Tips Menulis

now browsing by category

 

Penulisan Buku yang Baik dan Bermanfaat

free_books_online

Bagaimana cara penulisan untuk membuat sebuah buku yang baik dan bermanfaat untuk orang lain khususnya tentang buku-buku agama, di situs apa saya bisa mengirim tulisan yang ada honorariumnya. Trima kasih.

Pengirim: Budi Irhans

———–

Jawaban:

———-

Salam kenal Mas Budi Irhans. Terima kasih atas kiriman pertanyaan Anda kepada saya. Membuat buku berarti membuat proyek untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain. Ilmu, pendapat, gagasan, dan harapan yang kita tuangkan dalam sebuah buku kita bagikan kepada orang lain. Agar para pembaca buku kita dapat mengambil manfaat dari tulisan-tulisan yang kita bukukan tersebut.

Tentu saja, untuk memulai proyek pembuatan buku ini harus dirancang secara serius agar hasilnya juga maksimal. Secara umum, buku adalah kumpulan gagasan yang kita runut secara sistematis dalam sebuah buku. Mungkin bisa dikatakan bahwa buku adalah “artikel besar”. Itu sebabnya, pertama kali yang harus dilakukan setelah menentukan tema yang kita ingin bukukan adalah berburu bahan dan data.

Dari situlah kita akan mendapatkan informasi tambahan yang bisa membantu kita untuk memetakan pembahasan apa saja yang bisa ditulis untuk buku kita. Juga, bahan dan data itu akan berguna untuk merunut agar sistematika pembahasan dalam buku kita membentuk kerangka berpikir yang utuh bagi pembaca untuk memahami gagasan yang kita sampaikan.

Dengan informasi yang berhasil kita kumpulkan, kita bisa memilih dan memilah informasi yang mana saja yang akan kita gunakan untuk penguat di awal pembahasan, dan informasi mana saja yang akan kita jadikan argumen untuk ditempatkan di tengah pembahasan. Begitu juga bahan dan data apa saja yang akan kita gunakan sebagai ‘peluru’ untuk mengakhiri pembahasan yang kita sampaikan di buku tersebut. Sehingga diharapkan, isi buku yang kita buat itu kaya dengan informasi, sistematis dan memberikan solusi yang pas. Selain masuk akal, juga aplikatif dan memberikan wawasan tambahan bagi pembaca kita.

Khusus untuk buku agama sebenarnya sama saja cara kerjanya dengan pembuatan buku umum. Perbedaannya hanya pada tujuan dibuatnya buku itu, sehingga bahan dan data yang akan dikumpulkan jadi sangat spesifik, yakni fakta-fakta yang mendukung untuk pembahasan tema dan semuanya ada hubungannya dengan agama. Atau setidaknya fakta itu sebagai pembanding dari argumen yang akan kita lontarkan dalam buku kita.

Ada baiknya saya petakan urutan pembuatannya agar bisa memudahkan Anda dalam memahaminya:

  1. Tentukan sasaran pembaca kita. Anak-anak, remaja, atau orangtua. Untuk pria atau wanita. Untuk kalangan intelektual atau untuk kalangan awam. Ini penting, selain membantu dalam menentukan tema, juga untuk memilih gaya bahasa apa yang ingin disampaikan.
  2. Menentukan tema. Pastikan tema yang kita ambil sesuai dengan sasaran pembaca kita dan sedang menjadi tren. Bisa juga kita menciptakan tren sendiri. Artinya tema yang kita ambil benar-benar baru dan belum banyak dibahas penulis lain. Tapi yang pasti, prinsip dalam menentukan tema itu adalah tema yang dekat dengan kehidupan sasaran pembaca kita dan memang dibutuhkan.
  3. Kita mulai menyusun alur pembahasan. Biasanya disebut dengan pembuatan outline atau kerangka tulisan. Ini sangat berguna untuk membantu kita dalam membatasi apa saja yang perlu ditulis dan memberikan arahan yang jelas dari apa yang akan kita tulis. Pastikan pembuatan outline itu serunut mungkin agar pembaca terbantu untuk memahami gagasan kita. Pola sederhana dalam pembuatan outline adalah: paparkan fakta, mengkritisi fakta, dan akhirnya memberikan solusi. Ini berguna dalam berburu bahan dan data.
  4. Tahap berburu bahan dan data. Bisa di perpustakaan, bisa ‘perpustakaan digital’ alias internet dengan menggunakan mesin pencari macam Google. Fokuskan pencarian data pada bahan informasi yang benar-benar kita perlukan sesuai dengan outline yang sudah kita tetapkan. Jangan tergoda untuk mencari informasi lain. Sebab, akan mengaburkan tujuan dan juga memperlama waktu pencarian.
  5. Khusus buku agama seperti yang Anda tanyakan, maka dibutuhkan sentuhan atau polesan yang menguatkan pembahasan tulisan kita. Itu artinya, penguasaan si penulis terhadap tema yang sedang digarap dalam bukunya menjadi jaminan penting. Misalnya agama Islam, maka kekuatan ide Islam dan solusinya menjadi bagian penting dari buku yang kita buat. Itu sebabnya, penulis harus benar-benar menguasai pembahasan dan pastikan tidak terjadi bias pemahaman. Maka, pengkajian si penulis terhadap tema yang sedang dibahas harus dibarengi dengan pembinaan diri bagi si penulis berupa tsaqafah islamiyah yang cukup (pemahaman terhadap dalil al-Quran, hadis, ijma shahabat, dan qiyas. Serta menguasi syariat Islam dan juga tentang keimanan dan akidah yang cukup). Bahkan jika ingin tulisan kita kuat argumentasinya, harus ideologis. Apalagi Islam memang agama sekaligus ideologi. Artinya, si penulis harus memahami bahwa Islam adalah akidah dan syariat. Sehingga penulis bisa memetakan pembahasan dan mengurai akar masalah suatu persitiwa atau kondisi dengan baik: secara teknis maupun sistemik.
  6. Memulai penulisan. Ini dibutuhkan keterampilan khusus yang hanya bisa dipelajari jika kita sering menulis. Sebab, layaknya mengendarai sepeda motor, menulis akan semakin lancar dan mengalir jika terus dilatih. Karena menulis memang keterampilan. Makin sering dilakukan, insya Allah makin mahir. Sehingga, tahap merangkai kata menjadi kalimat, dan menyusun kalimat menjadi paragraf, serta menggabungkan paragraf dengan paragraf lainnya untuk membangun artikel akan dengan mudah dilakukan. Begitu pula ketika menyulam artikel demi artikel untuk menjadi satu bab, serta merenda bab demi bab untuk jadi lebih menarik dalam sebuah buku.

Menurut saya enam langkah ini bisa menjadi tahapan standar. Karena sejatinya pembuatan buku itu seharusnya sederhana: memaparkah fakta, mengkritisi atau menilai fakta, dan memberikan solusi (baik teknik maupun sistemik). Itu saja. Semoga bermanfaat.

Nah, mengenai situs apa saja yang menerima kiriman tulisan dan memberikan honorarium jika tulisan kita berhasil dimuat di sana, saya pikir cukup banyak. Umumnya, media-media massa yang juga memiliki edisi cetaknya terbiasa memberikan honorarium bagi penulis yang tulisannya dimuat di medianya. Tapi kalo boleh saya menyarankan, target kita membuat dan mengirim tulisan adalah untuk ibadah. Insya Allah motivasi ini akan terus ada dalam diri kita. Sehingga kita akan terus menulis.

Saya yakin banyak penulis yang awalnya hanya rajin mengirim tulisan ke berbagai media, tapi kemudian karena keterampilan menulisnya makin bagus akibat sering diasah, bukan tak mungkin akan mendatangkan efek samping dengan popularitas dan juga materi. Siapa tahu kan? Dengan kata lain, target kita menulis (apalagi bagi penulis pemula) adalah melancarkan cara dan gaya kita dalam menulis. Impian agar tulisan kita bisa cepat dimuat dan mendapat honor sebaiknya ditunda dulu. Apalagi di media kita, seringkali nama besar alias sudah terkenal menjadi jaminan tulisannya dimuat. Padahal, isinya seringkali kurang bermutu dan bahkan tidak bermanfaat bagi orang lain (khususnya tentang agama Islam) jika dinilai dari sudut pandang Islam yang benar.

Jadi, kita yang belum dikenal luas media ini harus bersabar dengan cara terus menulis dan mengirimkan ke berbagai media. Insya Allah semakin sering nama kita akan semakin dikenal. Apalagi jika tulisan kita memang bagus dan bermanfaat. Coba, mulai dari sekarang ya untuk membiasakan diri menulis. Menulis dan terus menulis. Wallahu’alam.

Salam,
O. Solihin

Kriteria Khusus dalam Pembuatan Essay

2318908394_1d750090de-1

Assalamu’alaikum…

Mas, melanjutkan pertanyaan sebelumnya mengenai essay. Apa kriteria-kriteria khusus dalam pembuatan essay, seperti bolehkah menggunakan kata ganti (saya, kamu, ia), format penulisan dan sebagainya. terima kasih, Mas.

Pengirim: Isnurdiansyah

————————————-

Jawaban:

————————————-
‘alaikumussalam, Mas Isnurdiansyah
Terima kasih atas pertanyaannya. Semoga jawaban saya bisa memberikan inspirasi bagi Anda.

Kriteria khusus dalam pembuatan esai sebenarnya mengikuti dari definisi esai itu sendiri, yakni karangan prosa (bukan menggunakan kaidah puisi) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Itu sebabnya, menggunakan kata ganti seperti “saya”, “kamu”, “ia” menurut saya boleh-boleh saja. Itu sebabnya, format penulisan esai pun lebih menekankan kepada gaya bertutur yang sifatnya cenderung tidak analitis, acak, ringan, melompat-lompat, bahkan kadang provokatif. Tapi intinya, sebuah tulisan esai adalah sebuah tulisan yang menggambarkan opini si penulis tentang subyek tertentu yang coba dinilainya.

Nah, sebuah esai dasar bisa dibagi menjadi tiga bagian:

Pertama, pendahuluan yang berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi subyek bahasan dan pengantar tentang subyek yang akan dinilai oleh si penulis tersebut. Kedua, tubuh esai yang menyajikan seluruh informasi tentang subyek. Ketiga, adalah bagian akhir yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subyek yang dinilai oleh si penulis. Itu secara sederhananya.

Jika dipetakan mengenai langkah-langkah membuat esai, bisa dirunut sebagai berikut:

  1. Menentukan tema atau topik
  2. Membuat outline atau garis besar ide-ide yang akan kita bahas
  3. Menuliskan pendapat kita sebagai penulisnya dengan kalimat yang singkat dan jelas
  4. Menulis tubuh esai; memulai dengan memilah poin-poin penting yang akan dibahas, kemudian buatlah beberapa subtema pembahasan agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami maksud dari gagasan kita sebagai penulisnya, selanjutnya kita harus mengembangkan subtema yang telah kita buat sebelumnya.
  5. Membuat paragraf pertama yang sifatnya sebagai pendahuluan. Itu sebabnya, yang akan kita tulis itu harus merupakan alasan atau latar belakang alasan kita menulis esai tersebut.
  6. Menuliskan kesimpulan. Ini penting karena untuk membentuk opini pembaca kita harus memberikan kesimpulan pendapat dari gagasan kita sebagai penulisnya. Karena memang tugas penulis esai adalah seperti itu. Berbeda dengan penulis berita di media massa yang seharusnya (memang) bersikap netral.
  7. Jangan lupa untuk memberikan sentuhan akhir pada tulisan kita agar pembaca merasa bisa mengambil manfaat dari apa yang kita tulis tersebut dengan mudah dan sistematis sehingga membentuk kerangka berpikir mereka secara utuh.

Catatan sederhana:

  1. Untuk memilih tema atau topik, usahakan yang bisa kita kuasai dan sifatnya lebih “sempit”. Jangan yang masih umum. Jika kita menentukan tema tentang Jakarta. Itu terlalu umum dan sangat luas. Tapi coba tentukan tema tentang, “Ondel-ondel Betawi”. Saya pikir ini akan lebih fokus dan kita bisa menguasainya dengan lebih mudah karena bahannya juga spesifik dan pembaca pun akan terjerat oleh informasi awal bahwa ia hanya akan mendapati pembahasan tentang Ondel-ondel ketika membaca tentang salah satu sisi kehidupan Jakarta yang kita tulis. Selain itu kita harus menentukan tujuan diambilnya tema tersebut dan juga minat kita menulis hal itu. Kemudian buat evaluasi tema, apakah bisa memberikan manfaat lebih bagi pembaca atau sekadar informasi sepintas lalu dari sudut pandang si penulis saja. Jadi, mengukur potensial dari tema tersebut. Menjual dan sangat dibutuhkan pembaca atau sekadar informasi “sekilas” yang bisa begitu saja dilupakan dan tak membekas bagi pembaca.
  2. Ketika menulis outline, pastikan kita memulainya dengan memaparkan fakta yang ada, kemudian mengkritisi atau menilai fakta tersebut. Bila perlu membandingkan dengan fakta lainnya, dan terakhir adalah memberikan kesimpulan dan arahan bagi pembaca. Pastikan kesimpulan yang kita tulis tidak bias. Tapi harus tegas dan didukung dengan argumentasi yang kuat dan bila perlu tak terbantahkan.
  3. Tak kalah penting adalah memberikan finishing touch atau sentuhan akhir. Misalnya harus diperhatikan alur tulisan, gaya bahasa yang dituilis, pastikan juga dicek ulang tentang penggunaan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), akurasi data, sumber kutipan, memperkuat persepsi yang masih lemah dsb. Ini penting agar sebelum dilempar ke pembaca, tulisan kita benar-benar sudah “lolos sensor” atau bahkan tanpa sensor karena kita membuatnya dengan teliti dan kebenaran ide yang kita tawarkan bisa dipertanggungjawabkan sesuai apsek tema yang kita tulis.

Baik. Ini yang bisa saya tanggapi dan berikan jawaban. Semoga memberikan inspirasi untuk menulis. Tapi saran saya, mohon maaf, jika Anda adalah penulis pemula, sebaiknya kesampingkan dulu sementara tentang banyaknya aturan tentang teori menulis seperti ini. Karena saya merasa khawatir akhirnya tak menulis-menulis karena harus mengikuti aturan tersebut sementara kita belum lancar menulis. Itu sebabnya, jika Anda adalah penulis pemula, sebaiknya lancarkan saja menulis Anda dengan cara menulis apa saja yang ingin Anda tulis. Saya sendiri ketika belajar menulis, teori menulis yang saya kuasai hanya SPOK alias Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan yang saya pahami dari pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi saya kembangkan saja dalam kalimat dan paragraf.

Semakin sering menulis, insya Allah akan kian lihai. Banyaknya teori tentang menulis, baru saya pelajari ketika saya sudah mulai lancar menuangkan gagasan melalui tulisan.

Tapi… jika Anda termasuk penulis yang sudah cukup sering menulis karya, mungkin informasi ini bisa menjadi tambahan wawasan. Semoga. Oke deh, selamat menulis dan jangan berhenti menulis untuk menghasilkan karya yang tak sekadar baik saja. Tapi karya yang terbaik. Semangat! Wallahu’alam.

Salam,
O. Solihin

Batasan Plagiat dengan Mengutip

beritamaya.wordpress.com

Halo mas,

saya baru mau belajar menulis…
Kalau menulis artikel non-fiksi kitakan sering mengutip dari berbagai sumber…

Nah, apa sih batasannya bahwa kutipan dalam artikel kita itu plagiat atau bukan..? Apakah kalau suatu artikel berbahasa Inggris dari majalah Internasional saya olah kembali…dalam arti 50% isinya saya ubah dan saya beri pendapat saya tenteng masalah di artikelo tersebut, saya disebut Plagiat atau bukan?

Mohon pencerahannya…!

Rendro Tris

Salam kenal dan terima kasih atas kiriman pertanyaan Bung Rendra kepada pengasuh rubrik ini.

Bung Rendra, mengutip tentu berbeda dengan plagiat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengutip adalah mengambil perkataan atau kalimat dari buku dsb. Sementara plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri.

Nah, batasannya tentu ada. Dalam mengutip pastikan harus dicantumkan sumber kutipannya. Jika itu satu kalimat, tulis satu kalimat. Bila itu satu paragraf, ya tulis juga satu paragraf dan serta sumbernya. Biasanya sih kutipan itu kita cantumkan untuk memperkuat argumentasi kita dalam sebuah tulisan. Bahwa pendapat yang kita sampaikan itu memang pernah juga disampaikan oleh penulis lain atau sama dengan penulis lain. Sehingga nilai argumentasi kita bisa dipertanggungjawabkan. Jika pun misalnya pendapat kita adalah sedikit berbeda dengan pendapat yang kita kutip, maka kutipan tersebut kita jadikan sebagai pijakan dan merupakan inspirasi dari pendapat yang kita kemukakan setelah melalui modifikasi tentunya.

Maka, plagiator adalah orang yang mencontek (copy-paste) karya orang lain, mungkin dia mengutip satu pendapat dari orang lain sampai satu kalimat persis bahkan satu paragraf dan satu artikel sekalipun dan menuliskannya serta mempublikasikannya kepada orang lain bahwa karya tersebut adalah hasil karyanya. Tentu saja ini perbuatan tidak menyenangkan dan bisa merugikan orang lain (dan juga merugikan dirinya jika suatu saat ternyata ada orang yang mengetahui perbuatannya).

Mengolah artikel terjemahan, bisa disebut plagiat jika karya terjemahan tersebut kita akui sebagai penulisnya, padahal faktanya kita adalah penerjemahnya. Mengubah suatu artikel terjemahan sampai 50% dari total artikel tersebut, tidak termasuk aktivitas plagiat jika kita bermaksud memberikan penilaian atau interpretasi atas artikel tersebut dan tentu mencantumkan sumber asli terjemahan dari artikelnya. Misalnya, sebuah tulisan berbahasa Inggris dari sebuah kantor berita asing, kita terjemahkan dan kita permak lagi menurut pendapat kita, tidak disebut sebagai plagiat jika kita mencantumkan di bagian belakang tulisan dengan kalimat seperti ini: “Diolah dari AFP dsb” Jadi ada kata “Diolah” yang menunjukkan bahwa sumber tulisan kita dari kantor berita tersebut hanya diolah sedemikian rupa dengan tambahan dari kita sebagai penulisnya. Menurut saya itu bukan plagiat. Allahu’alam.

Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin

Menulis hal-hal kecil

keller-systems.com

Assalaamu’alaikum wr wb

Apa yang Anda pikirkan sebelum menulis? Apa saja tema yang hendak ditulis? Apa ide yang ada di pikiran saat ingin menulis? Sederet pertanyaan ini perlu dijawab. Beberapa teman yang pernah saya tanya tentang hal itu mengaku ingin menulis yang bagus, berharap bisa menulis yang mencerahkan, bisa menulis hal-hal besar, bisa menulis sesuatu yang berat agar terlihat nyata intelektualitasnya sebagai penulis. Well. Keinginan seperti itu sah-sah saja. Boleh-boleh saja. Tak ada yang melarang. Tapi, kita harus mengukur diri dan interospeksi: “siapa kita saat ini?”

Bukan bermaksud membuat pesimis kawan-kawan yang hendak menulis. Tidak. Tapi kita perlu berpikir bahwa orang yang mahir menulis hal-hal besar, besar kemungkinan pernah menulis hal-hal kecil, atau memang terbiasa menulis hal-hal kecil. Sebabnya, keterampilan manusia biasanya berjenjang: dari yang ringan terlebih dahulu, yang sedikit berat, dan berat, plus sangat berat. Hal ini wajar, karena memang manusia terbiasa melakukannya dengan cara “berurutan”, dari mudah ke sulit. Bukan sebaliknya.

Bagi para pemula yang hendak menulis, jangan terlalu lama berpikir soal ide dan tema apa yang hendak ditulis. Lakukanlah sebuah coretan kecil di kertas. Atau langsung tulis saja di papan ketik sesuatu yang menurut kita perlu ditulis. Hal yang ringan saja. Hal yang kecil yang bisa kita kuasai. Misalnya, kita bisa menulis tentang disiplin sehari-hari (pekerjaan, kegiatan pengajian, sekolah, kuliah dan sejenisnya)–misalnya tentang memanfaatkan waktu; bisa pula menuliskan mengenai suasana rumah yang sering dilihat setiap hari; boleh juga menulis perilaku penghuni rumah kos yang sangat kita kenal atau keluarga sendiri yang setiap hari bertemu dan bercengkrama (tuliskan karakter mereka, cara bicara mereka, cara mereka berpendapat, dll). Bisa juga membahas tentang perlunya menjalin silaturahmi.

Hal kecil lain dalam pekerjaan juga banyak: cara menjaga hubungan, menikmati pekerjaan dsb. Ketika kita bepergian, pasti ada hal yang menarik dan unik, tulislah semampu kita. Misalnya, tentang kemacetan, tentang kereta rel listrik jabodetabek yang sesak padat saat jam pergi dan jam pulang kerja. Semua hal-hal kecil bisa kita tuliskan. Toh, yang terpenting adalah memulai menulis. Bukankah setelah kita sering menulis hal-hal kecil pasti ada pelajaran di setiap apa yang kita telah tulis? Rasa-rasanya kita memang perlu belajar memaknai sebuah proses. Itulah perlunya berlatih.

Bila hal-hal kecil telah dikuasai, maka hal-hal besar adalah tantangan tersendiri yang perlu dicoba dijajal. Orang yang terbiasa mengendarai sepeda, dia akan tertantang mengendarai sepeda motor. Belajar naik sepeda pun, ada seninya: Pelan, perlahan, nikmati, hati-hati, dan percaya diri. Pun, tidak bisa memaksakan keinginan untuk langsung ngebut, karena bisa jadi benjut gara-gara jatuh dari sepeda karena kehilangan keseimbangan. Mengendarai sepeda motor juga bertahap. Valentino Rossi, juara dunia 7 kali, pasti di awal-awal belajar mengendarai si kuda besi itu tak langsung di kelas MotoGP, tapi di kelas 125 cc, naik ke 250 CC, lalu ke 500 cc. Bertahap dan setiap tahapnya banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik.

Menulis adalah keterampilan unik. Makin sering menulis, maka makin lihai menulis. Banyak hal kecil yang perlu ditulis, dan biasanya hal itu sangat dekat dengan kehidupan kita dan insya Allah mudah kita kuasai. Cobalah berpikir sejenak. Bukan hanya bagi pemula, tapi bagi penulis senior pun tetap perlu merenungkan hal-hal kecil yang bisa menjadi tema tulisan. Penulis buku-buku jenis Chicken Soup, Jack Canfield, kerap menuliskan hal-hal sederhana yang jarang ditulis oleh penulis lain. Tapi tetap karyanya banyak diminati. Karya yang inspiratif. Mudah dipahami, sederhana, lugas dan langsung kena sasaran. Jadi, siapa bilang menulis hal-hal kecil, kekuatannya menjadi remeh. Tidak selalu, tuh.

Jadi, mulailah belajar menulis dengan menuliskan hal-hal kecil yang sangat dekat dengan kehidupan kita dan sangat kita kuasai. Setelah sering menulis hal-hal kecil, bukan tak mungkin kita bisa menulis hal-hal besar yang sangat kita kuasai karena belajar banyak dari hal-hal kecil yang telah kita tulis. Sehingga tulisan kita terasa ringan mengalir dan memudahkan pembaca memahami apa yang kita maksud, meskipun tema yang kita angkat terbilang berat. Sebab, tujuan menulis bukanlah agar kita disebut pandai oleh pembaca, tetapi untuk mendidik pembaca agar mereka pandai.

Salam,

O. Solihin

Seputar Tulisan Resensi

Pertanyaan:

twentea.com

Boleh nggak mengambil resensi dari tulisan artikel orang lain atau dari blog pribadi orang lain? Sebenarnya apa saja yang boleh dijadikan resensi untuk membuat sebuah tulisan (artikel) dan yang nggak boleh juga apa aja ya? Priya

Jawaban: Terima kasih atas pertanyaan yang dikirimkan kepada pengasuh. Jawaban saya atas pertanyaan Anda:

1. Maksudnya mengambil di sini apa? Jika yang dimaksud adalah sekadar mengambil tulisan tersebut kemudian menjadi koleksi pribadi untuk bahan tulisan atau tambahan informasi yang kita inginkan, silakan saja. Tapi sebaiknya bisa meminta ijin kepada yang bersangkutan jika memang si pemilik tulisan tersebut menuliskan pemberitahuannya di blognya atau di website miliknya. Saya pribadi, di blog mempersilakan siapa pun mengambil tulisan-tulisan saya secara gratis. Hanya saja, jika ingin menyebarkannya lagi kepada orang lain harus mencantumkan penulis dan sumbernya. Itu saja.

Tapi masalahnya, jika tulisan hasil resensi orang lain kita ambil untuk kita publikasikan atas nama sendiri, tentu saja upaya yang tidak terpuji. Bagaimana jika orang lain melakukan hal yang sama dengan karya kita? Tentu tidak menyenangkan bukan? Saya pikir di sini kita bicara etika.

2. Resensi itu asal katanya dari bahasa Belanda (dari kata: recensie). Dalam bahasa Inggris, kita bisa dapatkan padanan katanya dengan istilah review (ini juga berasal dari bahasa Latin: revidere; re artinya kembali dan videre artinya melihat). Nah, dengan definisi seperti ini, resensi bisa digunakan untuk berbagai produk: buku, film, VCD, iklan, pakaian, dan lain sebagainya. Umumnya dalam meresensi itu ada beberapa hal mendasar yang harus diperhatikan (misalnya meresensi buku): 1) Memahami betul tujuan si pengarang buku tersebut. 2) Sebagai peresensi, Anda menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat. 3) Anda juga dituntut untuk paham betul dengan latar belakang pembaca yang menjadi sasaran Anda: selera, pendidikan, status sosial, dsb. 4) Sebagai peresensi, Anda tentunya harus paham dengan visi dan misi setiap media massa. Tujuannya, supaya kita tahu harus dikirim ke mana jika naskahnya adalah begini dan begitu.

Kemudian selain hal mendasar tadi, ada tahap persiapan sebelum merensi, yakni: 1) Mengenali atau menjajaki buku yang akan Anda resensi. 2) Membaca buku yang akan diresensi secara komfrehensif dan cermat. 3) Menandai bagian buku yang akan dijadikan sebagai kutipan dalam resensi. 4) Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang diresensi. 5) Menentukan sikap Anda sebagai perensi terhadap buku tersebut. 6) Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar-dasar dan kriteria yang udah kita tentukan sebelumnya.

Tahap akhir adalah menulis hasil resensi. Beberapa poin yang perlu diperhatikan adalah: 1) Bercerita tentang pengarangnya. 2) Cerita tentang kekhasan sang pengarang. 3) Menulis tentang keunikan bukunya. 4) Tentang tema buku. 5) Kelemahan/kelebihan buku. 6) Kesan terhadap buku. 7) Penerbit buku.

Saya pikir ini jawaban saya. Semoga bermanfaat.

Salam,

O. Solihin