Resensi

now browsing by category

 

Agar Khutbah Jumat Tak Membosankan

bukusuhe

Judul Buku: Khutbah Jum’at Ideologis | Penulis: Muhammad Abdurrahman al-Khatibi | Penerbit: Salammedia Press, (tanpa tahun) | Jumlah halaman: 144; 18 cm

Buku ini masih terbilang kurang bagus di beberapa bagian dalam menginformasikan hal penting dari sebuah penerbitan. Salah satunya adalah buku ini tanpa tahun penerbitan. Ini memang tak lazim. Entah dengan alasan apa, namun menurut saya adalah sebuah kekeliruan yang tampak sepele namun cukup mengganggu. Padahal, tahun terbit itu penting. Selain sebagai data dan katalog penerbitan, juga untuk memandu pihak yang berkepentingan, termasuk pembaca dalam menelusuri informasi penerbitan.

Bagaimana dengan isi buku ini? Seperti yang tertera dalam judul di covernya, isinya kental dengan Islam ideologis. Menariknya, dikemas khusus untuk penyampaian secara singkat dalam khutbah Jumat yang durasinya sekitar 15 menit. Tentu saja perlu keahlian tersendiri dalam menyusun informasi untuk ‘konsumsi’ jamaah shalat Jumat dengan ragam karakter dan tingkat pendidikan dalam mencerna pesan ideologis—yang biasanya berat—namun tetap memikat dengan waktu singkat. Ada 10 materi Khutbah Jumat dalam buku setebal 144 halaman ini. Bahasanya mudah dipahami, sederhana dalam kosa kata, tepat sasaran, fokus dan bernas (banyak isinya–yang bisa diambil manfaatnya).

Tampaknya sang penulis, Muhammad Abdurrahman al-Khatibi, yang tak lain adalah nama pena dari kawan saya sendiri sejak masa SMAKBo (Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor) tahun 1989-1993, sungguh-sungguh menghadirkan Islam ideologis untuk materi Khutbah Jumat. Kesepuluh materi khutbah tersebut adalah: Penyebab Keterpurukan Umat Islam; Perubahan Masyarakat Menuju Kebangkitan Islam; Memelihara Ketakwaan; Islam Menjamin Kemajemukan; Beriman Kepada Janji Allah; Ilmu dan Kebangkitan Umat; Mewujudkan Kesatuan Umat Islam; Pemimpin yang Adil; Bersegera Mematuhi Aturan Allah; dan Tokoh Idola.

Dilihat dari pilihan judulnya, memberikan kesan kuat bahwa pesan yang disampaikannya adalah ideologis. Hal ini dituturkan juga oleh penulisnya dalam pendahuluan buku ini: Materi-materi dalam buku ini disusun dengan mempertimbangkan dua aspek, yakni pesan dakwah ideologis dan waktu penyampaian materi. Tema-tema nuansa ideologis sengaja dipilih mengingat jarangnya materi khutbah yang berorientasi ideologi. Setidaknya yang disusun menjadi sebuah buku. Perlu dikemukakan di sini, ideologi adalah sebuah wujud kesempurnaan Islam. Akidah Islam yang mampu memancarkan sistem kehidupan. Sementara pertimbangan waktu penyampaian khutbah karena saat ini Khutbah Jumat dihadiri karyawan atau pegawai perkantoran. Jika khutbah disampaikan terlalu lama, biasanya jamaah akan merasa jenuh, atau tidak nyaman. Konsentrasi jamaah bisa terganggu mengingat ada pekerjaan atau tugas kantor yang belum rampung. Namun, jika terlalu singkat, kemungkinan besar pesan dakwah tidak tersampaikan dengan menyeluruh (hlm. 12 dan 13)

Membaca buku ini, seperti sedang mengkaji Islam ideologis dalam kemasan sederhana dan mudah dipahami. Meski singkat, namun bobot isinya sangat bermanfaat dan mencerahkan. Secara ukuran teknis pun buku ini mudah masuk ke kantong baju koko. Sehingga bila Anda kebetulan diminta menjadi khatib Khutbah Jumat dan belum menyiapkan materinya, buku ini insya Allah bisa menjadi alternatif menyampaikan khutbah Jumat. Namun tentu saja, Anda harus pandai mengemas contoh faktanya. Sebab, contoh-contoh fakta yang dihadirkan pada buku ini sangat boleh jadi tidak sesuai pada waktu yang akan datang, atau di tempat tertentu (seperti di negara selain Indonesia).

Secara khusus saya memberikan apresiasi kepada kawan saya yang menulis buku ini. Sebab, sejak masa sekolah dulu keahlian terbagusnya adalah lisan bukan tulisan. Tentu saja saya merasa surprise ketika ia dengan jujur menuliskan dalam bukunya yang dihadiahkan ke saya, bahwa saya adalah inspirasinya dalam menulis. Hmm… semoga ilmunya yang sudah dibagikan dalam buku ini barokah dan bermanfaat. Sebagai ‘bocoran’, ternyata buku ini adalah jilid 1 dari dua jilid yang hendak diterbitkan. Sehingga, koleksi materi khutbah Jumat Anda bisa bertambah banyak dan bervariasi.

Satu lagi catatan dari saya tentang buku ini, pemilihan nama pena ini sangat pas. Sebab, jika menggunakan nama aslinya, sepertinya pembaca akan sedikit ‘meragukan’ kapabilitas penulisnya karena yang disampaiakan adalah materi Khutbah Jumat. Seringkali untuk saat ini, pembaca mengidentikkan isi pesan dengan nama penulisnya. Padahal, tidak selalu bukan? Namun terlepas dari soal itu, buku ini insya Allah bisa menjadi pegangan para khatib agar khutbah Jumat yang disampaikannya, tak membosankan isi pesannya.

Salam,
O. Solihin | Twitter: @osolihin

Melawan Liberalisme (bisa) dengan Sastra

KEMI-Cinta-Kebebasan-Yang-Tersesat1

Judul buku: KEMI: Cinta Kebebasan yang Tersesat | Penulis: Adian Husaini | Penerbit: Gema Insani, Oktober 2010 | Jumlah halaman: 316 hlm.

Saya mengenal sosok Adian Husaini pertama kali ketika saya masih SMA. Jika tidak salah itu pada tahun 1990-1991. Waktu itu saya diajak ikut mabit di sekitar desa Cinangneng. Tempatnya di Pesantren Darul Falah, pimpinan Ustadz Abdul Hanan. Jika dari kampus IPB Darmaga, bisa dituju dengan mengikuti jalan yang mengarah ke Ciampea. Waktu itu malam hari. Dinginnya udara  tak membuat kami beku semangat. Saya pribadi, merasakan saat-saat yang akan membawa saya pada jalan baru kehidupan: dakwah. Di sini saya merasakan atmosfir semangat perjuangan Islam.

Mas Adian, biasa saya memanggilnya. Saya tidak begitu mengenalnya. Bahkan hingga saat ini pun jika bertemu ya sekadar say-hello saja. Waktu itu pun saya kenalnya melalui adiknya, yakni Mas Nuim Hidayat, salah satu dari sekian banyak mahasiswa IPB yang rela memberikan ilmu keislaman kepada saya dan kawan-kawan semasa SMA.

Pada pertemuan pertama dengan Mas Adian di tahun 1990-1991 itu saya merasa salut karena ia menjadi pemandu saat kami nobar (nonton bareng film Ar-Risaalah, dengan dubbing versi bahasa Arab). Mas Adian dengan sabar menjelaskan adegan demi adegan yang tampil di film garapan Moustapha Akkad, sutradara asal Libanon itu. Saya sendiri masih ingat kejadian saat itu. Emosi saya terasa diaduk-aduk ketika menyaksikan film tersebut. Sebab, meskipun berbahasa Arab, tapi dijelaskan dengan amat bagus oleh Mas Adian Husaini. Saya pribadi sangat terkesan. Ada banyak rasa di situ: sedih, haru, marah, kesal, tapi juga dipenuhi semangat. Saya merasa bahwa inilah dunia yang harus saya jalani. Jalan cinta para pejuang dakwah. Read More…

Amerika Harus Dilawan!

100_1665-resize-225x300

Judul buku: Menantang Amerika; Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama | Penulis: Farid Wadjdi | Penerbit: Al Azhar Press, 2010 | Jumlah halaman: 261 hlm; 21 cm

Pilihan kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan rezim pemerintah Amerika adalah “Penjahat Dunia”, bukan “Polisi Dunia”. Ini dibuktikan karena nafsu menjajahnya yang tinggi dan sebagai pelanggar HAM di beberapa negara. Irak dan Afghanistan adalah contoh dua negara yang menjadi ladang peperangan sekaligus medan pelanggaran HAM oleh Amerika Serikat.

Bagi pemerintah Amerika kebijakan luar negerinya tetap sama: menjajah. Ketika berkuasanya George Bush yang menyulut api peperangan dengan negeri-negeri Islam setelah tragedi 11 September 2001, juga semasa presiden baru saat ini, Barrack Obama. Sudah, tak ada bedanya. Sebab, baik Bush maupun Obama, bukanlah penguasa tunggal. Ya, karena Amerika tak mungkin dipimpin oleh satu orang dan memiliki kekuasaan penuh. Tidak. Masih ada “bos-bos” yang memiliki pengaruh dan cukup kuat dalam mewujudkan tatanan dunia baru sesuai keinginan mereka.

Melihat sepak terjang Amerika Serikat selama ini, wajar jika ia menjadi musuh di mana-mana. Termasuk pada pegelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, setiap tim nasional Amerika berlaga selalu membuat repot pihak keamanan. Tempat yang dijadikan markas tim, stadion tempat bertanding, hingga jalan-jalan tertentu yang dilalui para suporter tim nasional Amerika harus steril dari orang asing sejauh 500 meter. Ketakutan yang sangat berlebih. Kabarnya, hal itu dilakukan karena adanya informasi dari badan intelijen mereka yang mengabarkan adanya ancaman yang ditujukan kepada Amerika. Padahal sebenarnya, ancaman itu diundang sendiri oleh pemerintah Amerika akibat aksi-aksi kejahatan mereka di berbagai negara, terutama di negeri-negeri muslim.

Amerika seperti sudah menjadi musuh bersama bagi semua negara yang merasa dirugikan oleh sikap dan kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis. Banyak negara, kelompok, dan termasuk individu yang benci Amerika. Kebencian itu disalurkan melalui beragam aksi. Pemboman di tempat-tempat strategis milik pemerintah Amerika atau tempat apapun yang ‘berlabel’ Amerika. Unjuk rasa menentang perang yang dikobarkan Amerika terjadi di mana-mana termasuk di dalam negeri mereka sendiri. Orasi dan tulisan tersebar luas di seantero dunia. Salah satunya, buku ini. Dengan ‘headline’ judul yang provokatif: “Menantang Amerika”, buku ini memang berisi banyak kritikan pedas terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis.

Membaca buku ini, kita akan disajikan beragam fakta kejahatan Amerika. Sesuai dengan tagline-nya: ‘Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama’, buku ini lebih memfokuskan kebijakan Amerika di bawah Obama. Menguatkan argumentasi untuk menolak kebijakan-kebijakan Obama yang tetap merugikan umat Islam. Tak berbeda dengan era kepemimpinan Bush. Hanya saja menurut sebagian kalangan, Obama menggunakan soft power. Bukan hard power sebagaimana dilakukan Bush. Tapi nyatanya , Obama diam-diam menumpuk pasukannya di Afganistan untuk perang yang tak pernah dimengerti tujuannya oleh rakyatnya sendiri. Itu artinya, kebijakan Obama sama dalam imperialisme: hard power. Menggunakan kekerasan. Bahkan ketika Israel yang sudah nyata-nyata melanggar HAM, Obama bergeming dengan menutup mata dan telinganya dari aksi vulgar yang dipertontonkan Israel. Kejadian terbaru ketika kafilah relawan kemanusian bertajuk Freedom Flotilla ditembaki kapalnya oleh tentara Israel. Keadaan ini kian diperparah dengan pengkhianatan para pemimpin negeri-negeri Arab yang tak membalas kejahatan Israel. Mereka hanya mampu diam. Paling banter menyerukan kutukan. Basi dan memalukan!

Buku yang ditulis Farid Wadjdi, alumnus Hubungan Internasional FISIP Unpad ini terasa pas analisisnya. Didukung dengan fakta dan data yang berlimpah, menjadikan buku ini sebagai gudang fakta yang bisa dijadikan alternatif rujukan menghantam kebijakan Amerika. Analisis dan argumentasi yang ditulis juga membuat buku ini memiliki frame thingking yang jelas dalam memandang kebijakan imperialisme Amerika sebagai bagian dari ideologi kapitalisme yang dianutnya.

100_1639-resize-225x300Dalam tiga bab yang dibaca dari daftar isinya, buku ini secara ‘ngebut’ tanpa jeda membongkar-menyingkap-menelanjangi kebijakan politik Amerika dan membandingkannya dengan Daulah Islam. Ya, terasa sedikit janggal mengapa tiba-tiba dimasukkan pembahasan mengenai Daulah Islam . Tapi setelah dibaca detil, memang sengaja penulisnya menyisipkan pembahasan Politik Luar Negeri Daulah Khilafah untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya ketika Khilafah Islam berkuasa. Berbeda dengan politik luar negeri Amerika yang imperialis, politik luar negeri Daulah Khilafah justru menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (termasuk manusia). Jika negara kapitalis berperang untuk mengeruk dan mengeksploitasi kekayaan negeri yang diajajah, maka Daulah Khilafah justru memakmurkan negeri-negeri yang ditaklukan. Perang, bagi negara imperialis adalah bumi hangus, tapi bagi Daulah Khilafah perang adalah untuk memberikan kehidupan yang lebih layak. Hanya memusnahkan penghalang utama, bukan pembantaian.

Sayangnya, buku ini kurang terasa alur pembahasannya secara runut dari awal sampai akhir. Ini disebabkan karena isi buku ini merupakan kumpulan tulisan yang tentu saja dari mulai pemaparan, analisis, sampai kesimpulannya selesai dalam setiap tema tulisan. Di satu sisi memang memudahkan pengkajian jika pembaca lebih suka kecepatan dalam memahami maksud setiap tulisan. Tapi bagi yang ingin mengkaji secara sistematis, rasanya kurang terwakili dalam buku ini.

Namun demikian, buku ini tetap bisa menjadi alternatif bacaan bagi siapa yang ingin mendapatkan informasi seputar kebijakan politik luar negeri Amerika dan mengenal secara singkat kebijakan politik luar negeri Daulah Khilafah. Tambahannya, buku ini juga berisi hukum-hukum seputar menerima tamu penjajah. Ini tentu ada alasannya, buku ini menurut penerbitnya dirancang jika Obama jadi datang ke Indonesia. Sayangnya, sampai buku ini saya ulas, tak ada tanda-tanda Obama bakal datang. Tak jadi persoalan sebenarnya, karena yang terpenting secara kesuluruhan informasi di buku ini tetap penting untuk diketahui oleh siapa saja yang ingin mengambil manfaatnya.

Salam,
O. Solihin

Sofia, Istri Nabi dari Putri Yahudi

image description

Judul buku: Misteri Sofia (istri Nabi dari putri Yahudi) | Penulis: Abba Zhahir BiAmrillah | Penerbit: Madania Prima (kelompok penerbit Salamadani), 2008 | Jumlah halaman: 198 + xii hlm; 21 cm

Dari sejumlah istri-istri Rasulullah saw. yang sangat dikenal kaum muslimin adalah Ummul Mukminin Aisyah ra dan Khadijah ra. Baik mengenal namanya secara mudah maupun kehidupan pribadinya. Namun, kaum muslimin secara umum belum banyak yang mengenal sosok-sosok istri Rasulullah saw. yang lainnya. Salah satunya Sofia, atau dalam ejaan bahasa Arab ditulis dan disebut Shafiyyah. Nama istri Rasulullah saw. ini adalah seorang putri pemimpin Yahudi. Nama lengkap beliau adalah Shafiyyah binti Huyaiy bin Akhthab ra.

Dalam buku ini sengaja ditulis dengan nama “Sofia”, bukan Shafiyyah. Tentu ada alasannya. Sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbitnya, bahwa dalam khazanah Islam, terutama dalam kitab-kitab tarikh, kita lebih banyak menjumpai nama “Shafiyyah” ketimbang “Sofia”. Nama “Shofia” terkenal dan lazim dalam penyebutan di kalangan orang-orang Yunani dan Romawi yang beragama Nasrani. Nama “Sofia” sendiri adalah nama yang biasa dipakai putri Huyaiy bin Akhthab ini di antara kaumnya. Itulah mengapa judulnya adalah Misteri Sofia: Istri Nabi dari Putri Yahudi. Kenapa menjadi misteri? Tentu jawabannya ada. Dalam beberapa bab yang tertera di daftar isinya saja kita sudah bisa menemukan maksud penulisnya memberi judul tersebut. Ya, banyak informasi yang bagi saya sendiri sangat baru. Sehingga mengundang rasa penasaran saya untuk membaca “misteri” yang sedang dipaparkan dalam buku ini.

Abba Zhahir BiAmrillah, penulis buku ini yang menghadiahkannya langsung kepada saya lengkap dengan tanda tangan dan pesan silaturahminya adalah penulis yang saya kenal sebagai penulis beberapa buku remaja dan anak-anak (Impian Terindah (novel ber-setting di masa kekhilafahan Turki Utsmaniy); 99 Tokoh Muslim Dunia for Kids; 100 Kisah Islami untuk Anak; dan pernah menulis bersama penulis lainnya—termasuk  saya—dalam buku How to Get Married; dan buku lainnya). Tentu saja terasa sangat istimewa mendapat buku langsung dari penulisnya. Ternyata, saya bukan hanya menemukan wawasan baru dalam buku ini tentang kisah hidup Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyaiy bin Akhthab ra, tapi juga saya jadi tahu bahwa Abba Zhahir BiAmrillah adalah seorang filolog (ahli di bidang kajian naskah-naskah kuno). Sewaktu ia kuliah di Sastra Unpad, ia mengambil spesialisasi pada bidang studi ilmu-ilmu naskah kuno (filologi) atau ilmu tahqiq, sehingga pengetahuannya terhadap peristiwa-peristiwa kesejarahan cukup mumpuni, baik dari sudut sosiologi, antropologi, maupun geneologi masyarakat.

Buku ini adalah salah satu buktinya. Mengemas sejarah dan kisah hidup Sofia, istri nabi dari putri Yahudi ini begitu lengkap dan mengalir deras. Informasinya sangat banyak dan didukung dengan dalil-dalil yang kuat dan meyakinkan. Membaca buku ini serasa mengembara ke lembaran-lembaran masa lalu. Disusun dengan bahasa yang indah dan pilihan kata yang bagus, sehingga membaca buku ini serasa membaca novel. Padahal ini buku nonfiksi. Bahkan mungkin saja masuk kategori text book. Mungkin inilah salah satu keunikan penulisan buku ini.

Dalam pengantar buku ini Abba Zhahir BiAmrillah menuliskan, “saya ingin mengungkapkan bagaimana perikehidupan Sofia bersama nabi, keistimewaan, dan keteladanannya bagi kaum Muslim, sekaligus mengurai fakta sejarah interaksi Rasul, Sofia, dan kaum Muslim dengan orang-orang Yahudi.”  Itu sebabnya, buku ini dijejali dengan lima bab pembahasan dengan beragam fokus kajian. Bagian pertama khusus membahas tentang Sofia dengan judul bab “Siapakah Sofia?”. Dikemas menarik mulai dari nasab dan masa pertumbuhannya, pernikahan Sofia sebelum menikah dengan Rasulullah saw, isyarat pernikahan dengan Rasulullah, hingga kehidupan Sofia ketika bersama istri-istri Rasulullah yang lainnya. Bagian kedua dan ketiga dikupas tuntas tentang Yahudi dalam pandangan Islam dan ahlu dzimmah dalam Daulah Islam. Pada bagian keempat, kembali penulisnya membeberkan keteladan Sofia secara gamblang baik dalam kualitas individunya, akhlak mulianya, dan keteladan Sofia sebagai istri. Sangat enak dibaca dan menambah wawasan.  Buku ini ditutup dengan penjelasan di bagian akhirnya tentang wanita-wanita di sisi Rasulullah saw. yang terlupakan. Ternyata, jika membaca buku ini, kita akan mendapatkan informasi bahwa ada wanita-wanita yang pernah dilamar oleh Rasulullah saw. tapi tidak jadi dinikahi, juga tentang wanita-wanita yang dinikahi Rasulullah saw. tanpa menyempurnakan pernikahannya dan yang diceraikan Rasulullah saw. beserta alasannya, serta wanita-wanita yang menyatakan diri ingin dinikahi Rasulullah saw.

Kelemahan buku ini, menurut saya terletak pada masalah teknis. Penataan warna dan pernak-pernik di bagian dalam buku ini menjadi kurang menarik. Mungkin maksudnya ingin rileks dan terasa enak dibaca, tapi menjadi ‘rusak’ karena pilihan warna yang kurang cocok untuk mata (setidaknya bagi mata saya yang sudah minus dan silindris pula).

Meski demikian, tetap tak melemahkan kekuatan utama buku ini. Kekuatan buku ini selain pada pemaparannya, adalah pada literatur pendukungnya. Sehingga menjadikan buku ini bukan bacaan biasa, bahkan bisa digolongkan menjadi buku rujukan. Apalagi karena pengemasan produknya dengan hard cover sehingga memungkinkan untuk sering dibaca berulang-ulang sesuai kebutuhan untuk mendapatkan informasi dari buku ini. Ya, sebagai rujukan.

Satu hal lagi yang menjadi keunikan buku ini adalah mengemas secara utuh dengan frame berpikir yang utuh pula. Artinya, memandang kisah hidup tokoh di buku ini yang dihubungkan dengan sejarah hubungan kaum muslimin dengan Yahudi dalam bingkai Daulah Islam. Sehingga cukup tergambar dengan jelas berbagai peristiwa yang terjadi merupakan bagian dari produk hebat peradaban Islam yang mulia.

Bagi Anda yang ingin menambah koleksi bacaannya yang bernilai sejarah dan menjadi rujukan untuk menulis karya sejenis, rasanya pantas buku ini menjadi inspirasi Anda. Saya secara pribadi juga punya harapan besar kepada Abba Zhahir BiAmrillah untuk terus melahirkan karya-karya hebat sesuai keahliannya sebagai filolog (muhaqiq). Umat perlu mendapatkan suplai informasi dan ilmu pengetahuan dari orang-orang seperti Anda. Tidak menutup kemungkinan jika suatu saat pula akan banyak orang mengkaji keilmuan sejenis untuk ikut meramaikan pasar pengetahuan bagi kaum muslimin.

Betapa indahnya Islam, jika kita tahu lebih dalam dan tentu saja mengamalkannya dalam kehidupan. Baik mengamalkan secara individu, masyarakat maupun dalam bingkai negara.

Salam,
O. Solihin

Cinta Sejati, Mencintai Nabi

100_0750-resize

Judul buku: Jadikan Aku Pecinta Nabi | Penulis: Abdurrahman al-Baghdadi dan Fathy Syamsuddin Ramadhan an-Nawiy | Penerbit: Gema Insani, 2009 | Jumlah halaman: 208 hlm; 14,5 cm

Dr. Ahmad Muhammad al-Hufy sebelum menulis Min akhlak an-Nabiy beliau bertutur penuh kerendahan hati, “Ya, Rasulullah, junjunganku! Apakah kata-kata yang tak berdaya ini mampu mengungkapkan ketinggian dan keluhuranmu? Apakah penaku yang tumpul ini dapat menggambarkan budi pekertimu yang mulia? Bagaimana mungkin setetes air akan sanggup melukiskan samudera yang luas? Bagaimana mungkin sebutir pasir akan mampu menggambarkan gunung yang tinggi? Bagaimana mungkin sepercik cahaya akan dapat bercerita tentang matahari? Sejauh yang dapat dicapai oleh sebuah pena, hanyalah isyarat tentang keluhuran martabatmu, kedudukanmu yang tinggi, dan singgasanamu yang agung.”

Buku yang terdiri dari 11 bab singkat ini ditulis oleh Ustad Abdurrahman al-Baghdadi, ulama kelahiran Libanon yang telah lama mukim di Indonesia. Buku ini beliau tulis bersama Fathi Syamsuddin an-Nawiy. Ketika pertama kali disodorkan buku ini oleh Pak Abdul Hakim dari Gema Insani, saya langsung menyusun ide untuk menuliskan resensinya.

Membaca bab demi bab di buku ini sangat menambah wawasan. Seolah ingin meyakinkan pembaca untuk mencintai Nabi Muhammad saw., buku ini dibuka dengan bab pertama yang membahas tuntas tentang larangan menyakiti dan menentang Rasulullah saw. Untuk menegaskan, dilanjutkan di bab dua tentang hukuman bagi para penghina Rasulullah saw. Serta diyakinkan lagi bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad saw. diutus, maka jika ada yang mengaku-ngaku sebagai nabi, harus siap menghadapi hukuman yang tak bisa dianggap enteng.

Pribadi Rasulullah saw. juga dipaparkan dengan sangat bagus di buku ini. Tak lupa juga dibahas tentang keluarganya, istri-istrinya. Bahkan termasuk ciri-ciri nabi secara fisik dibahas dalam bab penampilan Rasulullah saw. Benar-benar beliau pribadi yang agung. Jadi teringat kisah yang pernah saya baca. Diriwayatkan Abu Hurayrah (Nailul Awthar, 4: 90): “Ada seorang perempuan hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari, Nabi saw. tidak menemukan perempuan itu. Nabi saw. menanyakan ihwalnya. Para sahabat mengatakan bahwa ia telah mati. Ketika Nabi menegur mereka kenapa tidak diberitahu, para sahabat mengatakan bahwa perempuan itu hanya orang kecil saja. Kata Nabi saw., “Tunjukkan aku kuburannya.” Di atas kuburan itu Nabi melakukan shalat untuknya.”

Imam ath-Tahbrani dalam Tarikh-nya menuliskan tentang kepribadian Rasulullah saw.: “Selama beliau tetap sebagai Rasulullah, maka tidak boleh tidak, beliau harus menjadi orang yang paling lembut dan berlapang dada di antara manusia, paling halus budi pekertinya, paling baik akhlaknya dan paling indah pergaulannya. Rasulullah saw. menahan amarah, memaafkan, dan memohonkan ampunan atas orang-orang yang tergelincir. Beliau saw. mengalahkan hak-hak dirinya selama bukan hak Allah. Beliau saw. memaafkan orang yang mendzaliminya, mengusirnya dari tanah airnya, menyakitinya, mencai makinya dan bahkan yang memeranginya; karenanya beliau berkata kepada mereka pada hari Penaklukan Mekkah, “Pergilah kalian, karena kalian adalah orang-orang bebas.” (ath-Thabrani dalam Tarikh-nya 2/161)

Buku yang dilengkapi dengan penjelasan dari para ulama dan diberikan dalil-dalinya dari al-quran dan as-Sunnah dalam mendukung setiap penjelasannya ini akan menambah wawasan kita tentang pribadi dan kehidupan Rasulullah saw. Itu juga tercantum dengan jelas dalam pengantar penulisnya: “Buku ini disusun dan dipersembahkan kepada kaum Muslim agar di dalam hati mereka tumbuh perasaan cinta, memuliakan, dan meluhurkan Rasulullah saw., di tengah derasnya upaya kaum kafir dan munafik untuk menghina Rasulullah saw. secara pribadi, maupun ajaran-ajarannya. Selain itu, buku ini juga ditujukan agar kaum Muslim mengenal lebih jauh kepribadian dan hukum-hukum khusus yang berlaku untuk beliau saw.”

Benar, di tengah banyaknya penghinaan terhadap Rasulullah saw. oleh musuh-musuh Islam saat ini, rasanya pantas juga buku ini kita baca atau hadiahkan kepada orang-orang yang kita sayangi agar mereka tetap mencintai nabinya dengan sepenuh hati dan pengetahuan yang memadai. Tentu agar kecintaannya tetap terpatri sampai nanti sampai mati.

Salam,
O. Solihin