Archives

now browsing by author

 

Resolusi 2012 dan Surat Al-‘Ashr

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

gambar dari: laksmindrafitria.wordpress.com

Apa yang biasa dilakukan orang-orang produktif di akhir tahun? Jawabannya, menggagas resolusi. Karena resolusi menjadi pilar untuk menentukan harapan demi harapan yang ingin diraih di tahun yang bakal dilalui. Harapan tersebut selalu berisi keinginan- keinginan untuk menempatkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Bolehkah menggagas resolusi dalam pandangan Islam? Jawabannya,  boleh. Karena Allah SWT. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Berdasarkan ayat tersebut, resolusi yang dianjurkan dalam agama Islam adalah resolusi yang arahnya mesti menapaki jalan terbaik menuju akhirat. Artinya, tak boleh ada kezhaliman yang terjadi dalam meraih harapan demi harapan yang ditargetkan. Semuanya harapan yang dilakukan semata-mata untuk makin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lalu, adakah konsep resolusi yang terbaik dalam Islam? Ada.

Adalah surat al-‘Ashr konsep terbaik untuk menjadi tolak ukur menggagas resolusi, karena di dalamnya tercakup peluang untuk meraih harapan-harapan yang positif, baik di dunia maupun di akhirat. Malah Imam Syafi’I, seperti yang dimaktubkan Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juz ‘Ammanya, sangat tegas menyatakan keistimewaan suat al-‘Ashr, “Kalau seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kecuali surat ini kepada hamba-hambanya, niscaya sudah cukup bagi mereka.” Tentu saja ucapan Imam Syafi’i tersebut membuktikan bahwa surat al-‘Ashr memiliki rahasia yang luar biasa.
Makanya, bila ingin menggagas resolusi tahun 2012 layak merujuk ke surat al-‘Ashr. Karena di dalamnya terdapat empat kecerdasan yang siap membimbing siapa saja yang ingin menjadi orang yang berguna dan berbuah kesuksesan. Kecerdasan yang menjadi penyebab utama untuk bisa meraih apa yang diinginkan sesuai dengan perintah Allah SWT. karena tanpa keempat kecerdasaran tersebut akan sia-sia harapan yang ingin diraih dan bahkan minus nilai ibadah.

Dalam surat al-Ashr yang pertama, “Demi Masa”, Allah menjadikan masa sebagai landasan dasar. Meski ulama berbeda maksud dari kata al-‘Ashr, namun intinya Allah menganjurkan umat Muhammad dalam menjalani hidup harus memiliki kecerdasan intelegensi. Karena waktu melambangkan kecerdasan intelegensi. Sedangkan intelegensi sendiri berkembang seiring tingkat kemampuan mental (mental age) dan tingkat usia (chronological age).

Dalam menggagas resolusi hendaknya umat Islam tetap menjadikan peningkatan kecerdasan intelegensi menjadi bagian dari yang mesti diraih. Dengan memiliki kemampuan meningkatkan kecerdasan intelegensi mampu  membuktikan bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai ilmu, dan selalu siap untuk mengisi waktu demi waktu dengan belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bila dikaji pada diri Rasulullah SAW., kecerdasan intelegensinya memang cukup terlihat. Kecerdesan intelegensi sangat sebanding dengan sifat fathonah (cerdas). Muhammad muda berbeda dengan remaja muda di sekitarnya saat itu. Jika remaja muda sibuk bermain, maka Muhammad muda menyibukkan diri dengan berdagang untuk meraih masa depan yang gemilang. Dia sibuk ikut berdagang dengan pamannya hingga mampu mendagangkan barang Khadijah binti Khuwailid. Kecerdasannya dalam berdagang juga tidak stagnan. Ia selalu cerdas dalam memasarkan. Ia menggunakan beragam metode untuk menarik minat konsumen. Pertanyaannya, bukankah kecerdasan Muhammad muda dalam berdagang adalah bagian dari kecerdesan intelegensi? Dengan kecerdasan intelegensi yang dimiliki, Muhammad muda bisa mendagangkan barang dagangan Khodijah dengan keuntungan yang mengejutkan.

Adapun ayat kedua surat al-Ashr, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” menjadikannya sebagai landasan finansial. Karena di dalam ayat ini ada bicara rugi, maka lawannya adalah untung. Bila bicara untung-rugi tentu bicara masalah perdagangan. Karena itu, dalam menggagas resolusi harus ada nuanasa dagang. Namun bukan artinya harus ada keinginan menjadi pengusaha atau pedanag di tahun mendatang.

Tapi nuansa dagangnya yang harus dimiliki.Yaitu, adanya nilai-nilai dagang Rasulullah menghiasi kehidupan sehari-hari, seperti jujur (ash-shiddiq), terpercaya (al-Amiin), dan lain-lain. Harus mampu meraih harapan-harapan yang ingin diraih dengan konsep jujur dan terpercaya. Jika selama ini nuansa dagang Rasulullah tersebut belum terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, maka saatnya di masa yang akan dilalui setahun ke depan nantinya bisa diterapkan.

Sedangkan ayat ketiga surat al-Ashr, “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” menunjukkan kecerdasan spiritual. Artinya,  dalam kehidupan ini mesti ditumbuhi kesadaran akan adanya Allah dan memaknai serta mewarnai kehidupan dengan perbuatan yang baik. Makanya, resolusi yang disusun dalam setahun ke depan harus mewujudkan kecerdasan spiritual.

Harus ada nilai-nilai yang meningkatkan kualitas iman dan menumbuhkan semangat beramal saleh. Pasalnya, Rasulullah SAW. bersabda, “Ada dua hal yang tak dapat sesuatu apa pun yang dapat mengungguli keduanya: beriman kepada Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin.”

Karena itu, peningkatan kualitas iman dan rasa solidaritas terhadap sesama muslim mesti menjadi prioritas harapan yang mesti dilakukan. Misalnya jika tahun 2011 shalat yang dilakukan hanya yang fardhu saja, maka pada tahun 2012 mesti lebih ditingkatkan lagi dengan shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tahajjud dan shalat-shalat sunnah lainnya. Demikian halnya dengan sedekah, maka pada tahun 2012 mesti lebih ditingkatkan lagi jumlahnya. Yakin bahwa Allah SWT. akan membalas uang yang dinafkahkan di jalan-Nya, dan menumbuhkan semangat untuk berbagi kepada sesama manusia.

Bila diperhatikan, kecerdasan spiritual yang terkandung dalam surat Al-‘Ashr ini juga mencakup sifat Rasulullah shiddiq (benar). Benar, bahwa apa yang dilakukan semata-mata karena Allah. Benar bahwa yang dilakukan semata-mata memberi manfaat bagi sesama. Hal ini senada dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Kandungan ayat terakhir surat al-‘Ashr,”Dan nasehat menasehati dalam kesabaran dan nasehat-menasehati dalam kebenaran,” menunjukkan kecerdasan emosional. Karena kesabaran dan kebenaran hanya bisa dicapai bila memiliki emosi yang positif. Ayat keempat surat Al-‘Ashr ini sangat berhubungan dengan sifat tablighnya Rasulullah SAW. Tabligh adalah kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan emosional. Sudah jamak didengar ihwal kesabaran Rasulullah SAW. yang luar biasa, baik dari sebelum diangkat statusnya menjadi nabi Allah hingga menduduki posisi sebagai Rasul Allah. Nabi Muhammad SAW. memang pribadi yang sangat sabar.

Karena itu, susunlah resolusi yang ingin dilalui di tahun 2012 dalam bingkaian surat al-‘Ashr. Di dalamnya harus ada pencapaian kecerdasan intelegensial, kecerdasan finansial, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional.

Sehingga, harapan demi harapan yang ditentukan tetap berada pada koridor yang telah ditetapkan Allah. Hidup penuh dengan ilmu, hubungan sosial dengan sesama manusia benar-benar bermutu, keimanan dan semangat beribadah menjadi nomor satu, dan tindakan yang dilakukan dengan penuh kejujuran tetap menjadikan hal yang tak mesti ditunggu-tunggu.

Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus  Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut

Tak Ada Kebebasan Beragama!

 O. Solihin

Wedew, tema gaulislam pekan ini ‘serem’ banget (bagi yang menganggapnya demikian, dan sekadar tema biasa aja bagi yang memiliki anggapan sebaliknya). Okelah itu bukan soal tema serem or tema manis. Judul ini memang terinspirasi dari kondisi saat ini, di mana orang bebas memeluk agama dan juga bebas untuk nggak beragama. Ya, itu memang hak setiap orang. Mau jadi muslim atau jadi kafir memang pilihan. Bukan paksaan. Tapi yang pasti, urusan tersebut ditanggung masing-masing orang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Artinya, nggak bebas juga pada akhirnya, sebab setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya.

Oya, tema ini diambil juga karena banyaknya kaum muslimin, khususnya remaja yang kebingungan untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa ada agama selain Islam. Berbekal pengetahuan minim tentang ajaran Islam, banyak kaum muslimin dengan alasan toleransi akhirnya malah ikut serta dalam perayaan agama selain Islam, misalnya ikut acara Natal. Waduh!

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, judul yang saya pilih dalam gaulislam edisi 218 ini adalah: “Tak Ada Kebebasan Beragama!” maksudnya: “setiap orang nggak bisa bebas dalam menafsirkan ajaran agama sesuai hawa nafsunya”. Selain itu, target penulisan ini juga ditujukan agar umat manusia paham bahwa naluri beragama itu ada pada setiap diri manusia, maka munculkan dan salurkan pada jalur yang benar sesuai tuntunan wahyu yang sudah ditetapkan syariat. Nggak boleh mengikuti selera hawa nafsu manusia itu sendiri yang cenderung menjauhkan dari ajaran syariat.

 

Rasa nyaman beragama

Sebagai sebuah ideologi, Islam pasti udah ngasih aturan dan sanksi juga dalam urusan agama. Nggak bisa memaksa orang lain untuk masuk Islam. Tapi kalo udah masuk Islam, harus taat sama aturan dong ya. Inilah bagian dari pemeliharaan Islam terhadap agama.

Beragama itu fitrah asasi manusia, lho. Kenapa ini fitrah? Karena sesuai dengan potensi hidup manusia. Jadi manusia tuh memiliki yang namanya potensi hidup. Nah, potensi hidup inilah yang akan mendorong manusia untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini terwujud dalam dua manfistasi alias penampakan atau bentuk. Pertama, menuntut pemenuhan yang bersifat pasti. Artinya nih, kalo nggak terpenuhi manusia akan binasa. Nah, ini yang dinamakan dengan kebutuhan jasmaniyah (hajatul ‘udlaawiyah) seperti makan, minum dan buang hajat. Kedua, menuntut adanya pemenuhan saja dan jika nggak terpenuhi, manusia nggak bakalan mati, hanya saja akan merasa gelisah hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Hmm.. inilah yang dinamakan dengan naluri (gharizah).

Terus nih, ditinjau dari segi munculnya dorongan (tuntutan pemuasan), naluri berbeda lho dengan kebutuhan jasmaniyah. Karena apa? Karena dorongan kebutuhan jasmani bersifat internal. Misalnya aja nih, kita kepengen makan karena lapar. Kalo perut udah kenyang mah, ada makanan lezat juga nggak nafsu dah. Jadi emang nggak perlu dorongan dari luar. Belum ada ceritanya orang tiba-tiba merasa lapar karena udah ngeliat wajah temennya yang kayak rujak cingur (waaah sadis banget!). Nggak ada dari sononya orang jadi tiba-tiba lapar (padahal perutnya udah full tank) setelah melihat ada gambar sepotong ayam goreng yang renyah.

Beda ama naluri lho. Karena lahirnya perasaan yang menuntut pemenuhan pada naluri didorong oleh pemikiran-pemikiran tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi perasaan, atau suatu kenyataan yang dapat diindera. Misalnya nih, naluri untuk mengembangkan keturunan/melestarikan jenis, bisa terangsang karena seseorang memikirkan atau melihat wanita (termasuk kalo cewek, ya melihat cowok) atau segala sesuatu yang berkaitan dengan seks.

Oya, kalo rangsangan-rangsangan itu nggak ada, maka naluri pun nggak muncul. Karena emang rangsangannya dari luar bukan dari dalam tubuh manusia. Termasuk dalam naluri ini adalah naluri bergama. Naluri ini bisa muncul dengan adanya pemikiran-pemikiran mengenai informasi-informasi seputar Dzat yang bisa disembah. Kalo untuk kaum Muslimin, yakni dengan memikirkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran ciptaan) Allah.

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, aneh banget kalo sampe ada orang mengkampanyekan kebebasan beragama. Orang mo beragama apa nggak, terserah. Seperti dulu pernah dilontarkan oleh Dr. J. Soedjati Djiwandono, seorang katolik, salah seorang direktur CSIS mengeluarkan gagasan tentang kebebasan beragama dalam negara Pancasila. Menurut dia, kebebasan beragama mengisyaratkan hak seseorang untuk memeluk satu agama atau tidak beragama, termasuk mengisyaratkan hak seseorang untuk memilih untuk berpindah atau keluar dari satu agama, sesuai keinginan. (Republika, 3 Oktober 1994)

Wah, kalo gitu udah menyalahi naluri itu sendiri dong ya? Karena manusia tuh pada dasarnya kepengen banget mensucikan sesuatu. Untuk disembah dan diagungkan. Meski kalo nggak tahu informasi yang benar tentang siapa yang berhak dan wajib kita sembah, maka akan berbeda pula sesembahannya.

 

Nggak ada paksaan untuk masuk Islam

Allah Swt. udah ngejelasin dalam firmanNya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS al-Baqarah [2]: 256)

Ini artinya, egara Islam (Khilafah Islamiyah), atau kaum Muslimin nggak boleh memaksa orang lain untuk masuk agama Islam. Misalnya ngancem: “Kalo nggak masuk Islam, akan disuruh renang di kolam berisi cairan asam sulfat. Waduh, itu sih namanya sadis bin kejam, Bro.

Sejak jaman Rasulullah saw., para khulafa ar-Rasyiddin, dan generasi setelahnya, Islam nggak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk memaksa orang lain masuk Islam. Itu sebabnya, dalam negara Islam orang-orang nonMuslim juga bisa hidup berdampingan tanpa harus meninggalkan agamanya. Ini membuktikan bahwa Islam sangat toleran kepada orang kafir selama mereka tunduk di bawah naungan negara Islam dan nggak memerangi Islam dan kaum muslimin.

Jadi, kalem aja nih buat orang-orang nonMuslim, bahwa Islam nggak bakalan mengancam mereka untuk masuk Islam dan meninggalkan agamanya. Nggak bakalan. Kalo kemudian ada banyak kasus nonMuslim yang masuk Islam, itu karena pilihannya sendiri. Bukan dipaksa. Seperti misalnya kasus Bilal bin Rabbah, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abu Thalib, Khadijah, Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Salman al-Farisi dan masih banyak lagi. Mereka masuk Islam dan meninggalkan agama or kepercayaannya yang dulu bukan karena dipaksa oleh Rasulullah saw., tapi karena mereka melihat Islam telah memberikan cahaya terang dalam hidup.

 

Kalo udah masuk ya kudu taat

Ini emang konsekuensi, guys. Kayak kita aja milih sekolah. Nggak ada paksaan dari pihak sekolah tertentu agar kita masuk sekolah di situ. Tapi, kalo kita udah masuk di sekolah tertentu, maka kita kudu taat terhadap segala aturan yang diberlakukan di sekolah itu. Kalo melanggar, ya kita akan diberi sanksi. Iya kan?

Nah, dalam Islam, untuk memelihara agama ini juga diminta agar pemeluknya melaksanakan seluruh ajaran Islam. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)

Dalam  menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)

Imam an-Nasafiy  menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (Imam al-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta’wiil, I/112)

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.

Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: “Ayat di atas merupakan  perintah kepada  orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)

Ini artinya, kita nggak boleh menawar-nawar lagi untuk melakukan ibadah yang bukan berasal dari Islam. Misalnya aja, bagi seorang mualaf, karena dulunya setiap minggu ke gereja untuk kebaktian, maka setelah masuk Islam udah nggak boleh lagi tuh ikutan kebaktian di gereja. Karena emang udah bukan lagi ajaran dari Islam.

 

Agar tidak mempermainkan agama

Propaganda kebebasan beragama itu sebetulnya bagian dari upaya untuk menghancurkan keyakinan seseorang dalam beragama. Itu sebabnya, khusus bagi yang udah memeluk Islam, nggak ada pilihan lain lagi. Wajib taat. Tapi kalo nekat pindah agama (dari Islam) kepada selain Islam. Itu namanya murtad. Islam punya cara tersendiri untuk mengatasi persoalan ini sebagai bagian dari pemeliharaan negara terhadap agama rakyatnya. Bukan mengekang lho, tapi justru melindungi. Jadi, hukuman Islam kepada orang-orang murtad (keluar dari agama Islam) jangan dianggap sebagai bentuk pemaksaan agama terhadap rakyat. Karena sejatinya adalah melindungi. Justru kalo dibiarkan, ya kayak sekarang, orang bebas pindah agama karena nggak ada hukumannya. Dalam pandangan Islam, seorang muslim nggak layak untuk keluar dari Islam alias pindah agama. Karena itu merupakan bentuk pelanggaran besar.

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Ikrimah yang berkata, “Dihadapkan kepada Amirul Muk-minin ‘Ali ra orang-orang zindiq, kemudian beliau ra membakar mereka. Hal ini disampaikan kepada ‘Ibnu ‘Abbas dan ia berkata, “Seandainya aku (yang menghukum), maka aku tidak akan membakarnya karena larangan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: “Janganlah kalian mengadzab (menghukum) dengan ‘adzabnya Allah.” Dan aku (Ibnu ‘Abbas) akan membunuhnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.”

Membunuh laki-laki yang murtad berdasarkan dzahir hadis tersebut. Sedangkan membunuh wanita yang murtad berdasarkan keumuman hadis. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengganti (agamanya)”. Sedangkan lafadz “man” termasuk lafadz umum. Diriwayatkan oleh Daruquthniy dan Baihaqiy dari Jabir, “Bahwa Ummu Marwan telah murtad.  Rasulullah saw. memerintahkan untuk menasihatinya agar ia kembali kepada Islam. Jika ia bertaubat (maka dibiarkan), bila ia tidak, maka dibunuh.” (Abdurrahman al-Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, hlm. 128-129)

Lagian sia-sia aja deh bagi mereka yang pindah agama dari Islam kepada yang lain. Itu sama artinya dari terang menuju gelap. Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 217)

 

Islam menghormati nonMuslim

Boys and gals, Islam nggak bakalan maksa siapa pun (termasuk mereka yang udah punya agama) untuk masuk Islam. Maka, Islam pun menghormati nonMuslim.

Memang sih, hal ini hanya akan bisa disaksikan kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Kalo nggak mah, kayak sekarang nih, sulit juga direalisasikan, meski masih mungkin dalam beberapa hal, seperti misalnya jika berselisih pendapat mengenai agama-agama mereka maka mereka boleh berdebat satu sama lain dengan cara yang paling baik dan dalam batas-batas kesopanan, dengan argumentasi dan memberikan kepuasan (kemantapan). Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka…” (QS al-Ankabut [29]: 46)

Sekadar tambahan info saja, yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan. (Dalam catatan kaki no. 1155, Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, hlm. 635)

Sobat gaulislam, Islam menghormati penduduk negeri Islam meskipun mereka nonMuslim. Suatu ketika, seorang wanita Nasrani dari penduduk Mesir pernah mengeluh kepada Umar bin Khaththab bahwa Amr bin Ash telah menggusur rumahnya untuk keperluan perluasan masjid. Amr lalu ditanya oleh Umar mengenai hal ini. Amr mengabarkan bahwa jumlah kaum Muslimin telah banyak dan masjid sudah tidak dapat lagi menampung mereka. Kebetulan di samping masjid itu rumah perempuan ini. Amr telah menawarkan kepadanya uang ganti-rugi yang melebihi harga rumahnya tetapi ia tidak mau. Maka terpaksa Amr merobohkan rumah itu dan memasukkannya ke lingkungan masjid, sedangkan uang ganti-ruginya ditaruhnya di Baitul Mal (kas negara) yang bisa diambil kapan saja perempuan itu mau.

Meskipun ini termasuk kondisi yang dibolehkan karena bisa dijadikan alasan oleh Amr atas perbuatannya, namun Umar tidak menerimanya dan menyuruh Amr merobohkan bangunan baru masjid itu. Umar menyuruh Amr agar mengembalikan rumah perempuan Nasrani seperti semula. (Dr. Mustafa as-Siba’i, Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 95)

Bro en Sis rahimakumullah, inilah Islam. Agama kita. Kita pantas bangga banget karena Islam sejak dulu udah mempraktikkan toleransi. Jadi, wajar banget kan kalo ada komentar seperti yang disampaikan Rev. Charles Francis Potter, “Mubaligh-mubaligh Islam mengajarkan perdamaian dunia, persaudaran dunia, toleransi, ketinggian derajat wanita dan penghancuran dinding perbedaan ras. Islam sama sekali suci dari segala bentuk minuman keras, dan Islam mempraktikkan persamaan ras.” (The Faiths Men Live By, hlm. 81. Dikutip dalam buku Kekaguman Dunia terhadap Islam, hlm. 58)

Melalui hukum syariat seperti ini kaum Muslim terjamin untuk melaksanakan ajaran agamanya. Demikian pula orang non-Muslim bebas untuk menjalankan agamanya tanpa ada paksaan dari siapa pun. Negara menjaminnya, masyarakat Islam memberikannya hak.

Bandingkan dengan sistem demokrasi yang memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang—apalagi disertai dengan paradigma alias kerangka berpikir bahwa dalam beragama jangan gunakan akal—udah bikin nggak sedikit manusia yang terperosok ke dalam agama yang nggak masuk akal macam agama Kabalah yang dianut Madonna atau agama Scientologi yang dianut sama Tom Cruise. Selain itu, muncul banyak sekte sesat yang, antara lain, menyajikan bunuh diri massal macam sekte The Heavens Gate (Gerbang Surga) yang didirikan oleh Marshall Herff Applewhite dan Bonnie “TI” Lu Trusdale Netteles atau sekte Aum Shinri Kyo yang didirikan pada 1987 oleh Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto di Jepang sebagai solusi dalam mengatasi problema hidup mereka. Waduh, kacau banget kan?

Padahal, Allah Swt. sebagai Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan telah menganugerahi naluri fitri beragama. Allah Swt. berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS ar-Ruum [30]: 30)

Oya, fitrah Allah tuh maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. (Catatan kaki no. 1169, Al-Quran dan Terjemahnya, Dpertemen Agama RI, hlm. 645)

Sobat gaulislam, semoga gambaran sekilas tentang pemeliharaan Islam atas agama kian menguatkan pemahaman kamu bahwa Islam tuh emang beda dengan agama or ideologi yang lain. Maka, berbahagialah menjadi seorang muslim dan berbanggalah. Gimana, tetap istiqamah dalam Islam kan? Wajib! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 218/tahun ke-5, 26 Desember 2011]

Cinta Butuh Komitmen

O. Solihin

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, alhamdulillah ketemu lagi dengan buletin kesayangan kamu semua ya. Semoga kebersamaan kita juga sekaligus menyatukan pikiran dan perasaan kita. Menyamakan persepsi bahwa Islam adalah gaya hidup kita. Menyatukan visi bahwa hanya dengan Islam, kehidupan kita akan mulia di dunia dan di akhirat. Selain itu, kita mampu mengikatkan diri dalam satu upaya: mencintai Islam dan ajarannya sebagai bentuk komitmen kita terhadap perjuangan dakwah demi menggapai ridho Allah Swt.

Sobat muda muslim, perlu juga dikasih tahu istilah komitmen nih, soalnya pernah lho ada teman kita yang nggak tahu istilah konsisten. Hehehe… dalam kamus, tertulis: commitment kb. 1 janji. commitments memenuhi janji-janjinya; juga berarti tanggung jawab. Kalo dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), komitmen artinya perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; bisa juga berarti kontrak.

Itu sebabnya, kalo kita ngomong soal komitmen pastinya ada hubungan dengan apa yang telah kita ikrarkan atau kita sepakati dalam melakukan atau membuktikan sesuatu. Kalo kita cinta kepada diri sendiri, maka kita harus berani membiasakan diri kita ditempa dengan disiplin, bila perlu dalam level tertentu disiplin bisa berfungsi untuk ‘menghukum’ kita agar lebih kuat, lebih semangat, lebih memiliki komitmen serius. Namun demikian, jangan sampai alasan mencintai diri kita sendiri lalu menjadikan kita egois dengan nggak mau mikirin orang lain. Bukan begitu, sobat. Justru sebaliknya, karena kita mencintai diri sendiri maka kita harus berkomitmen untuk menjaga janji itu dan kita aplikasikan juga dalam mencintai kepada sesama. Sebab, kepada orang lain saja kita cinta, apalagi kepada diri sendiri. Logika sederhananya sih gitu.

Jangan cuma bisa bilang: “cinta”

Boyz and galz pembaca setia gaulislam, jangan pernah ucapkan kata cinta jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai. Jangan sampe keluar kata cinta jika kita tak berani membela yang kita cintai. Sebab, cinta bukan hanya ucapan yang manis di bibir, bukan kata yang kedengarannya indah di telinga, dan bukan pula tulisan yang membuat kita merasa bahagia. Bukan hanya itu. Karena cinta harus diwujudkan dalam perilaku. ‘Kalimah sakti’ itu harus tercermin dalam perbuatan dan pikiran. Sekali berani bilang cinta, maka seharusnya kita akan berani berkomitmen untuk berkorban, berani membela, dan berani bertanggung jawab terhadap apa yang kita cintai.

Sobat muda muslim, tolong jangan menggombal atas nama cinta. Jangan pula pura-pura jadi orang yang penuh cinta dengan menipu diri karena sejatinya kita belum sepenuhnya mencintai apa yang kita cintai. Cinta itu bukan main-main, cinta adalah wujud dari keseriusan kita bahwa kita akan berusaha melakukan apa saja demi yang kita cintai. Kalo kita mengecewakan yang kita cintai, tentunya cinta kita palsu. Kalo kita mengkhianati apa yang kita cintai, tentunya bukan cinta sejati. Sebab, jika benar-benar cinta kepada apa yang kita cintai, kita nggak bakalan mengecewakan apalagi mengkhianatinya. Tul nggak sih?

Maka, jangan berani bilang cinta kepada Allah Swt., jika kita ternyata masih melanggar aturanNya. Sungguh sangat aneh jika kita berani mengatakan cinta kepada Allah, sementara kita doyan alias hobi banget menolak perintahNya, sementara laranganNya malah kita lakukan. Pastinya ada yang error alias tulalit kalo kita bilang: “Aku cinta kepada Allah Swt.”, tapi dalam kelakuan kita nggak mencerminkan kecintaan kita kepadaNya.

Misalnya nih, meski sholat rajin dan puasa rajin, tapi perintah Allah Swt. yang lainnya seperti menutup aurat kalo keluar rumah nggak kita lakukan. Anak cewek yang tertutup rapat dengan kain mukena ketika sholat, seharusnya menutup rapat auratnya pula ketika keluar rumah. Seringnya kan nggak ya. Rapi pada saat sholat, begitu keluar rumah malah tampil mengumbar aurat.

Bro, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., jika ternyata kita masih melanggar aturan yang ditetapkan Rasulullah saw. Sebab, apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sejatinya adalah wahyu dari Allah Swt. Ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firmanNya: “…kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm [53]: 2-4)

Kalo kita masih mengumbar hawa nafsu dengan melakukan aktivitas pacaran, berarti selain melanggar aturan Allah Swt., juga melanggar aturan Rasulullah saw. Dan, tentu aja itu artinya nggak mencintai Allah Swt. dan RasulNya. Allah menjelaskan larangan mendekati zina (lihat QS al-Isra ayat 32). Nah, hadis Nabi juga ada. Beliau saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai mahromnya. Karena sesungguhnya yang ketiga adalah syaitan.” (HR Ahmad)

Sobat, jangan bilang cinta kepada Rasulullah saw., kalo kita nggak tersinggung ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja melecehkan Rasulullah saw. Aneh banget kan kalo kita ngakunya cinta mati sama Rasulullah saw., tapi kita nggak marah ketika ada orang yang menjelekkan Rasulullah saw. Banyak kok kasusnya. Dulu jamannya pelecehan yang dilakukan sebuah media massa Denmark dengan membuat kartun Nabi Muhammad saw., apakah kita marah? Kalo adem ayem saja, ada something wrong dalam pikir dan rasa kita, tepatnya pada keimanan kita. Ati-ati sobat!

Terus, jangan pula ngobral bilang cinta kepada ortu kita, jika kita masih suka melawannya, mencelanya, merendahkannya, dan bahkan menghinanya. Bohong banget kalo kita ngaku-ngaku cinta sama ortu kita, tapi setiap ortu minta tolong untuk kebaikan kita malah menolaknya. Percuma bilang cinta sama ortu, tapi kalo diingetin untuk kebaikan dan kebenaran kita malah menghardiknya. Anak macam apa itu? (muhasabah diri yuk!)

Bro en Sis, jangan pula kita dengan mudah bilang cinta kepada sesama muslim, kalo praktiknya dalam kehidupan ternyata kita nggak mau bekerjasama saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling membantu jika di antara kita mengalami kesusahan. Bohong banget ngaku-ngaku cinta kepada sesama kaum muslimin, tapi ketika ada saudara seakidah kita minta tolong malah dicuekkin. Apalagi sesama aktivis dakwah, mentang-mentang beda kelompok dakwah, lalu nggak mau menolong jika beda kelompok dakwah. Lebih parah lagi jika para aktivis dakwah itu masih sodara kandung. Karena kakaknya beda kelompok dakwah dengan adiknya, lalu ketika mereka membutuhkan pertolongan malah disuruh minta ke temen-temen dari kelompok dakwah masing-masing. Yee.. mana ukhuwahmu? So, bohong banget ngaku-ngaku cinta sesama muslim tapi dengan sesama kaum muslimin sendiri nggak mau menolong hanya karena yang akan ditolong beda kelompok dakwah.

Oya, rasa-rasanya kita perlu bertanya kepada diri sendiri, benar nggak sih kita cinta sama diri kita sendiri? Jangan ngaku-ngaku cinta sama diri sendiri, jika kenyataannya kita senang menjerumuskan diri dalam bahaya dan kerusakan. Bohong banget bilang cinta ama diri sendiri, tapi setiap hari kita nenggak minuman keras, sering juga mengkonsumsi narkoba, tubuh kita dipenuhi tattoo. Bahkan banyak di antara kita yang mengumbar auratnya dan dipajang di sampul majalah porno atau joget-joget kayak cacing kepanasan mempertontonkan keindahan tubuhnya di layar televisi (termasuk mereka yang menjerumuskan tubuh-tubuh mereka dalam perzinahan).

Menurut saya, mereka adalah orang-orang yang nggak cinta pada dirinya sendiri. Kalo dipikir-pikir, memang sih tubuh kita ya tanggung jawab kita sepenuhnya. Mau diapakan saja terserah kita. Wong, itu tubuh kita. But, kita kudu ingat sobat. Bahwa tubuh kita bukan milik kita. Tubuh kita sejatinya milik Allah Swt. Jadi, tuh tubuh kudu kita pelihara dan dijaga sesuai aturan dari yang menciptakan kita, yakni Allah Swt.

Termasuk nih, jangan bilang cinta kepada lawan jenis kalo dalam praktiknya ternyata kita malah menodai cinta tulusnya dengan ekspresi cinta yang dilarang agama: gaul bebas dengan lawan jenis bukan mahram dan bahkan sampe berzina. Naudzubillahi min dzalik!

Brur an Sis, jangan pula bilang cinta sama Islam kalo praktiknya kita malah nggak mau diatur sama ajaran Islam. Bahkan mencampakkan syariat Islam. Naif banget bukan? Itu sebabnya, jangan sampe deh kamu begitu rupa kelakuannya. Ya, jangan cuma bisa berani bilang cinta tapi miskin komitmen.

Bro en Sis, coba kita merenung sejenak en pikir-pikir tentang keberadaan kita saat ini. Malu nggak sih kalo kita dapetin predikat muslim, sementara kita nggak mau diatur sama aturan Islam? Padahal, dengan predikat muslim itu kita jadi punya komunitas dan memiliki ciri khas. So, kalo menjauh dari Islam dan aturannya, bukan tak mungkin kita bakalan sesat. Termasuk nih, kalo kita menyimpang dari ajaran Islam karena nggak mau diatur sama Islam, ada kemungkinan juga akhirnya celaka karena akan dapetin azab Allah di akhirat nanti. Sumpah!

Firman Allah Swt. tentang orang-orang yang sesat akibat menjauh dari kebenaran Islam: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256)

Dalam ayat lain Allah Swt. menjelaskan: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Yuk mari, kita tunjukkan komitmen dalam mencintai berbagai hal, khususnya mencintai Islam. Malu (dan yang jelas berdosa) banget sebagai muslim, bila yang kita cintai adalah segala hal yang menjauhkan diri kita dari hidayahNya. Itu sih namanya cinta tanpa komitmen. Mencintai Islam jadinya sekadar pemanis bibir saat diucapkan, tapi miskin dalam gerak dan komitmen. Sayang sekali bukan? Semoga kita bisa tetap mencintai Islam dan syariatnya dengan menunjukkan komitmen yang serius dalam upaya mewujudkan cinta kita tersebut. Setuju ya? Sip deh! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 217/tahun ke-5, 19 Desember 2011]

Saatnya Kebangkitan Islam!

O. Solihin

Apa kabar remaja muslim di tahun 1433 H? Sudah merasa jadi muslim atau belum? Sudah bergerak untuk membuat perubahan yang berarti atau enak dengan gaya lama? Masih senang hidup dalam kondisi sekularisme menggerayangi setiap sudut kehidupan kita seperti sekarang ini dari tahun ke tahun atau sudah mencoba berjuang melepaskan diri dari kehidupan sekulerisme dan berupaya menggantinya dengan gaya hidup Islam? Ah, sayang banget Bro en Sis kalo kita betah atau makin tenggelam dalam kubangan kenistaan hidup. Meski dunia dalam genggaman dan merasa bahagia, tapi nggak ada jaminan kalo di akhirat kelak kita bahagia. Iya nggak sih?

So, di tahun baru 1433 H, masih di bulan Muharam pula dan baru tanggal 2 saat buletin kesayangan kamu ini terbit (atau bertepatan dengan tanggal 28 November 2011), kita harus bangkit dari keterpurukan kehidupan selama ini. Hidup di bawah naungan sekularisme yang tak memberikan manfaat dan kenikmatan yang barokah bagi kehidupan kita. Jangan malas untuk berubah menjadi baik kawan. Semoga momen tahun baru hijriah, 1433 ini, bisa mengingatkan kembali betapa perjuangan untuk kebangkitan Islam harus terus digelorakan, dan remaja macam kamu dan kita semua wajib menjadi pejuangnya.

Sudah banyak contoh bahwa kesejahteraan hidup hanya berputar pada orang-orang kaya saja. Orang miskin gimana? Ya, makin miskin dalam kondisi kapitalisme ini. Dalam kehidupan sehari-hari udah sangat jelas bahwa banyak orang yang nggak hidup layak. Di Jakarta saja, kolong jembatan layang bukan sebatas tempat berteduh di kala panas dan hujan, tapi sudah menjadi ‘surga’ untuk hidup di bawahnya, berkembang-biak, dan menyambung hidup di ganasnya belantara ibu kota.

Ssst… pernikahan anaknya Pak Presiden SBY aja begitu mewah, pasti miliaran rupiah dihamburkan. Ini bukan ngiri bin sirik lho. Cuma kok nggak empati dengan kehidupan umumnya rakyat Indonesia. Minimal yang di dekat Istana Cipanas deh. Demi hajatan royal (boros) tersebut banyak pedagang (kebanyakan dari warga tak mampu) yang terpaksa tempat mangkalnya ditutup (bukan sementara, tapi selamanya). Ckckck…kok bisa tega ya?

 

Akarnya sekularisme

Sekularisme adalah ‘akidahnya’ ideologi kapitalisme sobat. Ideologi ini, sebagaimana ideologi lainnya (Islam dan Sosialisme—termasuk komunisme) memiliki aturan main dalam kehidupan ini. Sebagai sebuah ideologi (Arab: mabda’), kapitalisme mempunyai akidah (ide dasar) dan ide-ide cabang yang dibangun di atas akidah tersebut. Akidah di sini dipahami sebagai pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyah) tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia.

Bro en Sis, perlu kamu ketahui juga sejarah munculnya sekularisme. Singkatnya begini, pada masa kegelapan gereja di Eropa pada abad pertengahan dimana para agamawan yang bersaing dengan para kaisar dalam upaya menguasai negara dan tidak jarang juga mereka berkolusi dalam mengendalikan kehidupan masyarakat Eropa, melahirkan berbagai kesengsaraan rakyat bawah.  Maka muncullah para intelektual yang setelah melihat realitas empirik kesengsaraan masyarakat, berkesimpulan bahwa sumber petaka bangsa Eropa adalah gereja dan agama Nasrani yang mereka bawa. Para ilmuwan yang bersikap keras bahkan mencap agama sebagai candu bagi rakyat, mereka menyerukan bahwa Tuhan telah mati. Mereka menjadi atheis.  Mereka menuntut penghapusan agama dan institusinya.

Konflik yang panjang antara para intelektual dan gerejawan pun terjadi. Sampai akhirnya disepakati suatu kompromi bahwa bangsa Eropa mengakui keberadaan Tuhan dan agama Nasrani, namun mereka membatasi peranan Tuhan mereka hanya di gereja saja. Masalah-masalah kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan bukanlah wilayah gereja, melainkan urusan manusia, dalam hal ini kaisar. Itu sebabnya, mereka berdalih Tuhan telah menghendaki demikian.  Mereka mengutip salah satu ayat dalam Injil, “Berikanlah hak Tuhan kepada Tuhan dan hak Kaisar kepada kaisar”. Inilah asal mula munculnya faham sekularisme, mereka memisahkan agama dari kehidupan dan itu berarti memisahkan agama dari negara. Akhirnya, agama tetap diakui eksistensinya, hanya saja perannya dibatasi pada aspek ritual, tidak mengatur urusan kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Begitu sobat. Catet ya. Buat wawasan kamu.

Nah, di atas akidah (ide dasar) sekularisme ini, dibangunlah berbagai ide cabang dalam ideologi kapitalisme, seperti demokrasi dan kebebasan. Yakin deh, untuk yang satu ini kamu udah kenal banget. Oya, ketika cabang agama sudah dipisahkan dari kehidupan, berarti agama dianggap tak punya otoritas alias wewenang lagi untuk mengatur kehidupan. Jika demikian, maka manusia itu sendirilah yang mengatur hidupnya, bukan agama. Hadeeuh nekat bener dah!

Pantesan sekarang banyak orang menganggap dirinya paling benar hingga rela menyingkirkan aturan Allah dalam kehidupan ini. Jadi jangan kaget or heran kalo dari sinilah lahir demokrasi, yang berpangkal pada ide menjadikan rakyat sebagai sumber kekuasaan-kekuasaan (legislatif, eksekutif, yudikatif) sekaligus pemilik kedaulatan (pembuat hukum). Wajar kan kalo hukum bisa diutak-atik saenake udele dhewek.

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, demokrasi ini selanjutnya membutuhkan prasyarat kebebasan. Sebab tanpa kebebasan, rakyat tidak dapat mengekspresikan kehendaknya dengan sempurna, baik ketika rakyat berfungsi sebagai sumber kekuasaan, maupun sebagai pemilik kedaulatan. Kebebasan ini dapat terwujud dalam kebebasan beragama (hurriyah al-aqidah), kebebasan kepemilikan (hurriyah at-tamalluk), kebebasan berpendapat  (hurriyah al-ar‘y), dan kebebasan berperilaku (al-hurriyah asy-syakhshiyyah) (Abdul Qadim Zallum, ad-Dimuqrathiyah Nizham Kufr, 1993).

Satu hal yang esensial alias penting dari pandangan mereka adalah bahwa demokrasi yang dilandasi oleh prinsip jalan tengah tersebut, adalah menjauhkan segala hal yang berbau gereja atau agama Nasrani dari  kehidupan bernegara. Itulah yang tampak dalam slogan revolusi Perancis: “Gantunglah Kaisar terakhir dengan usus pendeta terakhir!”. Itulah hakikat demokrasi.

Jadi wajar jika dalam pendidikan, ekonomi, dan politik  pun kudu dipisahkan dari agama. Itu memang hakikat sekularisme. Kamu mau ini terus berlanjut? Nggak lha yauw.

 

Pendidikan dan Islam

Bener, nggak usah diragukan lagi deh, Islam sebagai ideologi udah terbukti mampu memberikan solusi bagi problematika kehidupan ini, termasuk pendidikan. Nggak kayak sekarang, amburadul van semrawut! Maklum ini akibat ketidakbecusan kapitalisme mengatur kehidupan ini, sodara-sodara.

Kamu perlu ngeh bahwa dalam Islam, kurikulum pendidikan dibuat seimbang. Artinya, pembagian pengajaran untuk ilmu umum (iptek) dan tsaqofah Islam sama banyaknya (masing-masing sekitar 50 persen). Pengetahuan tsaqafah islamiyah (seluruh ilmu yang titik tolak pembahasannya dari akidah Islam atau al-Quran dan as-Sunnah) diajarkan dari mulai sekolah dasar sampe perguruan tinggi. Begitupun dengan iptek.

Sementara untuk tsaqafah selain Islam, semacam ideologi kapitalisme dan sosialisme, agama-agama, filsafat, dan kebudayaan lain diajarkan di perguruan tinggi untuk diketahui dan dibuktikan kepalsuan dan kesesatannya. Lha, kalo sekarang malah dipelajari untuk diamalkan. Celaka dua belas deh namanya!

Sobat muda ‘penggila’ gaulislam, dalam Islam, seorang mahasiswa kedokteran tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu kedokteran macam anatomi, farmakologi, parasitologi dll, tetapi ia pun mempelajari ilmu alam, matematika, kimia dan sejenisnya. Nggak cukup di situ, ia juga harus menguasai bahasa Arab lengkap dengan gramatikanya, juga ilmu Islam lainnya macam tafsir, hadits, qur’an, juga fikh. Dengan demikian diharapkan seorang dokter nggak berperilaku bejat, karena memang menguasai tsaqafah Islam. Minimal banget doi tahu fiqh yang berkaitan dengan bidang ilmunya seperti hukum aborsi, euthanasia, inseminasi, forensik, dan sejenisnya.

Pokoknya, nggak ada spesialisasi ilmu. Kalo sekarang malah timpang. Yang ngerti agama bolong ipteknya, eh, yang jagoan iptek malah buta agamanya sendiri. Kacau banget kan? Padahal, dengan kurikulum Islam yang memberikan ruang untuk pendidikan agama dan umum sama banyaknya udah melahirkan banyak ilmuwan muslim yang kesohor di mancanegara. Bolehlah disebut seperti Ibnu Sina (Avicena), Ibnu Rusyd (Averos), al-Kinid, Jabir ibnu al-Hayan, al-Idrisi, dan masih ribuan ilmuwan muslim lainnya.

Jadi jelas, ilmu pengetahuan, bukanlah bagian yang terpisahkan dari syariat Islam dan etika moral. Menurut Montgomery, nggak ada yang dapat melukiskan relasi antara ilmu pengetahuan, etika, dan agama daripada kata-kata filosofis Ibnu Rusyd. Filsafat, tak berarti apa-apa jika tak bisa menghubungkan ilmu pengetahuan, agama dan etika dalam suatu relasi harmonis.

Oke deh, kita jangan menyerah untuk berjuang menegakkan Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Sistem pendidikan Islam yang oke ini nggak bakalan bisa diterapkan kecuali dalam bingkai negara Islam, Daulah Khilafah Islamiyah.

Lagi pula, sekularisme mulai nggak laku lagi euy! Why? Hal yang mungkin tidak diduga oleh para pemikir sekularis adalah kenyataan bahwa sinyal Islam sebagai sebuah agama dan sistem politik bukannya melemah, tetapi malah semakin menguat. Propaganda Nietzsche bahwa Tuhan sudah mati tidak terbukti. Yang terjadi justru sebaliknya. Propaganda itulah yang mungkin kini tengah sekarat.

Bro en Sis rahimakumullah, saat ini justru manusia moderen berbondong-bondong kembali pada agama (khususnya yang memilih memeluk Islam), seperti ramalan John Naisbit dan Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000-nya yang menyebut Abad ke-21 sebagai abad kebangkitan agama. Bukan sekadar kembali pada kehidupan religi, banyak orang makin percaya bahwa Islam adalah solusi bagi kehidupan masyarakat moderen. Menguatnya kontraksi gerakan-gerakan Islam di sejumlah negeri-negeri kaum Muslim yang direspon positif oleh berbagai lapisan masyarakat bisa jadi merupakan  lonceng kematian bagi dominasi sekularisme. Siapkah kta menyambut kebangkitan Islam? Tetep semangat sobat! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 214/tahun ke-5, 28 November 2011]

“Black Metal”, Musik Setan?

O. Solihin

Seorang guru yang sekolahnya langganan gaulislam mengirim pesan singkat ke nomor ponsel saya. Isinya saya copy paste apa adanya saja supaya lebih ‘alami’ ya. Hehehe.. Mau tahu pesannya?

Begini: Salam..Kang, sy lg bingung sXgus Greget.. Ada slh 1 murid pr sy yg skrng kls 1 Mts mngrim sms sprti ni:

=Hy nama w …… alamat rumah gua dd komplek KEMATIAN jalan Ariiw PERSEKUTUAN PARA SETAN cat rumah gua warna HITAM no 666 maen ya  ! ! nanti gua sediain tempat duduk dari BATU NISAN kalo kedinginan gua kasih SORBAN HITAM di samping rumah gua juga ada MAKAM SELATAN soal nya ada yang ABORSI KEGELAPAN di belakang rumah gua pas ada yang meninggal di nyanyiin HARMONI KEMATIAN banyak PASUKAN MATI yang menyanyikan nya eh langsung ada CAHAYA BIDADARI yang datang. gua punya burung yang suara nya mirip SILUET apa lagi kalo dengerin KEDJAWEN, rasa nya  pengen KE ALAM SURGA ajjh :-D =

Kemudian dalam pesan itu juga beliau, seorang guru yang tengah gundah dengan kelakuan salah seorang (mantan) anak didiknya ini menuliskan: “kmarin dia ikt acr black metal dpajajaran itu. Qr2 apa yg hrs sy lkukan, blz gmna smsnya? Maaf dan mksh sblumnya.”

Saya hanya membalas singkat, bahwa insya Allah jawaban dari SMS-nya ini akan saya tulis spesial di buletin gaulislam edisi pekan depan (baca: maksudnya pekan ini, edisi 212/tahun ke-5/14 November 2011).

Bro en Sis, ngomongin soal musik, sepertinya nggak ada habisnya. Seru. Banget. Gimana nggak, dalam kehidupan kita sehari-hari beragam jenis musik apapun berjejalan di gendang telinga kita minta didengarkan. Saat ini, di tempat saya, beberapa tetangga sepertinya lagi keranjingan ama Ayu Ting Ting, jadi yang disetel itu mesti “Alamat Palsu”. Waduh, kalo di dunia internet mah, tuh orang ngasih alamat domain yang udah expire atau emang nggak ada alamatnya kali ye. Sehingga pas diklik: “server not found” hahaha…

Jaman saya SD dan SMP, lagu-lagu yang menghiasi ruang dengar saya nggak jauh dari lagu dangdut, lagu jaipongan, pop sunda, dan paling banter pop Indonesia dan sesekali dengar lagu rock yang iramanya masih bisa disimak. Ya, hanya itu. Saya belum kenal namanya musik beraliran classic rock, heavy metal, blues (apalagi death metal dan black metal). Meski di tahun itu 80-an, mungkin bagi teman seusia saya di kota sudah kenal kali ye dengan band-band macam Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple atau Blue Oyster Cult dan lainnya. Hehehe.. telinga saya di desa nun jauh dari kota lebih banyak dengerin lagu-lagu pop. Itu pun lihat dan dengarnya di televisi seminggu sekali pas acara Kamera Ria atau Aneka Ria Safari. Hehehe… jadi inget jaman dulu deh. Sekadar nyebutin beberapa lagu, misalnya: Kau Milikku (Richie Ricardo); Pernahkah (Angel Paff); Antara Cinta dan Dusta (Obbie Messakh); Apanya Dong (Euis Darliah); Berdiri Bulu Romaku (Hetty Koes Endang); Ada Kamu (Harry Mukti); atau lagu-lagu parodi dalam irama dangdut yang dibawakan Johny Iskandar bersama PMR. Oya, paling banter yang berkaitan dengan musik yang agak ‘keras’ ya lagu-lagunya God Bless dan Nicky Astria kali ye. Halah.. belum kenal banget lagu-lagu black metal. Jangankan lagunya, wong istilahnya aja waktu itu saya nggak tahu: ndeso!

 

‘Ideologi’ setan black metal

Bro en Sis, perilaku seseorang bergantung cara pandang yang dimilikinya. Nah, cara pandang yang dimilikinya terikat-kait dengan informasi yang selama ini ia dapatkan. Asupan informasi tertentu dan itu berlangsung dalam waktu yang lama, bisa saja membekas dalam dirinya sehingga membentuk cara pandang dan menumbuhkan perilaku. Contoh mudahnya adalah cara pandang seseorang yang menganggap bahwa kebahagiaan bagi dirinya adalah diukur dari banyaknya kekayaan materi yang dia raih. Maka, apapun yang bisa mendatangkan kekayaan akan dia ambil: dari mulai bekerja; berjualan, atau bahkan hasil korupsi dan menipu. Dia hanya fokus pada harta kekayaan yang dianggapnya membuat bahagia. Di sini, kelihatan banget tuh bahwa cara pandang akan mempengaruhi perilaku. Sementara cara pandang dibentuk oleh informasi yang dia dapatkan dan kemudian diyakininya.

Nah, ngomongin soal musik dan lagu juga sama, Bro en Sis. Cerita seorang guru yang mengirim SMS ke saya yang saya ceritakan di awal tulisan gaulislam edisi 212 ini, adalah contoh bahwa (mantan) anak didiknya menjadi berubah cara pandang setelah bergaul dengan kawan-kawannya yang menyukai jenis musik black metal. Ini memang masih perlu diuji apakah ia benar-benar penganut dan meyakini ‘ajaran-ajaran’ dalam lagu yang dibawakan genre musik black metal atau memang dia sekadar gaya-gayaan aja biar disebut gaul dan diterima di komunitas bermainnya. Perlu diverifikasi. Meski demikian, menurut saya, tetap harus dipantau dan diingatkan bahwa jika hal itu terus menerus dan dia merasa enjoy dengan kondisi tersebut karena dukungan dari teman-temannya, maka bukan tak mungkin akan menjadi gaya hidup baginya meski awalnya sekadar ikut-ikutan doang. So, waspadalah!

Oya, kondisi ini sama persis ketika seorang remaja awalnya ikut-ikutan ngaji, sekadar solider ama temen yang ngajakin dia ngaji. Tetapi, karena sering diajak pengajian, bergaulnya dengan anak-anak pengajian, membicarakan topik yang berkaitan dengan Islam dan syariatnya, bertemu dengan guru-guru ngajinya, dibimbing dan diarahkan, maka bukan tak mungkin ia akan menjadi orang yang memiliki cara pandang yang sama dengan kawan-kawan ngajinya dan kemudian ia merasa bahwa itu adalah pilihan terbaik bagi jalan hidupnya, maka insya Allah pada suatu saat ia bahkan bisa mengembangkan dirinya dengan cara pandang tersebut.

Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, perlu diketahui bahwa genre musik black metal ini memusuhi semua ajaran agama. Kalo menyimak lirik-liriknya memang sering mengambil kata-kata berbau setan, penyembahan berhala, dewa-dewa kuno, tema gaib yang mengutuk agama Kristen. Ini memang bisa dilihat dari sejarah munculnya black metal. Ketika menelusuri informasi ini, jujur saya kebingungan sendiri (hehehe). Selain banyak banget, juga ada info yang berbeda untuk sejarah munculnya black metal ini. Nggak tahu yang bener yang mana dari segi siapa yang pertama kali memunculkan. Ada yang bilang grup band Venom dari Inggris, tapi banyak juga yang merujuk bahwa kemunculan black metal itu dari Norwegia yang diusung oleh Mayhem. Di Norwegia memang unik, pernah suatu ketika bagi para diplomat baru yang bertugas di Norwegia diberikan pelatihan mengenal seluruh kebudayaan Norwegia, khususnya seputar lirik-lirik black metal. Alasannya, black metal adalah sebuah komoditi ekspor bagi Norwegia.

Black metal di Norwegia mempunyai sejarah panjang. Mulai dari pembunuhan, kejahatan sadis, hingga pembakaran gereja yang dikaitkan dengan genre ini. Salah satu kasus yang paling terkenal ialah di tahun 1994 ketika Varg Vikernes, vokalis dari band black metal Burzum, membunuh Oystein Aarseth, vokalis dari band Mayhem. Vikernes dibebaskan pada tahun 2009 silam.

Oya, kelakuan para pengusung black metal juga aneh-aneh lho. Misalnya Per Yngve Ohlin a.k.a. Dead (anggota Mayhem).  Dead memiliki tingkah laku yang aneh; suatu kali ia mengubur pakaiannya di bawah tanah selama beberapa minggu sehingga ia dapat memakai pakaian tersebut yang sudah membusuk dalam suatu konser. Ia juga pernah memasukkan seekor gagak mati ke dalam kantong plastik untuk “menghirup hawa kematian” sebelum naik panggung. Hal ini makin memperkuat atmosfir musik Mayhem, dan lirik band ini berkembang menjadi satanisme, kegelapan, depresi, dan kejahatan. Dalam banyak pertunjukan mereka, kepala-kepala ditancapkan di atas tombak dan Dead melukai dirinya sendiri dengan pisau. Pada bulan April 1991, Dead mati bunuh diri dalam usia 22 tahun dengan tembakan di kepala dan luka-luka di pergelangan tangan, disebabkan oleh pisau berburu yang baru ia beli hari itu.

 

Musik islami seperti apa?

Pernah dengar lagu-lagu ideologisnya Soldiers of Allah seperti “1924”; “Jihad”; “No Compromise”; “Staring into Kafirs Eyes”; “By  Islam We Are Family”, dan puluhan lagu lainnya? Keren dan ideologis, Bro en Sis!

Jenis musik yang diusung adalah rap. Syairnya kuat dan ‘memanaskan’ kesadaran kita sebagai muslim. Di saat banyak orang tertipu dengan kehidupan dunia dan jebakan-jebakan orang-orang kafir untuk meninggalkan ajaran Islam, SOA berteriak: Who do you fear?/ Allah or the Kafir?/ Why do you want to be like the kafir when you have the haq (truth) in your hand? Ini penggalan dari lirik “Staring into Kafirs Eyes” yang seolah berteriak keras di dekat gendang telinga kita. Hebat dan menyadarkan.

Bro en Sis, sebenarnya lagu-lagu islami banyak juga di berbagai macam genre musik. Selain rap, kita juga udah disuguhi lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama yang bernuansa pesan religi. Cukup banyak malah. Juga dari Ebiet G Ade, dan ratusan grup nasyid serta grup band umum yang mendadak islami ketika Ramadhan dengan mencipta lagu-lagu religi. Ini bisa dikategorikan lagu yang islami. Syukur-syukur penyanyinya juga islami. Jangan sampe nyanyinya doang tapi kelakuannya nggak sesuai dengan yang disampaikan di lagu-lagunya.

Menurut Dr Abdurrahman al-Baghdady, penulis buku “Seni dalam Pandangan Islam”, Khilafah Islam terdahulu tidak pernah melarang rakyatnya mempelajari seni suara dan musik. Mereka dibiarkan mendirikan sekolah-sekolah musik dan membangun pabrik alat-alat musik. Mereka diberikan ghairah untuk mengarang buku-buku tentang seni suara, musik dan tari.

Namun demikian, Khilafah Islamiyah akan tetap mengawasinya. Menurut beliau, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam seni (musik, vokal, tari), di antaranya: tidak boleh mengajak orang untuk minum arak, tidak bergaul bebas, jangan berpacaran, tak bermain cinta dengan bukan mahram, atau ngajakin bunuh diri. Tidak boleh pula yang mengarah kepada perbuatan cabul dan membangkitkan birahi seksual. Apalagi lagu yang isinya bertentangan dengan akidah Islam pasti dilarang.

Nah, jika begitu tentu nggak pantas banget seorang muslim mengamalkan ‘ajaran’ black metal dan menyebarkannya. Setuju? [Dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 212/tahun ke-5, 14 November 2011]