Archives
now browsing by author
Rayakan Hidup dengan Ikhlas
Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Setiap kita pasti pernah menolong orang lain. Namun, dalam setiap kali menolong seseorang perasaan kita tentu berbeda. Ada yang melupakannya setelah berbuat. Ada pula yang selalu diingat. Nah, yang mana perasaan yang mesti dimiliki? Tak mesti dijawab dengan kata-kata, karena Anda pun sudah bisa menjawabnya. Namun pertanyaanya, kenapa kita terkadang bisa melupakan perbuatan yang telah dilakukan? Jawabannya, karena kita merasa apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Padahal yang biasa itu sebenarnya memiliki nilai yang luar biasa. Karena yang biasa itu tersisipi keikhlasan untuk melakukannya. Ikhlas? Ya, I-K-H-L-A-S.
Saat itu, secara tidak langsung, telah menjelmakan empat kehendak ikhlas dalam diri. Pertama, kehendak ikhlas beramal untuk mengagungkan Allah Swt. Kedua, kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah Swt. Ketiga, kehendak ikhlas untuk meraih balasan dan pahala dari Allah. Keempat, kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan melakukan hal yang ikhlas.
Acap kali kita melakukan hal ringan saat membantu orang lain keempat kehendak tersebut dapat dengan mudah diraih. Bahkan secara tidak langsung kita membuktikan ke-Mahamelihat-an Allah terhadap diri kita, seperti yang difirmankan, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.”
Namun, kenapa setiap kali kita melakukan perbuatan yang ‘bernilai besar’ untuk ikhlas? Jawabannya, karena belum merasuk dalam diri kita pesan hadis qudsi yang bernada, “Ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku, yang hanya Kutitipkan ke dalam hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” Secara sederhana, hadis ini berpesan, jika ingin selamat dari riya maupun tipu daya setan, maka ikhlaslah dalam beramal. Jadikan hanya Allah tujuan kita. Meskipun ada hasil yang didapat dibalik pekerjaan, tetap jadikan ikhlas sebagai tonggak utamaya.
Sehingga wajar bila dalam melakukan pekerjaan kita harus selalu mengingat ucapan Imam al-Qusairy yang nadanya, “bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah, meski yang diperbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu menolong orang lain tetap dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang menolong. Ia bekerja tetap Allah yang jadi tujuannya, karena Allah memang Dzat yang suka berbuat untuk hamba-hamba-Nya.”
Pernyataan Imam al-Qusyairi tersebut senada dengan pengertian ikhlas dalam pandangan imam Ali Kwh, “Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.” Artinya, orang ikhlas adalah orang yang tidak memanggil siapa pun untuk melihat pekerjaan kecuali Allah Swt. Cukup Allah Swt. menjadi saksi atas perbuatannya.
Sehingga orang yang ikhlas adalah orang yang sengaja membuat jiwanya menjadi independen, merdeka, dan tak dibelenggu oleh pengharapan yang berbuah pujian. Hatinya selalu tenang. Apapun jabatan yang diampunya akibat keikhlasannya dalam bekerja tak membuatnya terpesona. Andaipun jabatannya tak naik meski dia sudah bekerja dengan maksimal, ia pun tak iri atau minder. Karena yang menjadi tujuannya adalah Allah, bukan jabatannya.
Jika sudah demikian, ia berada pada posisi yang dikatakan Rasulullah Saw., “Belenggu tak akan masuk dalam hati seorang muslim, jika ia menetapi tiga perkara: ikhlas beramal hanya karena Allah, memberi nasehat yang tulus kepada penguasa, dan aktif berkumpul dengan masyarakat muslim.” Jika ikhlas sudah menjadi pola hidupnya, maka ia tak tergolong dalam apa yang dikatakan kata Abu Ya’qub as-Susi, “Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.”
Oleh karena itu, mari rayakan hidup kita dengan ikhlas dalam bekerja dan beramal. Meski kita bekerja di instansi, pandanglah bahwa keikhlasan bekerja yang kita lakukan adalah karena Allah, bukan karena instansi. Meski tak dapat tambahan lebih dari sisi materi, tapi dari sisi Allah mendapatnya. Karena Allah senantiasa menyuruh kita untuk melakukan sebaik-baik pekerjaan. (QS. Al-Mulk: 2)[]
Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut
Pacaran Itu Nafsu, Bukan Cinta!
Waduh, tema pacaran lagi dah. Hehehe.. nggak apa-apa lah. Kan banyak juga yang belum tahu. Bagi kamu yang udah tahu jangan bosen. Saya aja nulisnya ampir bosan. Cuma gimana lagi, dakwah memang begitu. Kita seringkali menyangka bahwa apa yang sudah kita sampaikan secara sering akan mudah dipahami orang. Ternyata nggak. Ada yang memang belum pernah baca, ada yang baru tahu dan belum paham. Banyak alasan. Tetapi yang pasti, pembaca gaulislam setiap pekannya bertambah dan banyak yang baru tahu. Selain itu, karena tak semua bisa mengakses website maka edisi cetak ini jadi andalan mereka untuk mendapatkan informasi. Tak mengapa, yang penting ada beda rasanya dalam setiap edisi yang membahas tema sejenis. Tul nggak?
Oya, mungkin kamu kaget ya dikatain bahwa pacaran itu nafsu, bukan cinta. Padahal, kalo makan saja nggak nafsu kan jadinya nggak enak makan. Hehehe… beda persoalan, Bro en Sis. Ini soal cinta dan nafsu jelas berbeda. Nafsu umumnya cenderung membuat orang ingin melakukan sesukanya, sementara cinta masih berpikir apakah yang dilakukannya benar atau salah menurut aturan yang berlaku, khususnya ajaran agama kita, Islam. Nah, edisi kita kita bakal bahas seputar cinta, nafsu, dan juga pacaran. Yuk ah, tancap gas!
Saat jatuh cinta
Ada sebuah puisi yang pernah diposting seorang anggota milis, jaman saya mengelola milis Majalah Permata antara tahun 2001 hingga 2004. Ini ada penggalan puisinya yang dikirim Astari Sekar Ayu:
Rabbi…/ Aku punya pinta/ Bila suatu saat aku jatuh cinta/ Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu/ yang tak terbatas/ Biar rasaku padaMu tetap utuh
Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya.
Cinta emang selalu menyita perhatian kita. Ada di antara kita yang kemudian bahagia dengan cinta, tapi nggak sedikit yang merana karena cinta. Itu sebabnya, wajar juga kalo novelis Mira W pernah menyampaikan: “Kita boleh hidup dengan cinta, tapi jangan mati karena cinta”. Hmm.. boljug neh pernyataannya. Soalnya banyak juga manusia yang terbius cinta (khususnya cinta kepada lawan jenis, harta, dan juga jabatan) hingga lupa segalanya. Sebab, yang ada dalam benaknya hanyalah cinta, cinta, dan cinta.
Hati-hati dengan cinta buta
Cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam. Ia bebas berbuat apa saja. Terumasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama.
Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini (Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 242-244: Pertama, lupa mengingat Allah. Lebih sibuk mengingat makhlukNya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhlukNya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhlukNya, maka mengingat Allah akan dikalahkan.
Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.
Ketiga, hatinya tertawan dan terhina. Ya, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpa. So, ati-ati deh kalo jatuh cinta. Jangan sampe hati kita tertawan dengannya, hingga lupa segalanya.
Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalo ada teman kita ketika jatuh cinta tuh sampe nggak sholat, nggak sekolah, dan nggak belajar, karena cuma mikirin dia, maka itu udah dibilang cinta buta. Jadi, kita kudu ingatkan supaya jangan keterusan.
Kelima, mengundang bahaya. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Duh, jangan sampe kejadian. Cukup fakta-fakta soal perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk nggak melakukan hal yang sama. Naudzubillahi min dzalik.
Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka nggak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. So, nggak heran dong kalo banyak yang kejerumus berbuat maksiat karena mikirnya instan banget. Cuma kepikiran enak aja menurut hawa nafsunya. Nggak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut.
Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya.
Tetap iffah selama jatuh cinta
Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan (al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 255)
Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”
So, meski kita merasa hidup lebih indah ketika jatuh cinta tapi bukan berarti bebas melakukan apa saja atas nama cinta. Insya Allah saya cukup mengerti dengan kondisi temen-temen remaja. Di usia yang pubertas ini, apalagi ditambah dengan bombardir informasi di media massa yang ternyata lebih banyak menyesatkan ini, akhirnya nggak sedikit yang awalnya berkomitmen untuk tidak mengekspresikan cinta lewat pacaran, tapi ternyata rontok digerus arus informasi dan kehidupan yang rusak. Sebab pernah ada juga teman kita yang berkirim e-mail ke saya bahwa ia awalnya termasuk kuat, bahkan dari kalangan keluarga yang taat beragama, dan punya prinsip nggak akan pacaran sebelum nikah.
But, apa daya, prinsip tersebut akhirnya hilang disapu gemuruh hawa nafsu. Meski tidak sampe kepada perzinahan (setidaknya menurut pengakuannya di e-mail tersebut), tapi dia merasa harus taubat. Alhamdulillah, sikap kawan kita ini patut diteladani. Ngaku salah dan mau memperbaiki diri. Itu sebabnya nih, buat anak cewek, jangan tergoda rayuan cowok. Cuma anehnya meski banyak diwanti-wanti, tetep aja cewek banyak yang tertipu dengan kelihaian rayuan anak cowok. Walah, itu sih cowoknya emang buaya, dan ceweknya ternyata penyayang binatang. Waaah… jadi klop dong?
Jadi, tetep jaga diri, jaga pikiran, dan jaga perasaan ketika jatuh cinta. Jangan nekat mengekspresikannya di jalur yang salah seperti pacaran dan seks bebas. Tetep iffah (jaga kesucian diri) ya. So, kudu ati-ati banget.
Yuk, kita mulai lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Jangan terus main-main dalam masalah seserius ini. Kalo pun kita belum mampu untuk menikah, jangan nekat menikah. Karena pernikahan bukan urusan main-main. Oya, kita pun harus rela untuk membuang jauh-jauh pikiran murah dan murahan tentang “pacaran”. Karena pacaran sebatas penyaluran nafsu belaka, bukan cinta. Bener lho. Soalnya kalo emang cinta nggak bakal memilih pacaran. Pacaran itu maksiat. Jadi, jaga diri hingga saatnya siap untuk menikah.
Bro en Sis, ada baiknya sosialisasi tentang kesucian pernikahan kepada para remaja muslim rasa-rasanya perlu digiatkan terus. Jangan sampe kalah dengan sosialisasi pacaran yang sudah berani melanggar batasan norma masyarakat, dan juga ajaran agama.
Ya, tugas kita adalah belajar Islam dengan benar, memahaminya, dan mengamalkannya dengan berdakwah kepada teman yang lain. Sehingga rahmat Islam tersebar makin luas. Insya Allah. [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 221/tahun ke-5, 16 Januari 2012]
Pacaran Itu Nafsu, Bukan Cinta!
Kepada Para Aktivis Dakwah
Ba’da salam dan tahmid. Bro en Sis yang insya Allah dimuliakan Dzat yang Mahamulia, saya berharap semoga kalian semua berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala yang telah diberikanNya kepada kita. Kita yang lemah dan tak berdaya, meski hanya untuk mengatur detak jantung dan hembusan nafas ini. Semoga kita menjadi hambaNya yang pandai ‘mencuri’ perhatianNya dan menjadi kekasihNya.
Kita berharap agar apa yang kita lakukan dalam keseharian kita senantiasa sesuai dengan petunjukNya dan petunjuk RasulNya. Berserah diri dengan segala ketentuanNya dan menjadi pejuang untuk membela agamaNya.
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)
Semoga ayat ini selalu mengingatkan kita semua bahwa perjuangan kita dalam menegakkan syariat Islam dan meninggikan agama Allah ini, bukanlah kesia-siaan. Semoga ayat ini tertanam kuat dalam hati dan pikiran kita, agar perjuangan dakwah Islam ini senantiasa menjadi tujuan utama dalam kehidupan kita. Sekaligus menghibur kita bahwa apa yang kita lakukan menjadi bagian dari amalan yang akan memberatkan hitungan amal baik kita di akhirat nanti. Menjadi sarana untuk mengantarkan kita ke surgaNya. Insya Allah.
Sobat muda muslim seperjuangan, tak ada kata henti dalam hidup kita untuk senantiasa melakukan amal baik. Seharusnya memang tak pernah ada pula keluh kesah dalam perjuangan dakwah ini. Semestinya pun tak keluar dari mulut kita kata putus asa karena begitu banyak perjuangan dakwah yang menyedot perhatian kita. Yakinlah, Allah Swt. tak pernah dan tak akan pernah salah dalam ‘mengkalkulasi’ amalan baik kita. Mungkin kita lupa sudah berapa amal baik yang kita kerjakan, tapi Allah tak akan pernah lalai mencatatnya dan menghitungnya untuk bekal kita di negeri abadi kelak. Begitu pun pasti kita lupa berapa banyak amalan buruk yang pernah kita lakukan, tapi Allah pasti tak akan pernah lupa dan akan dengan mudah mencatatnya. Tapi kita memohon kepadaNya, agar tetap diberikan kekuatan untuk melakukan amalan baik selama hidup kita. Sebagus dan sebanyak mungkin. Insya Allah.
Sobat muda muslim yang telah memberikan perhatian dan tenaganya untuk dakwah Islam, masih ingatkah kalian ketika kita pertama kali belajar Islam? Kita bahkan mengeja nama Allah dengan amat susah. Kita tidak paham tentang isi al-Quran, kita tak mengerti apa arti perjuangan dakwah, kita bahkan buta dan tak pernah tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana akan pergi setelah kematian. Saya pernah merasakan demikian, dan saya yakin di antara kita bahkan ada yang pernah melakukan kemaksiatan sebelum akhirnya mendapat hidayahNya. Saya yakin di antara kita bahkan pernah menolak ajakan dakwah dari seseorang. Mencibir pelakunya dan menganggap sia-sia perbuatan mereka. Itu ketika kita tidak tahu. Insya Allah sekarang sudah makin paham.
Semoga memori tentang ini menjadikan kita manusia yang bijak. Pengemban dakwah yang peka dan mampu menangkap segala sisi manusia sebagai objek dakwah kita. Kita tumbuh menjadi pengemban dakwah dan pejuang Islam yang sabar dan penuh kelembutan. Jika kita berhadapan dengan objek dakwah yang menolak—bahkan menyerang kita, anggap saja bahwa mereka seperti kita dulu yang juga membutuhkan sentuhan kuat orang yang tak bosan mengajak kita menjemput hidayahNya. Jangan pernah merasa menilai umat ini telah jumud, jika kita sendiri belum maksimal mengajaknya untuk menjadi lebih baik. Tak perlu mengampuni usaha kita yang gagal dengan alasan umat sudah bosan dengan dakwah. Lalu kita merasa benar sendiri dan menyalahkan mereka.
Sobat muda muslim tercinta yang tetap setia bersama Islam, ingatlah bahwa kita bisa seperti sekarang ini juga butuh waktu dan proses. Karena sejatinya perubahan tak bisa dicapai seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedasnya. Atau proses produksi mesin dalam industri yang bisa seragam dan mudah dibuat. Tapi kita berhadapan dengan manusia. Berhadapan dengan jiwa yang seringkali tak mudah untuk diajak berpikir sama seperti yang kita inginkan. Proses perubahan sosial memang tak semudah proses produksi mesin industri. Selalu saja ada variabel yang mengharuskan kita banyak bersabar dan mencari cara jitu mengatasinya.
Ikhlas, sabar dan semangat!
Kebersamaan dalam gerak langkah dakwah ini juga adalah sebagai bukti tanda kasih dan sayang kita kepada sesama saudara seakidah dan seperjuangan. Dalam hadits dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal berkasih-sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam” (Mutafaq ‘alaih)
Dalam hadits Jarir bin Abdullah, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Barangsiapa tidak menyayangi (orang beriman), maka dia tidak akan diberi rahmat.” (Mutafaq ‘alaih)
Ungkapan tidak diberi rahmat, adalah mengindikasikan atas wajibnya menyayangi kaum Mukmin. Indikasi kewajiban menyayangi kaum Mukmin juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Abu Qasim saw. yang benar dan dibenarkan bersabda: “Sesungguhnya rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka.”
Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam yang insya Allah tak kenal lelah dalam berjuang, jangan pernah berhenti atau mundur dari arena dakwah ini. Meski kita tahu, saat ini begitu berat beban yang kita pikul. Setelah munculnya aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam dan kaum Muslimin, memicu inisiatif dari banyak kalangan untuk meredamnya (baca: melakukan deradikalisasi). Kita memang sangat tidak setuju dengan dakwah atau perjuangan menegakkan Islam yang menggunakan kekerasan. Tapi cepat atau lambat, siapa pun yang berjuang untuk Islam dengan tujuan menerapkan syariat Islam akan berusaha diredam oleh kalangan yang tak menginginkan tegaknya Islam sebagai ideologi negara. Itu artinya, pelarangan dakwah tak hanya ditujukan untuk mereka yang menggunakan jalur kekerasan, tapi juga ‘kekerasan ide’ yang menurut penghamba kapitalisme-sekularisme akan mengancam keberadaan ideologi mereka. Semoga kita bisa tetap lurus memegang amanah yang, gunung saja—tak sanggup memikulnya. Ya, amanah dakwah yang digelorakan demi kecintaan kepada sesama.
Dengan kondisi seperti ini, menyebabkan kita harus lebih ekstra hati-hati dan lebih pandai dalam menyikapi keadaan. Tak menantang setiap upaya perlawanan terhadap dakwah, tapi juga tidak lemah dalam menyuarakan kebenaran Islam. Harus yakin dan tetap yakin bahwa kita berada di jalur yang benar dalam menyerukan dakwah ini. Kita insya Allah berada pada jalan perjuangan dakwah yang menjadi jalan perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Kita semestinya tak merasa ragu dengan jalan yang telah kita pilih, meski harus berhadapan dengan penderitaan, kesusahan, tekanan, dan begitu banyak beban lain yang menyebabkan satu persatu dari kita kehilangan semangat lalu meninggalkan perjuangan ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam dakwah ini agar mendapat berita gembira dari Allah, sebagaimana janjiNya dalam al-Quran (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS Fushshilat [41]: 30)
Meski kemudian banyak cobaan dan fitnah dalam dakwah ini, kita tetap bersama mengobarkan semangat perjuangan. Jangan pernah menyerah apalagi mengundurkan diri. Ikhlas dan sabar yang lahir dari keimanan yang kokoh insya Allah akan melahirkan keteguhan dan keyakinan serta semangat—meski kadang terasa begitu berat. Rasulullah dan para sahabatnya pun pernah merasakan saat-saat dicekam rasa cemas dan hampir saja putus asa dalam menerima ujian dan cobaan dalam dakwah ini. Karena sebagai manusia biasa, amat wajar jika ada batasnya bisa menahan berbagai tekanan. Tapi yakinlah bahwa itu adalah bagian dari ujian Allah agar kita lebih kuat, lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam perjuangan ini. Allah juga akan menghibur para pejuang dakwah Islam ini, bahwa kemenangan sudah dekat sebagaimana Dia menjelaskan dalam firmanNya (yang artinya): “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, kita bukan tak ingin menikmati dunia dan isinya yang begitu gemerlap. Kita bukan tak suka dengan segala keindahannya yang menggoda hati. Tapi, perjuangan dakwah ini kadang harus sedikit membatasi perhatian kita untuk menikmati indah dan gemerlapnya dunia, apalagi bersenang-senang di dalamnya sendirian. Meski tentu saja, bukan berarti ketika fokus berdakwah kita sama sekali menganggap dunia tak perlu untuk kita nikmati. Tidak. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengaturnya; kapan saatnya kita menyantap kenikmatan dunia yang juga Allah berikan untuk semua makhlukNya, dan ada waktu dimana kita harus berhenti sejenak untuk melupakannya dengan perhatian kita kepada perjuangan dakwah. Di sinilah integritas kita diuji. Tetap yakinlah akan pertolongan Allah Swt., sehingga kita terus berupaya agar bisa berhasil dalam ujian keimanan ini. Insya Allah.
Bro en Sis rahimakumullah, semoga kita masih bisa menikmati hasil perjuangan dakwah kita suatu saat nanti. Kita bisa bertemu dalam kesempatan yang lebih baik dari sekarang. Kesempatan ketika Khilafah Islamiyah sudah berdiri. Tapi, jika pun Allah mewafatkan kita semua sebelum menikmati hasil perjuangan ini, semoga kita bisa ‘reuni’ di surgaNya yang sangat luas dan hanya diperuntukkan bagi hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwa kepadaNya serta berjuang menegakkan syariat agamaNya. Insya Allah. Semoga Allah memberkahi kita semua. Amin. Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 220/tahun ke-5, 9 Januari 2012]
gaulislam edisi 220/tahun ke-5 (15 Shafar 1433 H/ 9 Januari 2012)
http://gaulislam.com
http://live.gaulislam.com
Kepada Para Aktivis Dakwah
Ba’da salam dan tahmid. Bro en Sis yang insya Allah dimuliakan Dzat yang Mahamulia, saya berharap semoga kalian semua berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Senantiasa bersyukur dan bersabar atas segala yang telah diberikanNya kepada kita. Kita yang lemah dan tak berdaya, meski hanya untuk mengatur detak jantung dan hembusan nafas ini. Semoga kita menjadi hambaNya yang pandai ‘mencuri’ perhatianNya dan menjadi kekasihNya. Kita berharap agar apa yang kita lakukan dalam keseharian kita senantiasa sesuai dengan petunjukNya dan petunjuk RasulNya. Berserah diri dengan segala ketentuanNya dan menjadi pejuang untuk membela agamaNya.
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)
Semoga ayat ini selalu mengingatkan kita semua bahwa perjuangan kita dalam menegakkan syariat Islam dan meninggikan agama Allah ini, bukanlah kesia-siaan. Semoga ayat ini tertanam kuat dalam hati dan pikiran kita, agar perjuangan dakwah Islam ini senantiasa menjadi tujuan utama dalam kehidupan kita. Sekaligus menghibur kita bahwa apa yang kita lakukan menjadi bagian dari amalan yang akan memberatkan hitungan amal baik kita di akhirat nanti. Menjadi sarana untuk mengantarkan kita ke surgaNya. Insya Allah.
Sobat muda muslim seperjuangan, tak ada kata henti dalam hidup kita untuk senantiasa melakukan amal baik. Seharusnya memang tak pernah ada pula keluh kesah dalam perjuangan dakwah ini. Semestinya pun tak keluar dari mulut kita kata putus asa karena begitu banyak perjuangan dakwah yang menyedot perhatian kita. Yakinlah, Allah Swt. tak pernah dan tak akan pernah salah dalam ‘mengkalkulasi’ amalan baik kita. Mungkin kita lupa sudah berapa amal baik yang kita kerjakan, tapi Allah tak akan pernah lalai mencatatnya dan menghitungnya untuk bekal kita di negeri abadi kelak. Begitu pun pasti kita lupa berapa banyak amalan buruk yang pernah kita lakukan, tapi Allah pasti tak akan pernah lupa dan akan dengan mudah mencatatnya. Tapi kita memohon kepadaNya, agar tetap diberikan kekuatan untuk melakukan amalan baik selama hidup kita. Sebagus dan sebanyak mungkin. Insya Allah.
Sobat muda muslim yang telah memberikan perhatian dan tenaganya untuk dakwah Islam, masih ingatkah kalian ketika kita pertama kali belajar Islam? Kita bahkan mengeja nama Allah dengan amat susah. Kita tidak paham tentang isi al-Quran, kita tak mengerti apa arti perjuangan dakwah, kita bahkan buta dan tak pernah tahu dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana akan pergi setelah kematian. Saya pernah merasakan demikian, dan saya yakin di antara kita bahkan ada yang pernah melakukan kemaksiatan sebelum akhirnya mendapat hidayahNya. Saya yakin di antara kita bahkan pernah menolak ajakan dakwah dari seseorang. Mencibir pelakunya dan menganggap sia-sia perbuatan mereka. Itu ketika kita tidak tahu. Insya Allah sekarang sudah makin paham.
Semoga memori tentang ini menjadikan kita manusia yang bijak. Pengemban dakwah yang peka dan mampu menangkap segala sisi manusia sebagai objek dakwah kita. Kita tumbuh menjadi pengemban dakwah dan pejuang Islam yang sabar dan penuh kelembutan. Jika kita berhadapan dengan objek dakwah yang menolak—bahkan menyerang kita, anggap saja bahwa mereka seperti kita dulu yang juga membutuhkan sentuhan kuat orang yang tak bosan mengajak kita menjemput hidayahNya. Jangan pernah merasa menilai umat ini telah jumud, jika kita sendiri belum maksimal mengajaknya untuk menjadi lebih baik. Tak perlu mengampuni usaha kita yang gagal dengan alasan umat sudah bosan dengan dakwah. Lalu kita merasa benar sendiri dan menyalahkan mereka.
Sobat muda muslim tercinta yang tetap setia bersama Islam, ingatlah bahwa kita bisa seperti sekarang ini juga butuh waktu dan proses. Karena sejatinya perubahan tak bisa dicapai seperti makan cabe rawit yang langsung terasa pedasnya. Atau proses produksi mesin dalam industri yang bisa seragam dan mudah dibuat. Tapi kita berhadapan dengan manusia. Berhadapan dengan jiwa yang seringkali tak mudah untuk diajak berpikir sama seperti yang kita inginkan. Proses perubahan sosial memang tak semudah proses produksi mesin industri. Selalu saja ada variabel yang mengharuskan kita banyak bersabar dan mencari cara jitu mengatasinya.
Ikhlas, sabar dan semangat!
Kebersamaan dalam gerak langkah dakwah ini juga adalah sebagai bukti tanda kasih dan sayang kita kepada sesama saudara seakidah dan seperjuangan. Dalam hadits dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal berkasih-sayang dan saling mencintai dan mengasihi di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam” (Mutafaq ‘alaih)
Dalam hadits Jarir bin Abdullah, Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Barangsiapa tidak menyayangi (orang beriman), maka dia tidak akan diberi rahmat.” (Mutafaq ‘alaih)
Ungkapan tidak diberi rahmat, adalah mengindikasikan atas wajibnya menyayangi kaum Mukmin. Indikasi kewajiban menyayangi kaum Mukmin juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku
mendengar Abu Qasim saw. yang benar dan dibenarkan bersabda: “Sesungguhnya rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka.”
Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam yang insya Allah tak kenal lelah dalam berjuang, jangan pernah berhenti atau mundur dari arena dakwah ini. Meski kita tahu, saat ini begitu berat beban yang kita pikul. Setelah munculnya aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam dan kaum Muslimin, memicu inisiatif dari banyak kalangan untuk meredamnya (baca: melakukan deradikalisasi). Kita memang sangat tidak setuju dengan dakwah atau perjuangan menegakkan Islam yang menggunakan kekerasan. Tapi cepat atau lambat, siapa pun yang berjuang untuk Islam dengan tujuan menerapkan syariat Islam akan berusaha diredam oleh kalangan yang tak menginginkan tegaknya Islam sebagai ideologi negara. Itu artinya, pelarangan dakwah tak hanya ditujukan untuk mereka yang menggunakan jalur kekerasan, tapi juga ‘kekerasan ide’ yang menurut penghamba kapitalisme-sekularisme akan mengancam keberadaan ideologi mereka. Semoga kita bisa tetap lurus memegang amanah yang, gunung saja—tak sanggup memikulnya. Ya, amanah dakwah yang digelorakan demi kecintaan kepada sesama.
Dengan kondisi seperti ini, menyebabkan kita harus lebih ekstra hati-hati dan lebih pandai dalam menyikapi keadaan. Tak menantang setiap upaya perlawanan terhadap dakwah, tapi juga tidak lemah dalam menyuarakan kebenaran Islam. Harus yakin dan tetap yakin bahwa kita berada di jalur yang benar dalam menyerukan dakwah ini. Kita insya Allah berada pada jalan perjuangan dakwah yang menjadi jalan perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Kita semestinya tak merasa ragu dengan jalan yang telah kita pilih, meski harus berhadapan dengan penderitaan, kesusahan, tekanan, dan begitu banyak beban lain yang menyebabkan satu persatu dari kita kehilangan semangat lalu meninggalkan perjuangan ini. Semoga kita tetap istiqomah dalam dakwah ini agar mendapat berita gembira dari Allah, sebagaimana janjiNya dalam al-Quran (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS Fushshilat [41]: 30)
Meski kemudian banyak cobaan dan fitnah dalam dakwah ini, kita tetap bersama mengobarkan semangat perjuangan. Jangan pernah menyerah apalagi mengundurkan diri. Ikhlas dan sabar yang lahir dari keimanan yang kokoh insya Allah akan melahirkan keteguhan dan keyakinan serta semangat—meski kadang terasa begitu berat. Rasulullah dan para sahabatnya pun pernah merasakan saat-saat dicekam rasa cemas dan hampir saja putus asa dalam menerima ujian dan cobaan dalam dakwah ini. Karena sebagai manusia biasa, amat wajar jika ada batasnya bisa menahan berbagai tekanan. Tapi yakinlah bahwa itu adalah bagian dari ujian Allah agar kita lebih kuat, lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam perjuangan ini. Allah juga akan menghibur para pejuang dakwah Islam ini, bahwa kemenangan sudah dekat sebagaimana Dia menjelaskan dalam firmanNya (yang artinya): “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS al-Baqarah [2]: 214)
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, kita bukan tak ingin menikmati dunia dan isinya yang begitu gemerlap. Kita bukan tak suka dengan segala keindahannya yang menggoda hati. Tapi, perjuangan dakwah ini kadang harus sedikit membatasi perhatian kita untuk menikmati indah dan gemerlapnya dunia, apalagi bersenang-senang di dalamnya sendirian. Meski tentu saja, bukan berarti ketika fokus berdakwah kita sama sekali menganggap dunia tak perlu untuk kita nikmati. Tidak. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengaturnya; kapan saatnya kita menyantap kenikmatan dunia yang juga Allah berikan untuk semua makhlukNya, dan ada waktu dimana kita harus berhenti sejenak untuk melupakannya dengan perhatian kita kepada perjuangan dakwah. Di sinilah integritas kita diuji. Tetap yakinlah akan pertolongan Allah Swt., sehingga kita terus berupaya agar bisa berhasil dalam ujian keimanan ini. Insya Allah.
Bro en Sis rahimakumullah, semoga kita masih bisa menikmati hasil perjuangan dakwah kita suatu saat nanti. Kita bisa bertemu dalam kesempatan yang lebih baik dari sekarang. Kesempatan ketika Khilafah Islamiyah sudah berdiri. Tapi, jika pun Allah mewafatkan kita semua sebelum menikmati hasil perjuangan ini, semoga kita bisa ‘reuni’ di surgaNya yang sangat luas dan hanya diperuntukkan bagi hamba-hambaNya yang beriman dan bertakwa kepadaNya serta berjuang menegakkan syariat agamaNya. Insya Allah. Semoga Allah memberkahi kita semua. Amin. Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam! [solihin | Twitter @osolihin]
“Gue Nggak Peduli! Titik.”
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, jujur saja, saya merasa sedih dan prihatin dengan kondisi sebagian teman-teman remaja. Khususnya tentang sikap peduli. Jangankan untuk urusan yang nun jauh di sana. Kadang masalah yang ada di sebelah mata aja nggak dipikirin dan nggak jadi masalah berat buat mereka. Misalnya aja, tetangganya mau kelaparan apa kekenyangan dia nggak mau mikirin. Temannya nggak datang ke sekolah pun bukan persoalannya. Apakah sang teman yang nggak dateng ke sekolah itu karena sakit atau memang malas bukan urusannya. Cuek aja. Pikirnya, pihak sekolah ama ortunya aja yang kudu mikirin tuh anak yang bermasalah. Pikirnya, buat apa harus capek-capek mikirin. Nggak ada untungnya. Kalo diingatkan, dia ngomong sinis, “Emangnya gue pikirin?”
Sikap cuek dalam kehidupan sebagian teman-teman juga berlanjut. Kalo setiap masalah yang ampir nyolok matanya aja (karena saking dekatnya) dia cuek, kemungkinan besar masalah yang jauh darinya bakalan nggak dianggap tuh. Mungkin pikirnya, “Bodo amat, orang di luar negeri sono mo kelaparan, mo perang, mo ribut atau damai, gue nggak peduli. Yang penting gue di sini seneng. Nggak susah. Nggak bikin masalah ama orang lain. Nafsi-nafsi aja. Kalo gue suka, gue mau, gue berhak lakuin apa yang bikin ati gue hepi. Orang lain nggak boleh cerewet berkhotbah di depan gue. Emangnya gue pikirin?!” Bahaya, Bro!
Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, mo seneng-seneng, mo ngelakuin apa yang bikin kita hepi, boleh-boleh aja, kok. Nggak ada yang ngelarang. Tentunya asalkan itu halal dan nggak bikin kita lupa diri. Tapi, pasti ada saatnya dong kita mikirin yang lain. Bukan hanya mikirin kita sendiri. Ada waktu yang bisa kita luangkan untuk bantu mikirin orang lain. Menengok bagaimana masalah mereka. Berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk berbagi dengan teman yang lain. Nggak cuek abis gitu, lho. Nggak baik dan tentu nggak benar sikap kayak gitu.

Sikap cuek alias nggak peduli kini seperti menjadi tren di kalangan kita. Mungkin di sekolahmu pernah menjumpai teman yang nggak peduli dengan nasib teman lainnya. Misalnya aja kamu nggak ngerti pelajaran matematika, sementara teman kamu ada yang ngerti, tapi dia nggak mau ngasih ilmunya ke kamu. Dia malah bilang, “Bodo amat! Emangnya gue pikirin! Lo usaha sendiri dong! Kalo elo nggak bisa ya itu sih DL. Derita lo!” Duh, nyebelin nggak sih orang kayak gitu? Pasti bikin gondok, kan?
Itu mungkin boleh dibilang rada-rada biasa, kadang kita nemuin juga tuh teman kita yang sewot abis gara-gara kita ingetin. Padahal nih, tujuan kita ngingetin dia tuh baik. Misalnya aja kita negur teman yang pacarannya hot banget (kalo pun pacarannya nggak hot, tetap aja yang namanya pacaran tuh dilarang dalam Islam), supaya menghentikan kebiasaan jeleknya itu. Eh, dia malah bilang, “Apa pedulimu? Urus aja diri sendiri. Jangan cerewet berdalil segala di depan gue. Terserah lo. Mo bilang apa pun, gue nggak peduli. Emangnya gue pikirin?”
Coba, dinasihatin malah sewot. Ditegur malah ngebul ubun-ubunnya saking marahnya dia. Padahal, kita nasihatin, ngingetin, atau negur itu adalah tanda sayang. Tanda cinta dan peduli kita kepadanya. Tapi, teryata air susu dibalas air tuba. Mungkin bagi mereka yang udah ngerasa benar sendiri (atau hawa nafsunya jadi panglima?), sikap cuek alias nggak peduli ini dianggap jadi pilihannya dan senjata untuk menangkis orang lain yang rewel ikut campur urusan dalam negerinya. Ah, kayaknya doi belum bisa bedain mana sikap teman yang sok ikut campur dengan sikap teman yang emang mau nolongin dia. Kayaknya perlu belajar lagi deh tuh orang. Bukan sombong or congkak nih, tapi kenyataan bahwa kalo orang nggak mau belajar ya kayak gitu. Wawasannya sempit dan nggak mau dengerin pendapat orang lain. Tul nggak seh?
Sobat gaulislam, waktu malam tahun baruan kemarin, pro kontra antara yang menolak merayakan dan mengajak merayakan sama maraknya. Meski demikian ada aja orang yang malah cuek dan nggak peduli. Dinasihatin malah ‘ngentutin’ (baca: nggak terima) sambil marah-marah dan bilang, “gue punya pendapat dan aturan sendiri. Jangan coba-coba elo ngatur hidup gue.Titik!” Widiw sombong sekali!
Ngeliat kenayatan seperti ini, kayaknya udah saatnya deh kita berpikir lebih dewasa. Berpikir lebih tenang dan bijak. Nggak keburu nafsu menghukumi ini dan itu jika itu nggak sesuai dengan pendapat kita. Jangan keburu memvonis orang yang nasihatin or ngingetin kita tuh sebagai perongrong, tukang cerewet dan kita anggap sebagai duri sehingga kudu disingkirkan dari jalan kita. Apalagi karena kita merasa paling benar, paling senior, paling pinter, paling luas wawasannya, paling banyak jenggotnya (yee apa hubungannya?), lalu kita merasa yang ngasih teguran ke kita tuh orangnya pasti salah.
Padahal nih Bro en Sis, siapa tahu kan namanya nasihat tuh bisa datang dari siapa aja? Nasihat itu kadang bisa datang dari anak kecil atau orang yang kita anggap status sosialnya rendah ketimbang kita. Nggak usah malu kalo ditegur, jangan pernah sewot kalo ada yang ngingetin kita. Karena yakinlah, insya Allah apa yang dilakukannya adalah demi kebaikan kita bersama. Kalo emang kita nggak suka dengan caranya menegur atau mengingatkan kita, lebih baik diam sejenak. Jangan langsung reaktif dengan cara menyerangnya. Resapi dulu omongannya, baru kita berpikir dan menyiapkan kata-kata argumentasi. Kalo memang perkataannya benar, ya kita terima aja. Nggak usah malu. Terus nih, yang terpenting kita nggak usah reaktif dan malah bilang, “Gue nggak peduli! Titik.”
Emang siapa kita?
Siapa sih kita? Pertanyaan ini biasa dan mungkin sederhana sekali, tapi cukup susah dijawab. Kalo kita udah bisa jujur kepada diri kita sendiri, yakin deh bahwa kita juga bisa jujur kepada orang lain dan mau memahami cara pandang orang lain. Mengenali diri kita itu penting. Supaya kita nggak lupa diri. Supaya kita bisa memposisikan diri kita di hadapan orang lain.
Sobat gaulislam rahimakumullah, yang jelas dan sudah pasti nih, kita adalah manusia. Manusia adalah makhluk Allah Swt. yang punya kelemahan dan keterbatasan. Jika kita merasa masih manusia dan orang lain yang berhubungan dengan kita juga manusia, maka kita bisa berkomunikasi dengan bahasa kita sebagai manusia secara umum.
Mungkin kita mulai belajar mengenai diri kita dari tubuh kita. Mata kita. Ya, kita punya mata. Sepasang benda ini mirip lensa kamera dan diletakkan di kepala. Sehingga mirip lampu yang bisa menerangi jalan kita dengan leluasa dan maksimal. Bayangkan jika mata diletakkan di organ kerja kita seperti tangan dan kaki, bisa-bisa rusak tuh pas kita kerja. Mungkin yang punya ide ‘gila’ berpikir, “Ah, kalo seandainya mata ada di telunjuk jari tangan kita kayaknya enak nih, kalo ngintip di pemandian nggak usah capek-capek nyari tangga, tinggal acungkan aja telunjuk kayak periskop kapal selam.” Hmm… sepintas emang menyenangkan. Tapi, dia lupa, gimana kalo akhirnya tuh telunjuk dipake ngupil? Atau misalnya harus dipake nyocol sambal? Bisa belepotan kotoran dan kepedihan karena nyungsep di kubangan sambel.
Selain mata yang merupakan indera untuk melihat, di kepala kita ditempatkan pula indera yang lain: telinga (indera pendengar), hidung (indera pencium), lidah (indera perasa, untuk mengecap rasa). Semua itu diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang indah, pas dan enak dipandang mata.
Nah, indera berikutnya yakni kulit—yang tidak saja ada di kepala, tapi di seluruh bagian tubuh luar kita adalah indera peraba. Kita bisa meraba apa pun yang kita pegang atau sentuh. Kulit tangan kita bisa merasakan benda kasar dan halus, atau kulit tubuh kita bisa merasakan hawa dingin, panas, dan juga gesekan lain yang menyentuh kulit. Selain panca indera itu, kita juga memiliki perasaan. Meski tak terlihat, tapi bisa dirasakan. Kita bisa sayang, bisa benci, cinta, merasa semangat, peduli, kecewa, kesal, dan banyak perasaan lainnya.
Kalo dari sisi indera aja kita udah kenal diri kita, maka yakin kita akan merawatnya. Kita akan menggunakannya sesuai kebutuhan kita. Kita menjaganya dengan kecintaan yang penuh. Itu sebabnya, jika kita udah mengenal diri kita secara fisik, apalagi kalo dengan perasaan, maka kita bisa menyadari bahwa orang lain pun memiliki potensi yang sama dengan kita. Karena sama-sama manusia. Betul?
Itu sebabnya, kalo kita udah mengenal diri kita, besar kemungkinan kita mau berbagi dengan orang lain. Kita mau bekerjasama dengan orang lain, saling percaya, saling peduli, saling menghargai, saling menyenangkan, saling menolong, saling memberi semangat dan lain sebagainya. Jadi, kalo masih ada yang pengen nafsi-nafsi alias egois, kayaknya doi belum kenal, apalagi paham dengan dirinya sendiri.
Kenapa kita harus bekerjasama dengan orang lain? Mengapa harus saling mengingatkan? Karena kita menyadari seyakin-yakinnya dan seratus persen bahwa kita punya keterbatasan. Orang lain juga sama. Mata kita mungkin terbatas hanya bisa melihat yang dekat saja, sementara teman kita bisa melihat lebih jauh. Jika kita bekerjasama, maka kita akan bisa berbagi.
Mungkin penglihatan dia terbatas karena indera penglihatannya terganggu, tapi kita punya. Maka ketika bekerjasama kita dan teman kita bisa saling bantu. Termasuk kita bisa bekerjasama dan saling mengingatkan dalam kebenaran. Karena sangat boleh jadi kan kalo kita tuh punya kelemahan dan bisa lalai dalam berbagai hal. Tapi teman kita yang tahu dan kebetulan punya kelebihan dalam wawasan bisa mengajak kita menjadi baik. Tentu itu karena sikap sayang, cinta, dan pedulinya kepada kita.
Maksud dia juga adalah menolong kita. Ya, sekadar mengingatkan kita. Dan itu bukan berarti doi udah benar en suci. Sangat boleh jadi dia (dan kita) juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, “Engkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti” Tul nggak?
Tuh, berawal dari mengenali diri kita sendiri, yakni mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Kemudian kita melihat orang lain yang juga manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sama seperti kita. Lalu kenapa nggak saling mendukung en menolong aja kalo kebetulan apa yang kita miliki tidak dimiliki teman kita? Maka, jika kita bekerjasama dan saling mengingatkan demi kebenaran dan kebaikan adalah perbuatan yang sangat terpuji. Itu sebabnya, kalo kita ditegur dan diingatkan sama teman yang lain jangan sewot, tapi seharunya bersyukur. Nggak perlu sinis bilang: “Emangnya gue pikirin! Terserah gue mau berbuat apa aja. Jangan cerewet!”
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, kita harus mampu mengenali diri sendiri sebagai manusia, kemudian melihat orang lain juga sebagai manusia, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya, baik itu secara fisik; mental; pengetahuan; termasuk dalam soal kehidupan; sosial, ekonomi, pendidikan dsb. Setelah kita melihat ke dalam diri kita dan dengan jujur mengakui apa yang kita miliki, kita bisa meminta bantuan kepada orang lain jika memang udah nggak bisa ditangani sendiri. Dan, jika kita dimintai bantuan oleh teman kita dan kebetulan kita punya, kenapa pula ogah ngasih bantuan? Seharusnya tanpa diminta kalo kita tahu dan mampu, kita bisa langsung ngulurin bantuan. Itu bentuk kerjasama yang baik. Bukan cuek. Apalagi kalo menutup mata dan bilang dengan jurus andalannya: “Gue nggak peduli! Titik.” Waduh!
Kita semua memang membutuhkan bimbingan dari siapa pun. Agar kita tidak liar dan menjadi orang-orang yang egois, cuek, sombong dan nggak mau menghargai pendapat orang lain. Kita harus nyadar bahwa kita ini manusia. Makluk lemah dan tentunya memerlukan dukungan dari orang lain. Kita bisa saling mengingatkan, saling menguatkan, saling menasihati, saling memberi masukan dan jangan segan untuk menyampaikan kritik. Toh, itu dilakukan sebagai bentuk tangungjawab dan rasa peduli kita. Kita bisa saling bergandengan tangan untuk meraih kebahagiaan bersama.
So, nggak jamannya untuk cuek dan egois. Kita bisa bekerjasama dan saling mengingatkan satu sama lain. Bukankah Allah Swt. sudah menyampaikan kepada kita dalam firmanNya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)
Bro en Sis, semoga nggak ada lagi prinsip “Gue nggak peduli! Titik.” atau “Emang gue pikirin?! Derita elo itu sih!” yang menguasai pikiran dan jiwa kita. Prinsip itu udah basi dan nggak laku sejak diluncurkannya bagi orang-orang yang sadar etika dan akhlak. Sebaliknya pupuklah sikap empati kita yang dilandasi keikhlasan dan keimanan kepada Allah Swt. semata. Bisa ya! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 219/tahun ke-5, 2 Januari 2012]


D5 Creation