iman
now browsing by tag
Rayakan Hidup dengan Ikhlas
Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Setiap kita pasti pernah menolong orang lain. Namun, dalam setiap kali menolong seseorang perasaan kita tentu berbeda. Ada yang melupakannya setelah berbuat. Ada pula yang selalu diingat. Nah, yang mana perasaan yang mesti dimiliki? Tak mesti dijawab dengan kata-kata, karena Anda pun sudah bisa menjawabnya. Namun pertanyaanya, kenapa kita terkadang bisa melupakan perbuatan yang telah dilakukan? Jawabannya, karena kita merasa apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Padahal yang biasa itu sebenarnya memiliki nilai yang luar biasa. Karena yang biasa itu tersisipi keikhlasan untuk melakukannya. Ikhlas? Ya, I-K-H-L-A-S.
Saat itu, secara tidak langsung, telah menjelmakan empat kehendak ikhlas dalam diri. Pertama, kehendak ikhlas beramal untuk mengagungkan Allah Swt. Kedua, kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah Swt. Ketiga, kehendak ikhlas untuk meraih balasan dan pahala dari Allah. Keempat, kehendak ikhlas dalam membersihkan diri dari cacat-cacat yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan melakukan hal yang ikhlas.
Acap kali kita melakukan hal ringan saat membantu orang lain keempat kehendak tersebut dapat dengan mudah diraih. Bahkan secara tidak langsung kita membuktikan ke-Mahamelihat-an Allah terhadap diri kita, seperti yang difirmankan, “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan.”
Namun, kenapa setiap kali kita melakukan perbuatan yang ‘bernilai besar’ untuk ikhlas? Jawabannya, karena belum merasuk dalam diri kita pesan hadis qudsi yang bernada, “Ikhlas adalah rahasia dari rahasia-Ku, yang hanya Kutitipkan ke dalam hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” Secara sederhana, hadis ini berpesan, jika ingin selamat dari riya maupun tipu daya setan, maka ikhlaslah dalam beramal. Jadikan hanya Allah tujuan kita. Meskipun ada hasil yang didapat dibalik pekerjaan, tetap jadikan ikhlas sebagai tonggak utamaya.
Sehingga wajar bila dalam melakukan pekerjaan kita harus selalu mengingat ucapan Imam al-Qusairy yang nadanya, “bila seseorang memiliki sifat ikhlas, ia akan menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Apa yang dilakukan semata-mata untuk Allah, meski yang diperbuat untuk mengurangi penderitaan sesama manusia. Ia akan selalu menolong orang lain tetap dengan alasan karena Allah memang Dzat yang senang menolong. Ia bekerja tetap Allah yang jadi tujuannya, karena Allah memang Dzat yang suka berbuat untuk hamba-hamba-Nya.”
Pernyataan Imam al-Qusyairi tersebut senada dengan pengertian ikhlas dalam pandangan imam Ali Kwh, “Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah.” Artinya, orang ikhlas adalah orang yang tidak memanggil siapa pun untuk melihat pekerjaan kecuali Allah Swt. Cukup Allah Swt. menjadi saksi atas perbuatannya.
Sehingga orang yang ikhlas adalah orang yang sengaja membuat jiwanya menjadi independen, merdeka, dan tak dibelenggu oleh pengharapan yang berbuah pujian. Hatinya selalu tenang. Apapun jabatan yang diampunya akibat keikhlasannya dalam bekerja tak membuatnya terpesona. Andaipun jabatannya tak naik meski dia sudah bekerja dengan maksimal, ia pun tak iri atau minder. Karena yang menjadi tujuannya adalah Allah, bukan jabatannya.
Jika sudah demikian, ia berada pada posisi yang dikatakan Rasulullah Saw., “Belenggu tak akan masuk dalam hati seorang muslim, jika ia menetapi tiga perkara: ikhlas beramal hanya karena Allah, memberi nasehat yang tulus kepada penguasa, dan aktif berkumpul dengan masyarakat muslim.” Jika ikhlas sudah menjadi pola hidupnya, maka ia tak tergolong dalam apa yang dikatakan kata Abu Ya’qub as-Susi, “Jika seseorang masih melihat keikhlasan dalam sikap ikhlasnya, maka keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.”
Oleh karena itu, mari rayakan hidup kita dengan ikhlas dalam bekerja dan beramal. Meski kita bekerja di instansi, pandanglah bahwa keikhlasan bekerja yang kita lakukan adalah karena Allah, bukan karena instansi. Meski tak dapat tambahan lebih dari sisi materi, tapi dari sisi Allah mendapatnya. Karena Allah senantiasa menyuruh kita untuk melakukan sebaik-baik pekerjaan. (QS. Al-Mulk: 2)[]
Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut
Tak Ada Kebebasan Beragama!
Wedew, tema gaulislam pekan ini ‘serem’ banget (bagi yang menganggapnya demikian, dan sekadar tema biasa aja bagi yang memiliki anggapan sebaliknya). Okelah itu bukan soal tema serem or tema manis. Judul ini memang terinspirasi dari kondisi saat ini, di mana orang bebas memeluk agama dan juga bebas untuk nggak beragama. Ya, itu memang hak setiap orang. Mau jadi muslim atau jadi kafir memang pilihan. Bukan paksaan. Tapi yang pasti, urusan tersebut ditanggung masing-masing orang baik di dunia maupun di akhirat kelak. Artinya, nggak bebas juga pada akhirnya, sebab setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya.
Oya, tema ini diambil juga karena banyaknya kaum muslimin, khususnya remaja yang kebingungan untuk menentukan sikap ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa ada agama selain Islam. Berbekal pengetahuan minim tentang ajaran Islam, banyak kaum muslimin dengan alasan toleransi akhirnya malah ikut serta dalam perayaan agama selain Islam, misalnya ikut acara Natal. Waduh!
Sobat muda muslim pembaca setia gaulislam, judul yang saya pilih dalam gaulislam edisi 218 ini adalah: “Tak Ada Kebebasan Beragama!” maksudnya: “setiap orang nggak bisa bebas dalam menafsirkan ajaran agama sesuai hawa nafsunya”. Selain itu, target penulisan ini juga ditujukan agar umat manusia paham bahwa naluri beragama itu ada pada setiap diri manusia, maka munculkan dan salurkan pada jalur yang benar sesuai tuntunan wahyu yang sudah ditetapkan syariat. Nggak boleh mengikuti selera hawa nafsu manusia itu sendiri yang cenderung menjauhkan dari ajaran syariat.
Rasa nyaman beragama
Sebagai sebuah ideologi, Islam pasti udah ngasih aturan dan sanksi juga dalam urusan agama. Nggak bisa memaksa orang lain untuk masuk Islam. Tapi kalo udah masuk Islam, harus taat sama aturan dong ya. Inilah bagian dari pemeliharaan Islam terhadap agama.
Beragama itu fitrah asasi manusia, lho. Kenapa ini fitrah? Karena sesuai dengan potensi hidup manusia. Jadi manusia tuh memiliki yang namanya potensi hidup. Nah, potensi hidup inilah yang akan mendorong manusia untuk melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini terwujud dalam dua manfistasi alias penampakan atau bentuk. Pertama, menuntut pemenuhan yang bersifat pasti. Artinya nih, kalo nggak terpenuhi manusia akan binasa. Nah, ini yang dinamakan dengan kebutuhan jasmaniyah (hajatul ‘udlaawiyah) seperti makan, minum dan buang hajat. Kedua, menuntut adanya pemenuhan saja dan jika nggak terpenuhi, manusia nggak bakalan mati, hanya saja akan merasa gelisah hingga terpenuhinya kebutuhan tersebut. Hmm.. inilah yang dinamakan dengan naluri (gharizah).
Terus nih, ditinjau dari segi munculnya dorongan (tuntutan pemuasan), naluri berbeda lho dengan kebutuhan jasmaniyah. Karena apa? Karena dorongan kebutuhan jasmani bersifat internal. Misalnya aja nih, kita kepengen makan karena lapar. Kalo perut udah kenyang mah, ada makanan lezat juga nggak nafsu dah. Jadi emang nggak perlu dorongan dari luar. Belum ada ceritanya orang tiba-tiba merasa lapar karena udah ngeliat wajah temennya yang kayak rujak cingur (waaah sadis banget!). Nggak ada dari sononya orang jadi tiba-tiba lapar (padahal perutnya udah full tank) setelah melihat ada gambar sepotong ayam goreng yang renyah.
Beda ama naluri lho. Karena lahirnya perasaan yang menuntut pemenuhan pada naluri didorong oleh pemikiran-pemikiran tentang sesuatu yang dapat mempengaruhi perasaan, atau suatu kenyataan yang dapat diindera. Misalnya nih, naluri untuk mengembangkan keturunan/melestarikan jenis, bisa terangsang karena seseorang memikirkan atau melihat wanita (termasuk kalo cewek, ya melihat cowok) atau segala sesuatu yang berkaitan dengan seks.
Oya, kalo rangsangan-rangsangan itu nggak ada, maka naluri pun nggak muncul. Karena emang rangsangannya dari luar bukan dari dalam tubuh manusia. Termasuk dalam naluri ini adalah naluri bergama. Naluri ini bisa muncul dengan adanya pemikiran-pemikiran mengenai informasi-informasi seputar Dzat yang bisa disembah. Kalo untuk kaum Muslimin, yakni dengan memikirkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran ciptaan) Allah.
Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, aneh banget kalo sampe ada orang mengkampanyekan kebebasan beragama. Orang mo beragama apa nggak, terserah. Seperti dulu pernah dilontarkan oleh Dr. J. Soedjati Djiwandono, seorang katolik, salah seorang direktur CSIS mengeluarkan gagasan tentang kebebasan beragama dalam negara Pancasila. Menurut dia, kebebasan beragama mengisyaratkan hak seseorang untuk memeluk satu agama atau tidak beragama, termasuk mengisyaratkan hak seseorang untuk memilih untuk berpindah atau keluar dari satu agama, sesuai keinginan. (Republika, 3 Oktober 1994)
Wah, kalo gitu udah menyalahi naluri itu sendiri dong ya? Karena manusia tuh pada dasarnya kepengen banget mensucikan sesuatu. Untuk disembah dan diagungkan. Meski kalo nggak tahu informasi yang benar tentang siapa yang berhak dan wajib kita sembah, maka akan berbeda pula sesembahannya.
Nggak ada paksaan untuk masuk Islam
Allah Swt. udah ngejelasin dalam firmanNya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS al-Baqarah [2]: 256)
Ini artinya, egara Islam (Khilafah Islamiyah), atau kaum Muslimin nggak boleh memaksa orang lain untuk masuk agama Islam. Misalnya ngancem: “Kalo nggak masuk Islam, akan disuruh renang di kolam berisi cairan asam sulfat. Waduh, itu sih namanya sadis bin kejam, Bro.
Sejak jaman Rasulullah saw., para khulafa ar-Rasyiddin, dan generasi setelahnya, Islam nggak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk memaksa orang lain masuk Islam. Itu sebabnya, dalam negara Islam orang-orang nonMuslim juga bisa hidup berdampingan tanpa harus meninggalkan agamanya. Ini membuktikan bahwa Islam sangat toleran kepada orang kafir selama mereka tunduk di bawah naungan negara Islam dan nggak memerangi Islam dan kaum muslimin.
Jadi, kalem aja nih buat orang-orang nonMuslim, bahwa Islam nggak bakalan mengancam mereka untuk masuk Islam dan meninggalkan agamanya. Nggak bakalan. Kalo kemudian ada banyak kasus nonMuslim yang masuk Islam, itu karena pilihannya sendiri. Bukan dipaksa. Seperti misalnya kasus Bilal bin Rabbah, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abu Thalib, Khadijah, Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Salman al-Farisi dan masih banyak lagi. Mereka masuk Islam dan meninggalkan agama or kepercayaannya yang dulu bukan karena dipaksa oleh Rasulullah saw., tapi karena mereka melihat Islam telah memberikan cahaya terang dalam hidup.
Kalo udah masuk ya kudu taat
Ini emang konsekuensi, guys. Kayak kita aja milih sekolah. Nggak ada paksaan dari pihak sekolah tertentu agar kita masuk sekolah di situ. Tapi, kalo kita udah masuk di sekolah tertentu, maka kita kudu taat terhadap segala aturan yang diberlakukan di sekolah itu. Kalo melanggar, ya kita akan diberi sanksi. Iya kan?
Nah, dalam Islam, untuk memelihara agama ini juga diminta agar pemeluknya melaksanakan seluruh ajaran Islam. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208)
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)
Imam an-Nasafiy menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (Imam al-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta’wiil, I/112)
Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka. Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.
Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syari’at Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)
Ini artinya, kita nggak boleh menawar-nawar lagi untuk melakukan ibadah yang bukan berasal dari Islam. Misalnya aja, bagi seorang mualaf, karena dulunya setiap minggu ke gereja untuk kebaktian, maka setelah masuk Islam udah nggak boleh lagi tuh ikutan kebaktian di gereja. Karena emang udah bukan lagi ajaran dari Islam.
Agar tidak mempermainkan agama
Propaganda kebebasan beragama itu sebetulnya bagian dari upaya untuk menghancurkan keyakinan seseorang dalam beragama. Itu sebabnya, khusus bagi yang udah memeluk Islam, nggak ada pilihan lain lagi. Wajib taat. Tapi kalo nekat pindah agama (dari Islam) kepada selain Islam. Itu namanya murtad. Islam punya cara tersendiri untuk mengatasi persoalan ini sebagai bagian dari pemeliharaan negara terhadap agama rakyatnya. Bukan mengekang lho, tapi justru melindungi. Jadi, hukuman Islam kepada orang-orang murtad (keluar dari agama Islam) jangan dianggap sebagai bentuk pemaksaan agama terhadap rakyat. Karena sejatinya adalah melindungi. Justru kalo dibiarkan, ya kayak sekarang, orang bebas pindah agama karena nggak ada hukumannya. Dalam pandangan Islam, seorang muslim nggak layak untuk keluar dari Islam alias pindah agama. Karena itu merupakan bentuk pelanggaran besar.
Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Ikrimah yang berkata, “Dihadapkan kepada Amirul Muk-minin ‘Ali ra orang-orang zindiq, kemudian beliau ra membakar mereka. Hal ini disampaikan kepada ‘Ibnu ‘Abbas dan ia berkata, “Seandainya aku (yang menghukum), maka aku tidak akan membakarnya karena larangan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: “Janganlah kalian mengadzab (menghukum) dengan ‘adzabnya Allah.” Dan aku (Ibnu ‘Abbas) akan membunuhnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia.”
Membunuh laki-laki yang murtad berdasarkan dzahir hadis tersebut. Sedangkan membunuh wanita yang murtad berdasarkan keumuman hadis. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengganti (agamanya)”. Sedangkan lafadz “man” termasuk lafadz umum. Diriwayatkan oleh Daruquthniy dan Baihaqiy dari Jabir, “Bahwa Ummu Marwan telah murtad. Rasulullah saw. memerintahkan untuk menasihatinya agar ia kembali kepada Islam. Jika ia bertaubat (maka dibiarkan), bila ia tidak, maka dibunuh.” (Abdurrahman al-Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, hlm. 128-129)
Lagian sia-sia aja deh bagi mereka yang pindah agama dari Islam kepada yang lain. Itu sama artinya dari terang menuju gelap. Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 217)
Islam menghormati nonMuslim
Boys and gals, Islam nggak bakalan maksa siapa pun (termasuk mereka yang udah punya agama) untuk masuk Islam. Maka, Islam pun menghormati nonMuslim.
Memang sih, hal ini hanya akan bisa disaksikan kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Kalo nggak mah, kayak sekarang nih, sulit juga direalisasikan, meski masih mungkin dalam beberapa hal, seperti misalnya jika berselisih pendapat mengenai agama-agama mereka maka mereka boleh berdebat satu sama lain dengan cara yang paling baik dan dalam batas-batas kesopanan, dengan argumentasi dan memberikan kepuasan (kemantapan). Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka…” (QS al-Ankabut [29]: 46)
Sekadar tambahan info saja, yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap menyatakan permusuhan. (Dalam catatan kaki no. 1155, Al-Quran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI, hlm. 635)
Sobat gaulislam, Islam menghormati penduduk negeri Islam meskipun mereka nonMuslim. Suatu ketika, seorang wanita Nasrani dari penduduk Mesir pernah mengeluh kepada Umar bin Khaththab bahwa Amr bin Ash telah menggusur rumahnya untuk keperluan perluasan masjid. Amr lalu ditanya oleh Umar mengenai hal ini. Amr mengabarkan bahwa jumlah kaum Muslimin telah banyak dan masjid sudah tidak dapat lagi menampung mereka. Kebetulan di samping masjid itu rumah perempuan ini. Amr telah menawarkan kepadanya uang ganti-rugi yang melebihi harga rumahnya tetapi ia tidak mau. Maka terpaksa Amr merobohkan rumah itu dan memasukkannya ke lingkungan masjid, sedangkan uang ganti-ruginya ditaruhnya di Baitul Mal (kas negara) yang bisa diambil kapan saja perempuan itu mau.
Meskipun ini termasuk kondisi yang dibolehkan karena bisa dijadikan alasan oleh Amr atas perbuatannya, namun Umar tidak menerimanya dan menyuruh Amr merobohkan bangunan baru masjid itu. Umar menyuruh Amr agar mengembalikan rumah perempuan Nasrani seperti semula. (Dr. Mustafa as-Siba’i, Peradaban Islam; Dulu, Kini dan Esok, hlm. 95)
Bro en Sis rahimakumullah, inilah Islam. Agama kita. Kita pantas bangga banget karena Islam sejak dulu udah mempraktikkan toleransi. Jadi, wajar banget kan kalo ada komentar seperti yang disampaikan Rev. Charles Francis Potter, “Mubaligh-mubaligh Islam mengajarkan perdamaian dunia, persaudaran dunia, toleransi, ketinggian derajat wanita dan penghancuran dinding perbedaan ras. Islam sama sekali suci dari segala bentuk minuman keras, dan Islam mempraktikkan persamaan ras.” (The Faiths Men Live By, hlm. 81. Dikutip dalam buku Kekaguman Dunia terhadap Islam, hlm. 58)
Melalui hukum syariat seperti ini kaum Muslim terjamin untuk melaksanakan ajaran agamanya. Demikian pula orang non-Muslim bebas untuk menjalankan agamanya tanpa ada paksaan dari siapa pun. Negara menjaminnya, masyarakat Islam memberikannya hak.
Bandingkan dengan sistem demokrasi yang memberikan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang—apalagi disertai dengan paradigma alias kerangka berpikir bahwa dalam beragama jangan gunakan akal—udah bikin nggak sedikit manusia yang terperosok ke dalam agama yang nggak masuk akal macam agama Kabalah yang dianut Madonna atau agama Scientologi yang dianut sama Tom Cruise. Selain itu, muncul banyak sekte sesat yang, antara lain, menyajikan bunuh diri massal macam sekte The Heavens Gate (Gerbang Surga) yang didirikan oleh Marshall Herff Applewhite dan Bonnie “TI” Lu Trusdale Netteles atau sekte Aum Shinri Kyo yang didirikan pada 1987 oleh Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto di Jepang sebagai solusi dalam mengatasi problema hidup mereka. Waduh, kacau banget kan?
Padahal, Allah Swt. sebagai Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan telah menganugerahi naluri fitri beragama. Allah Swt. berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS ar-Ruum [30]: 30)
Oya, fitrah Allah tuh maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan. (Catatan kaki no. 1169, Al-Quran dan Terjemahnya, Dpertemen Agama RI, hlm. 645)
Sobat gaulislam, semoga gambaran sekilas tentang pemeliharaan Islam atas agama kian menguatkan pemahaman kamu bahwa Islam tuh emang beda dengan agama or ideologi yang lain. Maka, berbahagialah menjadi seorang muslim dan berbanggalah. Gimana, tetap istiqamah dalam Islam kan? Wajib! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 218/tahun ke-5, 26 Desember 2011]
Jangan Matikan Ramadhan!
Siap nggak sih kalo kita ngejalanin puasa di bulan Ramadhan dengan benar dan baik? Siap nggak sih kalo ibadah puasa kita dibarengi dengan amalan-amalan yang lain? Hmm… pastinya sih kudu siap ya. Sayang banget kalo sampe nggak meman-faatkan momen Ramadhan ini. Datangnya sih emang sama dengan bulan lainnya, setahun sekali. Tetapi keutaman bulan Ramadhan ini oke banget. Apa aja sih keutamannya?
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Ummatku telah diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya ketika bulan Ramadhan: 1) Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada minyak kesturi di sisi Allah, 2) Para Malaikat beristighfar untuk mereka hingga berbuka, 3) Allah memperindah SurgaNya setiap hari, seraya berfirman kepadanya: “Hampir-hampir para hambaKu yang shalih akan mencampakkan berbagai kesukaran dan penderitaan lalu kembali kepadamu,” 4) Syaithan-syaithan durjana dibelenggu, tidak dibiarkan lepas sseperti pada bulan-bulan selain Ramadhan, 5) Mereka akan mendapat ampunan di akhir malam.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu terjadi pada Lailatul Qadar?” Beliau menjawab, “Bukan, namun pelaku kebaikan akan disempurnakan pahalanya seusai menyelesaikan amalannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Baihaqi dalam kitab ats-Tsawaab sanadnya lemah sekali, tetapi sebagian lafazh hadits tersebut mempunyai shaid, yakni penguat yang shahih) Read More…
Maaf
Hehehe.. judul edisi gaulislam ke-194 ini cukup singkat. Satu kata: Maaf. Biarin deh sekali-kali simpel. Mudah dipahami. Semoga saja buka judul yang absurd. Hmm… gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya sih lebih baik tubuh tertusuk pedang ketimbang ditusuk lidah dengan omongan yang nggak enak en nggak sedap. Mungkin bener juga kali ya kalo Bung Meggy Z semasa hidupnya sempat berdendang: “Kalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin masih dapat kutahan. Tapi ini.. sakit lebih sakit, kecewa karena cinta…. Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa…” (ih, kalo saya sih nggak kepengen dua-duanya tuh!)
Sobat muda muslim, ngasih maaf kepada orang yang udah nyakitin perasaan kita tuh rasa sakitnya kadang nggak bisa ditelan oleh waktu (duilee lebay mode “on”). Gimana nggak, kita suka gondok kalo ada teman yang udah ngerendahin kita misalnya. Apalagi di depan banyak orang. Wuih, dendamnya bisa delapan turunan tuh. Iya, nyebelin nggak sih kalo kita misalnya minta diajarin ngaji Quran, terus doi ngomentarin: “Udah gede kayak gini masih belum bisa baca Quran? Kalah ama adek gue tuh yang masih SD!” Waduh, kalo di film kartun tuh muka kita udah merah padam dan keluar asap dari idung (banteng kalee…)
Mungkin wajar kalo kita gondok abis kalo dihina. Mendingan dipukul pake kayu atau benda lainnya kali ya daripada dirajam pake kata-kata hinaan di depan banyak orang pula. Malu, kesel, dan juga marah sama orang yang model begitu. Nah, suatu ketika doi minta maaf nih sama kita. Hmm.. kayaknya sampe sujud juga nggak bakalan dikasih kali tuh. Mau nangis darah dan ngesot-ngesot juga kayaknya nggak bakalan dikasih maaf. Saking kesel dan gondoknya tentu. Read More…
Mengukur Manfaat Ikhlas
Bro en Sis, ketemu lagi dengan gaulislam. Edisi pekan ini, pekan ke-193, sengaja buletin kesayangan kamu ini membahas seputar ikhlas. Tema ini sebenarnya sudah banyak dikupas, tetapi nggak ada salahnya juga kalo kita bahas lagi. Tentu dari sudut yang berbeda tetapi tetap memberi solusi islami.
Kalo kita mau merhatiin, semua orang berbuat insya Allah ingin dapetin manfaat dari apa yang diperbuatnya. Itu sudah pasti. Tapi memang bukan tujuan utama. Karena sebagai muslim yang kita ingin raih sebagai tujuan utama adalah mendapatkan ridho Allah Swt. Manfaat adalah efek samping yang secara manusiawi ingin kita dapatkan juga. Misalnya belajar. Memang manfaatnya yang ingin kita dapatkan adalah menjadi bisa. Nah, kerjakan kegiatan belajar itu dengan niat ikhlas karena ingin dapetin ridho Allah Swt. agar manfaat yang didapatkan menjadi barokah bagi kita. Iya nggak sih? Jadi tetap nggak kering dari nilai-nilai yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah Swt. sebagai pencipta kita. Gitu, Bro. Read More…

D5 Creation