Puisi
now browsing by category
maaf…
saat matamu tajam bagai sang elang
membuat detak jantungku berhenti
pias wajah ini
gagap mulut ini
aku diam membisu
aku berdiri antara langit dan bumi
tapi…
masih ada sebutir maaf untukmu
saat kata-katamu seperti pisau
tajam merobek nyawaku
aku diam terpaku
kerongkongan terasa perih, pedih
hanya air mata yang bicara
atas luka yang kuderita
atas serpihan hati yang terluka
tapi…
aku masih menyimpan setetes maaf untukmu
sebab…
sejujurnyalah aku cinta padamu
sejujurnyalah aku sayang padamu
sejujurnyalah kita adalah satu
sejujurnyalah kita ingin tetap bersama
sepantasnya….
kita memang bersaudara
19-11-02
Kau dan Kenanganku

Kenangan itu masih membasahi otakku
Lihat! Banjir resah menggunung di keramaian tanda tanya
Duduklah…
Kuberbagi harta kenangan yang kini mungkin tak lagi berharga
Duduklah…
Mungkin lisan luguku mampu membungkam tawamu yang selugu lisan dan otakku
Duduklah…
Berjalanlah di liku-liku koridor kenanganku yang tak lurus tak membujur kaku
Dulu ia begitu rimbun
Sejuk
Ia mengintip di sela-sela kaki bumi
Tak ada yang mengetahui
Mari genggam erat tanganku, peluh dingin membasahi telapak tanganku
Tak enak bukan?
Ya, kau merasa tak enak juga?
Syukurlah, akhirnya mampu membungkam tawamu yang selugu lisan dan otakku
Mereka menawarku dengan in God we trust
Ia mengintip di sela-sela kaki bumi
Aku masih tak mengetahui
Bukit pasir itu makin bertambah-tambah
Gurun…gurun…gurun…
Aku tertimbun!
in God we trust
Kenangan ini tak kering…
Lekas! Kau angkat kaki dari sisiku!
Ia masih banyak mengintip di sela-sela kaki bumi
Lekas!!!
Aku kian tertimbun kini
Hingga hanya kedua lenganku menggapai-gapai
Menggelepar..
Menyesal terkubur dalam buaian in God we trust
(untuk emas hitam kami di Borneo tercinta; 6.12.08)
(pernah dipublikasikan di blog Apresiasipuisi.multiply.com dengan nama pena Nita Rasyid)
bilakah aku jatuh cinta
Rabbi…
Aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh hati
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Rabbi…
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu
yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Rabbi…
Izinkan bila suatu saat aku jatuh hati
Pilihkan untukku seorang yang hatinya
penuh dengan kasih dan cinta-Mu
Dan membuatku makin menganggumi-Mu
Rabbi…
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami,
Jodohkanlah kami,
Satukanlah kami,
Berilah kami kesempatan untuk lebih
mendekati cinta-Mu,
Dalam suasana yang sakinah, mawaddah dan rahmah
Rabbi…
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Izinkanlah aku untuk menemui kerinduan-Mu
Dari
Seorang Teman yang Tak Kutahu Namanya
31-12-02
Bergerak, Lawan!

Hentikan diam kita
saat kekufuran menari-nari di depan mata
saat kesombongan meraja
saat kemaksiatan leluasa bergerak
Hentikan diam kita
melamun tak akan mengubah apa-apa
mengkhayal tanpa berbuat adalah sia-sia
bermimpi tanpa aksi nyata itu utopis
Hentikan diam kita
dan jangan nikmati kapitalisme dengan sukacita
sebab ia adalah racun, bukan madu
sebab ia adalah penyakit, bukan obat
Hentikan diam kita
dan jangan tergoda sosialisme dan mendewakannya
sebab ia adalah racun meski berbalut madu
sebab ia adalah penyakit meski dibungkus obat
Sahabatku
saatnya kita bergerak dan lawan!
tegakkan Islam
hancurkan kapitalisme
musnahkan sosialisme
jangan ragu dan takut
kita di jalur yang benar
bergerak, lawan!
di atas bis antara Bogor-Serang, 20 Mei 2007
Salam,
O. Solihin
Perjuangan Belum Berakhir

Kita sudah ada di sini
di jalan terjal pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika gemerlap dunia senantiasa menggoda
Sahabat, aku tak sudi dirimu berhenti
di saat perjuangan baru saja dimulai
Kita sudah ada di sini
di jalan licin pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika keindahan dunia senantiasa merayu
Sahabat, aku tak suka dirimu mengeluh
di saat perjuangan mulai terasa berat
Kita sudah di sini
di jalan mendaki pilihan kita
memang bukan hal terbaik untuk saat ini
ketika kilauan dunia senantiasa mempesona
Sahabat, aku tak mau semangatmu redup
di saat perjuangan tengah bergolak panas
Kita sudah di sini
dan akan lanjutkan perjalanan
: terjal, licin, dan mendaki
Demi kehidupan yang lebih baik
kita siap tinggalkan kesenangan diri
: seperti yang pernah kita ikrarkan
Kita sudah di sini
satu langkah telah kita ayunkan
jangan pernah mundur sejengkal pun
ini jalan yang kita pilih
jalan dakwah
: merevolusi kekufuran, tegakkan kebenaran
Jangan berhenti di sini
karena revolusi selalu butuh martir
dan memang perjuangan belum berakhir
yakinlah
kibar kemenangan Islam pasti datang
mari berjuang
Jangan pernah berhenti!
Ruang Tunggu Bandara Internasional Juanda, Surabaya, 29 April 2007
Salam,
O. Solihin

D5 Creation