Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Posted by on Jan 21, 2012 in Tips Menulis | 7 comments

Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif  di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?” Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ” Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe… Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”. Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut: Mulailah dari sapaan. Bisa ditulis sebagai berikut: (Sobat muda muslim, gimana kabar kamu semua? Semoga tetap sehat, tetap sabar, tetap istiqomah dalam Islam. Jumpa lagi dengan tulisan saya di blog ini.. dst.. dst.) Insya Allah selanjutnya akan mengalir deras. Bisa dimulai dengan kutipan. Contoh: (Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (Hadits ditakhrij oleh Muslim). Setelah kutipan salah satu hadist Qudsi ini, bisa dilanjut dengan menuliskan pembahasan yang kita ingin tulis tersebut. Insya Allah selanjutnya kita lancar. Oya, boleh juga menulis kutipan dari pernyataan teman, guru atau orang tua atau siapa saja. Misalnya: (“Kamu harus rajin belajar!” kata-kata itu masih selalu aku ingat. Pesan dari ibu yang senantiasa aku ingat.) Seterusnya, bisa dilanjut dengan kalimat lainnya yang insya Allah bisa lebih mengalir. Bisa dimulai dari pertanyaan. Misalnya: (Belum tahu cara memilih baju? Coba ikuti saran dari ahlinya.) Seterusnya bisa ditulis lebih detil setelah kata atau kalimat pertama tadi ditulis. Insya Allah akan lebih lancar lagi. Boleh dengan cerita? Silakan saja. Misalnya: (Hari ahad kemarin adalah pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, hari itu saya untuk pertama kalinya belajar mengendarai sepeda motor.) Setelah itu, insya Allah bisa dilanjut dengan tulisan yang lebih panjang lagi. Baik, sebenarnya itu hanyalah contoh. Dan, sekadar ‘alat’ saja untuk memulai kalimat pertama dalam menulis. Artinya, masih banyak cara lain. Tetapi setidaknya empat poin tadi bisa membantu memudahkan untuk tak lagi bingung menulis kalimat pertama. Silakan divariasikan saja sesukanya, semaunya. Tentu, selama itu masih cocok dengan judul dan isi tulisannya. Untuk kian menghasilkan variasi dalam memulai...

Read More

Teknik Diksi

Posted by on Jul 24, 2010 in Tips Menulis | 0 comments

Teknik Diksi

Diksi akan efektif jika kita selalu mengiringi setiap pemilihan kata dengan dua pertanyaan, yaitu (1) apakah kata yang telah dipilih tersebut telah jelas? , (2) apakah kata tersebut telah sesuai?, dan (3) apakah ia menarik? Inilah tiga kata kunci sebagai kriteria memilih kata: jelas, sesuai, dan menarik. Jelas di sini artinya sejauh mana kata tersebut sanggup menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca seperti yang dipikirkan penulis. Sesuai artinya sejauh mana kata tersebut dapat diterima oleh pembaca dengan situasi atau suasana hatinya. Menarik, sejauh mana kata itu mampu menggerakkan pembaca secara emosional menyentuh seleranya. Teknik diksi telah berumur ribuan tahun dan terus berkembang sampai hari ini agar kita dapat memilih kata-kata yang memiliki efek dinamis dari sekian banyak kosa kata untuk dipakai dalam tulisan. Bila kita sudah menemukan satu kata, sebenarnya telah berbaris berpuluh-puluh alternatif di belakangnya untuk mengungkapkan gagasan yang sama. Yang menjadi masalah ialah bahwa kata-kata yang banyak itu tidak semerta-merta bermuculan ketika kita memerlukannya. Kata-kata itu bersembunyi, malu untuk keluar. Di sinilah perlunya penguasaan teknik diksi itu. Langkah pertama dalam teknik diksi adalah mengekplorasi semua makna yang terkandung dalam satu kata yang kita pilih, baik makna leksikal maupun gramatikal, baik makna denotasi maupun konotasi, baik yang baru maupun yang sudah klise. Untuk keperluan ini, tidak ada sarana yang paling tepat selain kamus yang punya otoritas. Kamus yang punya otoritas dalam Bahasa Indonesia adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kita sudah membahas pada artikel yang lalu istilah polisemi, yaitu kata yang memiliki banyak makna. Kita juga sudah bicarakan panjang lebar istilah homonimi, yaitu kata-kata yang mirip ejaannya tapi merupakan kata yang sama sekali berbeda. Dengan mengekplorasi kamus tersebut, kita akan mengatahui semua makna yang terkandung, baik polisemi maupun homonimi. Semua makna kata polisemi dalam KBBI ditempatkan dalam satu lema yang sama, tapi kata yang homonimi ditempatkan pada lema yang berbeda. Hati-hati menggunakan kata beruang karena dapat berarti mempunyai uang, mempunyai ruang, atau binatang kutub. Kata buku bisa berarti kitab dan bisa berarti batas antara dua ruas. Demikian juga kata yang ejaannya mirip walaupun tidak persis sama, jangan sampai salah pakai seperti preposisi dan proposisi, bahwa dan bawah, Karton dan kartun. Dengan memahami semua makna yang memungkinkan tersebut, kita akan dapat memutuskan untuk terus menggunakan kata yang sudah kita pilih atau akan menggantinya dengan kata lain yang lebih tepat yaitu jelas, sesuai, dan menarik. Untuk tulisan ilmiah, misalnya, kita akan menghindari kata-kata yang mengandung makna konotatif. Sebaliknya, tulisan fiksi, kita cendrung memilih kata tersebut untuk melukiskan emosi dan melahirkan imajinasi. Untuk tulisan yang ditujukan kepada pembaca umum, kita akan menghindari jargon ilmiah dan menggantinya dengan kata yang bersinggungan langsung dengan pengetahuan dan pengalaman calon pembaca. Dari hasil ekplorasi makna, kitapun akan tahu makna yang sudah mengalami perubahan dari masa ke masa. Kata selalu mempunyai sejarahnya sehingga maknanya bisa berubah dari waktu ke waktu, baik menyempit, meluas, atau samasekali punah atau beralih ke makna lain. Suatu makna yang populer di suatu masa, pada masa yang lain telah menjadi klise. Kata seperti rembulan, mentari, bagaikan lebah beriring, seindah bintang kejora sudah merupakan kata-kata klise yang tidak sedap lagi dibaca. Adapula kata yang sudah sangat kuno, namun kalau diungkapkan kembali agar terjadi penyegaran makna. Setelah ekplorasi makna suatu kata, baik yang polisemi maupun yang homonimi, langkah berikutnya adalah memeriksa kata-kata lain yang berkerabat dengan kata yang kita pilih; sinonim, antonim, hiponim dan derivatifnya. Setiap kata tersebut selalu berpeluang untuk digunakan untuk menggantikan kata yang sudah dipilih. Sinonim adalah kata-kata lain yang serupa atau mendekati makna suatu kata. Kata cantik bersinonim dengan kata ayu, jelita, manis, jelita, dll. Kata itu berantonimkan kata-kata buruk, jelek, dll. Kata cantik berhiponim dengan indah, paras muka,...

Read More

Cara Membuat Tulisan yang Menarik

Posted by on May 25, 2010 in Tips Menulis | 6 comments

Cara Membuat Tulisan yang Menarik

Asyik nih, ada konsultasinya. Mau tanya: bagaimana ya cara membuat tulisan yang menarik? Agar orang lain senang membaca tulisan kita. Ada gak kiatnya?Terima kasih. Pengirim: Ryan ========== Jawaban ========== Ryan, menulis itu adalah keterampilan. Jadi, latihan adalah kuncinya. Makin sering kita latihan menulis, maka tulisan kita bukan saja menarik, tapi juga hidup dan bisa mencerahkan pembacanya. Ada beberapa kiat praktis untuk pemula agar tulisan kita menarik: Kuasai huruf-huruf agar kita bisa menuliskan kata. Jangan sampe ketukar dalam penulisan “f”, “p” dan “v” misalnya. Yang benar adalah “foto” bukan “poto”; “televisi” bukan “telepisi” apalagi “telefisi”. “Fatamorgana”, bukan “patamorgana” apalagi “vatamorgana”. Yang benar adalah “favorit”, bukan “vaporit” apalagi “paporit”. So, latih terus ya. Yang paling gampang, cocokkan dengan kamus bahasa. Kuasai kata agar kita bisa menuliskan kalimat. Banyak kata yang ada dalam kamus. Jangan gunakan kata-kata untuk menunjukkan makna yang sama dengan satu kata itu. Eksplorasi banyak kata supaya tulisan itu lebih cerdas. Misalnya, kata “semakin”, sekali-kali kita menuliskannya dengan “kian”. Kata “lalu” boleh bergantian ditulis dengan “kemudian” atau “seterusnya”. Kata “Terkadang”, boleh juga ditukar sekali-kali dengan “adakalanya”. Kata “seandainya”, boleh juga digilir nulisnya dengan “andaikata” dll. Silakan eksplor sendiri. Cara yang paling gampang adalah “bersahabat” dengan kamus. Insya Allah banyak kata yang baru yang bisa kita gunakan nantinya dalam tulisan kita. Selain itu, dalam hal kata ini kita bisa memperkaya kosakata. Setiap hari 5 istilah baru yang bisa kita kuasai, insya Allah bakalan banyak kosakata tambahan yang bagus dalam sebulan. Iya kan? Coba deh. Latihlah terus membuat kalimat agar bisa menciptakan paragraf. Dan, biasakanlah menulis banyak paragraf agar menjadi satu tulisan utuh yang bisa dibaca. Kemampuan kita menguasai huruf, kata, kalimat dan paragraf akan semakin bagus manakala kita latihan terus. Percaya dan yakinlah bahwa berlatih menulis adalah cara paling mudah untuk bisa mahir menulis atau menjadi penulis. Cobalah. Tema yang diambil yang sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang. Sedang menjadi tren untuk jangka waktu tertentu. Misalnya tentang kasus seks bebas, lumpur Lapindo, narkoba dll. Atau bisa juga tema-tema sederhana yang dekat dengan lingkungan kita sehari-hari. Tentang kucing di rumah kita yang lucu-lucu. Kita bisa menuliskan banyak hal dari kucing kesayangan kita itu; cara larinya, suaranya, bulu-bulunya, matanya, dan hal unik lainnya. Atau bisa juga tentang kondisi rumah kita: berantakan, asri, nyaman, catnya keren, lantainya bersih dll bisa dieksplor dengan mudah. Coba ya. Setelah mengambil tema, maka siapkan bahan tulisannya. Biasanya data-data pendukung. Bisa dari sumber lain: koran, televisi, radio, internet, tabloid, majalah dan sejenisnya. Bisa juga dari pengamatan langsung yang bisa dilihat dan dirasakan. Atau bahkan kita terlibat di dalamnya. Ini akan diperlukan untuk memoles tulisan kita menjadi lebih kuat dan hidup karena ada data pendukung. Selain memaparkan fakta, jangan lupa solusinya. Sebab, tulisan yang bagus memaparkan fakta tapi solusinya mengada-ada atau hampir mustahil untuk dicerna pembaca, juga jadi tidak menarik. Saya pribadi saat ini memang lebih banyak menulis tentang Islam. Jadi, solusi yang saya sampaikan adalah Islam. Proses pengemasannya saja yang harus menarik supaya tak terkesan menggurui apalagi menghakimi. Tapi jika hal itu adalah tulisan umum, pastikan punya kesimpulan yang masuk akal dan mudah dimengerti pembaca. Saya pikir itu saja dulu ya. Silakan mencoba tips-tips tersebut. Insya Allah lain waktu disambung lagi. Terima kasih. Salam, O....

Read More

Ciri Tulisan Esai, Kolom, Opini, dan Artikel

Posted by on May 15, 2010 in Tips Menulis | 7 comments

Ciri Tulisan Esai, Kolom, Opini, dan Artikel

Saya adalah orang yang baru menginjakkan kaki dalam dunia penulisan, terus terang saya sangat belum bisa untuk membedakan antara esai, kolom, opini, dan artikel. Dengan ucapan terima kasih, tolong beritahu ciri-ciri spesifik dari bentuk-bentuk tulisan tersebut. Pengirim: Bagoes Muhammad ———————- Jawaban ——————— Mas Bagoes, terima kasih sudah mempercayakan kepada kami untuk menjawab pertanyaan Anda. Sejauh yang saya pahami tentang penulisan, sebetulnya semua tulisan nonfiksi disebut artikel. Artikel sendiri diartikan sebagai sebuah karangan faktual (nonfiksi) tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tak tentu, untuk dimuat di surat kabar, majalah, buletin, dan sejenisnya. Tujuan dibuatnya tulisan tersebut untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur. Esai, opini, dan kolom adalah berisi tulisan yang biasa disebut dengan artikel. Esai sebenarnya sama saja dengan opini. Sebab, definisi dari esai itu sendiri adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Ini pengertiannya sama dengan artikel, sebenarnya. Nah, supaya tidak membingungkan kembali saja kepada definisi artikel secara umum seperti yang saya tulis di atas. Intinya artikel itu adalah tulisan nonfiksi. Sementara kolom atau penulisnya biasa disebut kolomnis atau kolumnis adalah salah satu rubrik di media massa yang biasa diisi oleh orang tertentu untuk jenis tulisan yang membidik tema tertentu. Misalnya seperti di rubrik “resonansi” Harian Republika. Itu bisa disebut kolom. Juga tulisan-tulisan Bung Karni Ilyas tentang hukum ketika beliau masih di Majalah Forum Keadilan. Itu juga kolom. Di majalah yang saya kelola, Majalah Remaja SOBAT Muda juga ada rubrik yang bisa disebut kolom, seperti Sekoteng, Kopitubruk, dan Personality. Selain karena penulisnya tetap atau tertentu, juga isinya lebih fokus membidik tema-tema yang sama meski beda pembahasan. Atau yang mungkin familiar adalah Catatan Pinggir Pak Goenawan Mohammad di MBM TEMPO. Itu contoh kolom di media massa. Kesimpulannya, Mas Bagoes bisa menulis kolom, bisa menulis opini, bisa menulis esai, sebab toh itu sama saja bentuk pendapat kita, asalkan memenuhi kaidah penulisan nonfiksi untuk kesemua jenis tulisan itu. Terima kasih. Wallahu’alam. Salam, O....

Read More

Bingung Lomba Nonfiksi

Posted by on May 14, 2010 in Tips Menulis | 0 comments

Bingung Lomba Nonfiksi

Saya terkadang bingung mengenai lomba non fiksi. ada yang essai ilmiah tapi juga karya tulis ilmiah. yang menjadi rancu terkadang jenis lomba karya tulis ilmiah,lomba A mensyaratkan model essay tapi lomba B tidak dicantumkan. Sehingga apakah dengan standarisasi karya tulis ilmiah seperti model skripsi ato gimana? Pengirim: A. Qahar Mudzakkir ——- Jawab: ——- Dik Qahar, terima kasih sudah mempercayakan bertanya kepada pengasuh rubrik konsultasi penulisan di situs penulislepas.com. Semoga jawabannya bisa mencerahkan dan memberikan solusi terbaik untuk Dik Qahar. Mengenai lomba penulisan nonfiksi yang di dalamnya mensyaratkan tulisan harus dibuat dalam bentuk esai atau karya tulis ilmiah, memang itu bergantung kepada tujuan dan target yang ingin diraih dari panitia penyelenggara lomba. Jadi bisa berbeda-beda tiap perlombaan. Tentang esai dan karya tulis ilmiah memang ada perbedaan. Bukan saja dari istilah tapi juga definisinya. Esai adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Esainya bisa berupa opini atau artikel populer di media massa dan bisa dibaca dengan mudah oleh kalangan manapun. Sementara karya tulis ilmiah, penulisannya sangat boleh jadi seperti menulis skripsi atau penelitian. Sebab, karya tulis ilmiah memang ditulis berdasarkan pengamatan, pengujian, dan analisis dari apa yang kita teliti. Sehingga karya jenis ini pembacanya pun terbatas dan tertentu. Mengingat banyak istilah dan data teknis yang belum tentu dimengerti dan dipahami dengan cepat dan mudah oleh kalangan awam. Mengenai format penulisan esai biasanya dimulai dari membeberkan fakta yang hendak dinilai menurut pendapat kita. Itu sebabnya harus kuat di data dan bahan yang mendukung penulisan tersebut. Kemudian menganalisis fakta tersebut menurut pengamatan kita. Jika perlu diberikan saran, ya kita sampaikan saran kita. Jika perlu dikritisi, sampaikan juga alasan kita. Baru terakhir kesimpulan kita. Bisa mendukung fakta tersebut, bisa juga menolaknya. Sedikit catatan tambahan untuk penulisan karya ilmiah, yakni ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Dalam pengantar, paling tidak Dik Qahar harus menuliskan: sifat, skop (ruang-lingkup), dan tujuan penelitian tinjauan pustaka yang relevan dengan permasalahan cara penelitian hasil utama penelitian (ditambahkan setelah penelitian selesai) dan manfaat penelitian. Bahan dan cara, harus menyertakan: sampel, jumlah sampel, dan karakteristiknya (misalnya: umur, jenis kelamin, dll) keterbatasan pengambilan sampel (kalo ada tentunya) uraian prosedur detail penelitian (ini bermanfaat supaya penelitian bisa diulang oleh peneliti lain). Dalam hasil, setidaknya harus menuliskan: karakteristik sampel pemaparan hasil (harus menggunakan variabel-variabel yang digunakan sebagai alat untuk menjawab permasalahan penelitian). Pembahasan bisa ditulis dengan meliputi: tinjauan penemuan-penemuan penting penelitian pertimbangan penemuan-penemuan dalam kaitannya dengan penelitian terdahulu yang relevan implikasi penemuan terhadap teori pemeriksaan yang hati-hati terhadap hasil yang tidak mendukung atau hanya sebagian yang mendukung hipotesis keterbatasan-keterbatasan studi yang mungkin berakibat pada kesimpulan dan generalisasi studi rekomendasi untuk penelitian selanjutnya implikasi studi untuk praktisi atau studi terapan (opsional saja, tidak harus). Kesimpulan pun setidaknya memberi gambaran: menyatakan kembali tesis secara singkat meringkas interpretasi hasil dan membahasnya dalam konteks teoritis yang lebih luas pendek dan langsung ke sasaran menjelaskan manfaat khusus dan umum hasil studi menuju ke kata-kata penutup Demikian, semoga ada manfaatnya. Terima kasih. Salam, O....

Read More

Penulisan Buku yang Baik dan Bermanfaat

Posted by on May 11, 2010 in Tips Menulis | 2 comments

Penulisan Buku yang Baik dan Bermanfaat

Bagaimana cara penulisan untuk membuat sebuah buku yang baik dan bermanfaat untuk orang lain khususnya tentang buku-buku agama, di situs apa saya bisa mengirim tulisan yang ada honorariumnya. Trima kasih. Pengirim: Budi Irhans ———– Jawaban: ———- Salam kenal Mas Budi Irhans. Terima kasih atas kiriman pertanyaan Anda kepada saya. Membuat buku berarti membuat proyek untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain. Ilmu, pendapat, gagasan, dan harapan yang kita tuangkan dalam sebuah buku kita bagikan kepada orang lain. Agar para pembaca buku kita dapat mengambil manfaat dari tulisan-tulisan yang kita bukukan tersebut. Tentu saja, untuk memulai proyek pembuatan buku ini harus dirancang secara serius agar hasilnya juga maksimal. Secara umum, buku adalah kumpulan gagasan yang kita runut secara sistematis dalam sebuah buku. Mungkin bisa dikatakan bahwa buku adalah “artikel besar”. Itu sebabnya, pertama kali yang harus dilakukan setelah menentukan tema yang kita ingin bukukan adalah berburu bahan dan data. Dari situlah kita akan mendapatkan informasi tambahan yang bisa membantu kita untuk memetakan pembahasan apa saja yang bisa ditulis untuk buku kita. Juga, bahan dan data itu akan berguna untuk merunut agar sistematika pembahasan dalam buku kita membentuk kerangka berpikir yang utuh bagi pembaca untuk memahami gagasan yang kita sampaikan. Dengan informasi yang berhasil kita kumpulkan, kita bisa memilih dan memilah informasi yang mana saja yang akan kita gunakan untuk penguat di awal pembahasan, dan informasi mana saja yang akan kita jadikan argumen untuk ditempatkan di tengah pembahasan. Begitu juga bahan dan data apa saja yang akan kita gunakan sebagai ‘peluru’ untuk mengakhiri pembahasan yang kita sampaikan di buku tersebut. Sehingga diharapkan, isi buku yang kita buat itu kaya dengan informasi, sistematis dan memberikan solusi yang pas. Selain masuk akal, juga aplikatif dan memberikan wawasan tambahan bagi pembaca kita. Khusus untuk buku agama sebenarnya sama saja cara kerjanya dengan pembuatan buku umum. Perbedaannya hanya pada tujuan dibuatnya buku itu, sehingga bahan dan data yang akan dikumpulkan jadi sangat spesifik, yakni fakta-fakta yang mendukung untuk pembahasan tema dan semuanya ada hubungannya dengan agama. Atau setidaknya fakta itu sebagai pembanding dari argumen yang akan kita lontarkan dalam buku kita. Ada baiknya saya petakan urutan pembuatannya agar bisa memudahkan Anda dalam memahaminya: Tentukan sasaran pembaca kita. Anak-anak, remaja, atau orangtua. Untuk pria atau wanita. Untuk kalangan intelektual atau untuk kalangan awam. Ini penting, selain membantu dalam menentukan tema, juga untuk memilih gaya bahasa apa yang ingin disampaikan. Menentukan tema. Pastikan tema yang kita ambil sesuai dengan sasaran pembaca kita dan sedang menjadi tren. Bisa juga kita menciptakan tren sendiri. Artinya tema yang kita ambil benar-benar baru dan belum banyak dibahas penulis lain. Tapi yang pasti, prinsip dalam menentukan tema itu adalah tema yang dekat dengan kehidupan sasaran pembaca kita dan memang dibutuhkan. Kita mulai menyusun alur pembahasan. Biasanya disebut dengan pembuatan outline atau kerangka tulisan. Ini sangat berguna untuk membantu kita dalam membatasi apa saja yang perlu ditulis dan memberikan arahan yang jelas dari apa yang akan kita tulis. Pastikan pembuatan outline itu serunut mungkin agar pembaca terbantu untuk memahami gagasan kita. Pola sederhana dalam pembuatan outline adalah: paparkan fakta, mengkritisi fakta, dan akhirnya memberikan solusi. Ini berguna dalam berburu bahan dan data. Tahap berburu bahan dan data. Bisa di perpustakaan, bisa ‘perpustakaan digital’ alias internet dengan menggunakan mesin pencari macam Google. Fokuskan pencarian data pada bahan informasi yang benar-benar kita perlukan sesuai dengan outline yang sudah kita tetapkan. Jangan tergoda untuk mencari informasi lain. Sebab, akan mengaburkan tujuan dan juga memperlama waktu pencarian. Khusus buku agama seperti yang Anda tanyakan, maka dibutuhkan sentuhan atau polesan yang menguatkan pembahasan tulisan kita. Itu artinya, penguasaan si penulis terhadap tema yang sedang digarap dalam bukunya menjadi...

Read More