Tips Menulis
now browsing by category
Posted by: osolihin | on January 21, 2012
Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?
Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?”
Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ”
Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe…
Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”.
Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut:
- Mulailah dari sapaan. Bisa ditulis sebagai berikut: (Sobat muda muslim, gimana kabar kamu semua? Semoga tetap sehat, tetap sabar, tetap istiqomah dalam Islam. Jumpa lagi dengan tulisan saya di blog ini.. dst.. dst.) Insya Allah selanjutnya akan mengalir deras.
- Bisa dimulai dengan kutipan. Contoh: (Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (Hadits ditakhrij oleh Muslim). Setelah kutipan salah satu hadist Qudsi ini, bisa dilanjut dengan menuliskan pembahasan yang kita ingin tulis tersebut. Insya Allah selanjutnya kita lancar. Oya, boleh juga menulis kutipan dari pernyataan teman, guru atau orang tua atau siapa saja. Misalnya: (“Kamu harus rajin belajar!” kata-kata itu masih selalu aku ingat. Pesan dari ibu yang senantiasa aku ingat.) Seterusnya, bisa dilanjut dengan kalimat lainnya yang insya Allah bisa lebih mengalir.
- Bisa dimulai dari pertanyaan. Misalnya: (Belum tahu cara memilih baju? Coba ikuti saran dari ahlinya.) Seterusnya bisa ditulis lebih detil setelah kata atau kalimat pertama tadi ditulis. Insya Allah akan lebih lancar lagi.
- Boleh dengan cerita? Silakan saja. Misalnya: (Hari ahad kemarin adalah pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, hari itu saya untuk pertama kalinya belajar mengendarai sepeda motor.) Setelah itu, insya Allah bisa dilanjut dengan tulisan yang lebih panjang lagi.
Baik, sebenarnya itu hanyalah contoh. Dan, sekadar ‘alat’ saja untuk memulai kalimat pertama dalam menulis. Artinya, masih banyak cara lain. Tetapi setidaknya empat poin tadi bisa membantu memudahkan untuk tak lagi bingung menulis kalimat pertama. Silakan divariasikan saja sesukanya, semaunya. Tentu, selama itu masih cocok dengan judul dan isi tulisannya. Untuk kian menghasilkan variasi dalam memulai kalimat pertama, biasakan membaca, mengamati, melatih kepekaan atas suatu fakta atau peristiwa. Sebab, insya Allah biasanya kita banyak mendapat inspirasi dari sana. Silakan dicoba ya!
Salam,
O. Solihin
Posted in Tips Menulis | 5 Comments »
Tags: kalimat, menulis, tips, writing
Posted by: menuliskreatif | on July 24, 2010
Teknik Diksi
Diksi akan efektif jika kita selalu mengiringi setiap pemilihan kata dengan dua pertanyaan, yaitu (1) apakah kata yang telah dipilih tersebut telah jelas? , (2) apakah kata tersebut telah sesuai?, dan (3) apakah ia menarik? Inilah tiga kata kunci sebagai kriteria memilih kata: jelas, sesuai, dan menarik. Jelas di sini artinya sejauh mana kata tersebut sanggup menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca seperti yang dipikirkan penulis. Sesuai artinya sejauh mana kata tersebut dapat diterima oleh pembaca dengan situasi atau suasana hatinya. Menarik, sejauh mana kata itu mampu menggerakkan pembaca secara emosional menyentuh seleranya.
Teknik diksi telah berumur ribuan tahun dan terus berkembang sampai hari ini agar kita dapat memilih kata-kata yang memiliki efek dinamis dari sekian banyak kosa kata untuk dipakai dalam tulisan.
Bila kita sudah menemukan satu kata, sebenarnya telah berbaris berpuluh-puluh alternatif di belakangnya untuk mengungkapkan gagasan yang sama. Yang menjadi masalah ialah bahwa kata-kata yang banyak itu tidak semerta-merta bermuculan ketika kita memerlukannya. Kata-kata itu bersembunyi, malu untuk keluar. Di sinilah perlunya penguasaan teknik diksi itu.
Langkah pertama dalam teknik diksi adalah mengekplorasi semua makna yang terkandung dalam satu kata yang kita pilih, baik makna leksikal maupun gramatikal, baik makna denotasi maupun konotasi, baik yang baru maupun yang sudah klise. Untuk keperluan ini, tidak ada sarana yang paling tepat selain kamus yang punya otoritas. Kamus yang punya otoritas dalam Bahasa Indonesia adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Kita sudah membahas pada artikel yang lalu istilah polisemi, yaitu kata yang memiliki banyak makna. Kita juga sudah bicarakan panjang lebar istilah homonimi, yaitu kata-kata yang mirip ejaannya tapi merupakan kata yang sama sekali berbeda. Dengan mengekplorasi kamus tersebut, kita akan mengatahui semua makna yang terkandung, baik polisemi maupun homonimi. Semua makna kata polisemi dalam KBBI ditempatkan dalam satu lema yang sama, tapi kata yang homonimi ditempatkan pada lema yang berbeda.
Hati-hati menggunakan kata beruang karena dapat berarti mempunyai uang, mempunyai ruang, atau binatang kutub. Kata buku bisa berarti kitab dan bisa berarti batas antara dua ruas. Demikian juga kata yang ejaannya mirip walaupun tidak persis sama, jangan sampai salah pakai seperti preposisi dan proposisi, bahwa dan bawah, Karton dan kartun.
Dengan memahami semua makna yang memungkinkan tersebut, kita akan dapat memutuskan untuk terus menggunakan kata yang sudah kita pilih atau akan menggantinya dengan kata lain yang lebih tepat yaitu jelas, sesuai, dan menarik. Untuk tulisan ilmiah, misalnya, kita akan menghindari kata-kata yang mengandung makna konotatif. Sebaliknya, tulisan fiksi, kita cendrung memilih kata tersebut untuk melukiskan emosi dan melahirkan imajinasi. Untuk tulisan yang ditujukan kepada pembaca umum, kita akan menghindari jargon ilmiah dan menggantinya dengan kata yang bersinggungan langsung dengan pengetahuan dan pengalaman calon pembaca.
Dari hasil ekplorasi makna, kitapun akan tahu makna yang sudah mengalami perubahan dari masa ke masa. Kata selalu mempunyai sejarahnya sehingga maknanya bisa berubah dari waktu ke waktu, baik menyempit, meluas, atau samasekali punah atau beralih ke makna lain. Suatu makna yang populer di suatu masa, pada masa yang lain telah menjadi klise. Kata seperti rembulan, mentari, bagaikan lebah beriring, seindah bintang kejora sudah merupakan kata-kata klise yang tidak sedap lagi dibaca. Adapula kata yang sudah sangat kuno, namun kalau diungkapkan kembali agar terjadi penyegaran makna.
Setelah ekplorasi makna suatu kata, baik yang polisemi maupun yang homonimi, langkah berikutnya adalah memeriksa kata-kata lain yang berkerabat dengan kata yang kita pilih; sinonim, antonim, hiponim dan derivatifnya. Setiap kata tersebut selalu berpeluang untuk digunakan untuk menggantikan kata yang sudah dipilih.
Sinonim adalah kata-kata lain yang serupa atau mendekati makna suatu kata. Kata cantik bersinonim dengan kata ayu, jelita, manis, jelita, dll. Kata itu berantonimkan kata-kata buruk, jelek, dll.
Kata cantik berhiponim dengan indah, paras muka, dll. Kata cantik berderivatif dengan kecantikan, tercantik, dll. Cantik pun berhubungan dengan kerabat dengan berhias, bersolek, make-up, kosmetik, dll.
Anda suatu ketika telah memilih kata pembantu. Dengan ekplorasi kata yang berkerabat dengannya, Anda akan menemukan kata pelayan, babu, jongos, hamba, sahaya, abdi, membantu, bantuan, perbantuan, dll. Anda dapat memilih salah satu yang memberikan efek khusus pada gagasan yang akan disampaikan.
Untuk keperluan ini semua, kita memerlukan satu tesaurus di tangan. Tesaurus yang baik tentulah tesaurus yang mendaftarkan semua kata, sebanyak-banyaknya yang berkerabat dengan satu kata. Sayang sekali tesaurus yang seperti itu belum ada. Sekarang sudah ada Tesaurus Bahasa Indonesia. Walaupun tesaurus yang tersedia sekarang ini masih belum menuliskan kata-kata secara lengkap, namun sudah cukup memadai untuk sekedar membantu kita menemukan kata-kata yang berkerabat dengan kata-kata yang kita pilih.
Batapapun di tangan Anda sudah ada kamus dan tesaurus, tanpa pertanyaan yang terus menerus diajukan tentang kejelasan, kesesuaian, dan kemenarikan suatu kata, pemilihan kata tetap tidak efektif. Pertanyaanpertanyaan itulah yang akan menggiring Anda memilih satu yang terbaik.
JELAS
Kata yang dipilih harus jelas bagi pembaca. Kejelasan akan memastikan ketepatan imajinasai pada pembaca dengan penulis. Bila tidak jelas, pembaca akan membayangkan suatu yang lain yang berbeda dengan yang dimaksud oleh penulis. Untuk mencapai kejelasan tersebut, pedoman berikut ini dapat dipergunakan.
Kata yang konkrit lebih jelas dibandingkan dengan yang abstrak. Jika kita menemukan dua kata, yang satu mempunyai makna yang konkrit dan dan satu lagi abstrak, maka gunakanlah yang konkrit. Kata yang konkrit menghasilkan imajinasi yang lebih tepat daripada yang abstrak. Kalau tidak ditemukan padanan kata yang konkrit, kita dapat menambahkan suatu deskripsi panjang lebar atas kata yang abstrak tadi sehingga lebih konkrit maknanya.
Ada kata yang dipakai luas dan umum dan ada kata yang dipakai dalam kelompok-kelompok khusus tertentu. Hindari kata-kata yang hanya dikenali di kelompok khusus untuk pembaca umum. Kata-kata yang digunakan di dunia akademis, mungkin tidak dikenali oleh pelanggan majalah wanita. Kata khusus tepat dipakai jika tulisan kita memang ditujukan pembaca khusus. Contohnya kata percobaan lebih bersifat umum daripada eksperimen. Tapi, di kelompok tertentu, kata eksperimen lebih tepat dari percobaan.
Contoh lain, kata herder lebih spesifik daripada kata anjing. Kata anjing lebih spesifik daripada binatang. Penggunaan kata herder mempunyai efek yang lebih jelas dibandingkan dengan penggunaan kata binatang, misalnya. Namun tetap berhati-hati karena karena kata yang sangat spesifik yang hanya dikenal di lingkungan tertentu mungkin tidak dikenal oleh pembaca taget. Misalnya, seorang penulis yang menyebutkan jenis spesies virus tertentu, seperti HN-55. Kata itu termasuk kata yang sangat sepesifik, tetapi mungkin tidak dikenali oleh pembaca tertentu kecuali penulis menambahkan penjelasan tambahan.
Pembaca akan memberikan respons penginderaan ketika membaca kata-kata yang bersentuhan dengan penginderaan. Kata jenis ini disebut kata indria. Penggunaan kata-kata jenis ini akan memberikan efek psikologis yang tajam. Kata-kata ini memberikan imajinasi yang sangat dalam. Gunakan kata indria tersebut sedapat mungkin untuk mendeskripsikan sesuatu. Kata-kata indria memiliki daya imajinasi yang sangat kuat yang mudah ditangkap oleh otak pengindraan pembaca.
SESUAI
Jika kita melihat konteks kata secara situasi dan kondisi pembaca, ada kata yang sesuai dan yang tidak sesuai walaupun makna leksikal kata itu tepat. Kata aku dan saya sama makna leksikalnya. Tapi, kata aku kurang sesuai untuk tulisan yang bersifat formal. Kata buang air kecil lebih sesuai untuk situasi tertentu dibandingkan dengan kata kencing. Jika Anda mengatakan sekelompok orang dengan kata bodoh dan terbelakang mereka mungkin akan marah. Tapi bila Anda tulis kurang memahami dan belum berkemajuan, mereka akan senyum-senyum saja.
Ada beberapa tips untuk mendapatkan kata yang sesuai dalam teknik diksi. Pertama, kenali benar target pembaca anda. Apakah mereka masyakat umum ataukah mereka kelompok tertentu, seperti kelompok ilmuwan, wartawan, pebisnis dll. Setiap kelompok memiliki kecendrungan penggunaan kata-kata tertentu dan ketabuan kepada kata-kata tertentu. Lebih parah lagi, satu kata yang sama dapat memiliki makna yang berdeda di kelompok yang berbeda.
Kedua, kenali benar jenis dan tulisan anda. Jika tulisan anda merupakan tulisan serius, ilmiah dan bersifat akademis, tentu anda tidak akan menggunakan kata-kata slang atau istilah percakapan lainnya. Sebaliknya bila tulisan anda bersifat populer dan menghibur, anda sebaiknya tidak menggunakan jargon-jargon ilmiah. Bila tulisan anda bertujuan untuk mengintimidasi emosi pembaca, kata-kata yang lebih sesuai tentulah kata-kata yang penuh emosional dan mempunyai efek indria.
MENARIK
Kata yang menarik adalah kata yang memberikan efek psikologis pada pembaca. Salah satu kata yang menarik adalah kata-kata yang singkat. Kalau ada dua kata yang memiliki makna yang sama, pembaca lebih senang dengan yang lebih singkat. Yang termasuk kata yang menarik adalah kata yang menunjukkan tindakan. Kata-kata jenis ini memberi tenaga. Pembaca lebih senang dengan dia melukai tangan dari pada dia membuat luka di tangan. Kata yang menarik adalah kata yang berona, berirama, atau kata-kata yang membuat seseorang menggerakkan aktif indranya.
Orang akan lebih tertarik membaca tulisan yang mengandung kata-kata yang menyentuh langsung pengalaman dan pengetahuannya dibandingkan dengan kata-kata yang tidak pernah dialaminya walaupun ia tahu makna kata itu.
Orang juga menyukai kata-kata yang penuh perumpamaan, metafora, dan personafikasi. Tulisan yang enak dibaca biasanya mengandung banyak unsur-unsur tersebut. Untuk tulisan yang non fiksi sekalipun akan enak dibaca bila dibumbui kata-kata yang penuh dengan perumpamaan, metafora, dan personafikasi asalkan tidak berlebih-lebihan.
Jadi, kalau kata yang jelas akan mantap memasuki nalar pembaca, maka kata-kata yang sesuai akan memenuhi cita-rasa pembaca sedangkan kata yang menarik akan memasuki ruang seleranya.
Dua buku yang tidak boleh lepas selama anda menulis adalah kamus dan tesaurus. Dengan kamus, Anda menemukan makna. Dengan tesaurus anda menemukan padanan kata yang berkerabat. Semakin sering Anda menggunakan satu kata dalam tulisan, semakin aktif kata tersebut dalam kosa kata Anda. Namun untuk memperkaya kosa kata, Anda harus membiasakan diri untuk terus membaca karya-karya yang kaya dengan kosa kata yang beraneka ragam. Andapun lama kelamaan akan menyerap kata-kata itu ke dalam kosa kata Anda. [jufran helmi]
Posted in Tips Menulis | No Comments »
Tags: diksi, menulis, pilihan kata, teknik diksi, tips
Posted by: menuliskreatif | on May 25, 2010
Cara Membuat Tulisan yang Menarik
Asyik nih, ada konsultasinya. Mau tanya: bagaimana ya cara membuat tulisan yang menarik? Agar orang lain senang membaca tulisan kita. Ada gak kiatnya?Terima kasih.
Pengirim: Ryan
==========
Jawaban
==========
Ryan, menulis itu adalah keterampilan. Jadi, latihan adalah kuncinya. Makin sering kita latihan menulis, maka tulisan kita bukan saja menarik, tapi juga hidup dan bisa mencerahkan pembacanya. Ada beberapa kiat praktis untuk pemula agar tulisan kita menarik:
- Kuasai huruf-huruf agar kita bisa menuliskan kata. Jangan sampe ketukar dalam penulisan “f”, “p” dan “v” misalnya. Yang benar adalah “foto” bukan “poto”; “televisi” bukan “telepisi” apalagi “telefisi”. “Fatamorgana”, bukan “patamorgana” apalagi “vatamorgana”. Yang benar adalah “favorit”, bukan “vaporit” apalagi “paporit”. So, latih terus ya. Yang paling gampang, cocokkan dengan kamus bahasa.
- Kuasai kata agar kita bisa menuliskan kalimat. Banyak kata yang ada dalam kamus. Jangan gunakan kata-kata untuk menunjukkan makna yang sama dengan satu kata itu. Eksplorasi banyak kata supaya tulisan itu lebih cerdas. Misalnya, kata “semakin”, sekali-kali kita menuliskannya dengan “kian”. Kata “lalu” boleh bergantian ditulis dengan “kemudian” atau “seterusnya”. Kata “Terkadang”, boleh juga ditukar sekali-kali dengan “adakalanya”. Kata “seandainya”, boleh juga digilir nulisnya dengan “andaikata” dll. Silakan eksplor sendiri. Cara yang paling gampang adalah “bersahabat” dengan kamus. Insya Allah banyak kata yang baru yang bisa kita gunakan nantinya dalam tulisan kita. Selain itu, dalam hal kata ini kita bisa memperkaya kosakata. Setiap hari 5 istilah baru yang bisa kita kuasai, insya Allah bakalan banyak kosakata tambahan yang bagus dalam sebulan. Iya kan? Coba deh.
- Latihlah terus membuat kalimat agar bisa menciptakan paragraf. Dan, biasakanlah menulis banyak paragraf agar menjadi satu tulisan utuh yang bisa dibaca. Kemampuan kita menguasai huruf, kata, kalimat dan paragraf akan semakin bagus manakala kita latihan terus. Percaya dan yakinlah bahwa berlatih menulis adalah cara paling mudah untuk bisa mahir menulis atau menjadi penulis. Cobalah.
- Tema yang diambil yang sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang. Sedang menjadi tren untuk jangka waktu tertentu. Misalnya tentang kasus seks bebas, lumpur Lapindo, narkoba dll. Atau bisa juga tema-tema sederhana yang dekat dengan lingkungan kita sehari-hari. Tentang kucing di rumah kita yang lucu-lucu. Kita bisa menuliskan banyak hal dari kucing kesayangan kita itu; cara larinya, suaranya, bulu-bulunya, matanya, dan hal unik lainnya. Atau bisa juga tentang kondisi rumah kita: berantakan, asri, nyaman, catnya keren, lantainya bersih dll bisa dieksplor dengan mudah. Coba ya.
- Setelah mengambil tema, maka siapkan bahan tulisannya. Biasanya data-data pendukung. Bisa dari sumber lain: koran, televisi, radio, internet, tabloid, majalah dan sejenisnya. Bisa juga dari pengamatan langsung yang bisa dilihat dan dirasakan. Atau bahkan kita terlibat di dalamnya. Ini akan diperlukan untuk memoles tulisan kita menjadi lebih kuat dan hidup karena ada data pendukung.
- Selain memaparkan fakta, jangan lupa solusinya. Sebab, tulisan yang bagus memaparkan fakta tapi solusinya mengada-ada atau hampir mustahil untuk dicerna pembaca, juga jadi tidak menarik. Saya pribadi saat ini memang lebih banyak menulis tentang Islam. Jadi, solusi yang saya sampaikan adalah Islam. Proses pengemasannya saja yang harus menarik supaya tak terkesan menggurui apalagi menghakimi. Tapi jika hal itu adalah tulisan umum, pastikan punya kesimpulan yang masuk akal dan mudah dimengerti pembaca.
Saya pikir itu saja dulu ya. Silakan mencoba tips-tips tersebut. Insya Allah lain waktu disambung lagi. Terima kasih.
Salam,
O. Solihin
Posted in Tips Menulis | 6 Comments »
Tags: kreatif, menarik, menulis, tulisan
Posted by: menuliskreatif | on May 15, 2010
Ciri Tulisan Esai, Kolom, Opini, dan Artikel
Saya adalah orang yang baru menginjakkan kaki dalam dunia penulisan, terus terang saya sangat belum bisa untuk membedakan antara esai, kolom, opini, dan artikel. Dengan ucapan terima kasih, tolong beritahu ciri-ciri spesifik dari bentuk-bentuk tulisan tersebut.
Pengirim: Bagoes Muhammad
———————-
Jawaban
———————
Mas Bagoes, terima kasih sudah mempercayakan kepada kami untuk menjawab pertanyaan Anda. Sejauh yang saya pahami tentang penulisan, sebetulnya semua tulisan nonfiksi disebut artikel. Artikel sendiri diartikan sebagai sebuah karangan faktual (nonfiksi) tentang suatu masalah secara lengkap, yang panjangnya tak tentu, untuk dimuat di surat kabar, majalah, buletin, dan sejenisnya. Tujuan dibuatnya tulisan tersebut untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, menawarkan pemecahan suatu masalah, atau menghibur.
Esai, opini, dan kolom adalah berisi tulisan yang biasa disebut dengan artikel. Esai sebenarnya sama saja dengan opini. Sebab, definisi dari esai itu sendiri adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Ini pengertiannya sama dengan artikel, sebenarnya.
Nah, supaya tidak membingungkan kembali saja kepada definisi artikel secara umum seperti yang saya tulis di atas. Intinya artikel itu adalah tulisan nonfiksi.
Sementara kolom atau penulisnya biasa disebut kolomnis atau kolumnis adalah salah satu rubrik di media massa yang biasa diisi oleh orang tertentu untuk jenis tulisan yang membidik tema tertentu. Misalnya seperti di rubrik “resonansi” Harian Republika. Itu bisa disebut kolom. Juga tulisan-tulisan Bung Karni Ilyas tentang hukum ketika beliau masih di Majalah Forum Keadilan. Itu juga kolom. Di majalah yang saya kelola, Majalah Remaja SOBAT Muda juga ada rubrik yang bisa disebut kolom, seperti Sekoteng, Kopitubruk, dan Personality. Selain karena penulisnya tetap atau tertentu, juga isinya lebih fokus membidik tema-tema yang sama meski beda pembahasan. Atau yang mungkin familiar adalah Catatan Pinggir Pak Goenawan Mohammad di MBM TEMPO. Itu contoh kolom di media massa.
Kesimpulannya, Mas Bagoes bisa menulis kolom, bisa menulis opini, bisa menulis esai, sebab toh itu sama saja bentuk pendapat kita, asalkan memenuhi kaidah penulisan nonfiksi untuk kesemua jenis tulisan itu. Terima kasih. Wallahu’alam.
Salam,
O. Solihin
Posted in Tips Menulis | 1 Comment »
Tags: artikel, Esai, kolom, menulis, nonfiksi, Opini, tulisan
Posted by: menuliskreatif | on May 14, 2010
Bingung Lomba Nonfiksi
Saya terkadang bingung mengenai lomba non fiksi. ada yang essai ilmiah tapi juga karya tulis ilmiah. yang menjadi rancu terkadang jenis lomba karya tulis ilmiah,lomba A mensyaratkan model essay tapi lomba B tidak dicantumkan. Sehingga apakah dengan standarisasi karya tulis ilmiah seperti model skripsi ato gimana?
Pengirim: A. Qahar Mudzakkir
——-
Jawab:
——-
Dik Qahar, terima kasih sudah mempercayakan bertanya kepada pengasuh rubrik konsultasi penulisan di situs penulislepas.com. Semoga jawabannya bisa mencerahkan dan memberikan solusi terbaik untuk Dik Qahar.
Mengenai lomba penulisan nonfiksi yang di dalamnya mensyaratkan tulisan harus dibuat dalam bentuk esai atau karya tulis ilmiah, memang itu bergantung kepada tujuan dan target yang ingin diraih dari panitia penyelenggara lomba. Jadi bisa berbeda-beda tiap perlombaan. Tentang esai dan karya tulis ilmiah memang ada perbedaan. Bukan saja dari istilah tapi juga definisinya. Esai adalah karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Esainya bisa berupa opini atau artikel populer di media massa dan bisa dibaca dengan mudah oleh kalangan manapun. Sementara karya tulis ilmiah, penulisannya sangat boleh jadi seperti menulis skripsi atau penelitian. Sebab, karya tulis ilmiah memang ditulis berdasarkan pengamatan, pengujian, dan analisis dari apa yang kita teliti. Sehingga karya jenis ini pembacanya pun terbatas dan tertentu. Mengingat banyak istilah dan data teknis yang belum tentu dimengerti dan dipahami dengan cepat dan mudah oleh kalangan awam.
Mengenai format penulisan esai biasanya dimulai dari membeberkan fakta yang hendak dinilai menurut pendapat kita. Itu sebabnya harus kuat di data dan bahan yang mendukung penulisan tersebut. Kemudian menganalisis fakta tersebut menurut pengamatan kita. Jika perlu diberikan saran, ya kita sampaikan saran kita. Jika perlu dikritisi, sampaikan juga alasan kita. Baru terakhir kesimpulan kita. Bisa mendukung fakta tersebut, bisa juga menolaknya.
Sedikit catatan tambahan untuk penulisan karya ilmiah, yakni ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Dalam pengantar, paling tidak Dik Qahar harus menuliskan:
- sifat, skop (ruang-lingkup), dan tujuan penelitian
- tinjauan pustaka yang relevan dengan permasalahan
- cara penelitian
- hasil utama penelitian (ditambahkan setelah penelitian selesai) dan manfaat penelitian.
Bahan dan cara, harus menyertakan:
- sampel, jumlah sampel, dan karakteristiknya (misalnya: umur, jenis kelamin, dll)
- keterbatasan pengambilan sampel (kalo ada tentunya)
- uraian prosedur detail penelitian (ini bermanfaat supaya penelitian bisa diulang oleh peneliti lain).
Dalam hasil, setidaknya harus menuliskan:
- karakteristik sampel
- pemaparan hasil (harus menggunakan variabel-variabel yang digunakan sebagai alat untuk menjawab permasalahan penelitian).
Pembahasan bisa ditulis dengan meliputi:
- tinjauan penemuan-penemuan penting penelitian
- pertimbangan penemuan-penemuan dalam kaitannya dengan penelitian terdahulu yang relevan
- implikasi penemuan terhadap teori
- pemeriksaan yang hati-hati terhadap hasil yang tidak mendukung atau hanya sebagian yang mendukung hipotesis
- keterbatasan-keterbatasan studi yang mungkin berakibat pada kesimpulan dan generalisasi studi
- rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
- implikasi studi untuk praktisi atau studi terapan (opsional saja, tidak harus).
Kesimpulan pun setidaknya memberi gambaran:
- menyatakan kembali tesis secara singkat
- meringkas interpretasi hasil dan membahasnya dalam konteks teoritis yang lebih luas
- pendek dan langsung ke sasaran
- menjelaskan manfaat khusus dan umum hasil studi
- menuju ke kata-kata penutup
Demikian, semoga ada manfaatnya. Terima kasih.
Salam,
O. Solihin
Posted in Tips Menulis | No Comments »
Tags: lomba, menulis, nonfiksi

D5 Creation