Archives

now browsing by author

 

The Power of Creative Writing and Social Media

 

Assalaamu’alaikum wr wb

MYMC (Muslim Youth Millionaire Conference 1433 H). Ahad, 18 Maret 2012, di Plaza Bapindo. Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Waktu: 08.00 sd 20.00 WIB. Insya Allah saya, O. Solihin, Owner [menuliskreatif] menjadi salah satu pembicaranya dalam acara tersebut pada sesi “THE POWER CREATIVE WRITING AND SOCIAL MEDIA”.
Dapatkan penawaran khusus bagi p saya di KMO (Kursus Menulis Online) yang ingin ikut acara ini akan diberikan diskon hingga 60 % dari tiket reguler. Penawaran ini juga berlaku bagi Alumni KMO dan calon peserta KMO. *Khusus calon peserta KMO yang ikut acara MYMC, selain mendapatkan diskon hingga 60% dari tiket reguler di acara MYMC juga berkesempatan mendapatkan potongan biaya kursus 40% dari harga normal. Pendaftaran utk acara MYMC langsung via SMS ke: +628157023451 (Anais Anais) dengan memberikan catatan sebagai murid di KMO, alumni KMO atau calon peserta KMO. Ditunggu ya! :-)
salam,
O. Solihin

Rayakan Hidup dengan Ikhlas

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Setiap kita pasti pernah menolong orang lain. Namun, dalam setiap kali menolong seseorang perasaan kita tentu berbeda. Ada yang melupakannya setelah berbuat. Ada pula yang selalu diingat. Nah, yang mana perasaan yang mesti dimiliki? Tak mesti dijawab dengan kata-kata, karena Anda pun sudah bisa menjawabnya. Namun pertanyaanya, kenapa kita terkadang bisa melupakan perbuatan yang telah dilakukan? Jawabannya, karena kita merasa apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Padahal yang biasa itu sebenarnya memiliki nilai yang luar biasa. Karena yang biasa itu tersisipi keikhlasan untuk melakukannya. Ikhlas? Ya, I-K-H-L-A-S.

Saat itu, secara tidak langsung, telah menjelmakan empat kehendak ikhlas dalam diri. Pertama, kehendak ikhlas beramal untuk mengagungkan Allah Swt. Kedua, kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah Swt. Ketiga, kehendak ikhlas untuk meraih balasan dan pahala dari Allah. Keempat, kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan melakukan hal yang ikhlas.

Acap kali kita melakukan hal ringan saat membantu orang lain keempat kehendak tersebut dapat dengan mudah diraih. Bahkan secara tidak langsung kita membuktikan ke-Mahamelihat-an Allah terhadap diri kita, seperti yang difirmankan, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.”

Namun, kenapa setiap kali kita melakukan perbuatan yang ‘bernilai besar’ untuk ikhlas? Jawabannya, karena belum merasuk dalam diri kita pesan hadis qudsi yang bernada, “Ikhlas adalah rahasia  dari rahasia-Ku, yang hanya Kutitipkan ke dalam hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” Secara sederhana, hadis ini berpesan, jika ingin selamat dari riya maupun tipu daya setan, maka ikhlaslah dalam beramal. Jadikan hanya Allah tujuan kita. Meskipun ada hasil yang didapat dibalik pekerjaan, tetap jadikan ikhlas sebagai tonggak utamaya.

Sehingga wajar bila dalam melakukan pekerjaan kita harus selalu mengingat ucapan Imam al-Qusairy yang nadanya, “bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah, meski yang diperbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu menolong orang lain tetap dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang menolong. Ia bekerja tetap Allah yang jadi tujuannya, karena Allah memang Dzat yang suka berbuat untuk hamba-hamba-Nya.”

Pernyataan Imam al-Qusyairi tersebut senada dengan pengertian ikhlas dalam pandangan imam Ali Kwh, “Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.” Artinya, orang ikhlas adalah orang yang tidak memanggil siapa pun untuk melihat pekerjaan kecuali Allah Swt. Cukup Allah Swt. menjadi saksi atas perbuatannya.

Sehingga orang yang ikhlas adalah orang yang sengaja membuat jiwanya menjadi independen, merdeka, dan tak dibelenggu oleh pengharapan yang berbuah pujian. Hatinya selalu tenang. Apapun jabatan yang diampunya akibat keikhlasannya dalam bekerja tak membuatnya terpesona. Andaipun jabatannya tak naik meski dia sudah bekerja dengan maksimal, ia pun tak iri atau minder. Karena yang menjadi tujuannya adalah Allah, bukan jabatannya.

Jika sudah demikian, ia berada pada posisi yang dikatakan Rasulullah Saw., “Belenggu tak akan masuk dalam hati seorang muslim, jika ia menetapi tiga perkara: ikhlas beramal hanya karena Allah, memberi nasehat yang tulus kepada penguasa, dan aktif berkumpul dengan masyarakat muslim.” Jika ikhlas sudah menjadi pola hidupnya, maka ia tak tergolong dalam apa yang dikatakan kata Abu Ya’qub as-Susi, “Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.”

Oleh karena itu, mari rayakan hidup kita dengan ikhlas dalam bekerja dan beramal. Meski kita bekerja di instansi, pandanglah bahwa keikhlasan bekerja yang kita lakukan adalah karena Allah, bukan karena instansi. Meski tak dapat tambahan lebih dari sisi materi, tapi dari sisi Allah mendapatnya. Karena Allah senantiasa menyuruh kita untuk melakukan sebaik-baik pekerjaan. (QS. Al-Mulk: 2)[]

 

Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus  Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut

Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

writing-anak

Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif  di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?”

Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ”

Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe…

Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”.

Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut:

  1. Mulailah dari sapaan. Bisa ditulis sebagai berikut: (Sobat muda muslim, gimana kabar kamu semua? Semoga tetap sehat, tetap sabar, tetap istiqomah dalam Islam. Jumpa lagi dengan tulisan saya di blog ini.. dst.. dst.) Insya Allah selanjutnya akan mengalir deras.
  2. Bisa dimulai dengan kutipan. Contoh: (Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (Hadits ditakhrij oleh Muslim). Setelah kutipan salah satu hadist Qudsi ini, bisa dilanjut dengan menuliskan pembahasan yang kita ingin tulis tersebut. Insya Allah selanjutnya kita lancar. Oya, boleh juga menulis kutipan dari pernyataan teman, guru atau orang tua atau siapa saja. Misalnya: (“Kamu harus rajin belajar!” kata-kata itu masih selalu aku ingat. Pesan dari ibu yang senantiasa aku ingat.) Seterusnya, bisa dilanjut dengan kalimat lainnya yang insya Allah bisa lebih mengalir.
  3. Bisa dimulai dari pertanyaan. Misalnya: (Belum tahu cara memilih baju? Coba ikuti saran dari ahlinya.) Seterusnya bisa ditulis lebih detil setelah kata atau kalimat pertama tadi ditulis. Insya Allah akan lebih lancar lagi.
  4. Boleh dengan cerita? Silakan saja. Misalnya: (Hari ahad kemarin adalah pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, hari itu saya untuk pertama kalinya belajar mengendarai sepeda motor.) Setelah itu, insya Allah bisa dilanjut dengan tulisan yang lebih panjang lagi.

Baik, sebenarnya itu hanyalah contoh. Dan, sekadar ‘alat’ saja untuk memulai kalimat pertama dalam menulis. Artinya, masih banyak cara lain. Tetapi setidaknya empat poin tadi bisa membantu memudahkan untuk tak lagi bingung menulis kalimat pertama. Silakan divariasikan saja sesukanya, semaunya. Tentu, selama itu masih cocok dengan judul dan isi tulisannya. Untuk kian menghasilkan variasi dalam memulai kalimat pertama, biasakan membaca, mengamati, melatih kepekaan atas suatu fakta atau peristiwa. Sebab, insya Allah biasanya kita banyak mendapat inspirasi dari sana. Silakan dicoba ya!

Salam,

O. Solihin

Resolusi 2012 dan Surat Al-‘Ashr

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

gambar dari: laksmindrafitria.wordpress.com

Apa yang biasa dilakukan orang-orang produktif di akhir tahun? Jawabannya, menggagas resolusi. Karena resolusi menjadi pilar untuk menentukan harapan demi harapan yang ingin diraih di tahun yang bakal dilalui. Harapan tersebut selalu berisi keinginan- keinginan untuk menempatkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Bolehkah menggagas resolusi dalam pandangan Islam? Jawabannya,  boleh. Karena Allah SWT. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Berdasarkan ayat tersebut, resolusi yang dianjurkan dalam agama Islam adalah resolusi yang arahnya mesti menapaki jalan terbaik menuju akhirat. Artinya, tak boleh ada kezhaliman yang terjadi dalam meraih harapan demi harapan yang ditargetkan. Semuanya harapan yang dilakukan semata-mata untuk makin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lalu, adakah konsep resolusi yang terbaik dalam Islam? Ada.

Adalah surat al-‘Ashr konsep terbaik untuk menjadi tolak ukur menggagas resolusi, karena di dalamnya tercakup peluang untuk meraih harapan-harapan yang positif, baik di dunia maupun di akhirat. Malah Imam Syafi’I, seperti yang dimaktubkan Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juz ‘Ammanya, sangat tegas menyatakan keistimewaan suat al-‘Ashr, “Kalau seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kecuali surat ini kepada hamba-hambanya, niscaya sudah cukup bagi mereka.” Tentu saja ucapan Imam Syafi’i tersebut membuktikan bahwa surat al-‘Ashr memiliki rahasia yang luar biasa.
Makanya, bila ingin menggagas resolusi tahun 2012 layak merujuk ke surat al-‘Ashr. Karena di dalamnya terdapat empat kecerdasan yang siap membimbing siapa saja yang ingin menjadi orang yang berguna dan berbuah kesuksesan. Kecerdasan yang menjadi penyebab utama untuk bisa meraih apa yang diinginkan sesuai dengan perintah Allah SWT. karena tanpa keempat kecerdasaran tersebut akan sia-sia harapan yang ingin diraih dan bahkan minus nilai ibadah.

Dalam surat al-Ashr yang pertama, “Demi Masa”, Allah menjadikan masa sebagai landasan dasar. Meski ulama berbeda maksud dari kata al-‘Ashr, namun intinya Allah menganjurkan umat Muhammad dalam menjalani hidup harus memiliki kecerdasan intelegensi. Karena waktu melambangkan kecerdasan intelegensi. Sedangkan intelegensi sendiri berkembang seiring tingkat kemampuan mental (mental age) dan tingkat usia (chronological age).

Dalam menggagas resolusi hendaknya umat Islam tetap menjadikan peningkatan kecerdasan intelegensi menjadi bagian dari yang mesti diraih. Dengan memiliki kemampuan meningkatkan kecerdasan intelegensi mampu  membuktikan bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai ilmu, dan selalu siap untuk mengisi waktu demi waktu dengan belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bila dikaji pada diri Rasulullah SAW., kecerdasan intelegensinya memang cukup terlihat. Kecerdesan intelegensi sangat sebanding dengan sifat fathonah (cerdas). Muhammad muda berbeda dengan remaja muda di sekitarnya saat itu. Jika remaja muda sibuk bermain, maka Muhammad muda menyibukkan diri dengan berdagang untuk meraih masa depan yang gemilang. Dia sibuk ikut berdagang dengan pamannya hingga mampu mendagangkan barang Khadijah binti Khuwailid. Kecerdasannya dalam berdagang juga tidak stagnan. Ia selalu cerdas dalam memasarkan. Ia menggunakan beragam metode untuk menarik minat konsumen. Pertanyaannya, bukankah kecerdasan Muhammad muda dalam berdagang adalah bagian dari kecerdesan intelegensi? Dengan kecerdasan intelegensi yang dimiliki, Muhammad muda bisa mendagangkan barang dagangan Khodijah dengan keuntungan yang mengejutkan.

Adapun ayat kedua surat al-Ashr, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” menjadikannya sebagai landasan finansial. Karena di dalam ayat ini ada bicara rugi, maka lawannya adalah untung. Bila bicara untung-rugi tentu bicara masalah perdagangan. Karena itu, dalam menggagas resolusi harus ada nuanasa dagang. Namun bukan artinya harus ada keinginan menjadi pengusaha atau pedanag di tahun mendatang.

Tapi nuansa dagangnya yang harus dimiliki.Yaitu, adanya nilai-nilai dagang Rasulullah menghiasi kehidupan sehari-hari, seperti jujur (ash-shiddiq), terpercaya (al-Amiin), dan lain-lain. Harus mampu meraih harapan-harapan yang ingin diraih dengan konsep jujur dan terpercaya. Jika selama ini nuansa dagang Rasulullah tersebut belum terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, maka saatnya di masa yang akan dilalui setahun ke depan nantinya bisa diterapkan.

Sedangkan ayat ketiga surat al-Ashr, “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” menunjukkan kecerdasan spiritual. Artinya,  dalam kehidupan ini mesti ditumbuhi kesadaran akan adanya Allah dan memaknai serta mewarnai kehidupan dengan perbuatan yang baik. Makanya, resolusi yang disusun dalam setahun ke depan harus mewujudkan kecerdasan spiritual.

Harus ada nilai-nilai yang meningkatkan kualitas iman dan menumbuhkan semangat beramal saleh. Pasalnya, Rasulullah SAW. bersabda, “Ada dua hal yang tak dapat sesuatu apa pun yang dapat mengungguli keduanya: beriman kepada Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin.”

Karena itu, peningkatan kualitas iman dan rasa solidaritas terhadap sesama muslim mesti menjadi prioritas harapan yang mesti dilakukan. Misalnya jika tahun 2011 shalat yang dilakukan hanya yang fardhu saja, maka pada tahun 2012 mesti lebih ditingkatkan lagi dengan shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tahajjud dan shalat-shalat sunnah lainnya. Demikian halnya dengan sedekah, maka pada tahun 2012 mesti lebih ditingkatkan lagi jumlahnya. Yakin bahwa Allah SWT. akan membalas uang yang dinafkahkan di jalan-Nya, dan menumbuhkan semangat untuk berbagi kepada sesama manusia.

Bila diperhatikan, kecerdasan spiritual yang terkandung dalam surat Al-‘Ashr ini juga mencakup sifat Rasulullah shiddiq (benar). Benar, bahwa apa yang dilakukan semata-mata karena Allah. Benar bahwa yang dilakukan semata-mata memberi manfaat bagi sesama. Hal ini senada dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Kandungan ayat terakhir surat al-‘Ashr,”Dan nasehat menasehati dalam kesabaran dan nasehat-menasehati dalam kebenaran,” menunjukkan kecerdasan emosional. Karena kesabaran dan kebenaran hanya bisa dicapai bila memiliki emosi yang positif. Ayat keempat surat Al-‘Ashr ini sangat berhubungan dengan sifat tablighnya Rasulullah SAW. Tabligh adalah kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan emosional. Sudah jamak didengar ihwal kesabaran Rasulullah SAW. yang luar biasa, baik dari sebelum diangkat statusnya menjadi nabi Allah hingga menduduki posisi sebagai Rasul Allah. Nabi Muhammad SAW. memang pribadi yang sangat sabar.

Karena itu, susunlah resolusi yang ingin dilalui di tahun 2012 dalam bingkaian surat al-‘Ashr. Di dalamnya harus ada pencapaian kecerdasan intelegensial, kecerdasan finansial, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional.

Sehingga, harapan demi harapan yang ditentukan tetap berada pada koridor yang telah ditetapkan Allah. Hidup penuh dengan ilmu, hubungan sosial dengan sesama manusia benar-benar bermutu, keimanan dan semangat beribadah menjadi nomor satu, dan tindakan yang dilakukan dengan penuh kejujuran tetap menjadikan hal yang tak mesti ditunggu-tunggu.

Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus  Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut

Jangan Matikan Ramadhan!

O. Solihin

Siap nggak sih kalo kita ngejalanin puasa di bulan Ramadhan dengan benar dan baik? Siap nggak sih kalo ibadah puasa kita dibarengi dengan amalan-amalan yang lain? Hmm… pastinya sih kudu siap ya. Sayang banget kalo sampe nggak meman-faatkan momen Ramadhan ini. Datangnya sih emang sama dengan bulan lainnya, setahun sekali. Tetapi keutaman bulan Ramadhan ini oke banget. Apa aja sih keutamannya?

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Ummatku telah diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya ketika bulan Ramadhan: 1) Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada minyak kesturi di sisi Allah, 2) Para Malaikat beristighfar untuk mereka hingga berbuka, 3) Allah memperindah SurgaNya setiap hari, seraya berfirman kepadanya: “Hampir-hampir para hambaKu yang shalih akan mencampakkan berbagai kesukaran dan penderitaan lalu kembali kepadamu,” 4) Syaithan-syaithan durjana dibelenggu, tidak dibiarkan lepas sseperti pada bulan-bulan selain Ramadhan, 5) Mereka akan mendapat ampunan di akhir malam.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu terjadi pada Lailatul Qadar?” Beliau menjawab, “Bukan, namun pelaku kebaikan akan disempurnakan pahalanya seusai menyelesaikan amalannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Baihaqi dalam kitab ats-Tsawaab sanadnya lemah sekali, tetapi sebagian lafazh hadits tersebut mempunyai shaid, yakni penguat yang shahih) Read More…