Menulis, antara idealisme dan periuk nasi

Posted by on Mar 27, 2011 in Motivasi Menulis | 10 comments

Menulis, antara idealisme dan periuk nasi

Assalaamu’alaikum wr wb Ibu saya sempat berlinang air mata ketika saya memutuskan tidak akan bekerja sebagai analis kimia dan malah memilih menjadi penulis. Saya butuh waktu hampir 2 tahun setelah menyampaikan keputusan saya untuk bisa meyakinkan ibu saya. Saat itu pilihannya memang agak sulit. Saya menginginkan untuk fokus mencurahkan perhatian saya kepada jalan yang saya pilih. Mungkin keseriusan saya memilih jalan itu pada akhirnya membuat ibu saya merasa yakin dengan keputusan saya. Saat itu, sebenarnya dalam hati saya pun belum yakin bahwa ibu saya merasa yakin dengan apa yang saya putuskan. Ya, tepatnya mungkin memaklumi. Tetapi saya berjalan terus. Kukuh dengan pendirian saya. Sebagian keluarga menganggap saya egois. Mementingkan diri sendiri. Tidak mau memperhatikan orang lain. Bahkan ada seorang sepupu dari keluarga besar berseloroh: “Sayang sekali ya, otak encermu agar bisa sekolah di sekolah idaman banyak orang pada akhirnya tak dipakai ilmunya. Karena kamu memilih jalur profesi yang tak sesuai keahlian utamamu. Otaknya buat saya saja atuh… hehehe…” Menyikapi komentar ini saya hanya tersenyum. Tak berkomentar apapun, karena sudah sering saya sampaikan alasan tersebut. Apalagi saya sebenarnya sudah mempersiapkan dengan cukup matang, baik dari segi waktu maupun mental. Tidak tergesa-gesa. Ya, untuk mempersiapkannya, sejak bekerja sebagai analis kimia di sebuah perusahaan mie instan di Karawang waktu itu, saya sudah membeli mesin tik seharga Rp 275 ribu di tahun 1993 dari paman saya. Paman sayalah yang membelikan mesin tik itu dan saya mencicilnya sebulan Rp 25 ribu. Meski paman saya kurang setuju dengan pilihan hidup saya, tetapi ia tak bisa melarang ‘kekerasan’ pendirian saya. Mungkin juga sekaligus ia ingin mengetahui seberapa kuat saya melangkahi jalan pilihan saya. Waktu itu usia saya 21 tahun. Mungkin orang tua saya dan siapapun dari keluarga besar saya menganggap pilihan saya terlalu gegabah. Usia muda yang meledak-ledak atas pilihan yang mungkin dianggap meruntuhkan semua keinginan besar orang tua menjadi kambing hitamnya. Itulah yang banyak dibahas di keluarga besar. Entahlah, mungkin mereka ada benarnya. Tetapi saya merasa yakin bahwa pilihan saya sudah tepat dan saya tidak akan menyesali keputusan saya walaupun pada akhirnya mengalami kesulitan. Kini, alhamdulillah saya bisa menunjukkan bahwa saya mampu tegak di atas jalan yang saya pilih. Walaupun bukan tanpa penderitaan. Penderitaan tetap ada, tetapi saya insya Allah tidak terus mengeluh dan tidak menampakkan keluhan di hadapan mereka. Ya, meski tak semua keluarga menunjukkan ekspresi bahagianya setelah saya mampu berdiri, tetapi saya merasakan ada getar bangga di hati mereka. Insya Allah. Lebih dari sekadar profesi Bagi saya, menulis atau menjadi penulis bukan sekadar profesi atau malah hobi. Saya memilihnya sebagai idealisme. Benar bahwa kebiasaan saya menulis sejak SMP, waktu itu saya menyebutnya sebagai hobi. Tetapi di kemudian hari saya lebih suka dengan pilihan kata “idealisme”. Terutama setelah saya merasa senang dibombardir dengan bacaan-bacaan yang mengubah cara pandang saya tentang Islam. Jika dahulu saya menganggap agama sebagai ritual belaka, tetapi setelah saya aktif di remaja masjid sekolah, rajin melahap bacaan yang waktu itu sangat baru bagi saya, Islam ternyata adalah ideologi. Sebabnya, Islam mengatur urusan dunia sekaligus akhirat. Islam mengatur akidah, dan juga syariat. Inilah yang membuat saya harus ikut andil dalam menyebarkan syiar Islam, setidaknya melalui kemampuan saya dalam menulis. Saya ingin menyampaikan indahnya Islam melalui tulisan yang bisa dijangkau banyak orang. Ketimbang saya harus duduk dan mengajak banyak orang untuk datang ke masjid, lalu saya menyampaikan apa yang saya ketahui. Maklum, saya waktu sekolah punya keterbatasan secara lisan. Saya tidak bisa menyampaikan pesan secara lisan di hadapan banyak orang. Rasanya lidah ini kelu. Sulit merangkai kalimat. Jika sekarang alhamdulillah bisa dan berani, itu ternyata ‘efek’ dari kebiasaan saya menulis (selain tentunya yang utama adalah atas izin Allah Swt.). Waktu itu saya merasa...

Read More

Sedang ingin menulis

Posted by on Jan 11, 2011 in Motivasi Menulis | 4 comments

Sedang ingin menulis

Assalaamu’alaikum wr wb Numpuk dan berjubel-jubel puluhan bahkan ratusan informasi di dalam kepala. Otak kita, dengan segala kelebihan yang telah diberikan Allah Swt., mampu menampung memori apa saja. Rekam jejak yang pernah kita lakukan ada. Kapan saja kita butuh, otak akan memunculkannya sesuai ‘pesanan’ kita. Proses index memori yang sangat fantastis. Ciptaan Allah Swt. ini pasti mengalahkan super komputer tercanggih saat ini. Bahkan super komputer tercanggih itu pun sejatinya ‘dihasilkan’ dari otak dan kemampuan berpikir yang telah Allah Swt. karuniakan kepada kita. Subhanallah. Saya menemukan penjelasn tentang kemampuan daya ingat manusia dalam buku yang ditulis Pak Fauzil Adhim, Dunia Kata. Beliau mengutip pendapatnya John Griffith, seorang ahli matematika yang mengatakan, “Setiap manusia normal mampu mengingat 1.000.000.000.000 (1011) bit informasi”. Sementara John von Neumann, ahli teori informasi, menghitungnya sampai 280.000.000.000.000.000.000 (280 diikuti delapan belas angka nol di belakangnya) atau 280 kuintiliun bit. Oya, Anda perlu tahu, bahwa setiap satu bit mewakili satuan informasi terkecil, misalnya “ya”, “tidak”, “i” atau “o”, “on” atau “off” dsb. Maka, sesuai dengan judul postingan kali ini, saya ingin mengajak siapa pun bahwa sebuah ide atau inspirasi menulis, ternyata tidak usah terlalu jauh kita mencarinya. Sebab, seringkali ide yang dekat dengan kita justru bisa menjadi sebuah tulisan yang memikat dan menarik ketika kita berhasil mengemasnya dengan indah. Cobalah kita merenung sejenak sambil mengingat-ingat apa saja yang telah kita lakukan. Bisa dalam hitungan jam, hari, pekan, bulan, bahkan tahun. Lalu tuliskan semua yang kita ingat dan pernah kita rasakan. Ada banyak orang yang bisa menuliskan masa lalunya justru ketika ia sudah dewasa. Contohnya Andrea Hirata. Kisah yang ditulisnya dalam Laskar Pelangi sebagian adalah kenangan masa lalunya. Saat ia masih SD. Itu artinya, kita bisa mengingat masa lalu kita pada saat sekarang ini. Ketika ingat, kemudian coba disusun ulang dan akhirnya bisa menjadi sebuah tulisan. Pernah dengar nama Laura Ingalls Wilder? Ia mampu menuliskan ‘kisah’ masa kecilnya ketika dia sudah berusia 63 tahun. Ya, dia menulis novel terkenal (dan saya pernah penonton filmnya di tahun 80-an yang sering diputar di TVRI setiap hari minggu), Little House on the Prairie. Film yang dirilis pada 11 September 1974 ini begitu enak ditonton. Setidaknya saya sering mengikutinya waktu masih SD dulu di awal tahun 80-an. Film serial TV ini di Amerika Serikat diputar antara 1974-1983 (hampir sepuluh tahun). Ini contoh bahwa manusia bisa ‘memanggil’ memori masa lalunya dan kemudian ditulisnya. Meski di film ini (termasuk dalam novelnya) ada banyak tambahan ‘bumbu’ sebagai teknik realitas imajinatif, tapi Laura Ingalls Wilder berhasil menulis ulang kisah masa lalunya, justru ketika ia sudah memasuki usia senja. Apa yang menarik dari seputar memori manusia ini? Saya memilih untuk mengajak siapa pun dari Anda agar bisa menuliskan kembali kisah yang pernah dilaluinya. Peristiwa yang kita amati langsung dan rasakan. Banyak jejak langkah kita, sebanyak itu pula kita merekamnya, dan jika kita mau, kita bisa “men-search” kepingan memori itu untuk bisa disusun dan dituliskan kembali. Saya sendiri selalu merasa “sedang ingin menulis” (ini boleh dibilang plesetan dari lagunya Dewa 19:  Sedang Ingin Bercinta). Ya, biasakanlah selalu bahwa kita siap untuk menulis. Kapan pun, di mana pun, tema apapun, apa saja yang ingin kita sampaikan. BISA! Maka, dengan kondisi seperti ini, kita sangat boleh jadi tak lagi punya alasan untuk mengelak bahwa kita sulit mencari inspirasi, sulit mendapatkan ide menarik, sulit mencari tema dan beragam alasan lain yang akan ‘membunuh’ semangat kita dalam menulis. Menulislah, dan biasakan terus menulis. Rasanya sudah terlalu sering saya menyampaikan kalimat motivasi ini di berbagai workshop menulis dan juga di buku Menjadi Penulis Hebat yang saya terbitkan di tahun 2003 lalu. Namun, tak banyak dari kita yang segera melakukannya. Sebaliknya, malah terus berhenti dan...

Read More

Beranilah menuliskan buah pikiranmu!

Posted by on Jan 9, 2011 in Motivasi Menulis | 0 comments

Beranilah menuliskan buah pikiranmu!

Assalaamu’alaikum wr wb Inspirasi menulis bisa dari mana saja. Termasuk untuk menulis artikel ini yang spontan idenya muncul saat ini juga. Hari ini saya berkunjung ke Bogor Islamic Book Fair sejak pagi tadi, selepas ngisi jadwal rutin kajian bareng temen-temen gaulislam, dengan tujuan utama membagikan buletin gaulislam edisi terbaru di event itu. Nah, saat itulah saya bertemu dengan Burhan, anak muda yang biasa memandu saya siaran Fresh! Air di MARS 106 FM. Bersamanya saya lalu membagikan buletin gaulislam edisi 168/tahun ke-4 ke para peserta remaja setelah mereka mengikuti sebuah talkshow di panggung utama. Seru! Karena ada di antara mereka yang tak sabar hingga berebutan mendapatkan gaulislam. Mungkin ia sudah pernah membaca gaulislam di edisi sebelumnya. Mungkin. Hehehe… Lalu apa hubungannya dengan judul posting ini? Ada. Siang ini, tanpa sengaja saya menjadi ‘mentor’ dadakan untuk membantu Burhan, seorang pemuda yang sedang menempuh pendidikan berbeasiswa di sebuah lembaga zakat. Setelah shalat Dhuhur, saya dan Burhan kembali ke studio MARS 106 FM. Di ruang rapat kami ngobrol. Burhan menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan tugas menulis feature dari dosennya. Nah, seperti dalam peribahasa “Pucuk dicinta ulam tiba”. Burhan, memanfaatkan betul kesempatan ini. Jadilah saya mentor dadakan bagi Burhan. Saya rangsang dia untuk berpikir dan mengungkapkan apa buah pikirannya ke dalam sebuah tulisan. Berat di awalnya memang. Burhan berkali-kali tampak bingung. Ujung balpoint-nya tak pernah bergerak untuk dituliskan sementara wajahnya begitu tegang. Saya diamkan beberapa saat sambil ngecek email. “Saya bingung Pak” Burhan seakan menyerah. “Bingungnya di mana?” saya tanya sambil melihat hasil tulisannya yang baru beberapa buah kata itu. “Memulainya” sambil menatap mata saya dia bicara. “Ok. Sekarang begini. Apa yang ada dalam pikiran Burhan saat ini? Mungkin beberapa peristiwa yang menarik akhir-akhir ini, adakah? Atau, mungkin pengalaman terbaru yang bisa diceritakan ke orang lain? Bisa juga, Burhan barangkali punya pendapat tertentu yang ingin disampaikan?” Panjang lebar saya pandu dia. Saya sengaja tidak memberikan taburan kalimat langsung agar ia bisa menulis lancar. Tidak. Saya memilih Burhan untuk menuliskan buah pikirannya dengan bahasanya sendiri. Ketika ia meminta contoh, saya berikan beberapa tulisan saya di blog, termasuk yang di facebook. Dia membacanya sekilas. Lalu manggut-manggut tanda mengerti. “Oh, bisa dimulai dari menuliskan pengalaman ya, Pak” “Ya, bisa juga demikian” saya memastikan. “Bisa dengan cara lain tidak?” dia tampak belum yakin. “Kenapa tidak? Saya lalu contohkan bahwa dalam menulis feature bisa melalui berbagai angle (sudut pandang). Untuk satu tema saja bisa banyak sudut pandang. Contohnya, ini tulisan saya lainnya,” saya menyodorkan contoh tulisan saya yang lain. Burhan lalu menulis. Menulis dan menulis terus. Beberapa kali ia tampak masih belum percaya diri dengan hasil tulisannya. Ia menunjukkan dan minta saya menilainya. Saya pastikan bahwa, Burhan harus berani menuliskan buah pikirannya. Jika saat ini yang muncul banyak ide, tulislah saja semuanya. Meski berantakan, nanti bisa ditulis ulang. Disusun sesuai runutan peristiwanya dan logika penuturannya. Baca lagi ketika sudah dianggap selesai. Insya Allah nanti akan ketemu, paragraf mana saja yang sebaiknya disimpan dalam susunan yang rapi. Burhan menurut dan akhirnya dia mampu menyelesaikannya setelah lebih dari lima belas menit menulis dan menuangkan buah pikirannya dalam selembar kertas. “Sudah Pak!” seru Burhan sambil mengemas barang bawaannya untuk menuju kelas dan bertemu dosennya untuk menyerahkan tugas menulisnya hari itu juga. “Yang penting ada dulu deh Pak!” “Sip deh!” saya mensupport-nya. Saya sampaikan ke Burhan bahwa untuk menulis lebih lancar lagi, harus sering latihan menulis. Sebab, menulis adalah keterampilan. Tidak instan. Perlu pengorbanan, perlu percaya diri dan perlu kesabaran. Jangan lupa sambil berikhtiar tetaplah berdoa memohon kepada Allah Swt. untuk dimudahkan dalam belajar menulis. Saya berharap, Burhan dan siapapun yang hendak menulis, beranilah untuk menuangkan buah pikirannya. Jangan ragu, jangan bimbang, teruslah menulis....

Read More

Tulislah pengalamanmu!

Posted by on Dec 28, 2010 in Motivasi Menulis | 0 comments

Tulislah pengalamanmu!

Assalaamu’alaikum wr wb Menuliskan pengalaman itu asik lho. Kita bisa ‘merekonstruksi’ kejadian yang pernah kita alami. Kita bisa menceritakan ulang dalam sebuah tulisan. Apalagi jika kita bisa merangkainya dengan jalinan kata dan kalimat yang enak dibaca, mudah dipahami dan memberikan pencerahan kepada pembaca. Banyak orang yang sudah mempraktikkan bagaimana menuliskan pengalaman yang didapatnya, lalu dibagikannya kepada pembaca. Gola Gong, ia pernah berkeliling Asia, dan menceritakan pengalamannya dalam bukunya yang berjudul The Journey [from Jakarta to Himalaya]–oya buku ini merupakan ‘daur ulang’ dari buku sebelumnya yang berjudul Perjalanan Asia. Selain Mas GG, ada cukup banyak penulis yang menceritakan pengalaman mereka dan membukukannya. Misalnya, The Naked Traveler (Trinity), Ciao Italia: Catatan Petualangan Empat Musim (Gama Harjono), Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar (Marina Silvia K), Independent Traveling (Agung Basuki), juga Edensor (Andrea Hirata) yang merupakan buku ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi. Atau, mungkin perlu juga membaca catatan-catatan perjalanannya Gerson Poyk. Dia adalah reporter Indonesia terbaik dalam dasawarsa 1980-an. Dua tahun berturut-turut ia memenangkan hadiah Adinegoro. Mau contoh hasil reportasenya? Ini dia: “Dari Cepu saya naik kereta api klutuk. Muatan kayu jati. Mula-mula penumpangnya sedikit tetapi dalam perjalanan penumpang naik sedikit demi sedikit sehingga penuh padat. Kadang-kadang kereta api ini berhenti di tengah hutan jati untuk muat penumpang dengan barang-barangnya. Saya masih ingat, beberapa mbakyu pedagang batik duduk di sekitar saya dan mereka kucing-kucingan dengan kondektur. Kalau karcis diperiksa, mereka pura-pura tidur sehingga kondektur lewat saja. Barangkali melihat tampang mereka cukup manis dan pakaian cukup bersih, sang kondektur mengira mereka tidak kekurangan uang untuk membeli karcis. Dalam kereta klutuk itu saya berkumpul dengan sesama orang kecil Republik Indonesia. Mereka tidak tahu bahwa saya seorang wartawan yang baru saja ikut rombongan presiden dan karena tidak mau segera pulang ke Jakarta dengan pesawat terbang, akhirnya kehabisan uang. Tetapi perjalanan ini sangat menyenangkan. Yang tidak menyenangkan adalah isi kantong saya. Terus terang saja, di Cepu saya menjual jaket saya…” (Menggebrak Dunia Mengarang, Eka Budianta, hlm. 46-47) Seperti halnya Gerson Poyk atau penulis lainnya, Anda bisa juga menuliskan semua pengalaman yang Anda ingat. Jika orang lain saja yang sama-sama makan nasi bisa menuliskan pengalamannya dengan baik, seharusnya kita juga bisa. Saya sendiri, hehehe.. jadi malu. Saya belum menuliskan catatan perjalanan sebagai bagian dari pengalaman hidup saya. Tapi saya pernah menulis buku Bangkit Dong, Sobat! yang merupakan memoar saya tentang perjalanan hidup saya berkaitan dengan orang tua, teman, sekolah, pekerjaan, bahkan dakwah. Bagi saya, menceritakan kembali sebuah pengalaman rasanya bukan sekadar mengenang romantisme masa lalu, tapi lebih dari itu: memberikan informasi dan berbagi inspirasi. Siapa tahu, pembaca buku-buku saya berhasil menangkap pesan dari semua pengalaman yang saya tulis dan dibukukan tersebut. Beberapa catatan perjalanan sempat juga saya tulis dan saya bagikan di blog ini. Misalnya: Voice of Islam di Bumi Ruai Jurai; (Sudah Pasti) Ketinggalan Kereta; dan Menabur Cinta Menuai Bahagia. Jika Mas Gola Gong menceritakan perjalanannya dengan detil dan menarik dalam buku yang ditulisnya, maka saya hanya menceritakan hal-hal yang saya alami dengan seperlunya saja. Maklum, Mas Gola Gong menceritakan pengalaman menjelajah 8 negara selama 9 bulan. Dimulai dari Malaysia, kemudian Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Dari September 1991 hingga Mei 1992. Pasti banyak cerita didapatkannya. Bukan sekadar menuliskan perjalanan biasa dan serunya menelusuri letak geografis, tapi Mas Gong ‘mengajari’ kita bagaimana menumbuhkan semangat dan berserah diri. Inspiratif. Oya, saya hampir selalu merasakan kesenangan ketika menulis perjalanan hidup saya, termasuk membaca catatan perjalanan penulis lain. Sebab, saya merasa menemukan inspirasi yang tak habis-habisnya. Gaya bertutur tiap penulis dalam menceritakan pengalamannya pasti berbeda. Di situlah ilmu yang saya dapatkan dari membaca buku-buku mereka. Termasuk, tentu saja saya sendiri menulis dengan gaya penulisan yang biasa...

Read More

Harus mulai dari mana?

Posted by on Dec 6, 2010 in Motivasi Menulis | 0 comments

Harus mulai dari mana?

Assalaamu’alaikum wr wb Memulai, bagi kebanyakan orang memang berat. Susah. Sulit. Malas. Memulai itu adalah jenis usaha yang memerlukan kekuatan, keteguhan, kesungguhan, juga keyakinan. Itu sebabnya, amat wajar jika ketika memulai suatu pekerjaan setiap orang memiliki caranya sendiri. Hal itu juga bergantung kepada niat dan jenis pekerjaannya. Imam Malik rahimahullah membiasakan untuk terlebih dahulu mandi, memakai wewangian, mengenakan pakaian terbaik, serta duduk dengan seksama dalam ruangan yang harum sebelum memulai periwayatan hadits-hadits. Imam al-Bukhary rahimahullah bahkan mengharuskan dirinya untuk terlebih dahulu melaksanakan shalat Istikharah sebelum memutuskan peletakan setiap hadits dalam buku karyanya. Islam sudah mengajarkan doa-doa setiap kali memulai sesuatu. Mau masuk kamar mandi, ada doanya. Mau memulai untuk tidur, ada doanya. Memulai belajar ada doanya. Memulai melangkah keluar rumah juga ada doanya. Bahkan untuk memulai hubungan intim antara suami dan istri juga ada doanya. Subhanallah. Islam mengajarkan kebaikan dan keindahan dalam memulai setiap pekerjaan. Jika dimulai dengan baik, maka hasilnya juga insya Allah baik. Apa yang hendak saya sampaikan sesuai judul posting ini? Ya, judulnya: “Harus mulai dari mana?” Ini adalah pertanyaan umum saat saya mengajarkan bagaimana cara menulis yang benar dan baik. Seringkali peserta yang belajar dengan saya menanyakan pertanyaan tersebut. Membosankan? Tidak. Bagi saya hal itu adalah wajar bagi setiap orang yang sedang belajar. Biasanya saya mengingatkan mereka untuk membaca doa. Luruskan niat dalam belajar menulis,yakni sebagai upaya pendukung dalam menyebarkan informasi dan kebenaran Islam. Keterampilan menulis saat ini sangat diperlukan, apalagi di era teknologi komunikasi dan informasi yang makin canggih. Internet misalnya, kini menjadi primadona penyumbang tersebarnya informasi dan bahkan bisa menggerakkan emosi para penggunanya. Semoga masih ingat kasus Prita Mulyasari dan Dukungan untuk Balqis yang menghebohkan itu. Internet menjadi pilihan untuk menyampaikan informasi dan menggalang opini. Setelah menyampaikan hal-hal sederhana namun penting dalam memulai setiap pekerjaan, termasuk menulis, maka saya mulai mengajak mereka untuk langsung menulis. TULISKAN! Ya, tuliskan apapun yang hendak anda tulis. Apapun yang ada di pikiran dan perasaan Anda. Lakukanlah! Saya, melontarkan pernyataan ini bukan tanpa sebab. Ada alasannya. Ketika saya penasaran ingin bisa menulis dengan benar dan baik, seorang kawan yang sering mengikuti pelatihan menulis, dan juga jurnalistik memberi resep sederhana kepada saya bahwa jika ingin bisa menulis para instruktur umumnya meminta menulis apa saja yang ada di pikiran dan hati kita. “Hanya itu?” Saya bertanya kepadanya untuk meyakinkan. “Ya!” jawabnya. Ketika saya coba dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan resep tersebut, ternyata akhirnya saya BISA menulis. Sungguh “ajaib”! Memang tidak sekali perlakuan, saya melakukannya waktu itu berminggu-minggu. Hampir setiap hari memulai untuk berlatih menulis. Gagal. Saya coba lagi. Jelek ketika dibaca. Saya coret-coret kertas kemudian diremas sepuasnya dan dengan sempurna saya lemparkan ke keranjang sampah. Saya tidak putus asa. Coba menulis lagi sesuai keinginan saya. Hal itu terus saya lakukan tanpa bosan. Meski adakalanya rasa berat menyergap setiap kali memulai melatih diri menulis. Berat karena beban yang ada di kepala, jika mengingat usaha yang senantiasa gagal. Tapi, saya coba hilangkan pikiran-pikiran buruk penghambat kreativitas. Saya terus berlatih menulis, membaca, dan menulis lagi. Alhamdulillah, pada akhirnya saya bisa menulis meski dengan kualitas seadanya. Tapi, saya cukup bangga bisa menuliskan ide dengan lancar meskipun isinya masih tidak fokus, bahasanya masih tak teratur dan alurnya kadang tak nyambung. Hehehe… (*yang penting bisa menulis terlebih dahulu deh!) Dan, seperti kata pepatah: “bisa karena biasa” maka saya akhirnya bisa. Meskipun pada kesempatan berikutnya, saya harus mengubah bisa karena biasa menjadi “BISA KARENA BELAJAR”. Di situlah titik balik saya dalam menulis. Saya harus bisa karena memang saya belajar. Bukan karena bisa begitu saja sesuai kebiasaan. Sebab, ada bedanya lho. Bisa karena biasa dengan bisa karena belajar. Apalagi setelah saya membaca buku “DUNIA KATA” karya Pak Fauzil Adhim,...

Read More

Untuk apa sih menulis?

Posted by on May 30, 2010 in Motivasi Menulis | 1 comment

Untuk apa sih menulis?

Assalaamu’alaikum wr wb Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’. Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja. Dalam Islam, kita sudah diberikan tuntunan. Dakwah salah satunya. Dakwah itu adalah bentuk kepedulian. Menyampaikan informasi dan pengetahuan itu terasa indah dan menyenangkan. Menulis, adalah salah satu cara untuk mendukung terlaksananya dakwah. Andai saja tak ada orang yang mau berdakwah, mungkin akan banyak manusia di bumi ini yang tersesat di jalan kehidupan. Jika tak ada guru yang mengajarkan banyak ilmu, mungkin tak akan banyak orang-orang cerdas dan terpelajar di dunia ini. Mungkin saja jika orang tua kita tidak mendidik kita tentang kepribadian dan etika, akan banyak hadir di dunia ini anak-anak yang tak beradab. Indahnya berbagi. Menulis pun bagi kita semestinya diniatkan untuk berbagi. Ya, sekemampuan kita. Sebab, adakalanya untuk menjelaskan sesuatu kita butuh detil dan pemaparan fakta. Dan, itu tentunya harus dituliskan. Bukan dikatakan. Bahkan bila perlu dilukiskan dengan rangkaian kata yang indah untuk menjelaskan suatu definisi atau makna. Tulisan pun akan lebih awet dan bisa dipindah-pindah dengan mudah, dicetak dan disebar sebanyak mungkin melalui berbagai media penyampai pesan. Di era digital saat ini, tulisan bisa diproduksi dengan massal, bertebaran di internet, di surat kabar, di majalah dan ribuan buku. Jutaan para penulis lahir dari generasi ke generasi, berbilang tahun dan abad.  Subhanallah, hadis-hadis Rasulullah saw. sampai kepada kita. Kita bisa membacanya melalui riwayat yang disampaikan berabad-abad lamanya. Dibacakan, ditulis, dibacakan lagi, ditulis lagi. Begitu seterusnya. Kita, generasi mutaakhirin, tetap harus merasa bangga, karena ilmu banyak hadir. Karya Imam Bukhari masih bisa kita baca. Padahal, penulisnya sudah ratusan tahun lalu meninggalkan dunia ini. Menulis, memiliki kekuatan tersendiri untuk berbagi ilmu pengetahuan dan mendukung dakwah. Saya insya Allah merasa yakin bahwa motivasi menulis para ulama adalah menggapai pahala. Para ulama terdahulu senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Swt. sebelum menulis karya-karya mereka. Dalam beberapa kisah bahkan para ulama itu menulis dalam keadaan bersuci. Banyak di antara mereka yang melakukan shalat sunnah terlebih dahulu untuk menuliskan ilmunya. Subhanallah, pantas saja ilmu mereka barokah. Pantas saja karya mereka bermanfaat dan mencerahkan pembacanya hingga kini. Kita wajib iri dengan karya-karya para ulama. Apa yang akan kita wariskan bagi kaum muslimin saat kita sudah tak ada dunia ini lagi? Apa yang akan kita titipkan untuk anak-cucu...

Read More