Jurnalistik
now browsing by category
Langkah-langkah untuk Interview Jurnalistik
Wawancara atau interview merupakan kemampuan dasar jurnalistik yang sangat penting. Wawancara bagi televisi atau radio merupakan bagian dari “show” sehingga tidak terpisahkan dari kinerja media. Kemampuan wawancara jurnalistik ini dapat disaksikan langsung dan seberapa jauh kualitas wawancara dapat disaksikan langsung.
Di sejumlah negara acara wawancara ini bahkan menjadi pertunjukan tersendiri yang sangat penting dan ditunggu-tunggu. Para pewawancara yang sering disebut Talk Show jadi acara menarik.
Newslab memberikan kait menarik menjalin wawancara yang kuat.
Decide whom to interview
Penting sekali menentukan siapa yang akan Anda wawancara dalam sebuah kasus atau peristiwa. Misalnya siapa yang langsung terlibat dalam peristiwa itu? Siapa yang terkena akibat dari peristiwa itu (misalnya penggusuran)? Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian peristiwa itu (misalnya jatuhnya pesawat Adam Air)
Persuade reluctant sources
Nara sumber wawancara seharusnya dapat dibujuk untuk memberikan keterangan. Ada beberapa alasan mengapa mereka tidak mau bicara.
- Mereka tidak memiliki waktu. Maka tawarkan tempat dan waktu yang nyaman bagi mereka. Kita akan datang ke tempat mereka dan kita akan membatasi waktu wawancara.
- Mereka takut memberikan keterangan. Jelaskan apa yang Anda inginkan. Jelaskan mengapa keterangan mereka itu penting. Kalau mereka takut memberikan wawancara, jangan buat kata-kata “wawancara”, buatlah istilah mau bicara atau ngobrol.
- Mereka tidak tahun apa yang dikatakan. Mungkin Anda memilih sumber yang salah atau mungkin tidak jelas mengenai apa keinginan Anda. Jelaskan apa yang diinginkan. Mengenai wawancara dengan anak-anak perhatikan unsur-unsur hukum dan etika.
- Mereka dilindungi. Nara sumber penting ini kadang-kadang terhalang oleh sekretaris, orang humas atau ajuan. Jika memungkinkan tulislah surat permohonan langsung. Atau telepon mereka sesudah bekerja. Jika ada kesempatan menyaksikan mereka bermain olahraga, datangi dengan sopan, siapa tahu bisa. Atau bisa juga didatangi ketika hadir dalam sebuah acara.
Prepare for interviews
Adakan penelitian kecil-kecilan mengenai orang yang akan dihadapi. Tanyakan kepada orang lain mengenai nara sumber itu, baca pula tulisan mengenai dirinya. Jika Anda berhadapan dengan orang terkenal, jangan ajukan pertanyaan sama seperti jurnalis lainnya. Ajukan dengan cara dan pandang yang baru. Gunakan pula kekuatan internet untuk menggali data atau bicara dengan rekan jurnalis lainnya.
Selain mengkaji orang yang akan didatangi, Anda juga sebaiknya meneliti topik yang akan dijadikan wawancara. Pengetahuan yang cukup mengenai topik wawancara akan memberi Anda kredibilitas dimata nara sumber. Semakin banyak diketahui topik yang akan dibicarakan, semakin baik liputannya.
Know your purpose
Ketahuilah tujuan Anda sebenarnya wawancara itu. Apakah Anda menginginkan wawancara untuk mendapatkan informasi faktual atau apakah Anda ingin hanya reaksi dan tanggapan terhadap situasi tertentu. Bisa pula tujuan wawancara itu untuk mendapatkan pengertian mendalam mengenais seseorang. Tujuan wawancara ini akan memudahkan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan. [Sumber: Journalist-Adventure]
Beberapa Tulisan Jurnalistik
Siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia. Pameo ini sering kali diungkapkan untuk menekankan pentingnya informasi. Menguasai informasi tidak hanya melihat apa yang tertulis, tapi jauh dari itu, kita juga harus mengamati sesuatu yang tersirat dari tulisan yang kita baca. Dibawah ini saya tuliskan jenis-jenis tulisan yang ada di media massa untuk melihat secara jernih, apa yang sebenarnya menjadi santapan sehari-hari kita melalui media massa yan kita baca.
Tajuk
Tajuk sering juga disebut induk karangan (berasal dari bahasa belanda hoofd artikel), editorial atau leader (Istilah ini banyak di gunakan di negara yang pernah dipengaruhi Inggris misalnya the economist sedangkan istilah editorial umumnya dipakai oleh penerbitan Amerika). Seperti halnya berita dan kolom, tajuk seringkali dijadikan acuan kewibawaan sebuah media, hal; ini terjadi karena tajuk mewakili opini/sikap media yang berada di belakang media tersebut.
Bentuk-bentuk tajuk dapat berupa sekedar memberikan informasi, menjelaskan atau memberikan intrepretasi mengenai sebuah kejadian, argumentatif, sifatnya analitis, mendorong Aksi, bersifat jihad, persuasive, memuji ataupun menghibur.
Kolom
Kolom sebagai forum diskusi mempunyai tempat terpandang dalam pers Indonesia. Ia ikut membentuk aliran utama pemikiran intelektual yang tengah berkembang dalam masyarakat. Kolom hanya menyoroti fakta dan datanya yang telah dimuat berita. Sebuah kolom mungkin hanya memberikan sebuah pandangan atau penilaian, penekanan pada segi tertentu dan melihat kecendrungannya. Penulisan kolom disertai dengan nama penulisnya dan biasanya ditulis oleh orang luar yang memiliki keahlian sesuai dengan tulisannya.
Kolom biasanya bercorak komis,komedis, anekdotis atau humoris, bahkan sarkastis atau bisa satiris. sehingga jenis tulisan ini lebih otonom.
Tema kolom bisa sama dengan laporan utama, tapi bisa juga tidak. Dalam koran dikenali kekhususannya karena letak halamannya (editorial page), halaman ini biasanya diletakkan pula tajuk rencana dan opini para tokoh masyarakat yang bisa berbeda nadanya dengan editorial (opposite editorial).
Isi kolom bisa bermacam-macam, mulai dari analisa, renungan atau sekedar komentar. Gaya penulisannya pun sangat bebas baik secara humor maupun reflektif.
Pojok
Berisi komentar singkat mengenai topik yang sedang hangat. Komentar bisa humor, namun punya sindiran tajam. Jenis ini misalnya Berabe untuk Harian Kedaulatan Rakyat, Pecut untuk Jawa Pos, dsb.
Opini
Tulisan berupa opini berisi gagasan, ulasan, dan kritik terhadap sebuah permasalah yang ditulis dalam bahasa ilmiah populer. Tulisan ini juga menyediakan solusi.
Memilah perbedaan antara fakta dan opini melahirkan jurnalisme evaluatif (berperan mengevaluasi birokrasi, para pejabat pemerintah dan realitas sosial yang lain) serta jurnalisme partisan (memperjuangkan kebenaran versi media bersangkutan).
Berita
Secara sederhana, berita mengandung unsur 5W + 1H (what, why, when, where, who dan how). Berita mengandung muatan nilai dan kepentingan dari pengasuh (manajemen, wartawan, karyawan), pendukung (pembaca, pemasang iklan), sehingga setiap kelompok penerbitan punya visi dan misi tertentu, meski dikemas dengan label independent.
Fungsi pemberitaan bukanlah untuk memperingatkan, menginstruksikan maupun membuat tercengang pembacanya. Berita harus bermanfaat tidak hany memberitahu saja. Agar bermanfaat berita diusahakan sebagai pengetahuan umum dan alat kontrol sosial.
Batasan berita mengatakan when a dog bites a man that’s not news but when a man bites a dog that is news. Filosofi berita semacam ini bertolak dari negatif thinking, filosofi ini banyak dianut oleh pers liberal. Dan biasanya memakai motto bad news is a good news. Unsur-unsur kelayakan berita meliputi unsur akibat, jarak, prominence, drama, konflik, keanehan, baru (aktual). Dalam praktek nilai berita diukur dengan angka, skor tertinggi untuk nilai penting dan aktual misalnya cocok untuk rubrik laporan utama, sedangkan manusiawinya menonjol cocok untuk berita kisah (feature).
Secara fisik, unsur berita terdiri atas : headline (bisa juga dilengkapi anak judul), dateline (menampilkan nama media, tempat dan tanggal2 ), lead dan body.
Secara umum struktur penulisan berita terdiri atas bentuk piramida terbalik (cocok untuk straigh news) dan blok (sosok untuk feature). Ragam berita meliputi berita langsung (straigh news), berita ringan (soft news), berita kisah (feature), kolom (coulomn), pojok dan editorial.[sumber: persmediadkm]
Memberi Konteks yang Cukup dalam Penulisan Berita
Salah satu kaidah dalam penulisan berita dan jurnalisme pada umumnya adalah menghindari stereotype atau generalisasi gampangan akibat pengambilan kesimpulan yang tergesa-gesa.
Membuat stereotype memang memudahkan. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, kita cenderung membuat klasifikasi, tipologi atau pengelompokan orang untuk menjelaskan perilakunya. Kemudahan itu sering menggoda kita untuk menggampangkan masalah.
Pejabat pasti korup.
Tentara pasti brutal dan suka kekerasan.
Orang Tionghoa dan Arab pasti pelit.
Orang Solo pasti lembut dan sopan.
Ustad dan pendeta pasti bijaksana.
Orang Islam yang memelihara jenggot dan berbaju koko pastilah alim, atau sebaliknya, radikal dan fundamentalis.
Klasifikasi atau tipologi seperti itu memudahkan kita untuk memahami fenomena yang rumit. Sampai derajat tertentu tipologi diperlukan, bahkan ilmu sosial dan psikologipun bertumpu padanya untuk menjelaskan fenomena yang ada di masyarakat. Read More…





D5 Creation