Opini

now browsing by category

 

Awas! Terjebak Kebebasan

O. Solihin

Sejak kecil saya belum merasakan kebebasan yang bebas banget. Selalu ada pagar yang membatasi setiap apa yang akan saya lakukan. Saya memang diberikan kebebasan untuk memilih melakukan sesuatu. Tetapi seringkali ibu saya menyertakannya dengan aturan atau batasan. Sebagai anak kecil waktu itu, saya merasa senang banget ketika ibu saya memberikan kesempatan saya bermain. Tetapi, yang kadang ‘nyebelin’ adalah saya boleh bebas bermain namun dengan syarat: tidak boleh nakalin temen, tidak boleh masuk ke rumah teman tanpa ijinnya, tidak boleh masuk ke kamar orang tua teman, tidak boleh terlalu lama, waktu shalat ashar harus pulang. Waduh, di balik rasa senang bisa bebas bermain ternyata saya dibatasi aturan. Awalnya saya merasa hal itu bikin bete, tetapi lama kelamaan saya menikmatinya.

Di lain waktu, saya masih inget gimana marahnya ibu saya ketika saya mangkir ikut pengajian di mushola kampung. Mushola milik Kyai Haji Mukhsin (almarhum). Sapu lidi dalam genggaman ibu siap dipukulkan ke kaki saya jika saya tetap menolak berangkat ke mushola. Saya takut campur kesal. Sebabnya, saya juga masih ingin menikmati kebebasan bermain. Apalagi jika main ba’da ashar dengan kawan lagi asik-asiknya. Tetapi saya mengalah. Saya memilih untuk menuruti perintah ibu saya. Berangkatlah saya mengaji bersama kawan dan paman saya yang waktu itu masih remaja. Ternyata di kemudian hari, saya malah jadi terbiasa untuk berangkat ke mushola belajar ngaji. Read More…

“Benang Kusut TKI”

Assalaamu’alaikum wr wb

Ruyati adalah salah seorang TKI yang menjadi korban kesekian di negeri orang. Ruyati dieksekusi mati setelah pengadilan Arab Saudi menjatuhkan vonis berdasarkan bukti bahwa Ruyati melakukan pembunuhan terhadap majikannya. Adilkah hukum tersebut? Sepertinya tidak adil. Sebabnya, berdasarkan kabar yang beredar bahwa Ruyati membunuh majikannya sebagai balasan karena ia sering dianiaya korban. Itu artinya, seharusnya ada hukuman terlebih dahulu bagi sang majikan yang telah menganiaya Ruyati. Perlu ada syarat-syarat khusus sebelum hukuman qishas dijatuhkan. Read More…

Nasihat untuk Waria

O. Solihin

Sobat muda muslim, selama ini waria alias wadam alias banci emang amat akrab dengan dunia malam dan pinggiran jalan. Berbaur dengan para penjaja cinta dan hawa nafsu di keremangan malam dan temaram lampu jalanan. Biasanya begitu ada petugas tramtib, mereka larinya paling kenceng. Maklum, secara fisik mereka memang laki-laki. Tetapi kini para waria berani tampil beda. Ada yang pernah mencalonkan dirinya jadi anggota legislatif daerah, ada yang berani menulis buku menyuarakan pendapatnya memilih jadi waria, di televisi makin banyak orang yang memerankan (atau memang sudah?) jadi waria, ada penyelenggaraan khusus untuk kontes waria seperti gelaran Miss Waria, bahkan ada yang nekat akan menikah sesama waria. Wah, gimana jadinya ya kalo pria nikah dengan pria lagi? Ada-ada saja! Padahal manusia kan berkembang biak secara generatif, bukan vegetatif alias bertunas kayak pohon pisang atau membelah diri kayak molusca. Tul nggak?

Menurut Guru Besar Psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, ketika ditanya alasan orang yang menjadi waria, hal itu bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (www.jawapos.com, 08/06/2005) Read More…

Bukan Islam KTP

O. Solihin

 

Jadi inget judul sinetron ya pas kamu baca judul gaulislam edisi pekan ini? Kalo yang ngikutin ceritanya mesti tahu dan hapal banget deh. Nah, di gaulislam pekan ke-188 ini sengaja membahas tema ini juga, tetapi bukan ngomongin filmnya. Kita ngobrolin tentang diri kita yang baru berislam sebatas tercantum di kolom agama dalam KTP kita. So, di buletin ini kita bahas bahwa seorang muslim yang keren dan hebat itu bukan menganggap Islam cuma nyangkut di KTP-nya doang. Tetapi memang harus dipraktikkan dalam kehidupan nyata, dalam kesehariannya. Dia juga percaya diri sebagai muslim. Setuju kan?

Bro en Sis, saya prihatin banget dengan kondisi remaja muslim saat ini. Sumpah! Kok ada ya remaja yang masih merasa minder jadi muslim? Kebangetan deh jaman kiwari masih beredar remaja yang nggak pede alias nggak percaya diri jadi seorang muslim. Padahal, identitas kemusliman kita bakalan jadi ukuran. Apalagi di tengah arus deras informasi dan perang opini yang kerap bikin kita ‘pusing-mual-mencret’ kalo dapet sebutan muslim radikal atau fundamentalis. Cuma orang yang rasa percaya dirinya tinggi dan keimanannya mantap aja yang bakalan tahan bantingan. Insya Allah.

Bro en Sis, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba. So, jadi muslim kudu pede! Read More…

Pendidikan yang Mendidik

O. Solihin

Sebenarnya tulisan ini termasuk dadakan lho. Baru ditulis hari Kamis, pas saya ikut nganterin buletin gaulislam edisi cetak ke sekolah-sekolah di Bogor. Padahal ada tulisan yang sudah dijadwalkan siap diedit, tapi sementara digeser ke pekan depan aja tulisan yang rencananya pekan ini dimuat ya. Jadi, harap dipersori ya buat Utha, yang udah saya tugaskan nulis. Hehehe… kalem Bro, insya Allah pekan depan dimuatnya.

Sobat muda muslim, kalo kamu coba ngikutin perkembangan saat ini, ternyata masih banyak lho pendidikan yang justru nggak mendidik. Banyak faktor yang menjadikannya seperti itu. Mulai dari bahan bakunya, alias siswanya yang belajar. Banyak kok siswa yang belajar di sekolah sebenarnya mereka nggak siap dididik. Tetapi sebaliknya, siap kalo nggak dididik. Hehehe… buktinya, kalo sekolah seringnya bolos. Jika guru mata pelajaran tertentu nggak hadir, langsung nyanyi sorak-sorak bergembira. Merdeka! Ayo ngaku! Saya nggak nuduh, lho. Heheh.. kalem Bro. Read More…