu meraih harapan-harapan yang ingin diraih dengan konsep jujur dan terpercaya. Jika selama ini nuansa dagang Rasulullah tersebut...

Read More

Detik-Detik Menyentuh

Posted by on May 10, 2010 in Cerpen, Fiksi | 0 comments

By: Pipiet Senja Hari ke-99 di ruang isolasi sebuah rumah sakit pemerintah. Mesin pencatat detak jantung masih memperdengarkan bunyinya yang khas. Mendengung, menggaung dan memecah nuansa muram ruangan serba steril, serba putih dan serba hening. Yah, di sinilah aku berbaring dalam keadaan sangat parah. Para dokter menyebutnya sebagai situasi in-coma. Sesungguhnya kupingku masih mendengar. Otakku bahkan masih bisa berpikir. Meskipun kadang timbul-tenggelam. Persis hasil pencatat detak jantung di sebelah tempat tidurku itu. Kadang berdetak-detak teratur, kadang pula menaik dan menurun. Suatu kali malah sempat mendatar…, beberapa detik! Di ruangan sangat hening ini aku sesungguhnya tidak sendirian. Ada tiga tempat tidur yang selalu diisi. Tapi mereka tak pernah berlama-lama tinggal di sini. Paling beberapa jam, dua atau tiga hari mereka biasanya langsung dipindahkan. Ada yang pindah ke ruang rawat inap biasa. Tapi lebih banyak yang diangkut ke ruang jenazah! Satu-dua di antaranya aku kenal dengan baik. Meskipun hanya beberapa saat. Kami berkomunikasi ala pasien in-coma. Caranya hanya kami yang paham. Kamu nggak percaya kan? Ya sudah, toh aku sudah lama juga nggak punya kepercayaan itu. Terutama dari orang-orang paling dekat, orang serumah. Aku jadi teringat lagi dengan salah seorang mantan tetanggaku. Sekitar dua minggu yang lalu, tengah malam, ranjangnya didorong ke sebelahku. Seorang koas mengatakan bahwa pasien itu baru menjalani operasi. Urat di pergelangan tangannya nyaris putus. Kondisinya sangat parah. Terutama karena tak ada semangat hidup lagi dari dalam dirinya. Padahal dia begitu muda dan cantik. Umurnya tentu setahun lebih muda dariku. “Aku memang mau bunuh diri!” cetus Mona setelah ruangan kembali hening. Hanya seorang perawat jaga di ruang sebelah. Tiga rekannya biasanya bergiliran tidur di ruang piket seberang. “Pasti gara-gara putus cinta,” komentarku mendadak sinis. Orang berjuang setengah mati kepingin hidup. Ini kok malah sengaja melenyapkan kehidupan, anugerah terindah dari Sang Khalik. Sungguh tak tahu diri anak manusia ini! “Bukan,” bantahnya luka sekali, seiring bunyi detak jantungnya yang semakin melemah. “Gara-gara nafsu bejat lelaki itu…” “Oh, maaf… Lelaki yang mana?” cecarku khawatir dia keburu lewat. “Itu yang paling sok sedih, sok sibuk, sok banyak berdoa, huuh! Munafik jahanam!” Dan aku ingat, memang ada seorang lelaki dengan ciri-ciri seperti itu di antara rombongan pengantar. “Sepertinya, eh, pantasnya dia ayahmu?” “Seharusnya kuhormati sebagai ayah kandungku. Nyatanya dia sudah menghancurkan hidupku…” Aku merasa gadis itu sudah mau menyerah. Tak sudi lagi mempertahankan hidupnya, bahkan barang semenit pun! “Apa yang sudah dilakukannya?” kejarku penasaran. “Dia sudah menghancurkan kehormatanku. Anaknya sendiri. Aduuuh! Aku lebih suka matiiiii…!” Tuuut, tuuuut, tuuuut… Bunyi mesin pencatat jantung pun terdengar mendatar, mendatar, mendatar… God bye, Mona! Anak kelas satu SMA itu lewat juga. Tenggelam ke dasar samudera lukanya yang tak berujung dan tak bertepi. Ke mana kira-kira dia akan melangkah sejak diangkut dari sini? Dan lelaki itu, ayah kandungnya sendiri telah… Dunia seperti apa di luar sana? Sejak tragedi siang itu, acapkali aku pun tak punya keinginan untuk kembali. Sesungguhnya aku tak perlu kaget lagi, ya kan? Ah, tapi karena satu alasan, aku memang harus kembaliiii! ooOoo Siang beranjak petang. Dan petang pun menyentuh malam. Dari tempat seperti ini sesungguhnya aku tak bisa merasai lagi makna siang atau malam. Rasanya sama saja. Pagi, siang, petang dan malam tak ada bedanya. Intinya waktu berlalu dalam putaran sama dan sebangun; sebuah penantian, detik-detik bersentuhan dengan Sang Malaikat Maut. Sayup-sayup terdengar gema takbir. Allahu Akbar Allahu Akbar wa lilah ilhamda… Apa kupingku tidak salah? Rasanya belum lama kulewati malam lebaran. Tentu saja bukan di tempat persinggahan seperti ini. Tapi di sebuah kawasan hiburan yang tak pernah mengenal makna suci, hari fitri dan segala yang berbau spiritual. “Kita bawa hidup ini hepi-hepi aja, coy!” teriak si Josh yang asyik-masyuk bareng Maria, bergiliran nenggak...

Read More

Kriteria Khusus dalam Pembuatan Essay

Posted by on May 9, 2010 in Tips Menulis | 0 comments

Kriteria Khusus dalam Pembuatan Essay

Assalamu’alaikum… Mas, melanjutkan pertanyaan sebelumnya mengenai essay. Apa kriteria-kriteria khusus dalam pembuatan essay, seperti bolehkah menggunakan kata ganti (saya, kamu, ia), format penulisan dan sebagainya. terima kasih, Mas. Pengirim: Isnurdiansyah ————————————- Jawaban: ————————————- ‘alaikumussalam, Mas Isnurdiansyah Terima kasih atas pertanyaannya. Semoga jawaban saya bisa memberikan inspirasi bagi Anda. Kriteria khusus dalam pembuatan esai sebenarnya mengikuti dari definisi esai itu sendiri, yakni karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Itu sebabnya, menggunakan kata ganti seperti “saya”, “kamu”, “ia” menurut saya boleh-boleh saja. Itu sebabnya, format penulisan esai pun lebih menekankan kepada gaya bertutur yang sifatnya cenderung tidak analitis, acak, ringan, melompat-lompat, bahkan kadang provokatif. Tapi intinya, sebuah tulisan esai adalah sebuah tulisan yang menggambarkan opini si penulis tentang subyek tertentu yang coba dinilainya. Nah, sebuah esai dasar bisa dibagi menjadi tiga bagian: Pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis tersebut. Kedua, tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek. Ketiga, adalah bagian akhir yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek yang dinilai oleh si penulis. Itu secara sederhananya. Jika dipetakan mengenai langkah-langkah membuat esai, bisa dirunut sebagai berikut: Menentukan tema atau topik Membuat outline atau garis besar ide-ide yang akan kita bahas Menuliskan pendapat kita sebagai penulisnya dengan kalimat yang singkat dan jelas Menulis tubuh esai; memulai dengan memilah poin-poin penting yang akan dibahas, kemudian buatlah beberapa subtema pembahasan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari gagasan kita sebagai penulisnya, selanjutnya kita harus mengembangkan subtema yang telah kita buat sebelumnya. Membuat paragraf pertama yang sifatnya sebagai pendahuluan. Itu sebabnya, yang akan kita tulis itu harus merupakan alasan atau latar belakang alasan kita menulis esai tersebut. Menuliskan kesimpulan. Ini penting karena untuk membentuk opini pembaca kita harus memberikan kesimpulan pendapat dari gagasan kita sebagai penulisnya. Karena memang tugas penulis esai adalah seperti itu. Berbeda dengan penulis berita di media massa yang seharusnya (memang) bersikap netral. Jangan lupa untuk memberikan sentuhan akhir pada tulisan kita agar pembaca merasa bisa mengambil manfaat dari apa yang kita tulis tersebut dengan mudah dan sistematis sehingga membentuk kerangka berpikir mereka secara utuh. Catatan sederhana: Untuk memilih tema atau topik, usahakan yang bisa kita kuasai dan sifatnya lebih “sempit”. Jangan yang masih umum. Jika kita menentukan tema tentang Jakarta. Itu terlalu umum dan sangat luas. Tapi coba tentukan tema tentang, “Ondel-ondel Betawi”. Saya pikir ini akan lebih fokus dan kita bisa menguasainya dengan lebih mudah karena bahannya juga spesifik dan pembaca pun akan terjerat oleh informasi awal bahwa ia hanya akan mendapati pembahasan tentang Ondel-ondel ketika membaca tentang salah satu sisi kehidupan Jakarta yang kita tulis. Selain itu kita harus menentukan tujuan diambilnya tema tersebut dan juga minat kita menulis hal itu. Kemudian buat evaluasi tema, apakah bisa memberikan manfaat lebih bagi pembaca atau sekadar informasi sepintas lalu dari sudut pandang si penulis saja. Jadi, mengukur potensial dari tema tersebut. Menjual dan sangat dibutuhkan pembaca atau sekadar informasi “sekilas” yang bisa begitu saja dilupakan dan tak membekas bagi pembaca. Ketika menulis outline, pastikan kita memulainya dengan memaparkan fakta yang ada, kemudian mengkritisi atau menilai fakta tersebut. Bila perlu membandingkan dengan fakta lainnya, dan terakhir adalah memberikan kesimpulan dan arahan bagi pembaca. Pastikan kesimpulan yang kita tulis tidak bias. Tapi harus tegas dan didukung dengan argumentasi yang kuat dan bila perlu tak terbantahkan. Tak kalah penting adalah memberikan finishing touch atau sentuhan akhir. Misalnya harus diperhatikan alur tulisan, gaya bahasa yang dituilis, pastikan juga dicek ulang tentang penggunaan EYD (Ejaan Yang...

Read More