Cerpen
now browsing by category
Rahasia Pohon Pinus
By: Widuri
Andrian membuka kaca mata hitamnya. Dari kaca spion dilihatnya rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dengan jari tangannya yang putih dan kokoh karena rajin fitness dan angkat barbell, dirapihkannya anak rambut di depan matanya. Sambil tangan kirinya tetap memegang helm arai hitamnya. Dia tidak turun dari motor, dia nampak menunggu seseorang di depan sebuah gedung ruko bertingkat lima. Dilihatnya jam tangan di pergelangan tangan kanannya, tak lama ia bergumam pelan.
“Masih lama.”
Dia mengeluarkan handphone Blackberry dari saku celananya. Mulai asik ber-facebook ria. Dilihatnya setiap status dari teman-temannya, tidak ada yang menarik untuk dikomentari. Gumamnya lagi. Kemudian ia masuk ke profil seorang gadis berjilbab lebar, sahabatnya waktu di kampus dulu. Sahabat yang sama-sama bergabung di Rohis juga.
Dilihatnya sebuah status yang terakhir di update-nya. Sekitar dua minggu yang lalu. Pelan-pelan dibacanya setiap Komen yang ada di bawahnya. Taklama jari tangannya berhenti pada sederet status yang bertuliskan curhatan hati gadis itu.
“Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Tuhanku. Ketika segala doa Istikhorohku kupanjatkan, aku harus kecewa ketika bayangan yang hadir semakin jelas, bukan bayanganmu.”
Dibawahnya terdapat 15 komen yang menanyakan maksud dari kata-katanya, tapi tidak ada satupun jawaban darinya yang menjelaskan maksud tulisannya.
Dasar gunung es, batin Andrian. Dia tersenyum sedikit. Gunung es adalah panggilan Andrian untuk gadis itu. Seperti tampilan gunung es, ia seolah dingin dan teguh, sementara jauh di dalam jiwanya, ia adalah wanita yang rapuh. Read More…
Lelaki Di Atas Sungai Seine
Oleh: Arum Suprihatin
Di atas sungai Seine yang mengalir tenang, waktu seakan berhenti berputar. Di dalamnya, aku adalah seorang musafir yang tersesat dan kehabisan bekal. Tenggelam dalam kepedihan di tengah keindahan Paris yang menakjubkan. Dengan menara Eiffel yang angkuh menjulang dan gemerlap cahaya lampu di sepanjang L’avenue des Champs-Elysees. Aku rindu maman dan grand-pere.
Namaku Renaud Durand. Lahir dua puluh tiga tahun yang lalu di Toulouse, ibukota Midi-Pyrenees, sebuah daerah di sebelah selatan Prancis. Ibuku adalah seorang wanita yang cantik dan lembut. Ayahku? Aku tak pemah mengenalnya. Melihat fotonya pun belum pernah. Kenangan tentang ayahku ada di benak seorang balita yang bertanya tentang ayah kepada ibunya. Maman, ibuku, menyentuh lembut hidungku sambil berkata:
“Papa sudah pergi, mignon. Dia tak kan kembali. Tak akan pernah.”
Ya. Papaku pergi dan tak kan kembali. Jawaban maman membuatku sedih dan berhenti bertanya tentang papa.
Pada umur tujuh tahun, maman membawaku pulang ke Toulouse. Waktu itu ia kehabisan uang. Karirnya sebagai model di Paris mulai surut. Aku suka Toulouse. Suasananya lebih tenang dan iklim mediterane yang kering dan panas membuat udara di Toulouse lebih hangat dari Paris. Dan yang paling penting di sana ada grand-pere, kakekku.
Grand-pere adalah idolaku, pengganti ayah yang tak pernah kukenal. Sifat-sifatnya hampir sama dengan maman, lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi wajah mereka tidak mirip. Wajah maman oval dengan hidung lancip dan rambut pirang. Sementara wajah grand-pere persegi dengan hidung agak besar dan rambut coklat tersaput uban keperakan. Hanya mata mereka saja yang sama, besar berwama biru terang. Read More…
Detik-Detik Menyentuh
By: Pipiet Senja
Hari ke-99 di ruang isolasi sebuah rumah sakit pemerintah.
Mesin pencatat detak jantung masih memperdengarkan bunyinya yang khas. Mendengung, menggaung dan memecah nuansa muram ruangan serba steril, serba putih dan serba hening. Yah, di sinilah aku berbaring dalam keadaan sangat parah. Para dokter menyebutnya sebagai situasi in-coma.
Sesungguhnya kupingku masih mendengar. Otakku bahkan masih bisa berpikir. Meskipun kadang timbul-tenggelam. Persis hasil pencatat detak jantung di sebelah tempat tidurku itu. Kadang berdetak-detak teratur, kadang pula menaik dan menurun. Suatu kali malah sempat mendatar…, beberapa detik!
Di ruangan sangat hening ini aku sesungguhnya tidak sendirian. Ada tiga tempat tidur yang selalu diisi. Tapi mereka tak pernah berlama-lama tinggal di sini. Paling beberapa jam, dua atau tiga hari mereka biasanya langsung dipindahkan. Ada yang pindah ke ruang rawat inap biasa. Tapi lebih banyak yang diangkut ke ruang jenazah!
Satu-dua di antaranya aku kenal dengan baik. Meskipun hanya beberapa saat. Kami berkomunikasi ala pasien in-coma. Caranya hanya kami yang paham. Kamu nggak percaya kan? Ya sudah, toh aku sudah lama juga nggak punya kepercayaan itu. Terutama dari orang-orang paling dekat, orang serumah.
Aku jadi teringat lagi dengan salah seorang mantan tetanggaku. Sekitar dua minggu yang lalu, tengah malam, ranjangnya didorong ke sebelahku. Seorang koas mengatakan bahwa pasien itu baru menjalani operasi. Urat di pergelangan tangannya nyaris putus. Kondisinya sangat parah. Terutama karena tak ada semangat hidup lagi dari dalam dirinya. Padahal dia begitu muda dan cantik. Umurnya tentu setahun lebih muda dariku.
“Aku memang mau bunuh diri!” cetus Mona setelah ruangan kembali hening. Hanya seorang perawat jaga di ruang sebelah. Tiga rekannya biasanya bergiliran tidur di ruang piket seberang.
“Pasti gara-gara putus cinta,” komentarku mendadak sinis.
Orang berjuang setengah mati kepingin hidup. Ini kok malah sengaja melenyapkan kehidupan, anugerah terindah dari Sang Khalik. Sungguh tak tahu diri anak manusia ini!
“Bukan,” bantahnya luka sekali, seiring bunyi detak jantungnya yang semakin melemah. “Gara-gara nafsu bejat lelaki itu…”
“Oh, maaf… Lelaki yang mana?” cecarku khawatir dia keburu lewat.
“Itu yang paling sok sedih, sok sibuk, sok banyak berdoa, huuh! Munafik jahanam!”
Dan aku ingat, memang ada seorang lelaki dengan ciri-ciri seperti itu di antara rombongan pengantar.
“Sepertinya, eh, pantasnya dia ayahmu?”
“Seharusnya kuhormati sebagai ayah kandungku. Nyatanya dia sudah menghancurkan hidupku…”
Aku merasa gadis itu sudah mau menyerah. Tak sudi lagi mempertahankan hidupnya, bahkan barang semenit pun!
“Apa yang sudah dilakukannya?” kejarku penasaran.
“Dia sudah menghancurkan kehormatanku. Anaknya sendiri. Aduuuh! Aku lebih suka matiiiii…!”
Tuuut, tuuuut, tuuuut… Bunyi mesin pencatat jantung pun terdengar mendatar, mendatar, mendatar… God bye, Mona!
Anak kelas satu SMA itu lewat juga. Tenggelam ke dasar samudera lukanya yang tak berujung dan tak bertepi. Ke mana kira-kira dia akan melangkah sejak diangkut dari sini? Dan lelaki itu, ayah kandungnya sendiri telah… Dunia seperti apa di luar sana?
Sejak tragedi siang itu, acapkali aku pun tak punya keinginan untuk kembali. Sesungguhnya aku tak perlu kaget lagi, ya kan? Ah, tapi karena satu alasan, aku memang harus kembaliiii!
ooOoo
Siang beranjak petang. Dan petang pun menyentuh malam. Dari tempat seperti ini sesungguhnya aku tak bisa merasai lagi makna siang atau malam. Rasanya sama saja. Pagi, siang, petang dan malam tak ada bedanya. Intinya waktu berlalu dalam putaran sama dan sebangun; sebuah penantian, detik-detik bersentuhan dengan Sang Malaikat Maut.
Sayup-sayup terdengar gema takbir. Allahu Akbar Allahu Akbar wa lilah ilhamda… Apa kupingku tidak salah? Rasanya belum lama kulewati malam lebaran. Tentu saja bukan di tempat persinggahan seperti ini. Tapi di sebuah kawasan hiburan yang tak pernah mengenal makna suci, hari fitri dan segala yang berbau spiritual.
“Kita bawa hidup ini hepi-hepi aja, coy!” teriak si Josh yang asyik-masyuk bareng Maria, bergiliran nenggak minuman alkohol.
Sementara lainnya ada yang bergelimpangan. Ada pula yang terus-menerus jejingkrakan. Sesuai dengan musik hingar-bingar di sekitar kami.
“Ini, ini…, biar elo gak stres mulu!” Josep melemparkan lintingan ganja yang siap dihisap.
“Aku sudah nyoba, gak enak,” tepisku.
“Ini aja, rasanya, hmmm… kuuuul meeen!” Jean berbagi butiran ekstasinya denganku.
“Yeah…, sini! Daripada stres mulu, siniii!” sambutku putus asa.
Itulah pertama kalinya aku mengenal obat-obatan terlarang. Kubenamkan segala kecewa, marah, sedih dan amuk ke dalam lautan ajaib. Perasaan yang melayang-layang ringan, ringan, ringan… Hepi, whoooi!
Setelah berhari-hari tidak pulang, kafe tempat gengku hura-hura digrebek. Aku dilepas dengan jaminan pengacara ayahku, Sinambela SH, sesuai namanya memang doyan bela-bela.
“Aduuuh, Non Tina, kenapa jadi begini? Apa Non Tina nggak sayang badan sendiri?” Simbok inang pengasuhku sejak bayi menangisiku. Hanya tinggal perempuan paro baya ini yang masih peduli terhadapku. Lainnya sibuk dengan urusan masing-masing!
Dalam sekejap rumah menjadi heboh. Menyulut kembali pertengkaran Papi dengan Mami. Niel, abangku yang rocker itu, hanya sesaat melongok ke ruang keluarga. Kemudian dia menyambar kunci Jaguarnya, pasti mau gila-gilaan bareng gengnya. Denada, adikku yang bintang sinetron, tak kelihatan batang hidungnya. Kabar-kabarinya dia lagi syuting sinetron laris di Pulau Ayer.
“Ini semua gara-gara Papi! Sejak Papi doyan selingkuhan, rumah tangga ancur-ancuran!” tuding Mami histeris.
“Jangan salahkan orang! Lihat dirimu sendiri! Apa yang kamu kerjakan selama ini?” balas Papi.
Dan aku coba melanjutkannya dalam hati. Apa sih kerja Mami sejak jadi nyonya pejabat? Keluyuran, pamer mobil, pamer berlian, pamer semuanya!
“Selingkuhan Mami malah lebih banyak…”
Haaa? Segitu kacau-balaunya ortuku? Semakin heboh mereka bertengkar, kepalaku semakin mudeng. Simbok memapahku naik ke loteng, membersihkanku, mengganti baju kumal yang bau entah apa itu. Begitu telaten dan sayangnya Simbok kepadaku. Ah, sayang sekali, seminggu kemudian sosoknya tak kelihatan lagi di rumahku.
“Dia sudah tua. Gimana coba kalo mati di rumah ini? Jadi, terpaksa Mami harus memulangkan Simbok ke kampungnya!” dalih Mami sungguh tak masuk di akal sehatku.
“Bukan itu alasannya!” teriakku geram sekali. “Rahasia Mami dipegang semua sama Simbok. Mami pasti takut kaaan? Ya, takut Simbok kelepasan omong sama tetangga, terutama pers! Seharusnya bukan Simbok yang Mami pecat…”
“Diaaam!” sergah Mami.
“Sopir sialan itu! Asisten Papi itu! Para lelaki muda yang jadi pelampiasan Mami ituuuu…!”
Plaaakk!
Mami menamparku, keraaas sekali!
Amukku kian meradang. Berhari-hari, berminggu-minggu aku lenyap dari kamarku. Keluyuran ke kafe-kafe malam, menghamburkan isi credit card milik Papi yang sempat kucolong. Kadang aku ketawa kecut kalau mengingat isi kocek Papi. Dia nyolong dari kas negara, milik rakyat. Melalui tanganku, biar kubalikkan lagi kepada yang berhak. Hehe!
Begitulah hidupku hingga suatu hari mengubah keadaanku.
“He Tina, lihat nih!” Josh melemparkan koran ke arahku.
Aku membaca berita yang dilingkari spidol merah. Iklan pemberitahuan tentang pemutusan keluarga. Biasanya nonpri yang suka melakukan hal-hal begini. Tapi, ups!
Itu nama pengacara Papi, Sinambela, SH. Mereka menyatakan bahwa aku, si Tina Kristina binti Perwironegoro, SE, MBA, tak ada hubungan apapun dengan keluarga besar orang terhormat itu. Jelaaas!
“Kartu ajaib elo tuh gak laku lagi, Tina!” jengek Jean sinis.
“Sejak sekarang elo gak boleh tinggal di sini lagi,” usir Josh diikuti Maria, Josef, Jean dan lainnya.
Akibat kecanduan ngeboat, saraf-saraf otakku pasti sudah terganggu berat. Buktinya pikiranku tak pernah jejeg. Kadang melayang-layang, kadang menurun dan mencoba bangkit untuk bisa berpikir waras. Tapi nyatanya lebih sering lagi melayang-layang, terbang tinggi ke awang-awang…
Betapa kuingin mencapai nirwana!
“Aku butuh pil-pil nirwana itu!”
Saat-saat itulah aku sudah tak sanggup lagi mengendalikan pikiran dan perasaanku. Aku biarkan siapapun dan apapun itu menjamah, menyentuh dan menguasai tubuhku. Hanya satu yang kuinginkan, ngeboat, biar bisa terbang, terbang, terbaaang!
“Pergi jauh-jauh, enyaaah!” seorang demi seorang dan seorang lagi mengusirku, begitu dia sudah memuaskan hasrat bejatnya dengan memberi imbalan sekadar pembeli pil-pil setan itu.
Dan siang itu sampailah perjalananku di kawasan Kuningan. Terik matahari menyengat ubun-ubunku. Tersaruk-saruk kubawa langkah ini setapak demi setapak. Sepanjang malam itu aku telah melalui perjalanan paling jahim dalam hidupku. Ada segerombolan buas, anak-anak para pejabat tinggi negeri ini, menyergapku habis-habisan. Setelah puas mereka melempar tubuhku di kakilima begitu saja.
“Aku ingin mati saja!” jeritku saat itu.
Setapak demi setapak terus kulakoni, hingga suatu kali di depan kedubes Australia, tiba-tiba… buuum!
ooOoo
Gema takbir terus menggema malam ini, mengiringi langkah para koas memasuki ruang isolasi. Mereka kembali memeriksa keadaanku. Mencermati setiap gejala yang diperlihatkan alat-alat penunjang hidupku. Para koas muda yang penuh dedikasi, diseling diskusi serius ada juga obrolan ringan.
“Gimana kondisinya sekarang?”
“Hmm, paling sepuluh persen harapan hidupnya.”
“Hebat betul semangat hidup anak ini, ya…”
“Yeah, namanya juga anak seorang pahlawan, sang pembela rakyat…”
“Makanya, banyak orang jahat yang dendam!”
“Iya. Kalo gak dapat bokapnya, anaknya juga jadilah!”
“Hmm, kalau pun dia pergi kuyakin dia akan mendapat tempat di sisi-Nya…”
“Amiiin…”
Jangaaan! Aku tak ingin pergi sekarang!
Aku harus jelaskan dulu duduk perkaranya. Bahwa aku bukan anak pahlawan. Bahwa kejadian yang menimpaku sama sekali tak ada kaitannya dengan ayahku. Bahwa mereka, pers itu, sungguh telah salah kaprah. Bahwa semua berita perihal diriku, keluargaku yang telah dimuat secara besar-besaran di tabloid, koran, layar televisi itu… Semuanya hasil rekayasa!
Ya, aku harus hidup, haruuus!
“Kalian… aloow, sudah dengar berita baru tentang pasien kita ini?” koas Ridwan muncul dan bergabung dengan rombongan koas yang mengerubungi ranjangku.
“Paling mereka bilang akan menyiapkan bintang kehormatan…”
“Besok lebaran! Kalian kok pada gak inget waktu?” koas ganteng itu sempat bercanda.
“Kan kita lagi fokus di sini. Biar anak ini pulih dan bisa beri kesaksian…”
“Gak perlu lagi!” tukas koas Ridwan. “Ada saksi otentik yang bisa menjelaskan semuanya jadi terungkap…”
Hening sesaat. Aku berusaha keras menajamkan pendengaran.
“Ada seorang perempuan paro baya yang datang ke Polsek. Dia buka suara ungkap kebenaran tentang keluarga Perwironegoro…”
“Siapa? Gimana pengakuannya?”
“Barusan beritanya ditayang di televisi. Mbok Karsih, inang pengasuh pasien ini bilang…”
Dan kupingku mulai tertutup. Tapi aku masih melihat kesibukan kecil seketika menyeruak di sekitar ruang isolasi itu. Koas Ridwan dan kawan-kawan berusaha keras mempertahankan nyawaku.
Tidak, Sodara, perjuanganku kurasa sudah selesai. Detik-detik menyentuh tangan Maut itu telah tiba di penghujung mataku. Perlahan dia menyentuh kepalaku, ubun-ubunku. Sedetik memperlihatkan ke arah mana aku harus melangkah… kanankah, kirikah, aah![]
—
Pipiet Senja lahir di Sumedang 48 tahun yang lalu. Penulis yang cukup senior ini setidaknya sudah menulis sekitar 60 novel dan puluhan cerpen yang diterbitkan oleh banyak penerbit terkenal di negeri ini. Kini, istri dari H.E. Yasin Siregar dan ibu dari Haekal dan Adzimattinur Siregar ini aktif bersama Forum Lingkar Pena Depok.
[Source: Majalah SOBAT Muda, edisi 12/Tahun I/September 2005]
Pram!
By: O. Solihin
“Ba’da salam dan tahmid. Sahabat, kutulis e-mail ini sengaja untukmu seorang. Tentang kita, tentang harapan kita, tentang semua cita-cita dan doa-doa kita. Kita memang pernah membayangkan bahwa kita akan berpisah jarak. Kita pernah meramalkan bahwa kita akan mengalami masa-masa sulit dari perjuangan dakwah kita. Kita sudah ikat janji setia kita bahwa kita tak akan pernah berhenti menyebarkan kebenaran yang kita yakini. Kita telah berikrar dengan teguh dan kuat bahwa kita tak akan pernah terpisahkan dalam satu ikatan akidah Islam meski jarak memisahkan kita. Kita telah memahat janji kita di hati kita berdua. Kita telah membenamkan ikrar kita di ruang pikiran kita. Telah pula mematri semua keinginan dan obsesi perjuangan kita dalam desahan nafas kita yang tak lelah menghela lidah untuk serukan kebenaran Islam. Ya, kita akan terus gelorakan perjuangan. Itu sebabnya kita perlu hentakan yakin agar kita tetap bersatu. Sahabat, kini aku yakin dirimu tetap gelorakan semangat juang yang pernah kita gariskan saat kita masih bersama melukis hari-hari indah di kampus perjuangan. Saat kita bersama mengalahkan segala rintangan. Yakinlah, bahwa kita tak pernah benar-benar sendiri dalam perjuangan dakwah ini, dan tak akan pernah sia-sia dalam membela agama Allah. Kita tetap bersama kawan. Percayalah, bahwa hanya Allah Ta’ala pelindung kita. Dialah yang telah memberi kita semangat dan keberanian untuk mengalahkan semua penghalang dakwah. Karena perjuangan yang kita jalani adalah tentang hidup dan mati. Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam, dari sahabat yang tak pernah melupakanmu, Hamzah”
Pram, pria kurus berkumis tipis itu menghela napas panjang dan dihembuskannya perlahan. Matanya masih menatap monitor komputer yang menampilkan isi e-mail dari sahabat lamanya, Hamzah. E-mail yang dikirim dua bulan lalu itu sengaja dibukanya kembali untuk mengobati rindunya pada Hamzah. Ia adalah anak kampus yang paling aktif di kegiatan keislaman. Sama seperti dirinya. Bahkan dirinya dan Hamzah adalah dinamo keberlangsungan kegiatan keislaman di kampus. Meski berbeda latar belakang sosial, Pram dan Hamzah tetap lengket dan tak ada sekat-sekat keraguan membatasi hubungan mereka.
Pram menyeka sudut matanya. Ada air bening yang menetes. Ia berusaha menahannya dengan ujung telunjuknya. Agar air mata kedukaan itu tak jatuh. Pram merasa kerdil saat ini. Pram malu kepada dirinya sendiri dan janjinya kepada Hamzah.
“Kamu tidak tahu bahwa aku kini jadi pecundang,” batinnya bergemuruh.
“Maafkan aku karena selama tiga tahun ini aku telah menipumu. Aku memberikan semua informasi salah tentang diriku,” Pram gundah gulana dalam batinnya. Ia kemudian menutup e-mail dari sahabatnya itu. E-mail yang sengaja tak di-reply sebagaimana ia sering melakukannya. Sambil mengisinya dengan hal-hal yang heroik tentang perjuangannya di kota kecil tempat asalnya. Semua SMS dari Hamzah dibalasnya dengan kabar gembira tentang kesuksesan dakwahnya. Pram pun berbohong kepada Hamzah saat sahabatnya itu menghubunginya via telepon. Pram benar-benar terpukul dengan kiriman e-mail dari sahabatnya yang masih bersemangat menyerukan kebenaran Islam. Pram tahu, Hamzah tipikal orang yang tak bisa diajak kompromi. Ia teguh benar menggenggam kebenaran.
Sudah tiga tahun ini Pram tinggal di kota kelahirannya sejak ayahnya meninggal dan menyisakan banyak utang. Uang pinjaman dari keluarga dan tetangga untuk mengobati penyakit ayahnya tak berbuah hasil. Biaya opname, operasi tumor paru-paru yang diderita ayah Pram dan semua jenis obat yang dibelinya cukuplah banyak. Pram dan ibunya tak berpikir macam-macam selain kesehatan ayahnya. Namun, usaha tak berjodoh dengan kesembuhan ayah Pram.
Selama tiga tahun itu pula Pram dan Hamzah berpisah. Jarak yang sangat jauh yang membuat mereka tak bisa bersua fisik. Bahkan saat ayah Pram meninggal pun, Hamzah hanya mengirim salam via SMS. Karena saat itu ia tak punya banyak pulsa. Pram tahu dan memakluminya, karena Hamzah saat itu pun sedang kesusahan. Setelah menikah dengan Halimah dan pindah ke kota kelahiran istrinya, Hamzah memulai hidup dari nol. Ia memang tak ingin berharap dari kekayaan ayahnya. Hamzah ingin mandiri dan memilih jalannya sendiri. Pram tahu betul karakter sahabatnya itu. Pram yakin, itulah yang membuat Hamzah lebih bisa bertahan ketimbang dirinya yang mudah rapuh.
Malam yang dingin. Mata Pram menatap langit-langit yang bintangnya berkelipan genit menghiasi lukisan malam yang didominasi pekat. Angin semilir menerpa lembut wajah tirus milik Pram. Ia sedang membayangkan Hamzah tengah bahagia berkumpul bersama anak dan istri tercintanya. Hamzah berani mengambil risiko menikah selepas kuliah dan kemudian hijrah ke kota kecil di ujung Sumatera. Sementara Pram, masih setia membujang. Meski ibunya berkali-kali memintanya segera menikah. Tapi Pram bergeming. Ia tak akan menikah sampai semua utang ayahnya terlunasi.
“Kamu pasti malu mendapati pekerjaanku saat ini,” Pram menghembuskan nafas resah.
“Aku memang selalu memberikan kabar gembira tentang dakwahku di sini. Tapi itu semua bohong. Aku memang tak sekuat prinsip hidupmu,” nada penyesalan Pram terasa kuat.
Pram memang pantas menyesal dan malu. Gelora perjuangan dakwah saat masih di kampus, terdengar hambar dan sekadar kenangan bagi Pram. Kini semua berganti dengan kerlap-kerlip lampu panggung hiburan dan sorak-sorai penonton. Suara Pram memang masih terdengar dan lantang. Tapi bukan untuk dakwah. Pram menjadi Disk Jockey (DJ) terkenal dan pujaan ABG di sebuah diskotik ternama di kota kelahirannya. Ia tak punya pilihan demi mengumpulkan rupiah untuk lunasi semua utang ayahnya. Terpaksa ia lakukan itu, karena terus diburu para rentenir. Sebab ibunya diam-diam meminjam uang mereka untuk berobat ayahnya.
Awalnya Pram menolak ajakan seorang teman lamanya waktu SMA. Tapi akhirnya ia menyerah dan kemudian mengorbankan idealisme dan perjuangannya. Prinsipnya kalah digerus kondisi yang membuatnya tak punya waktu untuk berpikir lebih panjang dan lebih jernih. Maka, tawaran jadi DJ dari temannya ia terima juga demi utang keluarga bisa terbayar lunas.
Pram malu jika suatu saat Hamzah tahu tentang dirinya saat ini. Tapi Pram mencoba menghibur diri bahwa Hamzah tak mungkin tahu. Pram terpaksa akan selalu berbohong kepada Hamzah jika sahabatnya itu mengirim SMS, telepon, ataupun e-mail.
Ringtone di ponsel Pram berbunyi nyaring menghentikan lamunannya. Pram segera mengambilnya dari atas meja di samping komputer miliknya yang telah lapuk dimakan usia. Pram ragu untuk menerima panggilan itu karena tertera dengan jelas nama Hamzah. Resah di dada Pram. Karena ia harus terpaksa berbohong lagi kepada sahabatnya itu. Pram termenung hingga suara ringtone itu berhenti. Diam. Beberapa saat kemudian, berbunyi lagi ringtone MP3 dari penggalan lagu Bingkai Kehidupan yang telah lama ia pasang di ponselnya sebagai pengingat perjuangan meski sejatinya telah ia tinggalkan jauh makna perjuangan dakwah itu. Dilihatnya identitas si penelepon. Masih Hamzah. Pram diam.
Tak ada suara setelah ringtone itu berhenti. Pram duduk di tepi jendela dan menatap langit malam yang tetap didominasi warna hitam. Bintang-bintang tersebar acak di langit malam dengan kerlipan yang indah dipandang mata. Pram berhenti memandangi langit malam ketika ponselnya kembali berdering. SMS yang masuk ke ponsel Pram. Pengirimnya Hamzah. Tak sabar Pram membuka pesan itu.
“Aslmwrwb. Pram, aku kcewa sm kmu. Trnyata kmu slma ini mmbohongi aku. Bhkn aku lbih kcewa lg krn kmu tdk malu kpd Allah atas apa yg kmu prbuat. Pram, aku tak btuh pnjlasan dr kamu. Sbb, aku tlah mngetahui aktivitas kmu dr rkaman yg dikrm pnggemarmu ke situs pnyimpanan video, Youtube! Maafkn, krn aku tlh mrasa gagal tdk bs menolongmu. Aku hrap, kmu msh mau brubah. Smga kta bs brtemu di surgaNya kelak. Tp bkn dngn kndisi sprti ini. Kemiskinan jgn mmbuat dirimu mnjadi futur (apalagi kufur), sahabat!”.
Pram lunglai. Seluruh tubuhnya terasa lumpuh dan rapuh.[]
[cerpen saya ini pernah dimuat di Majalah Al-Mujtama, Agustus 2008]
Utang
By: Aminah Mustari
Pukul empat sore di perpustakaan. Uahhh… pegal! Sejak pagi tadi aku sudah menunggu perpustakaan ini buka. Kenapa juga pukul sembilan baru buka? Jam masuk di kampus ini kan pukul setengah delapan! Rutukku tadi pagi di depan perpustakaan. Kalau sedang dikejar menyelesaikan skripsi begini, menunggu memang amat sangat menyebalkan. Setengah jam pun berarti. Kubereskan buku-buku perpus yang berserakan menjadi tumpukan dan kutinggalkan di atas meja. Skripsi-skripsi aku kembalikan ke Pak Aman yang sudah sangat mengenalku. Tiga buku tua dalam genggamanku kubawa ke meja pinjam. Hanya buku-buku ini yang boleh aku bawa pulang ke rumah. Tiga puluh menit kemudian aku sudah menyandarkan kepalaku di badan kereta listrik menuju stasiun Tebet.
Sudah sebulan rutinitas ini menjadi makanan sehari-hari. Pergi pagi pulang sore hanya sesekali menghadiri kuliah yang memang sudah tersisa sedikit. Tinggal menyelesaikan skripsi. Di rumah mengetik bahan-bahan yang didapat dari perpus. Biasanya aku sangat menikmati waktu menyusunnya di depan komputer. Ditemani segelas kopi panas sehabis mandi dan shalat Maghrib, enak rasanya menyorongkan kaki ke kolong meja komputer sambil mendengarkan lantunan syair Teman Sejatinya Brother. Tapi kini aktivitas itu jadi hal yang paling menyebalkan. Bayangkan, ditengah kejaran dosen pembimbing, aku harus berkompromi dengan komputer berprosessor payah itu. Hobinya hang atau rebooting. Suara CPUnya yang mirip jangkrik itu semakin menyebalkan untuk telingaku.
ooOoo
Pukul delapan. Baru saja aku mandi. Wangi cologne segar tercium dari badanku. Ditemani sepiring dadar gulung bikinan Mama, aku mencoret-coret secarik kertas. Kutipan-kutipan untuk bahan skripsi. Oke, sudah siap bahannya, tinggal aku ketik dalam file yang kusimpan di komputerku. Masih ada waktu dua jam untuk menyusunnya. Aku selalu memberi batasan waktu untuk pekerjaan di malam hari, karena tubuhku sering tak bisa kompromi jika terlalu diforsir.
Tombol stabilizer aku tekan. Lampu indikatornya aktif, menyala berwarna merah. Dengung halus mulai terdengar meningkahi derik kipas angin tua di sudut kamar. Tombol monitor menyusul ku tekan. Lalu CPU. Ceklik! Belum nyala, kurang keras mungkin. Ceklik!
Ceklik!
Ceklik!
Haaa??? Kok lampunya tidak menyala?
Ceklik!
Tiba-tiba aku panik. Terbayang file-file dokumen skripsi yang sudah tersimpan manis di harddisk. Waaaa…. Dokumenku mulai ditumbuhi dua sayap di kanan kirinya. Pelahan ia tak lagi menjejak dan kehilangan bobot. Oh… No!
Kutekan tombol aktif telepon selularku. Kucari nama Rudy dalam phone book. Kutekan mode panggil.
“Rud, tolongin… komputerku mati.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu. Nggak bisa aku nyalain,” ucapku putus asa.
“Paling power supply-nya.”
“Nggak tahulah. Cepat ke sini ya.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Jam setengah sembilan? Kamu tanggung jawab kalau Mamamu ngamuk-ngamukin aku ya.”
“Nnnng… ya udah besok siang deh.”
Siangnya Rudy ke rumah. Entah dia bicara bahasa apa. Yang jelas butuh uang 400 ribu untuk bikin komputer itu berfungsi.
ooOoo
“Mbak, komputernya rusak ya?” todong Aji di ambang pintu kamarku. “Ogut harus bikin proposal nih,” ucapnya seenaknya. Dan masih saja bahasa ogut-ogutan itu dipakainya. Coba ada Mama di sini, pasti kena semprot anak itu. Teu kapok-kapok, yeuh!
“Iya,” ujarku sekenanya sambil mengubek-ubek tasku, mencari buku referensi yang kupinjam dari perpus kampus. Duh, kalo ilang gaswat nih! Ransel hitam bututku yang gede itu memang penuh dengan berbagai macam barang; HP, organizer, buku, kamus, kaos kaki, jaket, tempat pensil, tempat tidur, lemari… eh, itu mah isi kamarku! Pokoknya penuh sekali! Aku termasuk anak jalanan, suka menginap di rumah teman kalau ada keperluan. Seringnya berkaitan dengan skripsiku ini.
“Benerin dong, Mbak!” Ya ampun, anak itu merengek! Belum pernah makan sandal apa dia?
“Kamu tuh, memang ngebenerin komputer bisa pake tongkat sihir apa?”
“Enggak bisa.” Lho? Polos atau mau bikin aku panas?
“Udah tau nggak bisa, ya udah!”
“Tapi Ogut harus ngasih proposal ini lusa. Kalo enggak….”
“Betulin sendiri gih,” potongku.
“Ogut nggak bisa….”
“Ya udah.”
“Bawa ke Farhatan deh, betulin di sana.”
“Duitnya?”
“Nggak ada.”
“Ya udah.”
“Mbak?”
“Sama.”
Gubrakk!
Pembicaraan kami tertutup, seiring dengan pintu yang dibanting oleh Aji. Kenapa juga jadi dia yang ngambek. Padahal masalahnya cuma proposal kegiatan ekskulnya, bukan seberkas dokumen yang menentukan masa depanku di kampus kuning itu.
Tensiku sedang naik akhir-akhir ini. Skripsi yang tak kelar-kelar dan komputer yang hobinya hang membuat kepalaku jadi sering berdenyut. Mana kondisi keuanganku sedang menipis. Fotokopi bahan-bahan skripsi itu lumayan membengkakkan pengeluaranku. Minta pada Abah membuatku malu sendiri. Sepertinya, tak henti-henti aku menggelendoti punggungnya dengan biaya-biaya. Uang kuliahku rasanya sudah membuat punggungnya bungkuk! Memangnya Papa ikan paus!
Orderan sedang sepi. Biasanya aku mengerjakan proyek-proyek terjemahan dan mengajar privat bahasa Inggris. Lumayan untuk fotokopi, membeli buku-buku, dan operasional kuliah Sayangnya baru saja klienku yang tajir itu pindah ke Amerika. Dari mana lagi ya, aku dapat uang? Pinjam teman? Wah… no way! Bukan tipeku!
Ha…! Tiba-tiba sebuah bohlam berpijar di otakku. Aku kan masih punya piutang! Dua bulan lalu Uwi meminjam uangku sebanyak lima ratus ribu untuk bayar DP kontrakan. Uwi teman kuliahku yang sudah menikah dan punya anak satu. Katanya sih sebenarnya bukan karena dia sudah tidak punya uang sepeser pun untuk membayar kontrakan, tapi karena dia agak kesulitan untuk mendapatkan uang cair dengan segera. Sementara dia harus segera membayar DP itu kalau ingin rumah kontrakannya tidak dioper ke orang lain.
Sip! Kuraih telepon genggam di atas kasur secepat kilat. Jempol kananku bergerak lincah di atas keypad. Hatiku sedikit berbunga-bunga membayangkan komputer bututku bisa menyambung nyawa lagi. Setidaknya untuk sementara.
“Wi, bs balikin uangku gak? Aku lg btuh nih. klo bs cpt. Kompieku ngadat.”
Tulisan dengan huruf kapital muncul di layar ponselku berbarengan dengan pijatan jempolku di atas tombol-tombol ponselku. Message sent. Tit tiitt. Delivered. Kutunggu sebentar, report, yah… pending. Sedikit kecewa kumasukkan 2100 pink itu ke dalam tempat pensil. Kuraih lagi pensil, kemudian melanjutkan mencoret-coret kutipan dari buku skripsi bersampul putih yang berserakan di hadapanku.
ooOoo
Lama tak ada balasan dari Uwi, orang yang barusan aku kirimi pesan. Sedikit kesal di hati. Aku sudah menghabiskan sekian pulsa, tapi tak jua balasan SMS itu datang dari Uwi. Sederhana saja, aku hanya minta uang pinjamannya kepadaku yang gopek itu dikembalikan sekarang-sekarang ini. Tidak mungkin aku mengandalkan komputer di rental. Bisa habis jatah makanku sehari-hari. Belum lagi fotokopi-fokopi, ngeprint. Dan terbayang aku mesti duduk manis dan kepanasan di kursi rental yang tak bersandaran, padahal aku bisa selonjoran sambil membiarkan rambutku dimainkan angin yang digerakkan oleh kipas besar di pojok kamarku. Oh, no way! Dan yang paling penting, aku ingin segera melihat dokumen-dokumen skripsiku yang tersimpan di harddisk. Apakah ia baik-baik saja? Hiks….
Aku coba sms berulang kali tapi tak pernah dibalas. Oke, mungkin tak ada pulsa. Aku telepon. Kenapa sih tidak diangkat-angkat kalau sedang aktif? Sampai aku kesal dan sedikit berprasangka. Kali ini terakhir sebelum aku melabrak. He… he… memangnya jagoan?
“wi… tlng dong, aku butuh sekali uang itu.”
Sent. Delivered. Report. Yess! Terkirim
Krrrk… krrk… krrkk. Bunyi message alert tone-ku. Dibalas!!!
“Maaf rin, anakku sakit. kmrn uangnya kepake berobat
Ha? Yah… gimana ya? Kuketik balasannya,
“Ya udah. usahain minggu ini ya?”
“Insya Allah.”
Ok. Berarti tinggal nunggu minggu depan.
ooOoo
Kuliah Kajian Prosa. Tiga puluh menit berlalu. Ruangan hening ini sudah terisi penuh. Hanya terdengar suara keras Bu Mia yang agak macho. Sepertinya tak ada yang berani terlambat hari ini. Peraturan yang dibuat Bu Mia dengan sukses terlaksana. Sepertinya…. Upss… nggak juga….
Sebuah kepala dengan jilbab putih menyembul dari balik pintu. Uwi. Jilbabnya nampak berantakan.
“Maaf Bu, boleh masuk?”
“Anda tahu peraturannya kan?”
“Ya Bu. Maaf… anak saya sakit.”
Bu Mia terdiam sejenak, lalu melangkah keluar pintu. Kelas mulai rame dengan bisik-bisik tetangga. Tak lama Bu Mia masuk lagi diikuti oleh Uwi. Kelas dimulai lagi. Uwi duduk di kursi paling depan, dekat pintu. Sayang… pengennya sih bicara tentang kebutuhanku akan komputer. Nanti sehabis kuliah deh.
Bel berbunyi ringan. Aku suka bel kampus ini, suaranya imut, nggak bikin sakit telinga. Nadanya juga nggak norak. Pletak-pletok sepatu hak tinggi Bu Mia terdengar menjaduh keluar, beliau selalu tepat waktu. Segera kuhampiri Uwi yang nampak sudah berdiri dari tempat duduknya.
“Wi, tolong paling telat hari Rabu ya. Skripsiku jadi terhambat gara-gara komputer rusak itu.”
“Iya,” jawab Uwi singkat dan datar. Matanya tak menatapku. Mungkin malu.
“Katanya kamu dulu janji mau balikin dua minggu setelah minjem. Lupa ya?” tanyaku dengan nada menggoda. Inginnya Uwi tertawa.
“Iya. Maaf ya, Rin,” timpalnya singkat. “Aku duluan ya. Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
ooOoo
Hari Rabu. Sudah seminggu aku suntuk karena sama sekali tak bisa mengerjakan skripsi. Sudah mulai bosan dengan lembaran-lembaran kertas berisikan coret-coretan yang mulai tak jelas dibacanya, karena aku menulisnya dengan pensil.
Seminggu ini juga aku tidak melihat Uwi di kampus. Wah… kemana tu anak? Apa takut aku tagih, jadi nggak mau menampakkan batang hidungnya di depanku. Biasanya aku nggak terlalu mempermasalahkan utang, prinsipku kalau dibayar alhamdulillah kalau nggak ya itung-itung shodaqoh. Sebelum utangnya ini pun Uwi pernah berutang juga, and seingatku belum dibayar. Tapi aku sudah lupa dan nggak ambil pusing. Cuma kali ini aku memang butuh banget. Dan Uwi bilang kali ini yang pinjem suaminya, bukan dia. Kemarin aku sudah mengirim SMS pada Uwi sekali, tapi belum dibalas. Coba deh sekali lagi.
“Wi, uangnya dah ada kan? pnting bht nih. taruhannya masa depanku!”
Satu, dua, lima menit kemudian baru ada sms masuk. Balasan dari Uwi.
“Maaf ya rin, gak bs skrg insya Allah lusa deh. pls. gpp ya?”
Ughh… bikin angot! Gimana sih, janjinya hari ini.
“Duh, gmn ya wi. kan janjinya skrg?”
“Iya. maaf rin, uangnya kepake.”
Kepake? Perasaan itu alasan pertamanya deh? Basi baget sih! Niat bayar apa nggak sih si Uwi ini? Kayaknya dia jadi kebiasaan deh, seenaknya aja. Biar dia merasa ditekan, aku hiperbolis sedikit deh…. Upss, hiperbolis atau bohong nih?
Aku dah janji bayar servis komp hr ini. gmn dong? mang kepake bwt apa sih?
“Afwan rin. utk rmh skt dan urusan pemakaman.”
Ha? Pemakaman? Urusan apa lagi nih?
“PEMAKAMAN?”
Tulisku dengan huruf kapital
“Anakku. Dia meninggal. DB. Tlg doakan.”
Degg! Jantungku serasa lepas.
Allah… begitu sibuk dengan tagihan, aku bahkan belum menanyakan kabar anaknya hingga saat ini.[pernah dimuat di Majalah SOBAT Muda edisi 09/2005]


D5 Creation