Antara Belajar Menulis dan Belajar Setir Mobil

Posted by on May 26, 2014 in Motivasi Menulis | 2 comments

Antara Belajar Menulis dan Belajar Setir Mobil

Menulis itu keterampilan, makin sering dilatih (biasanya) makin mahir. Begitu pula dengan menyetir mobil, adalah keterampilan. Jika sering berlatih, maka (biasanya) juga makin mahir. Pokoknya, semua hal yang ada prakteknya (tak sekadar teori) bisa diaplikasikan langsung. Kemahirannya berbanding lurus dengan seringnya berlatih dan berimprovisasi selama latihan. Jangan takut gagal saat berlatih menulis. Gagal itu biasa. Namanya juga sedang belajar. Bunyi salah satu iklan pembersih pakaian: “nggak ada noda ya nggak belajar”. Jadi tak perlu khawatir salah atau gagal. Itu hal yang bisa menimpa semua orang. Jangankan bagi yang baru belajar, mereka yang sudah mahir pun adakalanya gagal dan salah perhitungan. Lihatlah Valentino Rossi dan Dani Pedrosa, pernah terlempar dari arena balapan saat kuda besi yang ditungganginya tergelincir di licinnya aspal sirkuit.  Siapa bilang pemain sepakbola berpengalaman akan selalu sukses mengeksekusi tendangan penalti. Roberto Baggio adalah salah satu contohnya. Ia pernah gagal mengeksekusi penalti terakhir di final Piala Dunia, sehingga Gli Azzurri Italia menangis sambil menatap cemburu kepada Brasil yang jadi Juara di Piala Dunia 1994 itu. Bayang-bayang kegagalan bukan hanya milik mereka yang sedang berlatih atau belajar, tetapi juga menghantui mereka yang sudah mahir atau terampil. Itu sebabnya, tak perlu ciut nyali jika masih selalu gagal saat belajar menulis atau belajar menyetir mobil. Teruslah berlatih dan belajar dari kegagalan agar tak terulang pada latihan berikutnya. Jangan pernah menyerah, hingga benar-benar tak ada lagi yang mampu untuk diupayakan. Belajar menulis dan belajar setir mobil itu ada kesamaannya, yakni sama-sama belajar keterampilan. Hanya saja nanti berbeda dalam perlakuan setelah bisa atau mahir. Apakah itu? Menulis, meski sudah mahir sekalipun tak perlu lisensi khusus sebagaimana menyetir mobil atau sepeda motor yang dikeluarkan instansi tertentu (setidaknya sampai saat ini) . Kualitas tulisan seseorang akan dilihat pada tulisannya, bukan sertifikat atau lisensi yang didapatkannya. Hal ini berbeda dengan menyetir mobil, seseorang yang sudah memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) alias driving licence, dianggap sudah bisa mengendarai kendaraan. Padahal, belum tentu. Omong-omong, mengapa judulnya seperti ini? Ini ada kaitannya dengan saya selama belajar menyetir mobil dilatih seorang murid saya. Nah uniknya, murid saya itu belajar menulis dengan saya. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi murid saya yang sudah mengajari saya menyetir mobil, karena akhirnya saya bisa juga mengendarai kendaraan tersebut. Ini artinya pula, saya ingin memotivasi murid saya bahwa dengan serius dan terus belajar menulis, in sya Allah akan bisa juga menulis setelah menempuh kurun waktu tertentu. Setuju? Ayo menulis! Teruslah berlatih dan belajar menulis agar tulisan kian bagus kualitasnya dan tersampaikan pesannya. Yuk, perkaya wawasan dengan banyak membaca dan berinteraksi dengan orang lain. Jangan mudah menyerah dan tetap semangat berlatih menulis! Salam, O. Solihin *gambar dari...

Read More

Belajar Menulis dengan Menulis

Posted by on Nov 26, 2013 in Motivasi Menulis | 0 comments

Belajar Menulis dengan Menulis

Banyak di antara murid saya yang merasa sudah kalah sebelum belajar dengan benar. Bahkan ada di antara mereka yang menjadikan rasa malas sebagai penyebab ketidak-berdayaannya dalam belajar menulis. Perlu diketahui bahwa rasa malas sebenarnya kita sendiri yang ‘menciptakannya’. Mungkin tepatnya membiarkannya agar terus menyelimuti pikiran dan perasaan kita. Akibatnya, kita kehilangan gairah untuk memulai belajar menulis (atau juga kegiatan lainnya). Belajar menulis tidaklah sulit, jika kita mau beranjak untuk segera menuliskannya. Sebab, sama seperti belajar silat, jika kita tak segera menggerakkan badan untuk memeragakan jurus-jurus bela diri itu, amat wajar jika kemudian kita tak bisa lihai bermain silat. Setiap orang punya potensi yang sama, yang seringkali muncul pada kondisi ketika kita sudah memiliki minat yang kuat terhadap apa yang ingin kita raih. Boleh percaya boleh tidak, jika kita sudah berbulat tekad, maka halangan apapun tak akan mampu membendung kerasnya keinginan kita. Menulis itu keterampilan, maka harus sering dilatih dengan rajin menulis. Itu sebabnya, belajar menulis itu solusinya adalah MENULIS. Lho, bukankah menulis erat kaitannya dengan membaca, sehingga jika kita malas membaca juga akan berakibat malas menulis? Hmm.. menurut siapa itu? Saya justru sering berhadapan dengan orang yang hobi membaca tetapi dia terang-terangan tak suka menulis. Fenomena apa ini? Idealnya, memang orang yang rajin membaca adalah orang yang juga rajin menulis. Kedua aktivitas itu tak bisa dipisahkan. Tetapi faktanya, ada juga orang yang doyan membaca tapi berat untuk menulis. Membaca baginya sebatas memenuhi hasrat pengetahuannya semata, tak mau dibagikan lagi melalui tulisan kepada orang lain. Orang jenis ini hanya berhenti pada tataran kepuasan diri semata, ilmu yang didapat cukup baginya dan tak tergerak untuk menyebarkannya. Betul begitu? Ah, tidak juga. Lho, bagaimana ini? Iya. Sebab, ada juga orang yang memang bukan tak suka menulis, tetapi karena ia tak bisa memulai menulis. Jika faktanya demikian, berarti harus diyakinkan bahwa menulis itu sarana berbagi dan berharap mendapat pahala dari kemanfaatan yang kita berikan kepada orang lain melalui tulisan. Lalu bagaimana? Harus bagaimana? Jika ingin tetap belajar menulis, segeralah langsung menulis saja. Tak usah dipikirkan terlalu lama. Salah itu wajar kok, asal jangan sengaja berbuat salah. Berikutnya, kita harus mau belajar dari kesalahan dengan cara memperbaikinya. Bagaiamana pun, belajar itu memang butuh proses. Setuju? Jika setuju, segeralah menulis! Salam, O. Solihin Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin *Gambar dari sini...

Read More

“Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?”

Posted by on Jul 27, 2013 in Motivasi Menulis | 4 comments

“Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?”

Saya sering mendapat pertanyaan dari peserta workshop menulis atau siapapun yang kebetulan bertemu saya dan berbicara seputar menulis: “Bagaimana caranya bisa menulis? Apa saja yang harus dipersiapkan agar tulisan bagus dan enak dibaca? Bagaimana supaya pilihan kata yang kita rangkai dalam kalimat tidak monoton? Apakah benar menulis itu gampang, karena faktanya saya tak bisa juga menulis meski berkali-kali berlatih?” (catatan: dengan pertanyaan-pertanyaan jenis ini, sepertinya menulis jadi menyulitkan) Oya, selain pertanyaan-pertanyaan tadi, masih banyak pertanyaan serupa meski tak sama, tetapi intinya banyak mengeluhkan ketidak-mampuan membuat sebuah tulisan. Mendapati kenyataan seperti ini, haruskah saya meralat anggapan bahwa menulis itu gampang sehingga harus berpikir ulang untuk mengatakan, “siapa bilang menulis itu gampang?” Tidak. Saya sebenarnya tidak ingin melemahkan semangat mereka yang ingin sekali bisa menulis. Saya hanya sedang merasa berada pada level gagal paham terhadap orang yang kurang berusaha tetapi terlalu mudah untuk cepat menyerah. Benar bahwa menulis butuh persiapan dan ketersediaan bahan tulisan untuk ‘digoreng’ dengan bumbu paling lezat yang akan dihidangkan kepada para penikmat informasi dan opini tertulis dengan selera tinggi. Namun demikian, bukan berarti pada level paling gampang untuk berlatih menulis lalu kita abaikan. Tidak sama sekali. Jika ingin menuliskan hal-hal kecil yang kita sukai dan kuasai—tentu saja yang memang bermanfaat dan memberi maslahat—tulislah karena sangat boleh jadi, dari situlah kita bisa mencintai huruf, kata, dan merangkainya dalam kalimat. Biarlah puisi-puisi sederhana yang kita buat kita nikmati sendiri. Tetapi jika ingin mendapatkan tantangan, cobalah di-share di twitter atau facebook atau blog. Siapa tahu, banyak orang yang menentang, melecehkan, menjelek-jelekkan, mengkritik dengan pedas, termasuk yang memberi saran. Nikmati saja semua itu, sebab semuanya akan memberikan tambahan energi bagi kita untuk berubah dan terus memperbaiki kualitas tulisan kita. Cobalah! Oya, jika Anda termasuk orang yang sering dibuat pusing dengan banyaknya pilihan ide, dengan bejibunnya pilihan tema/topik, dengan melimpahnya fakta sehingga tak bisa dipilih dan dipilah mana yang harus ditulis, maka saya sarankan agar Anda menepi terlebih dahulu dari hingar-bingar berseliwerannya ide dan tema/topik (termasuk padatnya lalu-lintas fakta). Bila perlu ‘bertapa’ atau mengasingkan diri. Namun, jangan terus seperti itu, tetapi harus dibarengi dengan mencari cara terbaik untuk menuliskan pesan. Jika tidak, Anda harus siap berhadapan dengan kenyataan: “Orang lain sudah jauh meninggalkan Anda yang memilih membeku dengan kebingungan memilah ide dan topik tulisan”. Bagaimana, apakah masih setuju jika dikatakan, “Siapa bilang menulis itu gampang?” Atau justru akan lantang menuliskan: “Menulis itu memang gampang, tetapi jika ingin menulis dengan benar dan baik, tidaklah gampang”. Saya sendiri setuju dengan pilihan yang kedua. Jika sekadar menulis saja, pastinya gampang. Coba saja asal tulis—terutama mengekspos kegalauan dan kelakuan alay di wall facebook dan berkicau di linimasa twitter, sepertinya enteng-enteng saja. Tetapi, cobalah menulis dengan benar dan baik, pastilah jadi beban jika belum terbiasa menulis dan tak mau dilatih untuk menulis. Jadi, tetap menulis, karena dengan terus berlatih menulis, maka kita akan bisa dan terbiasa menulis. Semakin lama akan semakin lihai menyusun informasi dan memberi opin melalui tulisan. Tak percaya? Silakan dijajal langsung dengan menulis. Terus dan tetaplah menulis, karena jika sekadar menulis sebenarnya gampang. Namun jika ingin bisa dan terbiasa menulis dengan benar dan baik, tidaklah gampang. Itu sebabnya, perlu menimba ilmu dan berlatih terus menulis, serta—tentu saja banyak membaca. Semangat! Salam, O. Solihin Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin *Gambar dari...

Read More

Menulis Tanpa Henti

Posted by on Nov 9, 2012 in Motivasi Menulis | 5 comments

Menulis Tanpa Henti

Menulis sampai kapan? Saya memilih menjawab: saya akan menulis hingga nafas terakhir dihembuskan. Insya Allah. Terkesan lebay? Berlebihan dan sok? Itu tergantung persepsi Anda. Saya merasa bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Sehingga membuat saya harus terus menulis tanpa henti. Menulis tentang apa saja dan melalui berbagai media. Terlalu banyak, atau sangat banyak peristiwa atau cerita dalam kehidupan di sekitar kita yang bisa menjadi inspirasi dan topik menulis. Cerita tetangga yang sakit, obrolan tentang tetangga sebelah yang baru saja mendapatkan hadiah mobil, atau cerita tukang sayur yang saban hari menjajakan dagangannya menyambangi para pelanggannya dan berpuluh cerita yang hadir silih berganti–atau berbarengan–bisa kita jadikan ide untuk menulis. Ketika membuka laptop, colokkan modem lalu berselancar di internet, di sini juga banyak sekali informasi dan peristiwa yang bisa menjadi bahan tulisan. Itu artinya, kita sebenarnya bisa menangkap ide dan menuliskan terus menerus. Bisa sebagai tanggapan atas berita yang beredar atau bisa juga meluruskan berita, bahkan bisa saja membuat berita sendiri, hasil reportase sendiri. Informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan asasi manusia. Betapa banyak media cetak diterbitkan, stasiun radio dan televisi didirikan, perusahaan internet berlomba menarik perhatian masyarakat akan informasi yang mereka tawarkan. Itu artinya pula, kita memiliki peluang untuk menuliskan informasi yang bisa kita produksi sendiri. Omong-omong soal produksi tulisan sendiri, kini sebenarnya kita amat dimudahkan oleh adanya layanan blog. Di situlah kita bisa berkreasi dengan meng-upload tulisan kita atau hasil kreasi foto dan desain serta video yang kita buat. Menyenangkan. Ayolah, masih banyak kesempatan untuk berkarya. Di era digital ini, kita bisa memanfaatkan sarana tersebut untuk menyampaikan informasi dan opini. Terlebih, bagi pengemban dakwah, inilah saatnya kita memanfaatkan untuk kepentingan syiar Islam. Ayo menulis tanpa henti! Salam, O....

Read More

Mengapa banyak orang merasa berat dalam menulis?

Posted by on Jun 18, 2011 in Motivasi Menulis | 8 comments

Mengapa banyak orang merasa berat dalam menulis?

Assalaamu’alaikum wr wb Banyak orang merasa berat untuk memulai menulis. Tak sedikit dari mereka pada akhirnya memilih tidak menulis sama sekali. Sebagian kecil memilih meneruskan menulis meski ‘babak belur’ berjibaku melawan hambatan-hambatan menulis. Itu pun ada yang sukses melepas belenggu yang menghambatnya, namun tak sedikit yang menyerah di detik-detik menjelang akhir pertarungan. Melihat kenyataan ini, saya kadang bertanya: begitu beratkah menulis? Saya memilih jawaban: tidak berat. Yang membuat berat adalah karena kita menganggapnya berat. Sulitkah menulis? Jawaban saya: tidak sulit. Yang membuat sulit adalah karena kita menganggapnya sulit. Jika pikiran dan perasaan kita sudah dipenuhi dengan kata berat dan sulit, maka yang hadir adalah BEBAN. Berbeda halnya ketika kita menganggapnya ringan dan mudah, insya Allah kita akan berusaha untuk membuktikannya dan sekuat tenaga mengupayakannya agar berhasil. Saya alhamdulillah menjadi salah seorang dari sekian ribu orang yang berhasil menyingkirkan anggapan negatif yang sebelumnya sempat memenjara pikiran dan perasaan saya untuk menulis. Itu artinya, menulis lebih didominasi oleh faktor mental. Bukan hanya pada tahap awal memulai belajar menulis, tetapi juga pada saat sudah bisa menulis. Buktinya, banyak orang yang memulai ingin menulis sering merasa gagal ketika tulisannya tidak enak dibaca, ketika ia kesulitan memilih kata yang bagus, ketika ia hampir mustahil menciptakan rangkaian kata yang indah, ketika ia begitu berat memutuskan memilih tema yang hendak dibahas. Ujungnya? Malas menjadi alasan atas ketidakberdayaannya. Bagaimana dengan yang sudah bisa menulis? Tetap saja banyak yang merasakan berat untuk menulis. Meski banyak ide berseliweran di kepala, walaupun tak sedikit tema yang sudah ia siapkan, bahkan data pun sudah dipilih mana saja yang akan menjadi penguat argumentasi dalam tulisan, tetapi ternyata hanya berhenti di situ.Tidak dituliskan. Alasannya, kesulitan mendapatkan inspirasi dan momen yang tepat untuk memulai menuliskannya. Jika kondisi ini terus berlanjut, maka tidak heran jika pada akhirnya ia juga, yang sudah bisa menulis, akan terjebak dalam pikiran dan perasaan yang menganggapnya menulis ternyata berat dan sulit. Ini sekaligus membuktikan bahwa menulis tak selalu harus kuat kemampuannya (baca: keahliannya), karena yang terpenting adalah dahsyatnya KEMAUAN. Why? Sebab, menulis bukan melulu soal teknis. Tetapi yang terpenting adalah sikap mental.  Dan, terutama lagi, cara pandang. Mengapa cara pandang menjadi salah satu modal dalam menulis? Sebab, cara pandang yang kita miliki akan bisa menyemai asa dan terus memeliharanya. Ketika kita memandang bahwa menulis adalah bagian dari hidup kita, maka kita akan berusaha terus menulis agar kita tetap merasa hidup. Benarkah? Kenapa tidak. Banyak orang menjadikan menulis bukan kebetulan, tetapi pilihan. Tak sedikit juga yang menganggap menulis adalah jalan kehidupannya. Berlebihan? Tidak juga. Apalagi jika ia adalah seorang yang memiliki banyak ilmu dan wawasan di kepalanya. Ia akan berusaha membagikannya melalui tulisan dan disebarkan melalui media seluas mungkin agar manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Itulah kehidupannya, jalan hidupnya. Mungkin, tak banyak orang seperti itu, tetapi memang ada. Lalu, di mana posisi kita? Kita sendiri yang bisa menjawabnya. Beban itu bernama MALAS Beberapa siswa kelas menulis yang belajar dengan saya mengeluhkan bahwa rasa malas menjadi penghambat keinginan mereka menulis. Ada yang menuliskan bahwa kebingungan memilih kata yang baik berujung rasa malas untuk meneruskan menulis. Ada juga yang menyampaikan bahwa minimnya data yang dia miliki, menjadikan dia malas merampungkan sebuah tulisan. Banyaknya pekerjaan atau kegiatan lain di luar menulis menjadi penyebab munculnya rasa malas untuk menulis. Tak sedikit yang sepertinya pasrah,yang pada akhirnya dia merasa harus realistis, bahwa dirinya tak punya bakat atau tak memiliki hasrat kuat lagi untuk bisa menulis. Ia berhenti dan berusaha mengampuni diri sendiri untuk menutupi kemalasannya. Mengapa malas menjadi musuh utama dalam menulis? Oya, sebenarnya bukan hanya dalam menulis orang mudah dihinggapi rasa malas. Tetapi rasa malas akan senantiasa hadir manakala kita tidak memiliki motivasi kuat dalam...

Read More

Perlukah motivasi dari orang lain?

Posted by on Apr 10, 2011 in Motivasi Menulis | 6 comments

Perlukah motivasi dari orang lain?

Assalaamu’alaikum wr wb Sampai sekarang saya masih percaya, bahwa saya hanya butuh inspirasi. Bukan motivasi. Tetapi saya tidak pernah melarang siapapun untuk memotivasi. Bahkan saya sendiri sering memotivasi. Lah, lalu apa esensinya menulis catatan ini? Ada. Justru karena ada esensinya saya menuliskannya. Dalam beberapa kondisi kita memang butuh motivasi orang lain. Mungkin sekadar untuk membangkitkan potensi yang sebenarnya sudah kita miliki, hanya saja kita belum merasakannya bahwa itu adalah potensi kita. Kadangkala kita baru sadar ketika diberikan motivasi agar mau bergerak, mau melakukan sesuatu, mau bertindak. Pada kondisi ini, motivasi memang diperlukan. Namun, kenyataannya motivasi tak selalu menjadi ‘vitamin’ bagi orang yang menerimanya, bahkan ironinya adakalanya sang motivator justru malah yang harus dimotivasi. Salahkah? Tidak juga. Ini sisi manusiawi setiap orang. Sebagaimana khatib jumat yang selalu mewasiatkan pesan takwa kepada jamaah, dan juga dirinya: Usiikum wa nafsi bitaqwallah (aku menasihati kalian dan aku sendiri dalam bertakwa kepada Allah). Nasihat memang untuk diri kita dan juga orang yang kita beri nasihat. Sama seperti saya ketika menulis. Sejatinya adalah pesan bagi saya sendiri dan juga siapapun yang membaca pesan yang saya tulis. Sebab, saya—dan juga siapapun yang menyampaikan pesan nasihat—wajib bertanggungjawab dengan apa yang disampaikannya. Secara sederhana bisa dirumuskan: tuliskan apa yang Anda kerjakan dan kerjakan apa yang Anda tulis. Ini agar apa yang kita tulis bukan semata ‘nyuruh-nyuruh’ saja. Tetapi kita juga aktif melaksanakannya. Termasuk apa yang dikerjakan perlu ditulis dan dicatat agar bisa mengevaluasi di lain waktu. Sehingga apa yang kita kerjakan senantiasa menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Beda motivasi dan inspirasi Secara bahasa, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), motivasi adalah: dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Penjelasan tambahannya (dalam bidang psikologi), motivasi adalah usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Bagaimana dengan inspirasi? Masih menurut KBBI, inspirasi sama maknanya dengan ilham, yakni pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati; bisikan hati. Bisa juga sesuatu yang menggerakkan hati untuk menciptakan (mengarang syair, lagu,menulis, membuat kendaraan tertentu dsb). Dari kedua definisi ini, menurut saya, tampak sedikit perbedaan meski agak mirip dalam aksinya. Namun, saya lebih suka menggunakan istilah inspirasi. Terasa lebih kuat karena pelakunya seolah-olah berusaha secara keras untuk melakukannya. Berbeda dengan motivasi (yang dipahami banyak orang saat ini sebagai sebuah jenis pelatihan atau training untuk membangkitkan motivasi seseorang atau khalayak ramai), karena sifatnya yang seolah-olah seseorang itu “menunggu” untuk mendapatkan sesuatu dan kemudian bergerak. Inspirasi lebih aktif, sementara motivasi cenderung pasif. Saya tidak berkesimpulan pasif, tetapi memilih diksi “cenderung pasif”. Sebab, berdasarkan kenyataan memang demikian adanya. Banyak orang meminta untuk dimotivasi, jarang yang meminta untuk diinspirasi. Apa contohnya? Saya sering mendapatkan permintaan dari beberapa orang agar saya memotivasi diri mereka dalam segala hal, terutama yang paling sering adalah dalam menulis. Saya diminta memberikan motivasi-motivasi seputar menulis. Tugasnya memang jadi semacam motivator khusus dalam penulisan. Saya bahkan membuat modul pelatihan menulis yang salah satu pembahasannya  mencantumkan materi khusus; motivasi menulis. Sebenarnya, jujur saya masih merasa ragu. Sebab, motivasi itu tak akan ada apa-apanya sama sekali jika orang yang saya motivasi tak melakukannya sesuai petunjuk. Tidak bergerak. Secanggih apapun sang motivator atau guru atau instruktur dalam memotivasi para peserta pelatihan, jika yang diberi motivasi menolak melakukannya atau minimal tidak merasa yakin dengan apa yang disampaikan pemberi motivasi. Sehingga dalam hal ini memang diperlukan kerjasama dua arah. Tidak bisa satu arah. Lebih sering terinspirasi daripada termotivasi Beberapa orang dengan keyakinan diri yang penuh, biasanya lebih suka dengan inspirasi. Ia bahkan mencari inspirasi sampai jauh. Aktif bergerak. Ia mungkin saja membutuhkan motivasi. Namun tidak...

Read More