Tentang Subyektif dan Obyektif

Posted by on May 8, 2011 in Jurnalistik | 1 comment

Tentang Subyektif dan Obyektif

Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalisme–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu. Saya sampaikan di sini, berdasarkan pengalaman juga tentunya, bahwa tidak pernah ada yang namanya media massa yang obyektif dalam pemberitaan. Sebab, jika memang ada, semua pesan yang ada seharusnya menjadi menu berita sebuah media. Nyatanya? Nggak begitu. Semua sudah disaring, sampai-sampai sekadar surat pembaca pun itu akan ditampilkan setelah diseleksi di sana-sini, mungkin ditambahi ini dan itu oleh redaksinya. Nggak usah bingung. Itu wajar saja kok. Selama saya bekerja di penerbitan Islam, memang selalu harus ada keberpihakan kepada kepada sesuatu, dalam hal ini berpihak kepada kebenaran. Cenderung membela Islam. Kamu kudu tahu, mana mungkin kan kita yang menggembar-gemborkan kampanye antipacaran, tapi tiba-tiba memasukkan tulisan yang justru propaganda pacaran? Itu sebabnya, memang tidak ada media yang obyektif. Tidak satu pun di dunia ini. Semua berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuatnya. Oke, berangkat dari kenyataan ini, apa yang bisa kita lakukan ketika akan menulis? Di sinilah kamu kudu belajar juga tentang kesadaran politis. Unsur pendukung kesadaran politik itu adalah pandangannya mondial alias mengglobal, dari kelas RT sampe kelas dunia. Kedua, kudu dilakukan dengan zawiyatun khashah alias sudut pandang yang khas. Nah, itu artinya kamu kudu bertindak subjektif dan objektif. Kok bisa? Iya, itu artinya, setiap kamu menyeleksi berita atau akan membuat tulisan, pastikan kamu udah bertindak objektif sekaligus subjektif. Masih bingung? Begini penjelasannya. Cara paling mudah untuk melakukan ini adalah saat kamu membaca, menyaring berita, mengumpulkan data dan fakta, pastikan itu objektif. Artinya, memang frakta dan data itu benar adanya. Bukan hasil karangan, tebakan, atau prasangka lainnya dari pikiranmu. Semua data itu kudu didapatkan dengan hasil seobjektif mungkin. Bahkan bila perlu dari sekian banyak sumber. Nah, kalo kebetulan ada perbedaan dalam penyajian fakta itu, pastikan kamu kroscek dengan mengandalkan subjektifitas kamu sebagai seorang muslim. Ya, sudut pandang Islam itu harus dipakai dalam bersikap. Jadi, standar untuk melakukan penilaian itu adalah sudut pandang Islam. Bukan yang lain. Di sinilah mengapa kita harus subjektif. Iya dong, masak kita mau percaya kepada kabar dari selain Islam? Tul nggak? Bagaimana kalo berita dari kalangan Islam justru khawatirnya malah yang salah? Oke, kita bisa menilai suatu informasi atau data atau fakta itu salah atau benar adalah dari tingkat kenyataan di lapangan dengan membandingkan hasil investigasi dari orang lain untuk masalah yang sama itu. Sebab, meski mebela Islam, bukan berarti kita mengabaikan aspek profesionalisme. Nggak lah. Kita justru kudu bisa membangun keberpihakan kepada Islam itu dengan cara mengkoordinasikan antara fanatisme, militansi, dan juga profesionalisme. Artinya, kita nggak mudah terkecoh oleh kabar dari pihak-pihak...

Read More

Menggali Kreativitas untuk Jurnalis

Posted by on May 24, 2010 in Jurnalistik | 2 comments

Menggali Kreativitas untuk Jurnalis

Kreativitas merupakan salah satu elemen penting dalam kerja di bidang jurnalistik. Tidak hanya terkait bagaimana mengembangkan dan melanjutkan agenda pemberitaan tetapi juga untuk memperkaya laporan dari lapangan. Dengan kebiasaan menciptakan sesuatu yang kreatif maka laporan akan menjadi lebih menyeluruh, mendalam dan menarik. Banyak sekali jalan untuk memupuk kreativitas. Sebuah artikel di Suara Merdeka Online bisa memperkaya langkah-langkah menjadikan diri kreatif termasuk dalam peliputan media massa. Saya kutipkan sebagian besar dari tulisan mengenai bagaimana menciptakan kreatifitas itu: Capturing. Jangan biarkan ide lewat begitu saja di depan Anda. Mengandalkan memori saja untuk mencatat nukilan-nukilan ide yang mampir di kepala Anda, rasanya tak mungkin. Catatlah ide-ide yang muncul mendadak itu di dalam ponsel, notes, atau pada media apapun yang bisa ditulis. Siapkan juga alat pencatat atau perekam di samping Anda, karena seringkali ide-ide brilian muncul sesaat sebelum atau sesudah Anda terlelap. Agar terbantu mendapatkan ide-ide segar, usahakan untuk meluangkan waktu khusus di pagi hari untuk mencari ide. Namun dimanapun dan kapanpun, ide pasti berada di sekitar Anda. Surrounding. Lingkungan di sekitar Anda adalah lahan tempat berkumpulnya ide-ide kreatif. Anda hanya perlu berinteraksi dengan lingkungan, mendalami pikiran dan menajamkan isnting Anda. Banyaklah bergaul dengan orang-orang dari latar belakang, kepribadian serta minat yang jauh berbeda dengan Anda. Jika perlu, ubah tata letak perabot di rumah Anda, ciptakan suasana yang segar dan tidak monoton, ini akan membantu pikiran Anda tetap dinamis sehingga ide bisa muncul kapan saja Anda mau. Challenging. Bersikap lebih keras pada diri sendiri terkadang harus Anda lakukan untuk melecutkan ide dan kreativitas yang menyumpal otak. Cobalah untuk menyelesaikan permasalahan sulit, maka Anda akan tertantang untuk mengeluarkan ide-ide brilian yang selama ini tidak terpikirkan oleh Anda. Ini mungkin gila, tapi patut dicoba. Cobalah berjalan di kota yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya, biarkan Anda tersesat. Rasa penasaran untuk menemukan jalan pulang inilah yang memunculkan jawaban. Bagian tersulit yang Anda hadapi saat memecahkan suatu permasalahan inilah yang akan merangsang syaraf otak untuk terus menerus bekerja melecutkan ide. Broadening. Seseorang yang kreatif pastinya memiliki wawasan yang luas. Karena itu jangan pernah bosan untuk terus mempelajari hal-hal baru yang mungkin sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia Anda. Membaca banyak buku, majalah atau menonton film dokumenter dan berselancar untuk menjelajahi situs-situs pengetahuan populer juga bisa Anda lakukan. Sempatkan juga untuk mencari ilmu di perpusatakaan, galeri seni, pertunjukan teater, museum, seminar, pameran buku, acara bedah buku atau acara publik lainnya. [Sumber: Journalist...

Read More

Langkah-langkah untuk Interview Jurnalistik

Posted by on May 23, 2010 in Jurnalistik | 0 comments

Wawancara atau interview merupakan kemampuan dasar jurnalistik yang sangat penting. Wawancara bagi televisi atau radio merupakan bagian dari “show” sehingga tidak terpisahkan dari kinerja media. Kemampuan wawancara jurnalistik ini dapat disaksikan langsung dan seberapa jauh kualitas wawancara dapat disaksikan langsung. Di sejumlah negara acara wawancara ini bahkan menjadi pertunjukan tersendiri yang sangat penting dan ditunggu-tunggu. Para pewawancara yang sering disebut Talk Show jadi acara menarik. Newslab memberikan kait menarik menjalin wawancara yang kuat. Decide whom to interview Penting sekali menentukan siapa yang akan Anda wawancara dalam sebuah kasus atau peristiwa. Misalnya siapa yang langsung terlibat dalam peristiwa itu? Siapa yang terkena akibat dari peristiwa itu (misalnya penggusuran)? Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian peristiwa itu (misalnya jatuhnya pesawat Adam Air) Persuade reluctant sources Nara sumber wawancara seharusnya dapat dibujuk untuk memberikan keterangan. Ada beberapa alasan mengapa mereka tidak mau bicara. – Mereka tidak memiliki waktu. Maka tawarkan tempat dan waktu yang nyaman bagi mereka. Kita akan datang ke tempat mereka dan kita akan membatasi waktu wawancara. – Mereka takut memberikan keterangan. Jelaskan apa yang Anda inginkan. Jelaskan mengapa keterangan mereka itu penting. Kalau mereka takut memberikan wawancara, jangan buat kata-kata “wawancara”, buatlah istilah mau bicara atau ngobrol. – Mereka tidak tahun apa yang dikatakan. Mungkin Anda memilih sumber yang salah atau mungkin tidak jelas mengenai apa keinginan Anda. Jelaskan apa yang diinginkan. Mengenai wawancara dengan anak-anak perhatikan unsur-unsur hukum dan etika. – Mereka dilindungi. Nara sumber penting ini kadang-kadang terhalang oleh sekretaris, orang humas atau ajuan. Jika memungkinkan tulislah surat permohonan langsung. Atau telepon mereka sesudah bekerja. Jika ada kesempatan menyaksikan mereka bermain olahraga, datangi dengan sopan, siapa tahu bisa. Atau bisa juga didatangi ketika hadir dalam sebuah acara. Prepare for interviews Adakan penelitian kecil-kecilan mengenai orang yang akan dihadapi. Tanyakan kepada orang lain mengenai nara sumber itu, baca pula tulisan mengenai dirinya. Jika Anda berhadapan dengan orang terkenal, jangan ajukan pertanyaan sama seperti jurnalis lainnya. Ajukan dengan cara dan pandang yang baru. Gunakan pula kekuatan internet untuk menggali data atau bicara dengan rekan jurnalis lainnya. Selain mengkaji orang yang akan didatangi, Anda juga sebaiknya meneliti topik yang akan dijadikan wawancara. Pengetahuan yang cukup mengenai topik wawancara akan memberi Anda kredibilitas dimata nara sumber. Semakin banyak diketahui topik yang akan dibicarakan, semakin baik liputannya. Know your purpose Ketahuilah tujuan Anda sebenarnya wawancara itu. Apakah Anda menginginkan wawancara untuk mendapatkan informasi faktual atau apakah Anda ingin hanya reaksi dan tanggapan terhadap situasi tertentu. Bisa pula tujuan wawancara itu untuk mendapatkan pengertian mendalam mengenais seseorang. Tujuan wawancara ini akan memudahkan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan. [Sumber:...

Read More

Beberapa Tulisan Jurnalistik

Posted by on May 7, 2010 in Jurnalistik | 0 comments

Siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia. Pameo ini sering kali diungkapkan untuk menekankan pentingnya informasi. Menguasai informasi tidak hanya melihat apa yang tertulis, tapi jauh dari itu, kita juga harus mengamati sesuatu yang tersirat dari tulisan yang kita baca. Dibawah ini saya tuliskan jenis-jenis tulisan yang ada di media massa untuk melihat secara jernih, apa yang sebenarnya menjadi santapan sehari-hari kita melalui media massa yan kita baca. Tajuk Tajuk sering juga disebut induk karangan (berasal dari bahasa belanda hoofd artikel), editorial atau leader (Istilah ini banyak di gunakan di negara yang pernah dipengaruhi Inggris misalnya the economist sedangkan istilah editorial umumnya dipakai oleh penerbitan Amerika). Seperti halnya berita dan kolom, tajuk seringkali dijadikan acuan kewibawaan sebuah media, hal; ini terjadi karena tajuk mewakili opini/sikap media yang berada di belakang media tersebut. Bentuk-bentuk tajuk dapat berupa sekedar memberikan informasi, menjelaskan atau memberikan intrepretasi mengenai sebuah kejadian, argumentatif, sifatnya analitis, mendorong Aksi, bersifat jihad, persuasive, memuji ataupun menghibur. Kolom Kolom sebagai forum diskusi mempunyai tempat terpandang dalam pers Indonesia. Ia ikut membentuk aliran utama pemikiran intelektual yang tengah berkembang dalam masyarakat. Kolom hanya menyoroti fakta dan datanya yang telah dimuat berita. Sebuah kolom mungkin hanya memberikan sebuah pandangan atau penilaian, penekanan pada segi tertentu dan melihat kecendrungannya. Penulisan kolom disertai dengan nama penulisnya dan biasanya ditulis oleh orang luar yang memiliki keahlian sesuai dengan tulisannya. Kolom biasanya bercorak komis,komedis, anekdotis atau humoris, bahkan sarkastis atau bisa satiris. sehingga jenis tulisan ini lebih otonom. Tema kolom bisa sama dengan laporan utama, tapi bisa juga tidak. Dalam koran dikenali kekhususannya karena letak halamannya (editorial page), halaman ini biasanya diletakkan pula tajuk rencana dan opini para tokoh masyarakat yang bisa berbeda nadanya dengan editorial (opposite editorial). Isi kolom bisa bermacam-macam, mulai dari analisa, renungan atau sekedar komentar. Gaya penulisannya pun sangat bebas baik secara humor maupun reflektif. Pojok Berisi komentar singkat mengenai topik yang sedang hangat. Komentar bisa humor, namun punya sindiran tajam. Jenis ini misalnya Berabe untuk Harian Kedaulatan Rakyat, Pecut untuk Jawa Pos, dsb. Opini Tulisan berupa opini berisi gagasan, ulasan, dan kritik terhadap sebuah permasalah yang ditulis dalam bahasa ilmiah populer. Tulisan ini juga menyediakan solusi. Memilah perbedaan antara fakta dan opini melahirkan jurnalisme evaluatif (berperan mengevaluasi birokrasi, para pejabat pemerintah dan realitas sosial yang lain) serta jurnalisme partisan (memperjuangkan kebenaran versi media bersangkutan). Berita Secara sederhana, berita mengandung unsur 5W + 1H (what, why, when, where, who dan how). Berita mengandung muatan nilai dan kepentingan dari pengasuh (manajemen, wartawan, karyawan), pendukung (pembaca, pemasang iklan), sehingga setiap kelompok penerbitan punya visi dan misi tertentu, meski dikemas dengan label independent. Fungsi pemberitaan bukanlah untuk memperingatkan, menginstruksikan maupun membuat tercengang pembacanya. Berita harus bermanfaat tidak hany memberitahu saja. Agar bermanfaat berita diusahakan sebagai pengetahuan umum dan alat kontrol sosial. Batasan berita mengatakan when a dog bites a man that’s not news but when a man bites a dog that is news. Filosofi berita semacam ini bertolak dari negatif thinking, filosofi ini banyak dianut oleh pers liberal. Dan biasanya memakai motto bad news is a good news. Unsur-unsur kelayakan berita meliputi unsur akibat, jarak, prominence, drama, konflik, keanehan, baru (aktual). Dalam praktek nilai berita diukur dengan angka, skor tertinggi untuk nilai penting dan aktual misalnya cocok untuk rubrik laporan utama, sedangkan manusiawinya menonjol cocok untuk berita kisah (feature). Secara fisik, unsur berita terdiri atas : headline (bisa juga dilengkapi anak judul), dateline (menampilkan nama media, tempat dan tanggal2 ), lead dan body. Secara umum struktur penulisan berita terdiri atas bentuk piramida terbalik (cocok untuk straigh news) dan blok (sosok untuk feature). Ragam berita meliputi berita langsung (straigh news), berita ringan (soft...

Read More

Memberi Konteks yang Cukup dalam Penulisan Berita

Posted by on Jun 4, 2009 in Jurnalistik | 0 comments

Salah satu kaidah dalam penulisan berita dan jurnalisme pada umumnya adalah menghindari stereotype atau generalisasi gampangan akibat pengambilan kesimpulan yang tergesa-gesa. Membuat stereotype memang memudahkan. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, kita cenderung membuat klasifikasi, tipologi atau pengelompokan orang untuk menjelaskan perilakunya. Kemudahan itu sering menggoda kita untuk menggampangkan masalah. Pejabat pasti korup. Tentara pasti brutal dan suka kekerasan. Orang Tionghoa dan Arab pasti pelit. Orang Solo pasti lembut dan sopan. Ustad dan pendeta pasti bijaksana. Orang Islam yang memelihara jenggot dan berbaju koko pastilah alim, atau sebaliknya, radikal dan fundamentalis. Klasifikasi atau tipologi seperti itu memudahkan kita untuk memahami fenomena yang rumit. Sampai derajat tertentu tipologi diperlukan, bahkan ilmu sosial dan psikologipun bertumpu padanya untuk menjelaskan fenomena yang ada di masyarakat. Tapi, ini juga mengandung jebakan. Stereotype bisa kental mengandung prasangka rasial, etnis, agama dan profesi. Kecenderungan seperti ini bisa menyesatkan atau memandu pembaca ke arah kesimpulan yang keliru; khususnya dalam berita-berita kriminal. Stereotype bisa dihindari dengan beberapa cara. Yang pertama, wartawan sebaiknya menulis hal faktual secara spesifik; makin spesifik makin bagus untuk mencegah pembaca secara gampangan membuat generalisasi. Hal kedua adalah memberi konteks yang benar dan cukup komprehensif ketika meliput sebuah kejadian. Di bawah ini, ada contoh benar bagaimana berita kriminal disajikan. Penulisnya menyajikan motif, konteks atau latarbelakang, sedemikian sehingga pembaca sulit untuk tergesa-gesa menyimpulkan sebuah stereotype yang lazim bahwa “seorang anak yang membunuh bapaknya pastilah anak durhaka”. Tindakan membunuh tentu saja tidak bisa dibenarkan. Tapi, ada situasi tertentu di mana kita bisa memahami kenapa sebuah kejahatan terjadi dan menarik pelajaran darinya. Dua berita di bawah berkaitan satu-sama lain: seorang anak yang mengaku membunuh bapaknya dengan motif sang ayah suka memukuli dan (diduga) menggauli empat anak perempuannya. Anak Bunuh Ayah Kandung Akibat Sering Dipukuli Samarinda (ANTARA News | 04/09/08)- Polisi Banjarmasin berhasil mengungkap mayat misterius yang ditemukan di semak-semak di Jalan Wahid Hasyim, sekitar 100 meter dari Stadion Madya Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur. Mayat yang ditemukan dengan sedikitnya 15 luka tikam pada tubuhnya ini beridentitas Maryanto (63). Polisi menyangka anak kandung Maryanto yang bernama Yulianto (21) sebagai pelaku penikaman maut itu. “Ini terungkap dari hasil otopsi yang RSUD Sjahranie Samarinda yang menyebutkan mayat yang awalnya diduga meninggal karena terjatuh itu ternyata tewas oleh luka tusukan senjata tajam,”ungkap Kasat Reskrim Poltabes Samarinda, Komisaris Ahmad Yusef Gunawan kepada wartawan di Samarinda, Kamis dinihari. Polisi kemudian mengembangkan penyidikan dan berhasil mengungkap pelaku pembunuhan sadis ini. “Beberapa saksi mengaku, hubungan korban dengan pelaku yang masih sedarah itu tidak harmonis. Dari situlah, kami mencurigai pelaku pembunuhan adalah Yulianto, anak kandung korban sendiri,” kata Ahmad Yusep Gunawan. Yulianto yang adalah anak dari isteri keempat Maryanto itu lalu diringkus di rumahnya di Jalan Wahid Hasyim, tak jauh dari mayat bapaknya ditemukan. “Padahal, saat jasad korban ditemukan, pelaku sempat datang ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) namun dia mengaku tidak mengenali jasad itu,” ungkap Kasat Reskrim. Polisi juga menemukan keris yang digunakan pelaku untuk membunuh korban. “Pelaku mengaku membunuh ayahnya sendiri akibat kesal sering dipukuli,” katanya. Selain memeriksa tetangga Yulianto sebagai saksi, polisi juga meminta keterangan dari empat saudara tiri tersangka yang diduga mengetahui motif pembunuhan tersebut. “Tersangka kami jerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara maksimal seumur hidup,” tegas Kasat Reskrim Poltabes Samarinda. (*) Maryanto Diduga Gauli Empat Anaknya Samarinda (ANTARA | 04/09/08)- Pelaku pembunuhan anak terhadap bapaknya, Yulianto, mengaku pembunuhan dilakukan karena ia disakiti ayahnya, sementara sejumlah sumber menduga pembunuhan dilatarbelakangi prilaku seksual sang ayah terhadap empat saudara perempuan Yulianto. Dari pengamatan Antara, empat saudara perempuan tiri Yulianto yang juga anak kandung Maryanto, terlihat histeris melihat tersangka diperiksa polisi, Kamis. “Berapa tahun hukuman yang akan dijalani adik saya pak,”...

Read More

Keranjingan Jargon

Posted by on May 30, 2009 in Jurnalistik | 1 comment

Oleh Farid Gaban | Wartawan DALAM film National Treasure, Benjamin Gates yang diperankan Nicholas Cage mendatangi Gedung Arsip Nasional untuk meminta izin melihat Naskah Proklamasi Amerika. Kepada Abigail Chase, kepala perpustakaan, Gates tak mau berterus terang mengapa dia membutuhkan naskah legendaris itu, yang disimpan dengan pengamanan sangat ketat. Abigail: Ada apa gerangan dalam naskah itu? Gates: Kami yakin ada enkripsi di balik naskah itu. Abigail: Enkripsi? Gates: Hmm, sebuah kartograf. Abigail: Peta? Gates: Ya…. Abigail: Peta tentang apa? Gates: Lokasi…, emm…, benda yang memiliki nilai historis dan intrinsik. Abigail: Peta harta karun? Ketahuan sebagai pemburu harta karun, Gates gagal meyakinkan Abigail. Dialog ini mewakili sebuah contoh bagaimana kata-kata sulit, seperti enkripsi, kartograf, dan intrinsik, dipakai untuk menyembunyikan kejelasan, hal-hal konkret, serta motif sebenarnya si pembicara. Makin hari makin banyak istilah sulit dan kabur seperti itu di media massa kita. Inilah yang kita kenal sebagai jargon, yakni kata atau istilah yang hanya dipahami kalangan tertentu. Makin banyak tokoh, ilmuwan, dan pejabat publik, termasuk presiden dan para menterinya, pamer jargon. Sebagian mereka menganggap jargon, khususnya dalam bahasa asing, bisa mendongkrak kualitas pesan mereka. Tapi lebih banyak dari mereka sebenarnya hanya ingin menghindar dari berbicara konkret dan spesifik, serta menyembunyikan motif. Ini makin lazim pada musim kampanye, ketika banyak politikus mengobral janji namun enggan ditagih kelak. Lembaga publik, kantor kementerian, asosiasi profesi, polisi, tentara, pakar, dan politikus suka akan jargon. Setiap mereka memproduksi jargon setiap hari. Banyak wartawan, ironisnya, sering mengembangbiakkan jargon tanpa pernah benar-benar memahami artinya. Mereka hanya menelan pernyataan sumber berita, lalu memuntahkannya begitu saja di koran, radio, dan televisi. Hari-hari ini, misalnya, media memberitakan “kejadian luar biasa” demam berdarah yang melanda banyak daerah akibat musim penghujan. “Kejadian luar biasa” adalah istilah teknis yang hanya dipahami aparat dinas kesehatan dan para dokter. Orang-orang di pasar hanya paham kata “wabah”. Tapi itu hanya satu contoh. Ada kecenderungan luar biasa sekarang ini untuk memakai bahasa yang makin rumit dan abstrak, ketimbang bahasa sehari-hari yang konkret dan bisa dipahami orang banyak. Itu sebabnya alih-alih memakai “sekolah ditutup”, kita cenderung mengatakan “kegiatan belajar-mengajar dihentikan”. Kita lebih suka menulis “infrastruktur transportasi terdegradasi” ketimbang “jalan dan jembatan rusak”; atau menulis “stasiun pengisian bahan bakar untuk umum” ketimbang “pompa bensin”. Kita bahkan makin terbiasa mengatakan orang miskin “mengkonsumsi” nasi aking, bukannya “makan”. Siapa pula yang paham ketika Menteri Keuangan mengatakan “obligasi rekap” dan Menteri Energi mengatakan “harga keekonomian”? Padahal, kewajiban menteri adalah menjelaskan kebijakan pemerintah sejelas-jelasnya kepada seluruh rakyat, orang-orang di pasar, petani, dan nelayan. Pemakaian jargon berjalan seiring dengan sikap tidak transparan, elitis, dan korup. Polisi, seperti juga tentara, adalah lembaga yang cenderung tidak transparan sejak dulu, serta gemar menyelewengkan makna. Ketika seorang pejabat kepolisian mengatakan “pencuri diamankan”, kita tahu dalam banyak kasus itu artinya “diinterogasi, dipukuli, dan disundut rokok”. Polisi juga paling keranjingan jargon, yang dikombinasikan dengan akronim, seperti kata “curat” (pencurian dengan pemberatan) dan “curas” (pencurian dengan kekerasan), sementara di pasar orang hanya paham: mencuri, mencopet, dan merampok. Sama sekali tidak jelas pula bagi orang di pasar ketika polisi mengatakan “tersangka di-DPO-kan”. Kerusakan makin parah karena banyak wartawan lupa pada salah satu tugas pentingnya, yakni mencari kejelasan dari kekaburan. Mereka terbiasa menyerah pada pernyataan kabur, seperti ketika polisi mengatakan “kami sedang mengembangkan kasusnya”. Apa yang dia maksud “mengembangkan kasus”? Mengumpulkan bukti, mencari tersangka, melakukan otopsi? Para wartawan sendiri makin sering memproduksi jargon, mengganti kata sederhana dengan istilah rumit. Kata “pasca” yang merupakan terjemahan dari “post” dalam jurnal-jurnal ilmiah, misalnya, makin sering dipakai untuk menggantikan kata “setelah” secara tidak tepat. Jika pernah mendengar judul berita “beban rakyat bertambah berat pasca-kenaikan harga elpiji”, kita boleh khawatir kelak orang akan mengatakan “perutku mulas pasca-makan rujak”. Meski produk...

Read More