<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>[menuliskreatif]</title>
	<atom:link href="http://menuliskreatif.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menuliskreatif.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2012 05:43:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Buka Topengmu, Sobat!</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/05/buka-topengmu-sobat/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/05/buka-topengmu-sobat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2012 20:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pencitraan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[topeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1634</guid>
		<description><![CDATA[Amati dirimu di cermin! Apa yang kamu dapati tentang dirimu? Kamu punya wajah. Cantik? Syukurlah. Ganteng? Alhamdulillah. Jerawatan? Jangan marah. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://osolihin.net" target="_blank">O. Solihin</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/05/edisi-237.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1636" title="edisi 237" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/05/edisi-237-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Amati dirimu di cermin! Apa yang kamu dapati tentang dirimu? Kamu punya wajah. Cantik? Syukurlah. Ganteng? Alhamdulillah. Jerawatan? Jangan marah. Tapi nggak mau jerawatan? Ya, ampelaslah wajahmu itu jika kamu nggak pede dengan dirimu. Mungkin karena kamu merasa lebih pede jika punya wajah selicin porselin yang sering diiklankan di tivi. Tetapi ingat, itu bisa saja palsu. Bukan dirimu. Kamu mungkin saja bisa bersandiwara di depan kawan-kawanmu bahwa dengan wajah yang mulus kamu akan dikagumi temanmu. Tetapi ingat, itu kan bukan dirimu yang asli. Kamu mengemas wajahmu agar kelihatan manis dan cantik atau ganteng di hadapan orang lain.</p>
<p>Begitu pun ketika kamu tampil dengan karakter yang bukan dirimu. Meski kamu berusaha meyakinkan setiap orang bahwa kamu dicitrakan (digambarkan) sebagai orang yang pinter, tetapi faktanya kamu—maaf, bloon—ya suatu saat akan ketahuan juga. Meski kamu setengah hidup menjejali pikiran orang lain bahwa kamu dicitrakan sebagai orang yang dermawan, tetapi faktanya kamu justru pelit, suatu saat orang akan tahu jati dirimu yang asli. Itu artinya, kamu hidup di bawah bayang-bayang bukan dirimu. Tetapi kamu pura-pura bahwa itu dirimu. Duh, hidup kayak gitu capek, Bro en Sis. Bener lho!</p>
<p>Hidup kayak gitu capek? Bener banget! Lihat deh bapak-ibu yang lagi berebut suara di berbagai pilkada di tanah air. Mereka berusaha mati-matian meyakinkan masyarakat agar memilih mereka. Caranya? Membuat pencitraan. Sederhananya, membuat gambaran tentang diri mereka. Ada yang tiba-tiba dicitrakan dekat dengan wong cilik dengan harapan masyarakat melihat dan memiliki imej bahwa orang tersebut pantas untuk memimpin daerahnya. Padahal dalam kehidupan sehari-harinya, kenyataannya dia justru dekat dengan wong licik dan doyan korupsi. Ini jelas penipuan.</p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, banyak orang memanfaatkan pencitraan dirinya agar terlihat dan terekam dalam benak setiap orang tentang imej baik dirinya. Sebenarnya pada tahap awal bisa saja benar dan bernilai positif, jika memang faktanya dia seperti yang dicitrakan itu. Misalnya, ada orang yang memang baik, suka berbuat baik, menunjukkan semangat tinggi dalam kerja, sering membantu orang lain dan beragam kebaikan lainnya. Kemudian ia berusaha menunjukkan jatidirinya dengan konsisten melakukan semua itu. Maka, secara tidak langsung ia sedang melakukan pencitraan terhadap dirinya. Itu artinya, yang dia lakukan adalah mengemas, menguatkan, dan memperbaiki citra dirinya yang memang sudah melekat erat dalam karakter kepribadiannya. Tetapi jika pencitraan yang dilakukannya berbeda dengan jati dirinya yang sesungguhnya, maka itu namanya memalsukan dirinya, menipu bahkan mengkhianati banyak orang. Bahaya bener, Bro en Sis!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mencetak ‘ingatan kolektif’</strong></p>
<p>Maurice Halbwachs, sosiolog Perancis pencetus teori ingatan kolektif menyebutkan bahwa “ingatan kolektif” bukanlah metafora tetapi realitas sosial, ditransmisikan dan dilestarikan melalui upaya sadar dan institusi kelompok. Kelompok-kelompok sosial mengkontruksi imaji mereka tentang dunia melalui versi tertentu masa lalu yang mereka setujui, versi-versi yang dikonstruksi melalui komunikasi, dan bukan pengingatan individu, melainkan individu sebagai anggota kelompok. Halbwachs membedakan antara ingat otobiografis (autobiographical memory) yang merupakan pengalaman personal, ingat historis (historical memory) masa lalu yang ‘mati’ dan hanya bisa diketahui melalui catatan sejarah, dan ingatan kolektif—masa lalu yang ‘hidup’ dan aktif memberi informasi identitas kita.</p>
<p>BTW, kamu paham maksud paragraf di atas? Nggak? Hehehehe saya juga ampir aja nggak ngerti. Maklum, ini pelajaran sosiologi jaman kuliah dulu, jadi kadang lupa-lupa inget. Tapi saya kasih contoh terapannya aja ya. Begini Bro. Contoh ingatan kolektif adalah ketika kamu dan kawan-kawanmu ngomongin soal Korea, maka yang teringat secara massal dan kolektif bahwa saat ngobrolin tentang Korea berarti identik dengan film drama dan boyband. Mengapa bisa begitu? Karena film drama dan boyband yang ‘diproduksi’ Korea Selatan tampil konsisten dalam memberikan pencitraan kepada masyarakat penggemarnya. Coba deh dites sekarang, kamu pasti hapal juga kan film <em>My Sassy Girl</em> yang menampilkan akting Jun Ji Hyun dan Cha Tae Hyun? Hehehe ini film jadul tahun 2001. Atau <em>My Tutor Friend</em> yang diproduksi tahun 2003 dan disutradarai Kim Kyung Hyung. Drama Korea yang terbaru juga bisa kamu kenal macam <em>Take Care of Us Captain</em>, <em>Salaryman Chohanji</em>, <em>Bachelor’s Vegetable Store</em> dan film lainnya. Termasuk boyband mereka yag terkenal macam SuJu (Super Junior). Nah, kalo sampe sekarang kamu inget tentang Korea berarti inget drama dan boyband, berarti ingatan kolektif kamu dan remaja lainnya tentang Korea sudah terbentuk.</p>
<p>Sama seperti para ABG (Angkatan Buyut Gue) yang kenal Pak Sukarno (presiden pertama RI) sebagai bapak revolusi. Saat saya blogwalking, ketemulah dengan blognya Anton DH Nugrahanto tentang politik pencitraan para pemimpin Indonesia dari masa ke masa. Khusus tentang ingatan kolektif, ia menuliskan sebagai berikut contoh seputar politik pencitraan Pak Sukarno:</p>
<p>Pada tahun 1920-an Sukarno sudah memilih peci hitam sebagai bagian dari pencitraan kerakyatan, ia menyatukan diri dalam gerakan besar Melayu, bukan gerakan besar Jawa karena ia melihat bahwa Jawa adalah subkultur dari akar Melayu. Makanya ia memilih peci. Pemilihan peci ini dilakukan di Bandung ketika ia melihat tukang sate yang telanjang kaki, telanjang dada hanya pakai kolor tapi mengenakan peci. Ia melihat banyak rakyat Djakarta (dulu Batavia) mengenakan peci, peci ini asalnya dari tarbuz yang banyak dikenakan orang Turki, saat itu sedang ramai gerakan muda Kemal Pasya yang mengenakan tarbuz sebagai lambang nasional rakyat Turki.</p>
<p>Tahun 1945 Sukarno memilih baju model safari dengan kantong-kantong ala perwira, ia reka-reka sendiri model baju ini, kelak rakyat mengenalnya model ‘Baju Sukarno’ penggunaan baju ini ia ukur dengan perkembangan suasana batin jaman yang sedang mengalami gejolak revolusi, dalam masyarakat yang kacau, rakyat banyak butuh pegangan, dan satu-satunya pegangan yang bisa dijadikan tuntunan adalah “Ingatan Kolektif” dengan dasar ingatan kolektif inilah Sukarno memerintahkan Sudiro untuk mencari wartawan foto yang tiap hari harus memoto gaya Sukarno, foto-foto ini kemudian dijadikan alat hegemoni untuk terus membangun ingatan kolektif rakyat “ingat Sukarno, ingat revolusi kemerdekaan”. <em>(http://anton-djakarta.blogspot.com)</em></p>
<p>Bro en Sis ‘penggemar’ gaulislam, mungkin kamu sekarang juga sedang berusaha mencetak ‘ingatan kolektif’ bagi kawan-kawanmu, menegaskan bahwa dirimu adalah begini dan begitu sesuai dengan keinginanmu. Sama seperti para pemimpin dunia (termasuk pemimpin di negeri ini) atau pejabat lainnya, atau bisa juga para seleb yang juga melakukan pencitraan terhadap dirinya agar dikesankan oleh banyak orang sesuai dengan harapan dan tujuannya. Waduh, pantesan pencitraan kian gencar menjelang pilkada atau pemilu ya? Meski Pemilihan Presiden masih dua tahun lagi, tapi kampanye pencitraan sudah dimulai sejak sekarang atau bahkan hari-hari sebelumnya dengan tujuan untuk membentuk “ingatan kolektif”. Hmm… sebuah proyek besar tanpa makna jika pencitraan berubah jadi penipuan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Citra diri remaja muslim</strong></p>
<p>Remaja muslim adalah remaja taat syariah, remaja pejuang dakwah, dan remaja yang siap menjadi pemimpin umat di masa depan. Citra diri seperti ini yang harus diperhatikan dan diupayakan. Bukan citra diri sebagai remaja hedonis, bukan citra diri sebagai remaja sekular, apalagi identik dengan remaja doyan maksiat. Naudzubillah, amit-amit tujuh turunan tujuh tanjakan (capek dong jalannya ya? Hahaha… **apa hubungannya?)</p>
<p>Namun jika melihat kenyataannya, kita wajib prihatin. Banyak remaja muslim yang minder dengan keislamannya. Mereka berusaha membentuk identitas lain di luar dirinya, bahkan di luar ajaran Islam sebagai Din-nya. <em>So</em>,  rasa-rasanya benar banget apa yang disampaikan Ibnu Khaldun tentang perilaku bangsa-bangsa yang kalah, “<em>”Yang kalah cenderung mengekor yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah.”</em></p>
<p>Sobat muda muslim, kembali kita tengok judul buletin gaulislam di pekan ke-237 ini, “Buka Topengmu, Sobat!” Ya, dengan judul ini memang ingin mengajak (dan sekaligus menyentil) kamu untuk interospeksi, dan syukur-syukur bisa nyadar. Nggak usahlah dirimu disulap untuk menjadi orang lain. Dirimu tetaplah dirimu, apa adanya saja. Tak perlu bersandiwara di depan banyak orang dengan tujuan untuk mendapatkan simpati atau imej tertentu bahwa kamu begini dan begitu, sementara pada kenyataannya kamu tidaklah seperti yang kamu citrakan. Bahaya, sobat! Bisa blunder buat kamu sendiri. Sumpah!</p>
<p><em>So</em>, tak perlu menggunakan topeng agar terlihat manis kalo niatnya buat mengelabui orang. Sebab, Kamu yang sejatinya jutek, judes bahkan sadis bisa ditutupi dengan topeng manis, ramah, dan bahkan baik hati. Mungkin saja sementara waktu orang bisa ‘tertipu’ dengan penampilan dirimu, tetapi suatu saat pasti kebongkar juga kan belangnya dirimu? Mungkin saja kamu bisa menipu banyak orang dengan penampilan dirimu di balik topeng, tetapi ingat tidak semua orang bisa ditipu. Siapa tahu malah ada yang berani membongkar keburukanmu yang kamu sembunyikan di balik topeng indahmu itu. Percayalah!</p>
<p>Maka yang hebat adalah menyulap dirimu jadi muslim sejati, baik penampilan maupun pikiran dan perasaanmu. Jadikan Islam sebagai jalan hidupmu. Maka, segala sifat jelekmu akan dikikis dengan Islam. Itulah sebaik-baik penampilan dengan niat untuk menunjukkan identitas islammu dengan cara yang benar dan baik untuk menggapai ridho Allah Swt. Amiin. <strong>[Dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/buka-topengmu-sobat" target="_blank">Buletin Remaja gaulislam</a>, edisi 237/tahun ke-5, 7 Mei 2012]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/05/buka-topengmu-sobat/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1634&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/05/buka-topengmu-sobat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bete? Ngaji Aja!</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/04/bete-ngaji-aja/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/04/bete-ngaji-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 07:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bete]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1628</guid>
		<description><![CDATA[Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, sebelum bicara tentang makna hidup, kita kenalan dulu, apa sih yang disebut hidup itu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.net" target="_blank"><strong> O. Solihin</strong></a></p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/Halaqah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1629" title="Halaqah" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/Halaqah-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Kamu pernah baca buku yang memotivasi kalo lagi bete diminta untuk nulis? Ya, isinya cukup bagus tuh, karena bisa ngasih solusi. Nah, kalo di buku yang saya tadi tanyakan menawarkan solusi bahwa kalo lagi bete nulis aja (ini juga baik kok, asal isi tulisannya bener), maka saya menawarkan kalo kamu didera rasa bete, ya ngaji aja.</p>
<p>Sobat muda muslim, kalo lagi bete rasanya emang nggak enak ati ye. Bawaannya uring-uringan mulu, kepala nyut-nyutan, hilang <em>mood</em> deh. Terus sebel juga pas ngeliat wajah-wajah yang kita nggak sukai. Lihat si anu langsung mual (karena wajahnya tiba-tiba aja agak mirip-mirip <em>septic tank</em>). Phew! Pokoknya kalo lagi bete rasanya hilang semangat tuh. Lemes! Mau ngapa-ngapain juga bawaannya males aja. Jadinya, rasa bete selain jadi beban kita, juga bikin kita nggak kreatif.</p>
<p>Kalo kita kena <em>sindrombete</em>, itu karena kita kehilangan sesuatu yang bisa bikin kita seneng ati. Mungkin perlu ditanyain sama diri kamu sendiri, kira-kira apa yang bikin kamu bete. Mungkin tentang teman yang marahan sama kamu. Bisa juga bejibunnya tugas-tugas sekolah yang kayaknya kagak ada abisnya. Suasana rumah yang berantakan; bukan cuma berantakan kondisi fisiknya, tapi juga amburadul suasana hati para penghuninya. Ayah bawaannya marah-marah mulu, ibu kian kecanduan nonton sinetron aja, adik juga terus rewel. Duh, bener-bener bikin pusing!</p>
<p>Eh, bisa juga bikin bete kalo kamu nggak ada kegiatan di luar rumah, lho. Ngadem seharian di rumah mulu bisa bikin <em>boring</em>. Apalagi seharian nggak ada kawan yang nyapa. Wuih, dunia rasanya sempit bin sumpek, dan kita merasa satu-satunya penghuni yang jadi korban. Nggak ada ruang sedikit pun untuk berdiri atau sekadar bernafas. Semua kenyataan ini bikin sesak dada kita. Memenuhi semua ruang perasaan dan pikiran kita. Walah, gawat banget tuh.</p>
<p>Sobat muda muslim rahimakumullah, kegiatan kita yang itu-itu aja dan bertemu dengan kawan-kawan kita yang tampangnya udah sering kita kenal adakalanya bisa bikin bete, lho. Tentu, jika kegiatan itu nggak bikin kamu merasa tertantang untuk membuatnya lebih seru dan dinamis. Sama bikin bosennya kalo ketemu temen-temen kita yang udah kita apal banget, tapi dengan kualitas pertemuan yang jalan di tempat alias nggak meningkat. Setiap ketemu cuma ditanyain hal-hal yang formal doang; gimana tugas yang kemarin diberikan? PR udah dikerjain belum? dsb. Nggak pernah basa-basi nanya kabar kamu; kondisi fisik dan mental, keluarga, dan juga tentang kegiatan dirimu hari ini, misalnya.</p>
<p>Yup, gimana pun juga, kita butuh teman dan orang yang bisa memberikan warna dalam hidup kita supaya kita nggak cepet <em>boring</em> bin bete dalam ngejalanin hidup ini. Ada yang bisa memberikan sentuhan-sentuhan untuk pikiran dan perasan kita dengan beragam informasi en kegiatan yang menyenangkan. Tul nggak?</p>
<p>Nah sobat muda muslim, jika kamu udah mulai merasa bete karena alasan-alasan tadi, dan mungkin juga alasan lainnya yang kebetulan belum sempat diungkap di sini, bolehlah coba untuk ikutan ngaji aja.</p>
<p>Ngaji? Nggak salah neh? Bukankah malah tambah bikin bete tuh kegiatan? Ah, nggak usah ngambek en <em>nepsong</em> dulu dong. Mendingan cobain aja. Nggak rugi kok kalo kamu aktif ngaji. Malah bisa bikin enak ati. Karena apa? Karena kita dibimbing untuk ngerti tujuan hidup kita. Kalo udah ngerti tujuan, apalagi makna hidup kita, maka kita ibarat udah menemukan peta jalan hidup.</p>
<p>Terus, berdasarkan survei kecil-kecilan nih, belum ada tuh anak ngaji yang bawaannya sutris melulu. Jarang ditemukan (atau memang nggak ada) anak ngaji yang kerap melamun en malas ngapa-ngapain. Kalo pun ada, biasanya tuh bocah sulit nyetel dengan komunitas anak ngaji. Kenapa sulit nyetel? Bisa aja niat gabungnya nggak mantep. Jadi masih angin-anginan. Tapi insya Allah kalo kita mantep, rasa-rasanya nggak bakalan sampe bete ikut ngaji. Betul lho.</p>
<p>Oke deh, mungkin di antara kamu ada yang bertanya, kenapa dengan ngaji bisa ngilangin rasa bete? Bener kok. Mending ikut ngaji aja daripada ikut geng motor (hehehe…). Emang apa aja sih keuntungan kalo kita ngaji dan ikut gabung dengan anak ngaji? Ini nih jawabannya:</p>
<p><strong>Mengajarkan makna hidup</strong></p>
<p>Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, sebelum bicara tentang makna hidup, kita kenalan dulu, apa sih yang disebut hidup itu? Hm&#8230; hidup dapat didefinisikan dari dua aspek, lho. <em>Pertama,</em> aspek biologis dan <em>kedua,</em> aspek sosiologis. Dari aspek biologis, hidup (<em>al-hayah</em>) seperti diungkapkan oleh Ghanim Abduh dalam <em>Naqdhul Isytirakiyah al-Marksiyah </em>(<em>Kritik terhadap Sosialis-Marxis</em>) adalah sesuatu yang <em>maujud</em> (ada) dalam makhluk hidup (<em>asy-syai‘u al-qaa‘im fi al- ka‘ini al-hayyi</em>).</p>
<p>Dalam pengertian ini, hidup dipahami sebagai esensi alias intisari yang membuat sesuatu menjadi hidup, yang membedakannya dengan benda-benda mati, baik benda itu benda mati secara asli;  kayak batu, pasir, es, air, maupun benda mati dalam arti benda yang sebelumnya berasal dari benda hidup, seperti kayu. Nah lho, moga kamu nggak bingung. Ehm&#8230;</p>
<p>Hidup, dengan demikian, nampak dan eksis dengan berbagai tanda-tandanya, seperti kebutuhan akan nutrisi, gerak, peka terhadap rangsangan, pertumbuhan, dan perkembangbiakan. Nah, coba rasakan sekarang, apakah kamu memiliki ciri-ciri tadi? Pastinya kalo masih hidup punya ciri-ciri itu. Kalo nggak? Berarti siap-siap disolatkan aja deh hehehe&#8230;</p>
<p>Lawan dari hidup dalam pengertian biologis ini, adalah mati. Yakni tiadanya atau hilangnya tanda-tanda kehidupan pada sesuatu. Maka, batu adalah benda mati karena tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan padanya. Demikian pula seseorang yang telah membujur kaku di kamar jenazah disebut telah mati, karena telah hilang darinya tanda-tanda kehidupan yang semula dimilikinya. Nah, yang lagi baca ini, masih hidup kan? Gubrakzz..!</p>
<p>Oya, kalo tadi secara biologis, sekarang berdasarkan sosiologis, yakni hidup berkaitan erat dengan segala perbuatan manusia yang terwujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya. Dengan pandangan yang demikian, hidup berarti menyangkut seluruh aktivitas manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain. Ketika manusia melakukan aktivitasnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain, berarti dia telah melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Artinya, dia telah menjalani atau “mengisi” hidupnya.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana cara mengisi hidup ini? Sebelum ke sana, kita perlu jawab pertanyaan: untuk apa sih kita hidup? Nah, ini baru deh nyampe ke persoalan yang ada hubungannya dengan manfaat ngaji sebagai solusi antibete.</p>
<p>Begini sobat, kalo kita ngaji tentang Islam, nanti bakalan diajarkan tuh tentang keberadaan kita di dunia ini. Dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dunia (sekaligus dengan cara apa ngisinya), dan akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini. Kalo ditanya begini, kamu jangan ngeles dengan ngasih jawaban kayak lagu lawas ini: <em>“Jangan ditanya, kemana aku pergi..”</em> Hehehe (maksain banget nggak seh?)</p>
<p>Sobat muda muslim, kayaknya kita kudu mulai serius mikirin soal hidup ini. Tapi juga nggak perlu tegang banget. Soal hidup ini, Allah Swt. Berfirman (yang artiya):<em>“Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” </em><strong>(QS al-Baqarah [2] : 21)</strong></p>
<p>Nah, kalo kita nggak ngaji atau ogah belajar, nggak bakalan tahu tentang makna hidup ini. Itu sebabnya, kalo kita udah tahu bahwa kita adalah makhluk Allah dan diminta untuk menyembahNya sekaligus bertakwa, maka dijamin kita nggak bakalan bete dalam hidup ini. Sesulit apapun kehidupan yang kita jalani, kita bakalan menikmatinya dengan penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah. Insya Allah tidak akan pernah merasa bete lagi.</p>
<p>Jadi, yuk kita ngaji biar tambah cerdas, en tentunya nggak bakalan bete lagi dalam menjalani hidup ini. Nggak usah ditunda-tunda lho, takut keburu meninggal dan nggak sempet lagi beramal baik. Nyesel deh nantinya. Itu sebabnya, Rasulullah saw. telah bersabda: <em>“Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan. Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas dunia.” </em><strong>(HR Imam Bukhari dan Muslim)</strong></p>
<p><strong>Memberikan ketenangan</strong></p>
<p>Komunitas anak ngaji memungkinkan kita kagak nyeleweng dari ajaran Islam. Aktivitas seks bebas dijauhi, dengan narkoba nggak bakalan coba-coba make, termasuk malu berbuat kriminal. Dalam komunitas ini, kamu pun bisa menjalin hubungan baik dengan guru agama, dengan kakak pembina pengajian, dengan teman sebaya, keluarga, bahkan dengan kawan yang bukan berasal dari sekolah kita. Kawan kita jadi banyak dan hubungan yang terjalin di antara kita dihiasi dengan semangat kebersamaan dalam Islam. Asyik bukan? Coba, gimana nggak tenang hidup ini. Sayang banget kalo sampe dilewatkan begitu saja.</p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, jadi mulai sekarang, buat kamu yang belum ikutan ngaji ada baiknya memutuskan untuk segera ikut ngaji dan gabung dengan komunitas anak ngaji. Insya Allah akan memberikan ketenangan yang berarti. Pikiran tenang, karena informasi yang masuk semuanya bermanfaat, nggak bakalan membuat bingung dan nggak takut muncul pernyataan atau melakukan perbuatan yang melanggar aturan masyarakat, apalagi aturan Allah Swt. Hati pun ikut tenang karena nggak dikotori dengan perasaan-perasaan murahan macam hasad, dengki, iri hati, sombong. Kalo pun tiba-tiba muncul penyakit hati itu, insya Allah akan ada penawarnya. Kita bisa menyembuhkan sendiri, atau minta bantuan teman lain. Kita bisa berbagi waktu dan perhatian untuk saling menasihati. Semoga ya.</p>
<p><strong>Menumbuhkan kreativitas</strong></p>
<p>Kalo udah kreatif, insya Allah nggak bakalan bete deh. Karena pikiran dan perasaan kita terus “on”, bahkan nggak ada matinya. Nah, dengan gabung di komunitas anak ngaji, kita bakalan bisa mengukur dan menilai peran apa yang bisa kita berikan untuk komunitas ini. Kita bisa ikut berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas penuh arti dan memainkan peran penting. Percaya atau tidak, sambil jalan kamu bakalan bisa ambil hikmahnya. Salah satunya, bisa mempelajari dan mempraktikkan cara-cara menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dan menentukan sasaran hidup.</p>
<p>Bener lho, bergaul bersama dengan komunitas anak ngaji dan ikut serta dalam beragam kegiatan yang digelar, bikin kita bisa lebih kreatif dalam mengatasi persoalan hidup. Maklumlah, yang namanya ngurus kegiatan itu berarti rela mencurahkan segala upaya kita untuk kemajuan dan kepentingan bersama. Di sinilah kreativitas akan tumbuh. Bahkan bisa lebih mendewasakan kita dalam bersikap. Nggak percaya? Ayo gabung dengan komunitas anak ngaji! Insya Allah nggak bakalan nyesel. Pasti!</p>
<p>Oya, kalo kamu tujuannya cuma pengen dapetin kreativitasnya aja memang bisa di mana pun. Tapi masalahnya, kita hidup bukan cuma untuk mendapatkan kreativitas, namun jauh yang lebih penting dan utama adalah tercapainya ridho Allah Swt. Itu sebabnya, ilmu dan kreativitas aja nggak cukup kalo kamu nggak beriman. Bakalan sia-sia deh amalannya. Karena meski bermanfaat bagi manusia (apalagi kalo nggak bermanfaat?), tapi di hadapan Allah malah nggak ada apa-apanya. Kok bisa? Karena nggak dibangun dengan niat yang kuat karena Allah. Selain itu caranya salah dan isinya malah bertentangan dengan Islam. Kalo pun isinya rada bagus (maksudnya mubah deh seperti kreatif dalam belajar secara umum), tapi jadi kurang “bergizi” karena nggak dilandasi dengan keimanan yang mantap.</p>
<p>Jadi intinya sih, kita pengen meraih yang boleh dibilang nyaris mendekati kesempurnaan deh. Nggak ada salahnya kan? Meski mungkin kalo sempurna banget nggak bisa juga. Karena kita masih manusia dan gabung dengan komunitas manusia juga. Bukan malaikat. Itu sebabnya yang paling mungkin adalah waspada dengan cara senantiasa mendekati dan berusaha untuk dekat-dekat dengan kebenaran dan komunitas yang cinta kebenaran.</p>
<p>Jadi, kalo ikut ngaji en gabung dengan anak ngaji, selain bisa memunculkan kreativitas, juga punya ilmu dan ketakwaan. Maka, tentu saja kreativitas yang dihasilkannya pun adalah kreativitas yang sangat bermanfaat. Baik bagi dirinya sendiri, umat manusia dan juga dinilai sebagai amalan baik oleh Allah Swt. Tul nggak sobat?</p>
<p><strong>Memupuk jiwa sosial</strong></p>
<p>Islam mengajarkan untuk saling menolong dalam kebaikan. Menolong teman yang sedang dalam kesusahan adalah tanggung jawab kita dan itu perbuatan yang mulia. Keberadaan orang lain di sekitar kita jangan dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga kudu diperhitungkan. Kalo mereka membutuhkan uluran tangan kita, ya kita kudu siap menyingsingkan lengan baju sebagai bentuk kepedulian dan langsung menolongnya. Sabda Rasulullah saw.: <em>“Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan di dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari Kiamat.” </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Nah, dengan terpupuknya jiwa sosial kita, insya Allah kita nggak bakalan lagi merasa bete kalo kita sedang dalam keadaan susah. Dengan menengok ke kalangan bawah, ternyata kita masih bisa makan dan minum dengan layak ketimbang mereka. Itu artinya, nggak adil kalo kita masih bete dengan berkeluh kesah soal hidup. Bahkan sebaliknya, kita akan menolong mereka yang kondisinya lebih buruk dari kita. Jadi, kalo kita nggak ngaji, mana tahu soal ini.</p>
<p>Jiwa sosial kita kian terlatih bagus dengan ikut ngaji dan gabung dengan komunitas anak ngaji. Karena apa? Karena kita diajarkan dalam pengajian itu untuk peduli dengan sesama. Sikap seperti ini akan terus tumbuh manakala kita langsung mengaplikasikannya dengan benar dan baik. Ketika mengetahui teman ngaji sakit, kita nggak sekadar mendoakan kesembuhannya. Tapi sebisa mungkin hadir di sampingnya untuk membantunya. Minimal adalah menghiburnya supaya ia kembali semangat dan tidak terbebani dengan rasa sakitnya.</p>
<p>Selain dengan anak ngaji, jiwa sosial kita ditampilkan juga di masyarakat secara umum. Misalnya, kalo kebetulan di sekolah ada temen-temen dari kalangan keluarga miskin, maka bisa kita coba bantu mereka. Bisa kita sendiri turun dengan memberikan dana, bisa pula kita melobi ke pihak sekolah untuk meringankan biaya pendidikan temen-temen kita itu. Bahkan bila perlu mencari donatur lain yang bisa mengucurkan dananya bagi temen-temen kita. Insya Allah, pelajaran ini bisa sangat berharga. Apalagi karena jiwa sosial kita bukan untuk mencari pujian dari manusia, tapi pujian langsung dari Allah Swt. Sehingga insya Allah lebih bernilai dan berharga.</p>
<p>Oke deh, mulai sekarang, nggak ada alasan untuk ogah bin malas ikut ngaji dan gabung dengan komunitas anak ngaji. Kita tunggu deh partisipasi kamu bersama komunitas anak ngaji. Insya Allah nggak bakalan bete.</p>
<p><strong>Memantapkan stabilitas</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, kalo kita ngaji dan ikut bergabung dengan <em>genk</em> anak ngaji, insya Allah bisa membuat hidup kita stabil. Stabil dalam pengertian bahwa kita bakalan bisa jalan di satu rel. Kalo pun ada kendala dalam masalah kestabilan, bisa langsung ditangani dan tertangani. Nggak bakalan dibiarkan berantakan (kecuali kalo pembinaan dan manajemen di komunitas pengajiannya juga amburadul, ih, sayang banget ya?)</p>
<p>Siapa pun orangnya pasti mendambakan kestabilan dalam hidupnya. Kita-kita aja kalo bisa memilih dalam hidup ini pengennya pasti yang aman-aman aja kan? Nggak ada kendala dengan urusan kesehatan, ekonomi, dan juga pengen stabil dalam pemikiran. Nggak goyah meski banyak kendala. Nggak bakalan lumer semangatnya meski banyak tekanan. Tetap tegar dan stabil dalam kondisi apa pun. Saya yakin, semua orang pasti mendambakan dan menginginkannya. Buktinya, ada semboyan: “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo”. Tapi, mungkinkah bisa terwujud dalam kehidupan? Mungkin saja bisa, tapi kalo nggak ditanam dengan landasan keimanan, jadinya hambar en kurang asyik, gitu lho.</p>
<p>Oya, jangan lupa, yang perlu dicermati juga adalah biar ngaji tetep enjoy dan nggak malah bikin bete (baik bagi yang udah ngaji maupun buat yang belum ngaji), kita bisa mengemas pengajian itu dengan asyik dan menarik. Bukan apa-apa, karena kita ingin agar aktivitas ngaji terasa enjoy dan akhirnya merupakan kebiasaan kita. Ujungnya, kita akan dibentuk oleh kebiasaan kita.</p>
<p>Nah, kalo ngaji udah jadi kebiasaan kita, maka kita akan terbentuk dengan pola yang diajarkan di pengajian. Lihat deh temen-temen di pesantren, meski awalnya harus beradaptasi dengan lingkungan barunya, tapi lama kelamaan ia malah akan terbentuk dengan kebiasaan akibat bersentuhan dengan lingkungan barunya itu. Kebiasaan baik tentunya. Inilah yang ingin saya tanamkan bahwa ngaji itu asyik, bahwa belajar itu menyenangkan, dan mencari ilmu nggak serasa dibebani berton-ton doktrin. Plus, tentunya nggak bete dong ya.</p>
<p>Sobat gaulislam di mana saja berada, mulai sekarang, kita bisa ciptakan suasana menyenangkan dalam aktivitas pengajian. Kita bisa bangun bersama aktivitas mencari ilmu ini dalam kerangka yang enak dilakoni. Kita bakalan punya sahabat yang peduli, guru yang melindungi, dan kajian yang enak dikunyah. Itu semua bisa kita dapatkan dengan terus mengembangkan inovasi baru dan menanamkan bahwa ngaji itu nggak berat dan nggak bikin bete, tapi justru malah mengasyikan dan menyenangkan. Yuk, ngaji yuk! Ditunggu lho&#8230; <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/bete-ngaji-aja-2" target="_blank">Buletin Remaja gaulislam</a>, edisi 236/tahun ke-5, 30 April 2012]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/04/bete-ngaji-aja/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1628&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/04/bete-ngaji-aja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Korbankan Wanita!</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/04/jangan-korbankan-wanita/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/04/jangan-korbankan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 02:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1624</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini kaum wanita makin sering bicara soal martabat dan persamaan derajat dengan laki-laki (termasuk dalam RUU KKG).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.net" target="_blank"><strong>O. Solihin</strong></a> <strong> </strong></p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/gal455476196-257x300.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1625" title="gal455476196-257x300" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/gal455476196-257x300.jpg" alt="" width="257" height="300" /></a>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, ketika akan menulis edisi ini, saya jadi inget tulisan saya waktu jadi editor di Buletin STUDIA 12 tahun silam—tahun 2000 (ini juga buletin remaja yang saya kelola bersama kawan-kawan sebelum saya dan kawan-kawan lainnya mengelola gaulislam di tahun 2007). Ya, rasa-rasanya cocok kalo ditulis ulang (tentu dengan beberapa update informasi) untuk merespon gonjang-ganjing pembahasan RUU KKG (Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender) di DPR yang diprotes banyak kaum muslimin. Wah, gaulislam ngebahas yang serius nih? Iyalah. Kan kalo ngebahas soal musik udah, ngebahas soal boyband SuJu (Super Junior) yang berisikan cowok-cowok keren asal Korea yang bikin histeris para ELF (sebutan untuk para penggemar Super Junior) karena akan manggung selama tiga hari di Indonesia akhir April 2012 ini, gaulislam udah bahas secara umum tentang musik di edisi 231 dan edisi 233. Silakan dibaca lagi ya. Insya Allah mewakili.</p>
<p>Nah, sekarang gaulislam bakalan ikut peduli soal harkat dan martabat kaum perempuan. Ciee.. bukan karena setuju feminisme lho, tapi karena Islam memang mengajarkan kita memuliakan wanita. Tetapi sepertinya saat ini, fakta menunjukkan bahwa wanita diciptakan untuk menyenangkan laki-laki semata. Di tempat-tempat hiburan, perempuan telah menjadi barang dagangan yang bisa menggairahkan bagi laki-laki. Tak ada tempat hiburan yang &#8216;menjual&#8217; laki-laki, <em>kan? </em>Malah Demosthenes (orator hebat di masa Yunani Kuno) pernah berkata, &#8220;Kita perlukan gundik untuk memuaskan kesenangan kita, dan istri untuk melahirkan keturunan kita.” Halah!<em></em></p>
<p>Sejauh ini fakta telah menempatkan wanita pada posisi yang membuatnya terpuruk. Di jaman dulu, wanita ditempatkan pada posisi yang rendah. Boleh dikatakan, tak layak hidup. Seperti apa yang pernah dilakukan oleh para ayah di masa jahiliyah yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Masa itu terus berlanjut seiiring dengan makin berkembangnya ilmu dan teknologi, yang membuat penindasan itu bervariasi dalam model-model yang tak kalah sadis.<img title="More..." src="http://www.gaulislam.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p>Coba deh, anak cewek pasti hapal bener dengan berbagai kasus pelecehan seksual, misalkan. Sampai sekarang pelecehab seksual masih hangat untuk dibicarakan, namun terus terang aja, tak ada penyelesaian yang benar dan baik. Wanita seolah tetap terpuruk dalam dunianya yang serba terbatas. Setelah itu, semua masalah ditumpahkan dan wanita jadi penyebab semua itu. Anak cewek menerima? Tentu saja sewot. Meski tanpa disadari mereka sendiri yang sebenarnya menciptakan kondisi itu dengan menyukai aturan yang berlaku di masyarakat sekarang ini. Ibaratnya, ia merasa jijik kalau harus masuk WC, namun karena butuh dan terbiasa, akhirnya dinikmati juga. Bener nggak, Non?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Feminisme; racun atau madu?</strong></p>
<p>Sekarang ini kaum wanita makin sering bicara soal martabat dan persamaan derajat dengan laki-laki (termasuk dalam RUU KKG). Ide-ide feminisme pun berkembang dengan lancar dan tampak mendapat sambutan yang antusias dari—tentu—kalangan wanita juga laki-laki yang setuju ide feminisme. Mereka berpikir bahwa sudah saatnya untuk menyamakan peran dengan laki-laki. Meski akhirnya tanpa disadari narus mengorbankan harga dirinya. Memang, tak semua tuntutan persamaan itu salah, Non. Sebab, dalam beberapa hal boleh-boleh saja, seperti dalam masalah pendidikan, anak cewek boleh bersaing dengan laki-laki.</p>
<p>Sayangnya, emansipasi yang digembar-gemborkannya untuk mengangkat dan membebaskan wanita dari perbudakan malah menjerumuskannya pada perbudakan baru. Pada masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, wanita telah menjadi komoditas alias barang yang diperjual-belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang murah atau dieksploitasi untuk menjual barang. Barang jenis industri mutakhir seperti mode, kosmetik dan hiburan, hampir sepenuhnya memanfaatkan &#8216;jasa&#8217; wanita. Pendidikan dan media-massa menampilkan citra wanita yang penuh <em>glamour</em>—sensual dan fisikal. Penuh sensasi, dan tentu nggak ketinggalan, bodi! Wuih, kasihan amat.</p>
<p>Pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen. Coba bayangin, betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau tak hadir di sampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen.</p>
<p>Akibat lanjutnya, pelecehan seksual manjadi trend tersendiri. Digandrungi sekaligus dikecam. Saling tunjuk hidung antara kaum cowok dan kaum cewek sudah biasa. Sama-sama tak mau disalahkan. Kaum pria protes ketika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual. Tak cukup sampai di situ, ternyata kaum wanita juga menuduh para cowok karena tak mampu menahan nafsu. Tak ada yang mau kalah dan disalahkan. Jadi gimana dong? “Tuduhlah aku sepuas hatimu…” *jadi ngedangdut gini nih! Halah!</p>
<p>Namun, disadari atau tidak, wanita telah menjerumuskan dirinya ke dalam kubangan yang penuh lumpur, ditambah dengan kondisi lingkungan masyarakat saat ini yang tak ramah bagi seorang wanita. Gimana nggak ramah, setiap hari kondisi masyarakat sepertinya memberikan justifikasi alias pembenaran terhadap apa yang dilakukan kaum Hawa saat ini. Kondisi masyarakat bahkan menuntut kaum wanita untuk berbuat seperti itu. Tentu sangat berbahaya menciptakan kondisi yang tak sehat buat kaum wanita. Walhasil, emansipasi ternyata memberikan racun ganas yang mematikan. Kasihan, ya?</p>
<p>Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, kalo kita melihat draft RUU KKG, rasa-rasanya pantas bagi kita yang mukmin mengkritisinya. Definisi gender dari naskah RUU KKG di DPR RI yang beredar:<em> </em><em>“Gender adalah pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya yang sifatnya tidak tetap dan dapat dipelajari, serta dapat dipertukarkan menurut waktu, tempat, dan budaya tertentu dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin lainnya.” (pasal 1:1)</em></p>
<p>Menurut Dr Adian Husaini, peneliti INSISTS, dalam <em>Catatan Akhir Pekan</em>-nya yang ke-333, 8 April 2012 lalu menuliskan: “Sepintas, definisi semacam itu seolah-olah tampak biasa-biasa saja. Padahal, jika dilihat dalam perspektif ajaran Islam, konsep gender dalam draft RUU tersebut jelas-jelas keliru.  Sebab, pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam Islam bukanlah merupakan hasil budaya, tetapi merupakan konsep wahyu. Ketika Rasulullah saw. melarang seorang istri untuk keluar rumah karena dilarang suaminya – meskipun untuk berziarah pada ayahnya yang meninggal dunia – larangan Nabi itu bukanlah budaya Arab. Tetapi, itu merupakan ajaran Islam yang berdasarkan kepada wahyu Allah.”</p>
<p>Kemudian Dr Adian Husaini menuliskan kembali dalam catatannya: “Sebagai contoh, perempuan ulama fiqih terbesar, yakni Siti Aisyah r.a., tidak berbeda pendapatnya dengan pendapat para sahabat laki-laki dalam berbagai masalah hukum yang kini digugat kaum feminis. Belum lama ini telah terbit sebuah buku karya Sa’id Fayiz al-Dukhayyil,<em> Mawsu’ah Fiqh ‘Aisyah Umm al-Mu’minin, Hayatiha wa Fiqhiha</em>, (Dar al-Nafes, Beirut, 1993), yang menghimpun pendapat-pendapat Siti Aisyah r.a. tentang masalah fiqih. Hingga kini, ribuan ulama dan cendekiawan Muslimah tetap masih aktif menentang ide-ide ekstrim dari para feminis dan aktivis KKG yang terinspirasi atau terhegemoni oleh pandangan hidup sekular-liberal atau Marxisme.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sosok wanita ideal dalam Islam</strong></p>
<p>Rasulullah saw. membuat empat buah garis seraya berkata: “Tahukan kalian apakah ini?&#8217; Mereka berkata: &#8216;Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.&#8217; Nabi saw.. lalu bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad saw.,  Maryam binti &#8216;Imron, dan Asiyah binti Mazahi.&#8217; </em><strong>(Mustadrak Al-Shahihain 2:497)</strong></p>
<p>Kamu tahu Khadijah? Dialah istri nabi yang pertama dan wanita pertama yang beriman atas kenabian Muhammad saw. Dia pula yang pertama mendapat gelar ummul mukminiin.</p>
<p>Lahir dari kalangan keluarga yang mulia, jujur dan pemimpin. Dibesarkan di kalangan keluarga mulia, terdidik dengan akhlak yang terpuji, bersifat teguh dan cerdik, sehingga kaumnya memanggil <em>thohiroh</em> karena sangat perhatian terhadap akhlak dan kesopanan yang mulia.</p>
<p>Wanita cerdas dan bisniswati yang sukses dalam menjalankan roda-roda usahanya dan sanggup membiayai hampir seluruh dakwah Rasulullah saw. Beliaulah teladan &#8220;Khadijah-Khadijah kontemporer abad ini—yang tengah menggapai angan-angan kosong emansipasi yang telah membuatnya meninggalkan segalanya.</p>
<p>Beliaulah satu-satunya ‘usahawati’ yang terkemuka di jamannya. &#8216;Kerajaan&#8217; bisnisnya meliputi jazirah <em>Arab. </em>Namun tetap rendah hati dan berakhlak mulia, tetap menjaga kesuciannya dan tetap menjadi ibu bagi anak-anaknya—plus menghormati Rasulullah sebagai suami tercintanya meski usia suaminya lebih muda 15 tahun darinya. Namun Khadijah tetap patuh dan taat. Tidak seperti wanita-wanita kantemporer yang egonya tinggi dan cenderung lepas kendali bila sudah berada di papan atas. Bahkan tak segan untuk menjalin ikatan lahir bathin dengan mitra bisnisnya yang laki-laki. Atau malah kedudukannya dipakai untuk mendikte dengan melakukan pelecehan seksual terhadap anak buahnya. Seperti apa yang digambarkan dalam film <em>Disclosure</em>-nya<em> </em>Demi Moore yang meneror bawahannya yang diperankan Michael Douglas (film tahun 1994). ltu di film, tapi tak mustahil hal itu terjadi dalam dunia nyata. Gimana, Non, mungkin kan?</p>
<p>Tahu tentang sosok Asma binti Yazid? Beliau adalah seorang orator, singa podium dari kalangan wanita. Dia bukanlah Megawati atawa aktivis liberal macam Musdah Mulia, dan amat sangat jauh levelnya kalo (boleh) dibandingkan dengan Ayu Ting-Ting atau Trio Macan.</p>
<p>Prestasi dan prestisenya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bener, nggak bohong. Pun pengabdiannya pada Islam telah membuat dirinya disegani. Selain sebagai singa podium, ia juga adalah pejuang yang tabah, wanita terhormat, tergolong ahli pikir dan ahli agama. Bahkan beliau ini dipercaya untuk menjadi delegasi wanita dalam menyampaikan segala uneg-uneg atau permasalahan yang berhubungan dengan para wanita kepada Rasulullah saw. dalam majelis syuro.</p>
<p>Suatu ketika, saat pertemuan Asma melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita. <em>&#8220;Ya Rasulullah. Aku rnewakili kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusia</em><em>—</em><em>laki-laki dan wanita? Namun dalam beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dengan laki-laki. Kami sama-sama beriman dan bertakwa, narnun kami juga merasa iri dengan perbuatan kaurn laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, semantara kami hanya mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mendapatkan pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tak boleh. Bagaimana ini ya Rasulullah?&#8221;</em></p>
<p>Mendengar &#8216;protes&#8217; demikian Rasulullah saw. kaget, meski protesnya tentu saja tak disertai gelar poster dan demo mogok makan. Ternyata, Non, yang diproteskan para muslimah itu bukan keinginan mendapatkan berlian seberat 2 kilogram, atau persamaan hak untuk mendapatkan jabatan eksekutif dari jenjang karir papan atas. Yang mereka tanyakan justru persamaan dalam memperoleh pahala dan menjalankan syariat. Hebat, bener!</p>
<p>Kemudian yang mulai Rasulullah saw. dengan bangga bertanya kepada peserta pertemuan yang lain: <em>&#8220;Pernahkan kalian mendengar pertanyaan yang lebih baik selain soal-soal agama seperti wanita ini?. Ya Rasulullah, kami tidak menyangka dan berpikir wanita itu akan bertanya sedemikian jauh,&#8221;  </em>jawab hadirin kompak dan spontan.</p>
<p><em>&#8220;Wahai Asma&#8217; kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu. Kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan suami kalian (kaurn pria),&#8221;  </em>jawab Rasulullah singkat, namun padat dan bermakna tinggi.</p>
<p>Jawaban tersebut karuan saja menggembirakan hati Asma dan segera ia pulang dan menyampaikan berita itu kepada para wanita. Dan mereka pun menerima dengan senang hati. Tidak banyak bantahan dan tuntutan seperti halnya srikandi-srikandi kontemporer yang ingin berperan ganda, sampai-sampai melalaikan yang wajib dan mengejar yang mubah bahkan makruh dan haram sekalipun. Bisa berabe, Non!</p>
<p>Dua tokoh inilah, yang setidaknya bisa dijadikan sosok ideal wanita muslimah. Kamu juga bisa Non, asal mau mengubah diri. Bener, semua orang juga bisa. Masa’ untuk maksiat aja bisa, kenapa untuk keridhoan Allah nggak mampu? Ayo, kamu bisa!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Islam memuliakan wanita</strong></p>
<p>Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria&#8211;terletak antara wilayah Irak dan Syam&#8211;berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu&#8217;tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan Romawi langsung  digempur. Sedemikian besarnya tentara kaum muslimin hingga diriwayatkan &#8216;kepala&#8217; pasukan berada di Amuriah sedangkan &#8216;ekornya&#8217; berakhir di Baghdad—bahkan masih banyak tentara yang ingin berperang. <em>Fantastic!</em></p>
<p>Untuk membayar penghinaan tersebut 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi pesakitan. Itu wujud perhatian Khalifah (pemimpin negara Islam kepada rakyatnya). Hebat ya perhatian Islam sama rakyatnya. Nggak seperti sekarang, malah mau mengorbankan wanita ke lembah nista melalui RUU KKG. Gawat bin bahaya, pemimpin seperti itu mah.</p>
<p>Dalam Islam, kehormatan manusia baik laki-laki maupun wanita, dijunjung demikian tinggi. Haram hukumnya melanggar kehormatan orang lain. Termasuk tindak pelecehan seksual. Jangankan mencolek, atau bahkan memperkosa, melirik wanita yang bukan mahrom dengan syahwat pun haram hukumnya. Rasulullah pernah memalingkan muka Fudhail karena memandang wanita—yang saat itu menghadap Rasulullah—dengan syahwat.</p>
<p>Namun amat disayangkan, bahwa wanita-wanita sekarang ini cenderung membiarkan dirinya hanyut dalam gelombang emansipasi yang amburadul. Hampir semua bagian ingin direngkuh demi persaingan harga diri dengan laki-laki. Tak peduli meski akhimya harus mengorbankan harga diri. Kamu, jangan begitu, ya Non!</p>
<p>Banyak wanita yang bekerja di sektor industri dengan tidak memperhatikan apakah jenis pekerjaannya sesuai atau tidak dengan kodratnya sebagai wanita. Apakah jenis pekerjaannya itu membahayakan dirinya atau tidak, menjaga kesuciannya atau tidak, mereka sudah tak peduli. Misalkan kerja di pabrik mengoperasikan mesin giling atau bekerja dipengeboran minyak. Sama celakanya menceburkan diri dengan bekerja di bar atau hotel yang bakal merendahkan martabat dan mengotori kesuciannya. Wah, bahaya, Non!</p>
<p>Tapi ironisnya, di saat kaum wanita negeri ni menggembar-gemborkan emansipasi di segala bidang, ternyata orang-orang di Barat sudah mulai meninggalkannya sedikit demi sedikit. Malah ada yang sampai mengkritik para wanita di negerinya yang rela bekerja hingga tak peduli akan kehormatan dirinya. Paling tidak, Anna Rued yang menulis dalam sebuah bukunya—<em>Eastern Mail</em>, ia menyebutkan bahwa &#8220;Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak—yang tidak saja menyalahi kodrat—tetapi bisa menghancurkan kehormatannya.&#8221;<em></em></p>
<p>Nah, dalam urusan wanita ini, lebih jauh Rasulullah telah mengajarkan kepada kita melalui sabdanya:<em>&#8220;Sebaik-baik kalian adalah yang selalu berbuat baik terhadap istri-istri kalian.&#8221; </em><strong>(HR Turmidzi)</strong></p>
<p>Kemudian sabdanya yang lain adalah: <em>&#8220;Takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum, wanita.&#8221; </em><strong>(HR Muslim)</strong></p>
<p>Kata orang, sejarah yang buruk itu memang getir, tetapi banyak orang juga tak bisa belajar dari kegetiran sejarah. Apa maksudnya? Sebagai contoh, kaum wanita sekarang kini tengah dilanda kegetiran hidup, di semua sektor ternyata membuat dirinya tak aman. Semuanya menyisakan masalah bagi wanita dan menempatkannya sebagai korban. Nah, agar tak terus jadi korban lingkungan yang tak ramah ini, maka sudah saatnya para wanita sadar akan &#8216;sejarahnya&#8217; sekarang ini yang amburadul bin kusut. Tidak hanya sadar, tapi juga harus berusaha untuk lepas dari kegetiran hidup itu. Kalau mau bijaksana, tentu harus bercermin kepada Islam.</p>
<p>Kenapa Islam? Karena hanya Islam lah yang telah menempatkan para wanita pada posisi yang seharusnya dan sewajarnya. Islam akan melindungi kehormatan wanita, dan akan memberikan rasa aman, termasuk buat para gadis macam kamu. Hanya saja hal ini kembali kepada kaum wanita apakah mereka ingin menjadi baik atau tetap menjadi korban. Yang jelas Islam telah memberikan segalanya bagi wanita. Dan itu hanya bisa dicapai ketika Islam direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam sebagai sebuah ideologi alias Islam diterapkan sebagai aqidah dan syariat dalam sebuah negara. Tidak seperti sekarang, Islam cuma etalase. Atau cuma simbol belaka, tidak dijadikan sebagai pengatur kehidupan.</p>
<p>Jadi pilih mana, tetap jadi korban atau ikut Islam? Ya, pilih Islam, dan lupakan sistem yang lain! <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/jangan-korbankan-wanita" target="_blank">Buletin Remaja gaulislam</a>, edisi 235/tahun ke-5, 23 April 2012]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/04/jangan-korbankan-wanita/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1624&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/04/jangan-korbankan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional dan Produk Gagal Kapitalisme</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/04/ujian-nasional-dan-produk-gagal-kapitalisme/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/04/ujian-nasional-dan-produk-gagal-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 08:01:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sekular]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1620</guid>
		<description><![CDATA[Kapitalisme udah menggerus kepribadian kita: akhlak yang rusak, termasuk kualitas penguasaan ilmu pengetahuannya yang kurang bagus.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.net" target="_blank"><strong>O. Solihin</strong></a></p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/ujian-nasional22.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1621" title="ujian-nasional2(2)" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/ujian-nasional22-300x236.jpg" alt="" width="300" height="236" /></a>Hari ini, 2,5 juta murid SMA dan SMK mengikuti Ujian Nasional. “Totalnya 2.580.446. Laki-laki 1.281.022 dan Perempuan 1.299.420,” ujar Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Mendikbud), M. Nuh, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (12/4/2012) lalu <em>(detik.com/16/04/2012)</em></p>
<p>Detik.com juga melaporkan bahwa menurut Mendikbud M. Nuh, siswa-siswi itu merupakan murid dari 27 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah sekolah paling banyak ada di Jawa Timur, sebanyak 2.568. Jumlah kelas yang disiapkan untuk ujian ini sebanyak 148.352 ruangan dengan jumlah pengawas mencapai 296.704 orang. Biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengadakan ujian ini total mencapai Rp 600 miliar. Jika dibagi rata-rata, setiap siswa biayanya mencapai Rp 50 ribu.</p>
<p>Tepat di hari pertama Ujian Nasional ini, gaulislam yang secara rutin terbit setiap hari Senin sejak 29 Oktober 2007 lalu pengen ikut meramaikan berita seputar Ujian Nasional. Eh, lebih pas disebut memanfaatkan momen Ujian Nasional kok. Sebab kalo berita udah pasti kalah sama media cetak maupun media elektronik (termasuk internet) yang getol memberitakan pernak-pernik Ujian Nasional. Tulisan khas dari gaulislam adalah bagaimana membahas setiap persoalan yang muncul di tengah kehidupan manusia untuk diberikan penilaian dan solusinya menurut sudut pandang Islam. Ya, sebagai muslim kita memang harus menjadikan Islam sebagai cara hidup, sebagai aturan hidup. Itu sebabnya, sudut pandang kita wajib Islam dalam menilai setiap persoalan, termasuk dalam hal ini adalah Ujian Nasional.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, baca judul gaulislam edisi 234 di tahun ke-5 ini mungkin ada di antara kamu yang berpikir bahwa gaulislam jadi bacaan dewasa banget. Judulnya dipilih kata yang formal sehingga kesannya serius. Lha, memangnya kalo remaja kudu nyantai terus ya? Sekali-kali bolehlah serius. Apalagi kalo gaulislam juga dibaca para guru dan kakak-kakak mahasiswa, kan nggak seru kalo judulnya berbau remaja terus. Tul nggak?</p>
<p>Eh, kok jadi ngelantur sih. Hehehe.. iya. Maksudnya dengan pilihan judul seperti ini gaulislam ingin berbagi informasi dan juga wawasan bahwa Ujian Nasional saat ini, yang dari tahun ke tahun identik dengan kecurangan, terus dilihat dari produk pendidikan ala kapitalisme yang udah nyata di depan kita, ingin mengajak kamu semua merenung. Ya, merenung sejenak. Apa benar sistem pendidikan kapitalisme saat ini menghasilkan manusia seutuhnya? Ya, seutuhnya. Pikiran dan perasaannya dibangun dengan cara yang benar dan baik. Harus kompak antara pikiran dan perasaan. Nggak boleh pikiran bagus tapi perasaannya jelek. Nggak boleh juga perasaannya oke, tapi pikirannya jeblok. Keduanya harus serasi. Sehingga menunjukkan ciri khas sebuah produk peradaban, atau minimal produk khas dari sebuah sitem pendidikan.</p>
<p><strong>Gengsi sekolah</strong></p>
<p>Bro en Sis pembaca setia gaulislam, saya sendiri memang pengajar di sebuah pesantren dan pusdiklat (pusat pendidikan dan latihan) keterampilan. Di kedua tempat ini saya mengajar keterampilan menulis dan jurnalistik. Kemampuan menulis ini harus dipelajari oleh peserta didik sebagai bekal tambahan. Sehingga para santri di pesantren tidak saja memiliki kemampuan dalam tsaqafah Islam dan bahasa Arab, tetapi mereka juga dibekali keterampilan di bidang media (broadcast, clothing, desain grafis, foto dan video)—dan salah satunya adalah materi menulis dan memodifikasi website. Dua keterampilan terakhir ini saya ajarkan untuk para santri di pesantren tersebut. Sementara di pusdiklat keterampilan saya hanya mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalistik untuk semua jurusan yang ada di situ: fotografi dan videografi, desain grafis, teknik komputer dan jaringan serta jurusan menjahit dan tatabusana.</p>
<p>Sebagai pengajar saya memang punya harapan, punya obsesi (yang mungkin sama dengan guru lainnya) bahwa anak-anak didik saya bisa terampil dan berhasil ketika terjun di tengah masyarakat. Begitu pun dengan pihak penyelenggara pendidikan, dari mulai sekolah, kemudian dinas pendidikan di tiap kota/kabupaten, kanwil pendidikan di tingkat propopinsi hingga pemerintah pusat (kementerian pendidikan dan kebudayaan). Pastilah ingin kurikulum yang sudah disusun berhasil diterapkan dan buktinya banyak siswa yang berhasil. Ini wajar. Namun yang tidak wajar adalah berbuat curang. Hanya demi untuk menunjukkan bahwa sekolahnya hebat, yang diukur dari keberhasilan para siswanya yang lulus Ujian Nasional, tak segan pihak sekolah melakukan hal-hal tak terpuji, seperti membiarkan siswanya mencontek, mengintimidasi pengawas ujian, sampai menahan sementara lembar jawaban siswa sebelum dibawa ke dinas pendidikan setempat untuk dikoreksi oleh para guru lalu dibetulkan jika ada siswa yang salah menjawab. Termasuk dalam hal ini untuk ujian lokal, di dalam rapat guru harus ada kesepakatan menambah nilai murid-murid agar bisa masuk kategori naik kelas. Waduh! Buat apa ada ujian bagi siswa jika akhirnya guru yang menjawab soal-soal ujiannya atau nilai yang jeblok lalu ditambah agar masuk batas minimal kriteria kelulusan?</p>
<p>Di tempat saya mengajar memang tidak ada Ujian Nasional. Tetapi saya prihatin dengan berbagai cerita yang disampaikan beberapa rekan pengajar di tempat saya ngajar yang juga menyambi mengajar di beberapa sekolah umum yang tentu saja melaksanakan Ujian Nasional. Mengalirlah cerita seperti yang saya tulis sebelum paragraf ini. Memprihatinkan dan menyedih memang. Bahkan pernah ada seorang bapak yang masygul ketika mendengar cerita dari anaknya yang ikut UN. Sang anak malah dimarahi oleh gurunya gara-gara dia jujur tak mau mencontek. Lembar jawaban yang sedang diisinya direbut sang guru dan diisi oleh guru tersebut. Hadeeuh… demi gengsi sekolah, akhirnya curang, bahkan mengajarkan dan mempertontonkan kecurangan. Oya, mungkin nggak semua sekolah melakukan kekonyolan dan kecurangan, tapi yang pasti banyak yang melakukannya. Ah, menyebalkan. Inilah kondisi kondisi sistem pendidikan kita. Produk gagal dari sistem kapitalisme yang sekular.</p>
<p><strong>Kurikulum yang sekularistik</strong></p>
<p><em>Bro</em>, nggak heran dong kalo kapitalisme mengadopsi sekularistik. <em>Wong</em> sekularisme adalah akidahnya kapitalisme kok. Sebuah sistem pasti akan melahirkan produk sesuai dengan asas yang menjadi landasan ideologinya. <em>So</em>, nggak usah heran kalo kurikulum pendidikan saat ini yang merupakan bagian dari produk sistem pun akhirnya sesuai kepentingan sistem itu sendiri. Jadinya? Ya ikut-ikutan sekuler dong!</p>
<p>Nah, kenapa bisa disebut sekuler? Perlu kita ingetin lagi nih bahwa sekuler itu adalah memisahkan antara agama dan kehidupan. Artinya aturan agama nggak boleh dan bahkan terlarang untuk ikutan ngatur kehidupan dunia. Udah ada jatahnya masing-masing. Nggak boleh saling ikut campur dan saling intervensi. Buktinya, kita bisa nemuin ada orang yang memiliki nama islami, tapi kelakuannya jauh dari ajaran Islam. Berasal dari keluarga Muslim, tapi kehidupannya bertentangan dan bahkan menentang Islam. Ini buah sekularisme, <em>Bro</em>.</p>
<p>Oya, jangan kaget, sekularisme juga ikut menghancurkan pemeluk agama selain Islam, lho. Nggak percaya? Hmm… di negeri-negeri Barat, kini pemeluk agama Nasrani kian nggak taat pada ajarannya karena digerus sekularisme. Di Amsterdam, sebagai misal, 200 tahun lalu, 99 persen penduduknya beragama Kristen. Sekarang, hanya tersisa sekitar 10 persen saja yang dibaptis dan ke gereja. Sebagian besar mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. Waduh!</p>
<p>Di Prancis, yang 95 persen penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Pada 1987, di Jerman, menurut laporan <em>Institute for Public Opinian Research</em>, 46 persen penduduknya mengatakan, bahwa “agama sudah tidak diperlukan lagi.”</p>
<p>Di Finlandia, yang 97 persen Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu. <strong>(Adian Husaini dalam tulisannya di Republika, 27 Juli 2004)</strong></p>
<p>Nah, di negeri kita juga sama. Mungkin kalo di KTP sih pas di kolom agama tercantum Islam. Tapi, berapa persen sih yang taat menjalankan agamanya? Seenggaknya kalo pelaksanaan shalat aja yang jadi ukurannya, berapa persen sih yang rajin shalat? Memang sih harus ada survey. Tapi yang pasti, kalo ngelihat gelagatnya, masyarakat kita juga udah sekuler, lho. Lihat aja produknya saat ini. Siapa sih yang jadi ‘bintang utama’ di acara-acara berita kriminal?</p>
<p>Yap, mereka yang jadi bintang utama itu tangannya diborgol dan mengenakan baju bertuliskan “tahanan”. Banyak di antara mereka yang namanya tuh islami, jelas orang Islam. Tapi, ya kelakuannya udah jauh dari ajaran Islam. Eh, saya nulis gini bukan sok suci lho, tapi sekadar renungan aja ternyata banyak dari kita yang udah jadi sekuler. Benar-benar tragedi, Bro!</p>
<p>Itu sebabnya, jangan heran juga kalo kurikulum pendidikan nasional pun muatannya sekuler, mengejar aspek materi alias materislitik belaka. Alat ukur kesuksesan hanya dinilai dari keberhasilan secara materi. Tengok deh, sekolah bukan semata tempat mencari ilmu, tetapi sudah ‘nyambi’ jadi tempat sosialisasi dan menerapkan gaya hidup seperti yang kerap ditampilkan di banyak tayangan sinetron remaja saat ini. Menyedihkan banget.</p>
<p>Kurikulum pendidikan yang sekularistik itu juga nyata banget dari adanya pembagian sekolah umum dan sekolah agama. Pemisahan ini jelas merupakan bagian dari upaya sekularisme di bidang ilmu pengetahuan. Sebab, yang hebat tuh kalo menghasilkan pelajar yang handal di bidang keterampilan ilmu-ilmu umum, tapi juga beriman dan bertakwa. Ini baru hebat. Sebagai contoh, salah seorang imam mazhab yang terkenal, yakni Imam Abu Hanifah, selain master di bidang ilmu fikih dan tsaqafah Islam, tapi beliau juga pakar di bidang ilmu kimia. Wuih, keren banget kan?</p>
<p>Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, karena udah dibiasakan dipisah-pisahkan aturan agama dan aturan negara, maka akibatnya dalam kehidupan sehari-hari pun nampak jelas perilaku sekular itu. Ngakunya muslimah, tapi keluar rumah nggak pake kerudung dan jilbab. Ngakunya muslim, tapi makan dan minum yang haram. Ah, menyedihkan banget deh. Itu baru soal pakaian dan minuman lho, belum pelaksanaan syariat yang lainnya. Jadi, kita tuh sering ‘malpraktek’ dalam ber-Islam alias melaksanakan ajaran Islam nggak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. dan RasulNya. Gawat!</p>
<p><strong>Masa kegemilangan Islam</strong></p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, untuk mencerdaskan kaum Muslimin dan rakyatnya secara umum, Khilafah Islamiyah menyediakan lembaga-lembanga keilmuan. Islam membangun ribuan al-Katatib, yakni wadah keilmuan untuk mempelajari al-Quran, menulis dan berhitung. Dibudayakan juga diskusi-diskusi keilmuan di masjid-masjid untuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat soal fikih, hadis, tafsir dan bahasa. Bahkan Muqri Rasy’an bin Nazhif ad-Dimasyqi mendirikan lembaga keilmuan Quran (untuk mempelajari al-Quran) pada tahun 400 H di Damaskus. Sementara khusus untuk hadis, didirikan oleh Nuruddin Mahmud bin Zanky, juga di Damaskus. Selain itu, madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universitas) juga didirikan.</p>
<p>Al-Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung (mahasiswa) dari kaum muslimin maupun orang Barat. Selain itu dibangun pula Universitas Mustanshirriyah di Baghdad. Sekadar tahu aja, universitas-universitas ini telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga saat ini melalui berbagai temuan-temuannya, seperti al-Khawarizmi, Ibnu al-Haisam, Ibnu Sina, Jabir bin Hayan, dan lainnya. <strong>(</strong><strong>Muhammad Husein Abdullah, <em>Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam</em>, hlm. 158-159</strong><strong>)</strong></p>
<p>Menurut Ibnu Haukal, di satu kota saja dari kota-kota di Sicilia ada 300 kuttab (serupa dengan sekolah dasar di jaman sekarang). Bahkan ada beberapa kuttab yang luas sehingga satu kuttab bisa menampung ratusan bahkan ribuan siswa. Dalam sejarah disebutkan bahwa Abul Qasim al-Balkhi memiliki sebuah kuttab yang ditempati 3.000 siswa. Kuttab Abul Qasim ini luas sekali sehingga untuk menginspeksi siswa-siswanya dan mengawasi keadaan mereka perlu dengan menunggang keledai karena bila dengan berjalan kaki akan memakan waktu lama <strong>(</strong><strong>Dr. Mustafa as-Siba’i, <em>Peradaban Islam; Dulu, Kini, dan Esok</em>, hlm. 153-154</strong><strong>).</strong> Masih banyak lagi sekolah dasar dan universitas yang dirikan, termasuk yang ada sampai sekarang adalah Universitas al-Azhar di Kairo.</p>
<p>Untuk mendukung pendidikan, maka pemerintah juga mendirikan banyak perpustakaan. Seperti perpustakaan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid (masa pemerintahan beliau antara 786-809 M) di Baghdad. Juga perpustakaan al-Aziz al-Fathimiy di Kairo yang menghimpun 1.600.000 jilid buku <strong>(</strong><strong>Muhammad Husein Abdullah, <em>Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam</em>, hlm. 160</strong><strong>)</strong></p>
<p>Hasil pendidikan dan penyediaan fasilitas yang bagus ini paling nggak dalam sejarah tercatat beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Beberapa di antaranya: bidang kedokteran (kaum muslimin berhasil mengembangkan teknik pembiusan untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran dunia, dikembangkan juga teknik operasi, pendirian rumah sakit dan obat-obatan).</p>
<p>Dalam ilmu kimia (di sini kaum muslimin mengenalkan istilah alkali, menemukan amonia, teknik destilasi atau penyulingan, penyaringan, dan sublimasi, memperkenalkan belerang dan asam nitrit, mempopulerkan industri kaca dan kertas, serta penemuan lainnya). Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan, bahkan mengklasifikasikan berbagai jenis tumbuhan).</p>
<p>Terus, dalam ilmu pengetahuan alam (penemuan neraca, penemuan pendulum untuk jam dinding, ilmu optik, dan telah mampu merumuskan perbedaan antara kecepatan cahaya dan kecepatan suara, termasuk kaum muslimin berhasil menemukan teknologi kompas magnetis untuk mengetahui arah mata angin); matematika (berhasil dikembangkan perhitungan desimal dan kwadrat, juga menciptakan berbagai rumus).</p>
<p>Termasuk perkembangan dalam ilmu astronomi (kaum muslimin berhasil membangun observatorium—teropong bintang–di Baghdad, Damaskus, Iskandariyah dan tempat lainnya untuk mengamati bintang); dan geografi (melakukan penjelajahan ke tempat yang belum dikenal, dan membuatkan petanya). Wah,  keren banget kan?</p>
<p>Bagaimana dengan para ilmuwannya? Wah, kayaknya udah banyak banget ditulis di berbagai buku ya. Kalo ditulis lagi di sini jadi bakalan panjang deh artikel ini. Silakan cari aja ya hehehe… (sekadar ngasih contoh, ada di buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, karya Prof. Dr. Raghib as-Sirjani, atau “Peradaban Islam; Dulu, Kini, dan Esok” karya Dr. Mustafa as-Siba’i, eh, boleh juga <em>hunting</em> buku saya yang judulnya “Yes! I am MUSLIM”, di situ juga dibahas masa kegemilangan peradaban Islam).</p>
<p><strong>Wajib lho, <em>faqih fiddien</em></strong></p>
<p>Kamu tahu istilah <em>faqih fiddien</em>? Yup, yang jelas jangan kamu plesetkan jadi faqih fi-gim. Hehehe.. sebab artinya jadi lain. Kalo yang pertama artinya paham dalam agama, yang kedua, paham or ahli dalam gim. <em>Wasyah…</em></p>
<p>Nah, setiap muslim wajib menjadikan dirinya <em>faqih </em>dalam urusan agama. Sebab, belajar ilmu agama itu wajib <em>‘ain</em> (nggak bisa diwakilkan kepada orang lain. Harus diri sendiri). Kalo ilmu umum; kayak fisika, kimia, ilmu kedokteran, matematik dan sejenisnya, itu masuknya wajib <em>kifayah</em> (nggak mesti kamu bisa. Kalo ada yang lain yang udah bisa, kewajibanmu untuk mendalami ilmu tersebut udah gugur alias tertunaikan).</p>
<p>Ngomong-ngomong soal pendidikan, kita tengok tentang tujuan pendidikan dalam Islam. Yakni, mencetak manusia yang berakal dan berpikir atas dasar Islam dan membentuk jiwa manusia dengan meletakkan seluruh kecende­rungannya atas dasar Islam. Ini bisa terwujud kalo peserta didik, akalnya dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan Islam, en nggak cuma difokuskan kepada ilmu umum saja.</p>
<p>Itu sebabnya, dalam sistem pendidikan Islam, negara akan memprioritaskan ilmu aga­ma ketimbang ilmu umum untuk dipelajari. Meski demikian, nggak berarti ilmu umum jadi ‘warga’ kelas dua. Bisa aja bareng beriringan. Agama dapet, ilmu umum juga berhasil diraih. Jadi jalan dua-duanya.</p>
<p>Jadi jangan heran kalo banyak kaum muslimin di masa kejayaan Islam, selain mereka <em>faqih fiddien</em>, juga ahli pertanian, kimia, fisika, astronomi, kedokteran, dan sejenisnya. Hebat sekali bukan? Lagian orang-orang yang punya ilmu itu kan dinilai lebih tinggi derajatnya ketimbang orang yang nggak berilmu. Allah Swt. berfirman (yang artinya):<em> </em><em>“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” </em><strong>(QS al-Mujâdalah [58]: 11)</strong></p>
<p>Untuk masalah ilmu ini, Rasulullah saw. bersabda:</p>
<p dir="RTL"><strong>لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ</strong><strong> </strong><strong>حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا   </strong><strong></strong></p>
<p><em>“Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua perkara yaitu terhadap seseorang yang dikaru­niakan oleh Allah harta kekayaan dan dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan). Juga seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaat­kannya (dengan kebenaran) serta mengajarkan­nya kepada orang lain” </em><strong>(HR Bukhâri dan Muslim)</strong></p>
<p>Khusus dalam bidang pendidikan nih, menurut Islam, sekolah diposisikan sebagai sarana pertama untuk mengenalkan Allah Swt., akidah Islam, dan sistem hukum Islam, serta mendidik siswa agar paham dan mengerti praktik sistem hukum Islam. Sebab, Islam bukan sekadar ajaran ritual, melainkan sistem hidup yang bersifat ideologis dan politis. Setelah itu, barulah sekolah ditempatkan sebagai wahana untuk menuntut ilmu, sains, dan teknologi untuk memperoleh manfaat dari hasil-hasil temuan dan produk akal manusia berupa industri dan sains.</p>
<p>Dengan demikian, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan tentu saja pandai menghiasi kehidupannya dengan amal shaleh. Lha, kalo sekarang? Duh, Kapitalisme udah menggerus kepribadian kita: akhlak yang rusak, termasuk kualitas penguasaan ilmu pengetahuannya yang kurang bagus. Jadi, kalo masih banyak pelajar yang nggak lulus UN, tentu kesalahan bukan cuma pada pelajar tersebut, tapi ideologi yang mengatur kehidupan ini yang wajib disalahkan. Itu sebabnya, mending “talak tiga” aja terhadap Kapitalisme, dan ganti dengan syariat Islam.</p>
<p>Oke deh, kalo pengen seperti di masa kejayaan Islam, saat Khilafah Islamiyah masih berdiri, mari kita perjuangkan tegaknya ‘rumah’ milik kita itu. Yuk, kampanyekan penerapan Islam sebagai ideologi negara. Tentu, itu dilakukan jika kita mau sama-sama bangkit dari keterpurukan ini. Tetep semangat! <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/ujian-nasional-dan-produk-gagal-kapitalisme" target="_blank">Buletin Remaja gaulislam</a>, edisi 234/tahun ke-5, 16 April 2012]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/04/ujian-nasional-dan-produk-gagal-kapitalisme/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1620&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/04/ujian-nasional-dan-produk-gagal-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Baru, Kursus Menulis Online Penulisan Fiksi</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-fiksi/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 15:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menuliskreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.osolihin.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Bagi Anda yang menyukai jenis tulisan fiksi dan ingin medalaminya, bisa belajar bersama kami. Pendaftaran sampai 4 Juni 2012]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu’alaikum wr wb</em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-838" title="writing-letter" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2010/04/writing-letter-300x225.jpg" alt="writing-letter" width="300" height="225" />Insya Allah dibuka kembali <strong>Kursus Menulis Online</strong> <strong>Kelas Penulisan FIKSI</strong> (angkatan 11). <strong>Pelatihan insya Allah berlangsung 2 (dua) bulan, yakni periode Juni-Juli 2012.</strong> Materi yang akan diberikan di pelatihan ini adalah:</p>
<p><strong>Menggarap tema; Mengatur plot; Setting cerita; Realitas imajinatif; mengemas konflik, mengemas dialog, sudut pandang (point of view), dan menggarap karakter tokoh.</strong></p>
<p>Mentor yang akan membimbing Anda untuk Kursus Menulis Online kelas FIKSI ini kebetulan saya sendiri. Saya memang lebih fokus menulis nonfiksi. Tetapi pada dasarnya menulis itu sama sama secara teknik antara menulis nonfiksi dan fiksi. Itu sebabnya, puluhan cerpen berhasil saya tulis dan ada satu yang dibukukan, yakni <strong>Serial Ogi: SECRET ADMIRER</strong>.  <strong></strong></p>
<h2 style="text-align: right;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Pendaftaran dibuka sejak 6 April &#8211; 4 Juni  2012</strong></span></h2>
<p>Anda <strong>HANYA perlu </strong><strong>membayar Rp 475.000</strong> (empat ratus tujuh puluh lima ribu rupiah).</p>
<h1><span style="color: #ff0000;"><strong>STOP PRESS!</strong></span></h1>
<blockquote>
<blockquote>
<ol>
<li>
<h4>Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) pada tanggal 5 April &#8211; 12 Mei 2012, biaya kursus Rp 425.000 (hemat Rp 50.000)</h4>
</li>
<li>
<h4>Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) tanggal 13-28 Mei 2012, biaya kursus Rp 450.000 (hemat Rp 25.000)</h4>
</li>
<li>
<h4>Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) tanggal 29 Mei &#8211; 4 Juni 2012, harga tetap (tidak ada diskon), yakni Rp 475.000</h4>
</li>
</ol>
<h4>Biaya itu adalah untuk belajar selama <span style="text-decoration: underline;">2 bulan</span>, periode Juni-Juli 2012. Waktu belajar setiap <span style="text-decoration: underline;">Selasa</span> (pukul 20.00 WIB) selama 2 bulan atau sama dengan 8 x pertemuan dalam tutorial online. Pelatihan periode ini <span style="color: #ff0000;">mulai Selasa, tanggal 5 Juni 2012</span>.</h4>
</blockquote>
</blockquote>
<h3>Kursus Menulis Online ini adalah:</h3>
<blockquote><p>Media komunikasi menggunakan internet. Maka yang diperlukan adalah alamat e-mail Anda dan ID Yahoo! Messenger untuk keperluan informasi, tugas dan conference/tutorial online. Tutorial/conference online dilakukan seminggu 1 kali (setiap hari <strong>Selasa</strong>, pukul <strong>20.00-22.00 WIB</strong>), sehingga dalam 2 bulan pelatihan, Anda akan belajar <strong>8 kali pertemuan</strong>. Jika pun Anda berhalangan hadir di tutorial/conference online, rekap hasil conference tetap akan Anda dapatkan.</p></blockquote>
<p>Modul yang digunakan bersifat praktis. Selain modul utama yang berjumlah 8 modul, masih diberikan 2 modul bonus. Jadi total semua modul yang berhak Anda dapatkan adalah 10 modul.</p>
<p>Silakan dipertimbangkan kesempatan menarik ini. Kursus Menulis Online memberikan kemudahan bagi Anda yang ingin belajar menulis secara online. Tidak perlu hadir di suatu tempat secara fisik, cukup berkumpul di “dunia maya” dan merasakan manfaatnya.</p>
<h4>Bagi Anda yang berminat, silakan mengisi FORM di bawah ini dengan isian: nama lengkap; alamat rumah, alamat e-mail, no hp, dan ID Yahoo! Messenger.</h4>

		<div id="usermessage2a" class="cf_info "></div>
		<form enctype="multipart/form-data" action="/feed/#usermessage2a" method="post" class="cform" id="cforms2form">
		<fieldset class="cf-fs1">
		<legend>Kontak</legend>
		<ol class="cf-ol">
			<li id="li-2-2"><label for="cf2_field_2"><span>Nama Anda</span></label><input type="text" name="cf2_field_2" id="cf2_field_2" class="single fldrequired" value="Nama Anda" onfocus="clearField(this)" onblur="setField(this)"/><span class="reqtxt">(dibutuhkan)</span></li>
			<li id="li-2-3"><label for="cf2_field_3"><span>Email</span></label><input type="text" name="cf2_field_3" id="cf2_field_3" class="single fldemail fldrequired" value=""/><span class="emailreqtxt">(email harus benar)</span></li>
			<li id="li-2-4"><label for="cf2_field_4"><span>Website</span></label><input type="text" name="cf2_field_4" id="cf2_field_4" class="single" value="http://"/></li>
			<li id="li-2-5"><label for="cf2_field_5"><span>Pesan</span></label><textarea cols="30" rows="8" name="cf2_field_5" id="cf2_field_5" class="area"></textarea></li>
		</ol>
		</fieldset>
		<fieldset class="cf_hidden">
			<legend>&nbsp;</legend>
			<input type="hidden" name="cf_working2" id="cf_working2" value="Silakan%20tunggu%20sebentar"/>
			<input type="hidden" name="cf_failure2" id="cf_failure2" value="Silakan%20isi%20semua%20kolom%20yang%20dibutuhkan"/>
			<input type="hidden" name="cf_codeerr2" id="cf_codeerr2" value="Please%20double-check%20your%20verification%20code."/>
			<input type="hidden" name="cf_customerr2" id="cf_customerr2" value="yyy"/>
			<input type="hidden" name="cf_popup2" id="cf_popup2" value="nn"/>
		</fieldset>
		<p class="cf-sb"><input type="submit" name="sendbutton2" id="sendbutton2" class="sendbutton" value="Kirim" onclick="return cforms_validate('2', false)"/></p>
		</form>
		<p class="linklove" id="ll2"><a href="http://www.deliciousdays.com/cforms-plugin"><em>cforms</em> contact form by delicious:days</a></p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-fiksi/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=587&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Baru, Kursus Menulis Online Penulisan Nonfiksi</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-nonfiksi/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-nonfiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 15:48:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menuliskreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[nonfiksi]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.osolihin.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Kursus Menulis Online Kelas Nonfiksi. Dibimbing langsung oleh O. Solihin. Pendaftaran sampai 31 Mei 2012]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Assalaamu’alaikum wr wb</em></p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-750" title="writing-for-the-internet-714046" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2010/03/writing-for-the-internet-714046.jpg" alt="writing-for-the-internet-714046" width="200" height="184" />Bagi teman-teman yang berminat mengasah kemampuannya tentang menulis NONFIKSI, kini dibuka Kelas Baru (angkatan 14):</p>
<h1><span style="color: #ff0000;"><strong>Kursus Menulis Online, Kelas NONFIKSI </strong></span></h1>
<h2><span style="color: #ff0000;">untuk bulan Juni &#8211; Juli 2012</span></h2>
<blockquote>
<ol>
<li>Pelatihan selama 2 bulan (selama bulan Juni &#8211; Juli 2012).</li>
<li>Mendapatkan 8 <strong>modul khusus</strong> dan 2 modul bonus [Menggagas Ide; Menggarap Tema; Membuat Tulisan yang Segar; Menulis Feature; Mengenal Jurnalistik; Mengatasi Deadlock ketika Menulis; Lead untuk Tulisan Feature; Menulis Biografi]</li>
<li><strong>Conference/Tutorial Online</strong> menggunakan Yahoo! Messenger selama 8 kali (1 kali semingu). <strong>Jam 20.00 &#8211; 22.00 WIB. </strong>Untuk harinya, kami sediakan hari<strong> Selasa</strong> <span style="text-decoration: underline;">ATAU</span><strong> Jumat. <em>Pilih salah satu.</em></strong>Untuk<strong> </strong>keperluan ini, Anda harus memiliki ID di Yahoo! Messenger.<strong><br />
</strong></li>
<li>Mengerjakan <strong>Tugas Penulisan</strong> 6 kali selama pelatihan (untuk masing-masing peserta) dan akan dinilai oleh mentor.</li>
<li>Berhak menjadi <strong>kontributor di website [Menulis Kreatif]</strong>, sehingga memungkinkan tetap mempublikasikann karya-karya di dunia maya. Itu artinya karya Anda akan dibaca langsung dan dinilai oleh pembaca. Syaratnya: karya yang dikirim tidak bertentangan atau menentang Islam.</li>
<li><strong>Dibimbing langsung</strong> oleh <a href="http://osolihin.wordpress.com/o-solihin-itu/" target="_blank"><strong>O. Solihin</strong></a>, penulis buku-buku remaja dan owner Website [Menulis Kreatif].</li>
</ol>
</blockquote>
<h3><span style="color: #0000ff;">Anda HANYA membayar biaya kursus ini, Rp 475.000 (empat ratus tujuh puluh lima ribu rupiah) saja! [untuk 2 bulan masa belajar]</span></h3>
<h2 style="text-align: right;"><span style="color: #ff0000;">Pendaftaran dibuka mulai 6 April  – 31 Mei 2012</span></h2>
<h1><span style="color: #ff0000;"><strong>STOP PRESS!</strong></span></h1>
<blockquote>
<ol>
<li>
<h4>Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) pada tanggal 6 April &#8211; 12 Mei 2012, biaya kursus Rp 425.000 (hemat Rp 50.000)</h4>
</li>
<li>
<h4>Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) tanggal 13-24 Mei 2012, biaya kursus Rp 450.000 (hemat Rp 25.000)</h4>
</li>
<li>
<h4>Pendaftaran (dan pembayaran secara LUNAS) tanggal 25-31 Mei 2012, harga tetap (tidak ada diskon), yakni Rp 475.000</h4>
</li>
</ol>
<h4>Biaya itu adalah untuk belajar selama 2 bulan, periode Juni – Juli 2012. <span style="color: #ff0000;">Mulai belajar 1 Juni 2012.</span></h4>
</blockquote>
<p>Bagi yang berminat mendaftar, silakan mengisi FORM di bawah ini dengan isian: nama lengkap, alamat rumah, alamat e-mail, no hp/telp; dan ID yahoo! Messenger:</p>

		<div id="usermessagea" class="cf_info "></div>
		<form enctype="multipart/form-data" action="/feed/#usermessagea" method="post" class="cform" id="cformsform">
		<fieldset class="cf-fs1">
		<legend>FORM</legend>
		<ol class="cf-ol">
			<li id="li--2"><label for="cf_field_2"><span>Nama Anda</span></label><input type="text" name="cf_field_2" id="cf_field_2" class="single fldrequired" value="Nama Anda" onfocus="clearField(this)" onblur="setField(this)"/><span class="reqtxt">(dibutuhkan)</span></li>
			<li id="li--3"><label for="cf_field_3"><span>Email</span></label><input type="text" name="cf_field_3" id="cf_field_3" class="single fldemail fldrequired" value=""/><span class="emailreqtxt">(dibutuhkan email aktif)</span></li>
			<li id="li--4"><label for="cf_field_4"><span>Website</span></label><input type="text" name="cf_field_4" id="cf_field_4" class="single" value="http://"/></li>
			<li id="li--5"><label for="cf_field_5"><span>Pesan</span></label><textarea cols="30" rows="8" name="cf_field_5" id="cf_field_5" class="area"></textarea></li>
		</ol>
		</fieldset>
		<fieldset class="cf_hidden">
			<legend>&nbsp;</legend>
			<input type="hidden" name="cf_working" id="cf_working" value="Mohon%20tunggu%20sebentar"/>
			<input type="hidden" name="cf_failure" id="cf_failure" value="Silakan%20isi%20seluruh%20kolom%20yang%20dibutuhkan"/>
			<input type="hidden" name="cf_codeerr" id="cf_codeerr" value="Please%20double-check%20your%20verification%20code."/>
			<input type="hidden" name="cf_customerr" id="cf_customerr" value="yyy"/>
			<input type="hidden" name="cf_popup" id="cf_popup" value="yy"/>
		</fieldset>
		<p class="cf-sb"><input type="submit" name="sendbutton" id="sendbutton" class="sendbutton" value="Kirim" onclick="return cforms_validate('', false)"/></p>
		</form>
		<p class="linklove" id="ll"><a href="http://www.deliciousdays.com/cforms-plugin"><em>cforms</em> contact form by delicious:days</a></p>
<p>Salam,</p>
<p>Tim Menulis Kreatif</p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-nonfiksi/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=592&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/04/kelas-baru-kursus-menulis-online-penulisan-nonfiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi Diri, Revolusi Negeri</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/04/revolusi-diri-revolusi-negeri/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/04/revolusi-diri-revolusi-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 19:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menuliskreatif</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaul]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1607</guid>
		<description><![CDATA[Nah, masalahnya adalah, apakah revolusi harus selalu identik dengan kekerasan? Nggak adakah revolusi yang dilakukan dengan tanpa darah? Kita, saat ini udah dijejali dengan fakta dan informasi bahwa revolusi selalu identik dengan kekerasan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://osolihin.net" target="_blank">O. Solihin</a></strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/edisi-232.jpg"><br />
<img class="alignleft" title="edisi 232" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/04/edisi-232-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Afwan bin sorry alias punten binti maaf. Halah, nih bahasa campur-aduk kayak gado-gado. Lho kok kenapa kata-kata di awal kalimatnya ujug-ujug alias tiba-tiba minta maaf? Begini ceritanya. Meski mungkin nggak ada hubungannya (lho?). Minta maaf ini sebenarnya ditujukan kepada redaktur gaulislam yang udah bela-belain bikin tulisan. Hingga ditungguin di akhir deadline, tapi kemudian pagi hari menjelang dicetak malah diganti dengan tulisan baru. Sebabnya, tema yang hendak kita bahas sekarang ini lebih ‘seksi’, lebih bikin ngiler dan bikin jakun kamu turun-naik menelan ludah (*lebay!)</p>
<p>Lebay? Hehehe.. nggak juga sih. Nggak apa-apa akan menggunakan istilah dan bahasa yang kayak penggambaran pada alinea di atas? Apa yang bikin saya, sebagai editor gaulislam, mengubah tema tulisan? Karena eh karena seminggu terakhir ini marak unjuk rasa mahasiswa dan juga elemen masyarakat yang menolak rencana kenaikan BBM (yang mungkin saja ketika tulisan ini terbit di buletin kesayangan kamu pada 2 April 2012 udah ada keputusan dari pemerintah: dibatalkan atau ditetapkan kenaikan harga BBM tersebut, dan kamu udah tahu kan jawabannya sekarang).</p>
<p>Bro en Sis, terlepas dari itu semua, yang bikin saya geregetan untuk menulis tema ini adalah karena tergelitik dengan istilah revolusi. Contoh misalnya: “BBM Naik, SBY Turun”, “Ganti Sistem Ganti Rezim”, dan slogan-slogan lainnya yang bernada revolusi. Wah, gaulislam  ngomongin politik dong? Lho, emangnya nggak boleh? Emangnya tabu? Remaja nggak berhak ngomongin dan aktif berpolitik? Ooppss.. jawaban atas pertanyaan itu mudah saja. Ngomongin politik dan beraktivitas politik bagi remaja ya boleh-boleh saja. Nggak tabu. Emangnya yang umumnya dilakukan bagi remaja cuma ngomongin pacaran, ngebudah soal musik, ngobrol ampe dower soal gaya hidup kaum seleb? Nggak lah. Remaja kudu cerdas, remaja harus serius juga (meski dengan gayanya yang khas remaja), plus jadi remaja beriman dan giat berdakwah serta berprestasi di sekolah. Wuih, ideal bin keren lah. Ya, memang demikian harusnya, mumpung masih muda kudu nunjukkin kalo remaja adalah <em>agent of change</em> (agen perubah). Apa yang harus diubah? Banyak. Ubah diri kita yang tadinya malas jadi rajin, ubah kebiasaan buruk ngerokok jadi antirokok, ubah kelakuan yang doyan maksiat jadi remaja taat syariat. Semoga ya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Revolusi itu: perubahan</strong></p>
<p>Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, sebenarnya istilah revolusi lebih dahsyat pengaruhnya ketimbang disebut berubah atau perubahan semata. Kalo dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), revolusi diartikan: perubahan ketatanegaraan (pemerintah atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan (seperti dengan perlawanan bersenjata). Sementara arti kata “ubah atau berubah” dalam KBBI diartikan: menjadi lain (berbeda) dari semula atau bertukar (beralih, berganti) menjadi sesuatu yang lain. <em>So</em>, dengan pengertian seperti ini maka istilah revolusi efek bahasanya lebih hebat ketimbang sekadar ubah atau berubah.</p>
<p>Nah, masalahnya adalah, apakah revolusi harus selalu identik dengan kekerasan? Nggak adakah revolusi yang dilakukan dengan tanpa darah? Kita, saat ini udah dijejali dengan fakta dan informasi bahwa revolusi selalu identik dengan kekerasan. Di televisi kita diperlihatkan bagaimana aksi massa yang berunjuk rasa sering berakhir ricuh. Fakta terakhir kita disuguhi gambaran aksi demo menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan dengan cara anarkis. Sedih juga sih liat polisi dan pengunjuk rasa berjibaku saling pukul saling lempar. Entah siapa yang lebih dulu menyerang atau yang mempertahankan diri. Perlu ada penelitian khusus. Cuma memang kalo kedua kubu udah berhadap-hadapan dengan senjata di tangan, ya kemungkinan terlibat baku hantam sangat tinggi. Haruskah dengan cara ini untuk mengubah kondisi?</p>
<p>Nggak juga. Meski kadang kekerasan tak terelakkan alias sulit dihindari pada kondisi tertentu. Namun demikian, sebagai remaja muslim kita semua wajib tahu, apa sih dasar mengubah sesuatu itu? Apa pula cara yang dibutuhkan untuk perubahan itu? Sejatinya kita sendiri setiap hari berubah. Usia berubah, wajah berubah (dari <em>baby face</em> yang lucu kini jadi remaja cakep dan berwibawa, ciee.. pasti ada yang ngaku-ngaku nih). Selain usia dan wajah, perubahan juga terjadi pada tubuh kita, kadang sehat dan kadang sakit. Jadi, sebenarnya kita udah nggak asing dengan kata perubahan. Lalu perubahan seperti apa yang harus dilakukan agar lebih baik dalam segala hal: bagi kita, bagi keluarga, bagi masyarakat dan bagi negara serta agar bahagia di kehidupan abadi di akhirat kelak?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Revolusi dan kebangkitan</strong></p>
<p>Bagi kamu yang cowok dan suka sepakbola atau info seputar sepakbola, pastinya sering dong menyimak perubahan strategi dalam sebuah pertandingan sepakbola untuk mencapai kemenangan. Seorang pelatih sebuah klub sepakbola yang kinerjanya rendah karena tim yang ditukanginya kalah melulu bisa diganti. Tujuannya untuk apa? Perubahan strategi dan penggantian pelatih (termasuk pemain) sebagai bagian dari upaya mencapai kemenangan agar bisa bangkit dari keterpurukan atau kondisi yang tak mengenakkan. Iya kan?</p>
<p>Nah, sekarang bagaimana dengan kita, remaja Islam? Tetap harus bangkit juga. Maka, jangan takut untuk berubah, jangan takut bila harus merevolusi diri kita, revolusi keluarga kita, revolusi masyarakat kita, dan akhirnya merevolusi kondisi negeri kita. Bukan mustahil lho kalo kita punya niat ikhlas dan caranya benar. <em>Sure!</em> Berarti kudu bangkit nih kita?</p>
<p>Yup, nggak ada jalan lain kecuali kita segera bangkit dari keterpurukan ini. Sebab, pastinya kita nggak mau dong jadi orang yang punya semangat minimalis. Qonaah boleh saja, tapi jangan sampe merasa puas dengan kondisi kita saat ini. Celakanya justru kondisi kita sekarang ini lagi ada di bawah. Kan aneh dong kalo nggak mau bangkit. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”</em> <strong>[QS ar-Ra’d [13]: 11]</strong></p>
<p>Bangkit itu perlu, bahkan wajib sobat. Apalagi bila kita bicara tentang masa depan Islam. Ya, Islam. Agama yang selama ini kita anut, belum kembali ke puncak kejayaan setelah mengalami kemunduran. Dan yang berperan selama ini—disaat maju dan mundur—adalah kita, kaum muslimin.</p>
<p>Ketika Islam mencapai kegemilangan di masa Rasulullah saw. dan Khulafa ar-Rasyiddin serta pemimpin-pemimpin setelahnya, umat Islam sedang getol-getolnya menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya. Islam udah menyatu dalam pemahaman dan tingkah laku kaum muslimin di masa lalu. Mereka sama sekali tak mau mele­paskan diri dari Islam. Islam maju, ketika umat­nya juga lengket dengan ajaran Islam. Daripada melepaskan akidah Islam, lebih baik nyawa mela­yang. Lebih mulia kok di hadapan Allah ketimbang menggadaikan akidah demi kebahagiaan semu duniawi.</p>
<p>Bro en Sis rahimakumullah, tetapi sayangnya nih, begitu umat Islam menjauhi agama­nya, saat itulah Islam perannya mulai pudar. Semakin hari semakin hilang wibawanya. Umat Islam berlomba-lomba meninggalkan ajaran Islam. Jadi, upaya membangkitkan Islam dan kaum muslimin, adalah syarat mutlak untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan handal di dunia ini. Dan ini tanggung jawab kita sobat. Oya, selain kudu memahami Islam lebih dalam lagi, kita juga dituntut untuk menanggalkan segala bentuk pemikiran dan budaya dari musuh-musuh Islam. Biar efektif, gitu lho.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa yang harus kita lakukan?</strong></p>
<p>Demo anti kenaikan harga BBM yang kini marak, ada yang beralasan bahwa itu bagian dari perjuangan untuk mewujudkan perubahan. Hmm… boleh-boleh saja. Selama niat dan caranya benar. Saat ini yang diperlukan adalah kekuatan pemikira, kekuataan perasaan, serta kehebatan tingkah laku kaum muslimin dalam mengekspresikan perjuangannya untuk perubahan kondisi. Nggak asa jalan kayak gaya drunken master, nggak lembek, nggak ngambang. Tetapi tertib, tegas dan fokus pada perjuangan.</p>
<p>Bagi umat Islam, revolusi ini harus terjadi. Revolusi diri kita, lalu bersama-sama merevolusi negeri ini dari budaya yang nggak islami. Caranya praktisnya gimana? Menurut Syaikh Hafidz Shalih, menjelaskan sbb. (dalam Kitab <em>an-Nahdhah</em>, hlm. 132-155):</p>
<p><strong>Pertama</strong>, setiap muslim kudu menyadari tugasnya sebagai pengemban dakwah. Allah Swt. berfirman (yang artinya):<em>”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”</em> <strong>[QS an-Nahl [16]: 125]</strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>, setiap muslim harus memahami Islam sebagai sebuah mabda, alias ideologi. Dengan begitu, kita bisa menjadikan Islam sebagai pedoman hidup kita. Islam bukan hanya mengatur urusan sholat, zakat, puasa aja, tapi sekaligus mengurusi masalah ekonomi, politik, pendidikan, hukum, peradilan, pemerintahan, dsb. <strong>Ketiga</strong>, kita kudu berjuang menegakkan Islam. <strong>Keempat</strong>, melakukan kontak pemikiran dengan masyarakat, nggak cuma diem doang. Sebarkan ide-ide Islam kepada mereka. Kalo ternyata timbul pro dan kontra, itu wajar. Rasulullah saw. saja pernah merasakannya. Tenang. Kita di jalur yang benar. <strong>Kelima</strong>, harus jelas dalam berjuang. Artinya, kita kudu fokus dan membatasi mana yang pokok, dan mana yang cabang. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. </em><strong>[QS Yusuf [12]: 108]</strong></p>
<p><strong>Keenam</strong>, harus berani melakukan <em>shiraul fikriy</em> (pertarungan pemikiran) dengan berbagai ide sesat yang ada di masyarakat. Misalnya, sampaikan bahwa demokrasi sesat, nasionalisme itu tercela, sekularisme adalah bagian dari kekufuran dan sebagainya. Itu sebabnya, perjuangan Boedi Oetomo yang katanya sebagai tonggak kebangkitan, ternyata malah menuju kemunduran. Kenapa? Karena menyerukan nasionalisme. Nah, pemuda Islam, harus berani melawan itu semua!</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, selalu meng-<em>update</em> perkembangan yang terjadi di masyarakat. Dan berikan solusinya dengan ajaran Islam. <strong>Kedelapan</strong>, kita harus bisa menunjukkan kelemahan dan kepalsuan sistem kufur yang tengah mengatur kehidupan masyarakat kita saat ini. Supaya mereka juga <em>ngeh</em>, bahwa selama ini ternyata hidup dalam lingkungan yang tidak islami. Itu sebabnya kita juga mengajak kaum muslimin untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam.</p>
<p><em>So</em>, sudah siap merevolusi diri dan merevolusi negeri ini? <strong>[solihin | Twitter: @osolihin | Blog: www.osolihin.net]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/04/revolusi-diri-revolusi-negeri/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1607&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/04/revolusi-diri-revolusi-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Creative Writing and Social Media</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/03/the-power-of-creative-writing-and-social-media/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/03/the-power-of-creative-writing-and-social-media/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 01:31:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[KMO]]></category>
		<category><![CDATA[kursus]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[menulis online]]></category>
		<category><![CDATA[MYMC]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>
		<category><![CDATA[writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1595</guid>
		<description><![CDATA[Insya Allah saya, O. Solihin, Owner [menuliskreatif] menjadi salah satu pembicaranya dalam acara tersebut pada sesi "THE POWER CREATIVE WRITING AND SOCIAL MEDIA".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"> <a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/03/425290_273523502725847_100002045976094_568956_108103265_n.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-1601" title="425290_273523502725847_100002045976094_568956_108103265_n" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/03/425290_273523502725847_100002045976094_568956_108103265_n.jpg" alt="" width="406" height="576" /></a></p>
<p><em>Assalaamu&#8217;alaikum wr wb</em></p>
<div id="fbPhotoPageCaption">MYMC (Muslim Youth Millionaire Conference 1433 H). Ahad, 18 Maret 2012, di Plaza Bapindo. Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Waktu: 08.00 sd 20.00 WIB. Insya Allah saya, O. Solihin, Owner [menuliskreatif] menjadi salah satu pembicaranya dalam acara tersebut pada sesi &#8220;THE POWER CREATIVE WRITING AND SOCIAL MEDIA&#8221;.</div>
<div></div>
<div>Dapatkan penawaran khusus bagi p saya di KMO (Kursus Menulis Online) yang ingin ikut acara ini akan diberikan diskon hingga 60 % dari tiket reguler. Penawaran ini juga berlaku bagi Alumni KMO dan calon peserta KMO. *Khusus calon peserta KMO yang ikut acara MYMC, selain mendapatkan diskon hingga 60% dari tiket reguler di acara MYMC juga berkesempatan mendapatkan potongan biaya kursus 40% dari harga normal. Pendaftaran utk acara MYMC langsung via SMS ke: +628157023451 (Anais Anais) dengan memberikan catatan sebagai murid di KMO, alumni KMO atau calon peserta KMO. Ditunggu ya! <img src='http://menuliskreatif.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </div>
<div id="fbPhotoPageTagList"></div>
<div>salam,</div>
<div>O. Solihin</div>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/03/the-power-of-creative-writing-and-social-media/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1595&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/03/the-power-of-creative-writing-and-social-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdakwah di Dunia Maya</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/03/berdakwah-di-dunia-maya/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/03/berdakwah-di-dunia-maya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 17:29:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[website]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1590</guid>
		<description><![CDATA[So, dakwah tetap bisa dilaksanakan di dunia maya, salah satunya dengan masuk dan aktif di forum diskusi yang disediakan website tertentu (misalnya facebook—tapi isinya yang serius ya jangan yang galau-galau hehehe). Kalo gitu, siapa bilang dakwah itu susah? Dakwah gampang kok. Apalagi sarana untuk menyampaikannya udah ada.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://osolihin.net" target="_blank"><strong>O. Solihin</strong></a></p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/03/edisi-229.jpg"><img class="alignleft" title="edisi 229" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/03/edisi-229-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Bro en Sis, di jaman serba canggih ini, dakwah bisa disampaikan dengan banyak cara. Bahkan dirasa cukup efektif juga lewat dunia maya. Meski sebagai penunjang, tapi efeknya bisa sangat dahsyat. Apalagi kini internet jadi ‘makanan’ sehari-hari bagi penduduk kota. Cobalah!</p>
<p>Pembaca setia gaulislam, di sini saya ingin ngajak kamu semua untuk memanfaatkan teknologi itu dalam menunjang dakwah kita. Sebab, dakwah itu sendiri kan artinya menyampaikan. Nah, sarana untuk menyampaikannya bisa dengan lisan, bisa juga dengan tulisan. Dakwah via tulisan, bisa dengan memanfaatkan SMS, bisa via e-mail, dan tentunya bisa juga dengan menampilkan tulisan kita di website. Pembacanya, tentu para pengunjung website (bukan pengunjung dukun, halah, lebay!).</p>
<p>Nggak usah khawatir, sekarang internet udah jadi kebutuhan harian sebagian besar masyarakat perkotaan. Sehingga mereka akan senantiasa mencari informasi apa pun dari internet. Saat ini, jutaan website dan blog udah wara-wiri di dunia maya. Menawarkan banyak gagasan dan ide. Termasuk menampilkan ragam foto. Banyak website dan blog yang menjadi penyambung kemaksiatan dan kejahatan, tapi nggak sedikit juga website yang menyampaikan hal yang bermanfaat untuk kehidupan dan juga menyampaikan dakwah Islam. Percayalah.</p>
<p>Kalo pengen bukti, silakan geber mesin pencari (search engine) untuk mencari website berisi informasi Islam. Insya Allah banyak. Ada yang memang komersial seperti situs berita Islam, tapi banyak juga informasi Islam yang dipajang di situs pribadi dan bebas iklan. Semuanya bisa diakses. Artinya, kalo kita majang pesan-pesan dakwah di website, insya Allah akan dibaca banyak orang. Nah, siapa tahu informasi dakwah yang kita tampilkan di website tersebut akan bermanfaat dan bukan tak mungkin pula jika kemudian menyadarkan orang untuk gemar berbuat kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Oke nggak sih kalo kayak gitu? So, yo ayo berlomba nampilin tulisan di website dan blog. Kita manfaatkan teknologi internet ini. Semangat!<img title="More..." src="http://www.gaulislam.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p><strong>Membuat blog sendiri</strong><br />
Kalo kamu cukup punya keahlian membuat website, nggak ada salahnya juga bikin website sendiri. Apalagi sekarang beli domain dan biaya hosting (sewa servernya untuk nyimpen data kita) relatif murah. Jadi tunggu apa lagi?</p>
<p>Oya, kalo merasa ribet untuk beli domain dan bayar hosting, nggak usah keder, karena banyak juga situs yang nyediain blog gratisan buat kita. Tentu ada plus-minusnya. Tapi buat kamu yang pengen ngejajal keahlian bikin blog, nggak ada salahnya dicoba yang gratisan terlebih dahulu. Apalagi kini banyak situs yang nyediain website tanpa perlu keahlian kita di bidang website. Umumnya jenis website ini adalah sebenarnya weblog. Kalo udah merasa mantap dan pengen nyoba yang lebih keren dan lebih puas, bolehlah nyewa server khusus dan punya domain yang bagus sesuai keinginan kita (contoh: www.gaulislam.com—hehe ngasih contohnya nggak jauh-jauh ya).</p>
<p>Sobat muda muslim, untuk teknis membuat website or blog silakan kamu pelajari dari buku-buku khusus yang menjelaskan teknologi dan cara bikinnya ya. Di buletin ini kamu nggak bakalan bisa dapetin, soalnya saya sendiri belum mahir bikin website sendiri, paling bikin blog (www.osolihin.net). Itu perlu keahlian khusus yang memang harus dipelajari dengan niat yang mantap serta fokus untuk ahli di bidang itu. Tertarik? Nggak ada yang ngelarang kalo mo belajar. Sukses deh.</p>
<p>Oke, kalo emang udah bisa bikin website or blog sendiri, alangkah baiknya kalo pesan yang kita sampaikan adalah pesan-pesan dakwah yang mencerahkan dan bisa menjadi sarana penunjang dakwah secara keseluruhan bagi kaum Muslimin. Apalagi kalo situs kita dilengkapi dengan forum diskusi, al-quran online, chatting, jadwal acara keislaman di berbagai tempat, guest book untuk ruang apresiasi pengunjung terhadap situs kita dan lain sebagainya, wah, keren banget tuh. Jangan kaget kalo website or blog-mu jadi rame dikunjungi netter.</p>
<p>Kalo emang untuk dakwah Islam, tentu saja isinya tentang dakwah dan segala informasi yang berhubungan dengan keislaman. Pastikan juga sumbernya dapat dipercaya jika kamu menampilkan tulisan dari tempat lain atau karya orang lain. Itu sebabnya, seenggaknya kamu kudu bisa nyeleksi tulisan-tulisan yang bakal dipajang di blogmu. Jangan asal pajang. Kalo nggak sanggup karena harus ngontrol juga sisi teknis websitenya, bisa nyari teman buat bantuin nyeleksi naskah yang bakalan dipajang di blog kamu. Bekerjasama itu bermanfaat dan menyenangkan kok. Toh, memang nggak ada manusia yang bisa bekerja sendirian untuk menyelesaikan masalah besar. Betul ndak?</p>
<p><strong>‘Numpang’ di website orang lain</strong><br />
Saya jadi inget pertama kali kenalan sama seorang webmaster yang memiliki situs pribadi. Namanya Dudung Abdussomad Toha. Doi tuh USA euy alias Urang Sunda Asli hehehe.. Yup, Kang Dudung nih asli dari Bandung. Awal kenalannya sih, saya lagi browsing data menggunakan mesin pencari, Google. Setelah disodorkan begitu banyak data di banyak situs, saya tergerak untuk mengklik website yang memuat entri kata yang saya cari. Kenapa jadi prioritas? Karena saya merasa hapal dengan kalimat dari artikel tersebut. Setelah klik, saya terhubung dengan situs http://dudung.net. Wah, surprise banget, karena memang itu adalah tulisan saya di buletin STUDIA—oya, sebelum garap gaulislam di tahun 2007, saya ngelola buletin STUDIA antara tahun 2000 hingga 2007) yang saya kirim ke beberapa milis. Ternyata, ada yang ‘mungut’ juga tuh tulisan, lalu ditampilkan di websitenya.</p>
<p>Tergerak dengan rasa penasaran, lalu saya coba menghubungi pemiliknya via e-mail menggunakan fasilitas “kontak owner” di websitenya untuk berkenalan. Eh, direspon positif dan menjelaskan alasan bahwa ia sangat tertarik dengan tulisan saya dan akhirnya memajang tulisan tersebut di website pribadinya. Singkat kata, akhirnya ukhuwah itu berlanjut dan membangun kerjasama dakwah dengan cara beliau bersedia menampilkan tulisan-tulisan saya di websitenya. Meskipun ketika saya punya blog sendiri di tahun 2007 jadi jarang kirim tulisan ke website beliau.</p>
<p>Jadi, kalo bikin website sendiri belum bisa, terus masih gatek alias gagap teknologi juga soal weblog, tapi kita ingin nampilin tulisan yang kita buat, nggak ada salahnya kalo mulai sekarang nyari teman yang bisa bikin website atau yang udah punya website sendiri untuk bekerjasama degan kita dalam menampilkan tulisan kita di websitenya.</p>
<p>Pengalaman saya menjalin ukhuwah dengan Kang Dudung—pemilik website “dudung,net” sih alhamdulillah langsung klop. Saya menemukan mitra yang pas buat nampilin tulisan-tulisan saya di website miliknya. Bahkan Kang Dudung nih pernah bilang ke saya: “Saya nggak punya keahlian untuk mendakwahkan Islam secara lisan dan tulisan. Tapi saya hanya bisa menyediakan website sebagai sarana penyampai dakwah via tulisan di dunia maya.” Duh, jadi terharu juga. Alhamdulillah sampe sekarang bukan cuma tulisan saya, tapi tulisan temen-teman saya juga ikutan nangkring di website-nya. Bahkan kami diberikan rubrik khusus, yakni Buletin STUDIA—kalo kini rubrik di websitenya jadi buletin gaulislam meskipun sejak 2007 gaulislam udah punya website sendiri. Terima kasih Kang Dudung.</p>
<p>Sobat muda muslim, semangat dakwah kita jangan pudar. Kalo kita belum terbiasa menyampaikan dakwah secara lisan, tapi udah mulai mahir (via tulisan, sangat disarankan untuk menyampaikannya via jaringan internet. Pajang tuh tulisan kita berisi pesan dakwah itu di website. Biar lebih banyak yang baca dan luas jangkauan pembacanya. Bukan tak mungkin kalo yang baca bisa dari luar negeri segala lho. Nggak heran juga dong kalo kita bisa menjalin persahabatan dengan teman dari luar negeri. Asyik berat tuh.</p>
<p><strong>Aktif di channel diskusi</strong><br />
Bro en Sis, di setiap website yang interaktif, biasanya disediain channel diskusi buat para pengunjungnya. Berbeda dengan komunitas mailing list, channel diskusi atau forum diskusi yang disediain website biasanya lebih bagus dan lebih mudah merunut topik pembahasan diskusi karena udah dikelompokkan. Sehingga kita bisa memilih sesuai keinginan kita. Bisa diskusi tentang keislaman, bisa juga tentang pernikahan, atau tentang permasalahan remaja secara umum.</p>
<p>Sekarang, setelah ada facebook dan twitter kamu bisa lebih aktif deh di forum diskusi yang ada di sana. Wah, jadi bisa tambah kenalan, tambah ilmu, dan makin lihai dalam berargumentasi mempertahankan pendapat serta cekatan menyampaikan pesan dakwah secara tertulis. Lebih hebat lagi jika kamu pandai berbahasa Inggris, sehingga bisa mengasah kemampuanmu dalam diskusi di channel diskusi yang berbahasa Inggris pula. Sekaligus pesan kita berpeluang bisa dibaca lebih banyak orang di seluruh dunia. Asyik!</p>
<p>Tapi dalam diskusi di internet, ingat juga dengan firman Allah Swt. (yang artinya): <em>“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”</em> <strong>(QS an-Nahl [16]: 125)</strong></p>
<p>So, dakwah tetap bisa dilaksanakan di dunia maya, salah satunya dengan masuk dan aktif di forum diskusi yang disediakan website tertentu (misalnya facebook—tapi isinya yang serius ya jangan yang galau-galau hehehe). Kalo gitu, siapa bilang dakwah itu susah? Dakwah gampang kok. Apalagi sarana untuk menyampaikannya udah ada. Tinggal kita manfaatkan saja. Siap kan? Harus dong ya. Klik! <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/berdakwah-di-dunia-maya" target="_blank">Buletin Remaja gaulislam</a>, edisi 229/tahun ke-5, 12 Maret 2012]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/03/berdakwah-di-dunia-maya/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1590&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/03/berdakwah-di-dunia-maya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muhasabah Yuk!</title>
		<link>http://menuliskreatif.com/2012/03/muhasabah-yuk/</link>
		<comments>http://menuliskreatif.com/2012/03/muhasabah-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2012 17:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[buletin]]></category>
		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[muda]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[ukhuwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menuliskreatif.com/?p=1581</guid>
		<description><![CDATA[What is a Muhasabah? Halah, nih nanyanya pake bahasa campur-campur segala. Inggris dan Arab. Hehehe.. nggak apa-apa, selama kamu semua ngerti. Ya, apa sih yang dimaksud dengan muhasabah? Ikuti tulisan di gaulislam edisi 228/tahun ke-5 ini ampe tuntas ya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://analisa.co.id" target="_blank"><strong>O. Solihin</strong></a></p>
<p><a href="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/03/muhasabah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1585" title="muhasabah" src="http://menuliskreatif.com/wp-content/uploads/2012/03/muhasabah-300x192.jpg" alt="" width="300" height="192" /></a>What is a Muhasabah? Halah, nih nanyanya pake bahasa campur-campur segala. Inggris dan Arab. Hehehe.. nggak apa-apa, selama kamu semua ngerti. Ya, apa sih yang dimaksud dengan muhasabah? Ikuti tulisan di gaulislam edisi 228/tahun ke-5 ini ampe tuntas ya.</p>
<p>Bro en Sis, Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> <strong>(QS al-Hasyr [59]: 18)</strong></p>
<p>Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Karena itu Umar bin Khaththab ra berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab” <strong>(Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)</strong></p>
<p>Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, muhasabah di sini artinya senantiasa memeriksa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana sih yang kita raih dalam beramal baik. Sudah banyak nggak pahala yang kita perbuat, atau jangan-jangan malah sebaliknya kedurhakaan yang mengisi penuh pundi-pundi amal yang bakalan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah? Aduh, naudzubillahi min dzalik!</p>
<p>Jangan sampe suatu saat kita hanya bisa menyalahkan orang lain yang kita tuduh nggak mengingatkan kita dari berbuat maksiat, padahal kita yang nggak mau diingatkan dan malah menyalahkan yang mengingatkan kita. Kalo itu yang kita lakukan berarti kita udah ngelakuin argumentum ad hominem, lho. Buruk muka cermin dibelah tuh.<img title="More..." src="http://www.gaulislam.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></p>
<p>Padahal nih, kalo kita mau berpikir lebih dalem lagi tentang diri kita, tentunya kita bisa merasakan betapa lemahnya kita. Betapa ringkihnya kita sebagai manusia. Kalo ingin membayangkan gimana lemahnya kita, bisa kita mengkaji diri bahwa seteliti-telitinya kita, selalu aja ada celah kosong yang bisa membuat kita teledor. Sepandai-pandainya kita, selalu saja ada peluang untuk berlaku bodoh dan salah. Betul ndak?</p>
<p>Tapi jangan khawatir, di balik kelemahan itu manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Potensi ini bahkan harusnya membuat kita lebih memahami dengan kondisi kita. Coba, dari jaman Nabi Adam diciptakan sampe sekarang ras manusia telah berhasil menciptakan berbagai kemajuan. Contoh kecil aja, apa pernah kita melihat kucing bisa membuat sepeda motor, terus makan dengan garpu (kecuali si Tom di film Tom and Jerry kali ye?), kemudian ada kucing yang sekolah sampe jenjang yang lebih tinggi. Belum pernah kita melihatnya, bahkan mendengarnya kecuali kalo kita mau mengkhayal dalam sebuah cerita. Tapi manusia, banyak pencapaian yang berhasil diraihnya dari jaman ke jaman. Iya kan? Tentu saja itu juga berkat kemurahan Allah Swt. yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhlukNya yang lain. Manusia diberi akal, sobat. Maka, berbahagialah memilikinya. Sure!</p>
<p>Allah Swt. menjelaskan dalam al-Quran (yang artinya): <em>“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”</em> <strong>(QS al-Israa’ [17]: 70)</strong></p>
<p>Subhanallah, betapa besar cinta Allah kepada kita. Allah memberikan segalanya buat kita. Itu sebabnya, sangat wajar jika kita kudu pandai mengelola segala potensi hidup yang telah diberikan Allah Swt. Aneh bin ajaib kalo masih ada manusia yang nggak bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Sangat heran pula jika pun pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya tapi salah dalam mengamalkannya. Misal, ia memiliki potensi kreativitas yang tak ada hentinya, tapi kreatif dalam rangka mencuri barang orang lain atau kreatif mengolah kata-kata bernuansa pornografi. Wah, itu namanya memanfaatkan di jalur yang salah dong ya? Hindari deh!</p>
<p>Sobat muda muslim ‘penggila’ gaulislam, jika kita memanfaatkan potensi kita, tentunya tidak lepas dari rasa syukur kita kepada Allah Swt. yang telah memberikan segalanya buat kita. Artinya, amalan kita dalam memanfaatkan potensi pun kudu benar sesuai tuntunan Allah Swt. Nggak bisa asal njeplak berdasarkan hawa nafsu kita. Nggak bebas en liar gitu tentunya.</p>
<p>Sebab, jangan lupa, apa yang kita lakukan nggak bakalan lepas dari pengamatan Allah Swt. Kalo di sekolah kita bisa ngibulin teman atau guru dengan berbohong, maka Allah nggak bakalan bisa dibohongi. Kalo di dunia ini para pembunuh bisa nyantai, bebas berkeliaran belum dihukum oleh negara, maka di akhirat ia pasti nggak bakalan lolos dari hukuman yang diberikan Allah Swt. Bahkan Allah Swt. tak akan pernah salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Nggak bakalan ketuker masukin data. Allah Swt. pasti jeli, amalan kita yang baik akan ditaro di “folder” amalan baik. Begitu pun amalan buruk kita. Terus, terminal akhir di akhirat pun sudah jelas buat tiap-tiap manusia sesuai amalannya. Surga buat yang amal baiknya banyak, sementara neraka khusus untuk yang berbuat maksiat waktu di dunia dan nggak sempat bertobat hingga akhir hayatnya.</p>
<p>Watau, ini kok ngomongnya pahala-dosa dan surga-neraka aja sih? Ya, biar kita takut. Biar kita benar-benar taat kepada Allah Swt. Karena sejatinya yang menciptakan surga dan neraka juga Allah Swt. Tempat itu pun sudah disiapkan oleh Allah untuk kita sesuai amalan kita. Semoga surga yang kita dapatkan.<br />
Hmm&#8230;jadi inget lagunya Chrisye, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepadaNya? Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNya?” **kamu inget lagu ini?</p>
<p>Sayangnya, meski surga dan neraka sudah jelas diterangkan keberadaannya di al-Quran oleh Allah Swt. banyak manusia yang tetap berbuat maksiat. Banyak mausia yang nggak ngikutin perintah Allah dan bahkan banyak manusia ogah menyembahNya. Aneh banget kan? Apalagi kalo surga dan neraka nggak ada?</p>
<p><strong>Mulai saat ini juga</strong><br />
Sebaiknya, mulai saat ini juga memang kita kudu sadar diri. Yuk, kita mengkaji al-Quran, mengkaji Islam lebih dalam. Memahami siapa diri kita, siapa pencipta kita. Karena apa? Karena kita manusia, yang memang banyak kekurangannya dibanding kelebihannya. Sebagai wujud rasa syukur kita, pantes banget deh kalo kita beribadah hanya Allah Swt. Bukan kepada yang lain. Catet ya, hanya kepada Allah Swt.</p>
<p>Dan, kayaknya perlu diingatkan lagi, bahwa dalam hidup ini selalu saja ada godaan. Dunia itu terlalu gemerlap. Maka, jika kemudian kita berbuat salah dan maksiat kepada Allah, lalu diingatkan oleh orang lain, sikap yang terpuji adalah berani mengakui kesalahan, mendengar dan menuruti nasihat teman kita itu serta nggak mau mengulangi perbuatan maksiat. Jangan sebaliknya, malah marah dan menyalahkan orang lain. Padahal, orang lain atau teman kita hanya mengingatkan kita. Ibarat cermin, teman kita tahu apa yang kita lakukan, sementara kita yang sedang lupa bin khilaf jelas nggak bakalan ngeh kalo ternyata kita berbuat salah. Kalo sampe kita nggak mau mengakui kesalahan kita atau kelemahan kita setelah diingatkan, bisa digolongkan sebagai orang yang ditulis dalam peribahasa: buruk muka cermin dibelah. Iya kan?</p>
<p>Yuk, kita bareng-bareng meningkatkan kualitas amalan kita dan memperbanyak amal shaleh. Senantiasa ikhlas, bersabar, dan bersyukur kepada Allah Swt. Nggak jamannya lagi mengingkari kelemahan kalo sejatinya kita emang lemah dan nggak mampu. Juga nggak perlu malu mengakui kesalahan jika memang kita salah. Jangan menyerang orang lain yang kita tuding sebagai biang kesalahan kita, tapi kita seharunya melakukan interospeksi diri. Sebab, kita hidup bersama orang lain. Dan kita memang saling membutuhkan satu sama lain. Kita juga pasti butuh kepedulian dari orang lain (termasuk kita sendiri harus peduli dengan orang lain).</p>
<p>Itu sebabnya, sungguh sebuah tragedi kalo kita merasa benar sendiri, merasa nggak perlu saran dan masukan dari orang lain, nggak mau diingatkan ketika salah, nggak mau mengakui kelemahan dan kesalahan yang dilakukan, dan lebih celakanya lagi kalo kita menuding orang lain dan menimpakan kekesalan kita kepada mereka ketika kita salah atau gagal. Jika terus demikian, di mana keikhlasan kita?</p>
<p>Semoga kita menjadi hamba Allah yang beriman, bertakwa dan senantiasa lapang dada dan ikhlas menerima saran dan kritikan dari orang lain. Karena semua itu demi kebaikan kita dan kemajuan kita bersama. Apalagi jika kita hidup dalam sebuah organisasi atau komunitas (termasuk organisasi dakwah). Selain muhasabah diri untuk lebih baik bagi akhirat kita kelak, juga muhasabah untuk kebersamaan kita sebagai gologan kaum muslimin yang akan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik untuk kehidupan di dunia dan di akhirat kelak demi tercapainya tujuan bersama yang dicita-citakan.</p>
<p>Semoga tulisan singkat tentang muhasabah diri di buletin kesayangan kamu ini mampu mengingatkan kepada kita semua tentang pentingnya ikhlas, keutamaan dan sangat bermanfaatnya keikhlasan dalam kehidupan kita. Ikhlas akan senantiasa memberikan ketenangan. Hidup tidak gelisah tidak penuh kebencian kepada sesama, tak ada buruk sangka, tak ada rasa khawatir menjadi miskin atau kehilangan kedudukan, dan jabatan. Ikhlas membuat kita tak perlu gelisah melihat orang lain lebih baik dari kita atau berhasil mengalahkan kita dalam kehidupan. Justru jika kita merasa terancam atau ingin merebut kebahagiaan orang lain, ikhlas kita akan rusak digerus rasa hasad atau dengki kita.</p>
<p>Nikmati dunia ini dengan cara yang benar dan tuntunan yang sesuai ketetapan Allah Swt. dan RasulNya. Tak perlu khawatir, karena semua yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita adalah demi kebaikan kita. Tetaplah kita bersama Allah Swt. dan RasulNya. Jalani hidup dengan ikhlas, insya Allah nikmat, bahagia, tanpa perlu merasa was-was. Ikhlas menjadikan kita lebih terhormat di hadapan Allah Swt., juga menjadikan orang lain berusaha mencontoh pribadi kita yang baik. Semoga, kita semua bisa menjadi hamba-hamba Allah Swt. yang senantiasa ikhlas menghadapi berbagai kenyataan hidup sembari berdoa memohon ampun dan pertolongan kepada Allah Swt. Kita muhasabah diri: seberapa ikhlaskah kita? Hanya kita yang mampu menjawabnya. Interospeksi yuk! <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/muhasabah-yuk" target="_blank">Buletin gaulislam</a>, edisi 228/tahun ke-5, 5 Maret 2012]</strong></p>
<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http://menuliskreatif.com/2012/03/muhasabah-yuk/&amp;layout=standard&amp;show_faces=1&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;font=tahoma" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe><img src="http://menuliskreatif.com/?ak_action=api_record_view&id=1581&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menuliskreatif.com/2012/03/muhasabah-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

