kapitalisme

now browsing by tag

 
 

Ujian Nasional dan Produk Gagal Kapitalisme

O. Solihin

Hari ini, 2,5 juta murid SMA dan SMK mengikuti Ujian Nasional. “Totalnya 2.580.446. Laki-laki 1.281.022 dan Perempuan 1.299.420,” ujar Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Mendikbud), M. Nuh, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (12/4/2012) lalu (detik.com/16/04/2012)

Detik.com juga melaporkan bahwa menurut Mendikbud M. Nuh, siswa-siswi itu merupakan murid dari 27 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah sekolah paling banyak ada di Jawa Timur, sebanyak 2.568. Jumlah kelas yang disiapkan untuk ujian ini sebanyak 148.352 ruangan dengan jumlah pengawas mencapai 296.704 orang. Biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk mengadakan ujian ini total mencapai Rp 600 miliar. Jika dibagi rata-rata, setiap siswa biayanya mencapai Rp 50 ribu.

Tepat di hari pertama Ujian Nasional ini, gaulislam yang secara rutin terbit setiap hari Senin sejak 29 Oktober 2007 lalu pengen ikut meramaikan berita seputar Ujian Nasional. Eh, lebih pas disebut memanfaatkan momen Ujian Nasional kok. Sebab kalo berita udah pasti kalah sama media cetak maupun media elektronik (termasuk internet) yang getol memberitakan pernak-pernik Ujian Nasional. Tulisan khas dari gaulislam adalah bagaimana membahas setiap persoalan yang muncul di tengah kehidupan manusia untuk diberikan penilaian dan solusinya menurut sudut pandang Islam. Ya, sebagai muslim kita memang harus menjadikan Islam sebagai cara hidup, sebagai aturan hidup. Itu sebabnya, sudut pandang kita wajib Islam dalam menilai setiap persoalan, termasuk dalam hal ini adalah Ujian Nasional.

Bro en Sis rahimakumullah, baca judul gaulislam edisi 234 di tahun ke-5 ini mungkin ada di antara kamu yang berpikir bahwa gaulislam jadi bacaan dewasa banget. Judulnya dipilih kata yang formal sehingga kesannya serius. Lha, memangnya kalo remaja kudu nyantai terus ya? Sekali-kali bolehlah serius. Apalagi kalo gaulislam juga dibaca para guru dan kakak-kakak mahasiswa, kan nggak seru kalo judulnya berbau remaja terus. Tul nggak?

Eh, kok jadi ngelantur sih. Hehehe.. iya. Maksudnya dengan pilihan judul seperti ini gaulislam ingin berbagi informasi dan juga wawasan bahwa Ujian Nasional saat ini, yang dari tahun ke tahun identik dengan kecurangan, terus dilihat dari produk pendidikan ala kapitalisme yang udah nyata di depan kita, ingin mengajak kamu semua merenung. Ya, merenung sejenak. Apa benar sistem pendidikan kapitalisme saat ini menghasilkan manusia seutuhnya? Ya, seutuhnya. Pikiran dan perasaannya dibangun dengan cara yang benar dan baik. Harus kompak antara pikiran dan perasaan. Nggak boleh pikiran bagus tapi perasaannya jelek. Nggak boleh juga perasaannya oke, tapi pikirannya jeblok. Keduanya harus serasi. Sehingga menunjukkan ciri khas sebuah produk peradaban, atau minimal produk khas dari sebuah sitem pendidikan.

Gengsi sekolah

Bro en Sis pembaca setia gaulislam, saya sendiri memang pengajar di sebuah pesantren dan pusdiklat (pusat pendidikan dan latihan) keterampilan. Di kedua tempat ini saya mengajar keterampilan menulis dan jurnalistik. Kemampuan menulis ini harus dipelajari oleh peserta didik sebagai bekal tambahan. Sehingga para santri di pesantren tidak saja memiliki kemampuan dalam tsaqafah Islam dan bahasa Arab, tetapi mereka juga dibekali keterampilan di bidang media (broadcast, clothing, desain grafis, foto dan video)—dan salah satunya adalah materi menulis dan memodifikasi website. Dua keterampilan terakhir ini saya ajarkan untuk para santri di pesantren tersebut. Sementara di pusdiklat keterampilan saya hanya mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalistik untuk semua jurusan yang ada di situ: fotografi dan videografi, desain grafis, teknik komputer dan jaringan serta jurusan menjahit dan tatabusana.

Sebagai pengajar saya memang punya harapan, punya obsesi (yang mungkin sama dengan guru lainnya) bahwa anak-anak didik saya bisa terampil dan berhasil ketika terjun di tengah masyarakat. Begitu pun dengan pihak penyelenggara pendidikan, dari mulai sekolah, kemudian dinas pendidikan di tiap kota/kabupaten, kanwil pendidikan di tingkat propopinsi hingga pemerintah pusat (kementerian pendidikan dan kebudayaan). Pastilah ingin kurikulum yang sudah disusun berhasil diterapkan dan buktinya banyak siswa yang berhasil. Ini wajar. Namun yang tidak wajar adalah berbuat curang. Hanya demi untuk menunjukkan bahwa sekolahnya hebat, yang diukur dari keberhasilan para siswanya yang lulus Ujian Nasional, tak segan pihak sekolah melakukan hal-hal tak terpuji, seperti membiarkan siswanya mencontek, mengintimidasi pengawas ujian, sampai menahan sementara lembar jawaban siswa sebelum dibawa ke dinas pendidikan setempat untuk dikoreksi oleh para guru lalu dibetulkan jika ada siswa yang salah menjawab. Termasuk dalam hal ini untuk ujian lokal, di dalam rapat guru harus ada kesepakatan menambah nilai murid-murid agar bisa masuk kategori naik kelas. Waduh! Buat apa ada ujian bagi siswa jika akhirnya guru yang menjawab soal-soal ujiannya atau nilai yang jeblok lalu ditambah agar masuk batas minimal kriteria kelulusan?

Di tempat saya mengajar memang tidak ada Ujian Nasional. Tetapi saya prihatin dengan berbagai cerita yang disampaikan beberapa rekan pengajar di tempat saya ngajar yang juga menyambi mengajar di beberapa sekolah umum yang tentu saja melaksanakan Ujian Nasional. Mengalirlah cerita seperti yang saya tulis sebelum paragraf ini. Memprihatinkan dan menyedih memang. Bahkan pernah ada seorang bapak yang masygul ketika mendengar cerita dari anaknya yang ikut UN. Sang anak malah dimarahi oleh gurunya gara-gara dia jujur tak mau mencontek. Lembar jawaban yang sedang diisinya direbut sang guru dan diisi oleh guru tersebut. Hadeeuh… demi gengsi sekolah, akhirnya curang, bahkan mengajarkan dan mempertontonkan kecurangan. Oya, mungkin nggak semua sekolah melakukan kekonyolan dan kecurangan, tapi yang pasti banyak yang melakukannya. Ah, menyebalkan. Inilah kondisi kondisi sistem pendidikan kita. Produk gagal dari sistem kapitalisme yang sekular.

Kurikulum yang sekularistik

Bro, nggak heran dong kalo kapitalisme mengadopsi sekularistik. Wong sekularisme adalah akidahnya kapitalisme kok. Sebuah sistem pasti akan melahirkan produk sesuai dengan asas yang menjadi landasan ideologinya. So, nggak usah heran kalo kurikulum pendidikan saat ini yang merupakan bagian dari produk sistem pun akhirnya sesuai kepentingan sistem itu sendiri. Jadinya? Ya ikut-ikutan sekuler dong!

Nah, kenapa bisa disebut sekuler? Perlu kita ingetin lagi nih bahwa sekuler itu adalah memisahkan antara agama dan kehidupan. Artinya aturan agama nggak boleh dan bahkan terlarang untuk ikutan ngatur kehidupan dunia. Udah ada jatahnya masing-masing. Nggak boleh saling ikut campur dan saling intervensi. Buktinya, kita bisa nemuin ada orang yang memiliki nama islami, tapi kelakuannya jauh dari ajaran Islam. Berasal dari keluarga Muslim, tapi kehidupannya bertentangan dan bahkan menentang Islam. Ini buah sekularisme, Bro.

Oya, jangan kaget, sekularisme juga ikut menghancurkan pemeluk agama selain Islam, lho. Nggak percaya? Hmm… di negeri-negeri Barat, kini pemeluk agama Nasrani kian nggak taat pada ajarannya karena digerus sekularisme. Di Amsterdam, sebagai misal, 200 tahun lalu, 99 persen penduduknya beragama Kristen. Sekarang, hanya tersisa sekitar 10 persen saja yang dibaptis dan ke gereja. Sebagian besar mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. Waduh!

Di Prancis, yang 95 persen penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Pada 1987, di Jerman, menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya mengatakan, bahwa “agama sudah tidak diperlukan lagi.”

Di Finlandia, yang 97 persen Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu. (Adian Husaini dalam tulisannya di Republika, 27 Juli 2004)

Nah, di negeri kita juga sama. Mungkin kalo di KTP sih pas di kolom agama tercantum Islam. Tapi, berapa persen sih yang taat menjalankan agamanya? Seenggaknya kalo pelaksanaan shalat aja yang jadi ukurannya, berapa persen sih yang rajin shalat? Memang sih harus ada survey. Tapi yang pasti, kalo ngelihat gelagatnya, masyarakat kita juga udah sekuler, lho. Lihat aja produknya saat ini. Siapa sih yang jadi ‘bintang utama’ di acara-acara berita kriminal?

Yap, mereka yang jadi bintang utama itu tangannya diborgol dan mengenakan baju bertuliskan “tahanan”. Banyak di antara mereka yang namanya tuh islami, jelas orang Islam. Tapi, ya kelakuannya udah jauh dari ajaran Islam. Eh, saya nulis gini bukan sok suci lho, tapi sekadar renungan aja ternyata banyak dari kita yang udah jadi sekuler. Benar-benar tragedi, Bro!

Itu sebabnya, jangan heran juga kalo kurikulum pendidikan nasional pun muatannya sekuler, mengejar aspek materi alias materislitik belaka. Alat ukur kesuksesan hanya dinilai dari keberhasilan secara materi. Tengok deh, sekolah bukan semata tempat mencari ilmu, tetapi sudah ‘nyambi’ jadi tempat sosialisasi dan menerapkan gaya hidup seperti yang kerap ditampilkan di banyak tayangan sinetron remaja saat ini. Menyedihkan banget.

Kurikulum pendidikan yang sekularistik itu juga nyata banget dari adanya pembagian sekolah umum dan sekolah agama. Pemisahan ini jelas merupakan bagian dari upaya sekularisme di bidang ilmu pengetahuan. Sebab, yang hebat tuh kalo menghasilkan pelajar yang handal di bidang keterampilan ilmu-ilmu umum, tapi juga beriman dan bertakwa. Ini baru hebat. Sebagai contoh, salah seorang imam mazhab yang terkenal, yakni Imam Abu Hanifah, selain master di bidang ilmu fikih dan tsaqafah Islam, tapi beliau juga pakar di bidang ilmu kimia. Wuih, keren banget kan?

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, karena udah dibiasakan dipisah-pisahkan aturan agama dan aturan negara, maka akibatnya dalam kehidupan sehari-hari pun nampak jelas perilaku sekular itu. Ngakunya muslimah, tapi keluar rumah nggak pake kerudung dan jilbab. Ngakunya muslim, tapi makan dan minum yang haram. Ah, menyedihkan banget deh. Itu baru soal pakaian dan minuman lho, belum pelaksanaan syariat yang lainnya. Jadi, kita tuh sering ‘malpraktek’ dalam ber-Islam alias melaksanakan ajaran Islam nggak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. dan RasulNya. Gawat!

Masa kegemilangan Islam

Bro en Sis rahimakumullah, untuk mencerdaskan kaum Muslimin dan rakyatnya secara umum, Khilafah Islamiyah menyediakan lembaga-lembanga keilmuan. Islam membangun ribuan al-Katatib, yakni wadah keilmuan untuk mempelajari al-Quran, menulis dan berhitung. Dibudayakan juga diskusi-diskusi keilmuan di masjid-masjid untuk melayani pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat soal fikih, hadis, tafsir dan bahasa. Bahkan Muqri Rasy’an bin Nazhif ad-Dimasyqi mendirikan lembaga keilmuan Quran (untuk mempelajari al-Quran) pada tahun 400 H di Damaskus. Sementara khusus untuk hadis, didirikan oleh Nuruddin Mahmud bin Zanky, juga di Damaskus. Selain itu, madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universitas) juga didirikan.

Al-Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan Universitas Cordova yang saat itu menampung (mahasiswa) dari kaum muslimin maupun orang Barat. Selain itu dibangun pula Universitas Mustanshirriyah di Baghdad. Sekadar tahu aja, universitas-universitas ini telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga saat ini melalui berbagai temuan-temuannya, seperti al-Khawarizmi, Ibnu al-Haisam, Ibnu Sina, Jabir bin Hayan, dan lainnya. (Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 158-159)

Menurut Ibnu Haukal, di satu kota saja dari kota-kota di Sicilia ada 300 kuttab (serupa dengan sekolah dasar di jaman sekarang). Bahkan ada beberapa kuttab yang luas sehingga satu kuttab bisa menampung ratusan bahkan ribuan siswa. Dalam sejarah disebutkan bahwa Abul Qasim al-Balkhi memiliki sebuah kuttab yang ditempati 3.000 siswa. Kuttab Abul Qasim ini luas sekali sehingga untuk menginspeksi siswa-siswanya dan mengawasi keadaan mereka perlu dengan menunggang keledai karena bila dengan berjalan kaki akan memakan waktu lama (Dr. Mustafa as-Siba’i, Peradaban Islam; Dulu, Kini, dan Esok, hlm. 153-154). Masih banyak lagi sekolah dasar dan universitas yang dirikan, termasuk yang ada sampai sekarang adalah Universitas al-Azhar di Kairo.

Untuk mendukung pendidikan, maka pemerintah juga mendirikan banyak perpustakaan. Seperti perpustakaan Darul Hikmah yang didirikan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid (masa pemerintahan beliau antara 786-809 M) di Baghdad. Juga perpustakaan al-Aziz al-Fathimiy di Kairo yang menghimpun 1.600.000 jilid buku (Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 160)

Hasil pendidikan dan penyediaan fasilitas yang bagus ini paling nggak dalam sejarah tercatat beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim. Beberapa di antaranya: bidang kedokteran (kaum muslimin berhasil mengembangkan teknik pembiusan untuk pertama kalinya dalam sejarah kedokteran dunia, dikembangkan juga teknik operasi, pendirian rumah sakit dan obat-obatan).

Dalam ilmu kimia (di sini kaum muslimin mengenalkan istilah alkali, menemukan amonia, teknik destilasi atau penyulingan, penyaringan, dan sublimasi, memperkenalkan belerang dan asam nitrit, mempopulerkan industri kaca dan kertas, serta penemuan lainnya). Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (melakukan penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan, bahkan mengklasifikasikan berbagai jenis tumbuhan).

Terus, dalam ilmu pengetahuan alam (penemuan neraca, penemuan pendulum untuk jam dinding, ilmu optik, dan telah mampu merumuskan perbedaan antara kecepatan cahaya dan kecepatan suara, termasuk kaum muslimin berhasil menemukan teknologi kompas magnetis untuk mengetahui arah mata angin); matematika (berhasil dikembangkan perhitungan desimal dan kwadrat, juga menciptakan berbagai rumus).

Termasuk perkembangan dalam ilmu astronomi (kaum muslimin berhasil membangun observatorium—teropong bintang–di Baghdad, Damaskus, Iskandariyah dan tempat lainnya untuk mengamati bintang); dan geografi (melakukan penjelajahan ke tempat yang belum dikenal, dan membuatkan petanya). Wah,  keren banget kan?

Bagaimana dengan para ilmuwannya? Wah, kayaknya udah banyak banget ditulis di berbagai buku ya. Kalo ditulis lagi di sini jadi bakalan panjang deh artikel ini. Silakan cari aja ya hehehe… (sekadar ngasih contoh, ada di buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”, karya Prof. Dr. Raghib as-Sirjani, atau “Peradaban Islam; Dulu, Kini, dan Esok” karya Dr. Mustafa as-Siba’i, eh, boleh juga hunting buku saya yang judulnya “Yes! I am MUSLIM”, di situ juga dibahas masa kegemilangan peradaban Islam).

Wajib lho, faqih fiddien

Kamu tahu istilah faqih fiddien? Yup, yang jelas jangan kamu plesetkan jadi faqih fi-gim. Hehehe.. sebab artinya jadi lain. Kalo yang pertama artinya paham dalam agama, yang kedua, paham or ahli dalam gim. Wasyah…

Nah, setiap muslim wajib menjadikan dirinya faqih dalam urusan agama. Sebab, belajar ilmu agama itu wajib ‘ain (nggak bisa diwakilkan kepada orang lain. Harus diri sendiri). Kalo ilmu umum; kayak fisika, kimia, ilmu kedokteran, matematik dan sejenisnya, itu masuknya wajib kifayah (nggak mesti kamu bisa. Kalo ada yang lain yang udah bisa, kewajibanmu untuk mendalami ilmu tersebut udah gugur alias tertunaikan).

Ngomong-ngomong soal pendidikan, kita tengok tentang tujuan pendidikan dalam Islam. Yakni, mencetak manusia yang berakal dan berpikir atas dasar Islam dan membentuk jiwa manusia dengan meletakkan seluruh kecende­rungannya atas dasar Islam. Ini bisa terwujud kalo peserta didik, akalnya dipenuhi oleh pengetahuan-pengetahuan Islam, en nggak cuma difokuskan kepada ilmu umum saja.

Itu sebabnya, dalam sistem pendidikan Islam, negara akan memprioritaskan ilmu aga­ma ketimbang ilmu umum untuk dipelajari. Meski demikian, nggak berarti ilmu umum jadi ‘warga’ kelas dua. Bisa aja bareng beriringan. Agama dapet, ilmu umum juga berhasil diraih. Jadi jalan dua-duanya.

Jadi jangan heran kalo banyak kaum muslimin di masa kejayaan Islam, selain mereka faqih fiddien, juga ahli pertanian, kimia, fisika, astronomi, kedokteran, dan sejenisnya. Hebat sekali bukan? Lagian orang-orang yang punya ilmu itu kan dinilai lebih tinggi derajatnya ketimbang orang yang nggak berilmu. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mujâdalah [58]: 11)

Untuk masalah ilmu ini, Rasulullah saw. bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا  

“Tidak boleh iri hati kecuali terhadap dua perkara yaitu terhadap seseorang yang dikaru­niakan oleh Allah harta kekayaan dan dia memanfaatkannya untuk urusan kebenaran (kebaikan). Juga seseorang yang diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah lalu dia memanfaat­kannya (dengan kebenaran) serta mengajarkan­nya kepada orang lain” (HR Bukhâri dan Muslim)

Khusus dalam bidang pendidikan nih, menurut Islam, sekolah diposisikan sebagai sarana pertama untuk mengenalkan Allah Swt., akidah Islam, dan sistem hukum Islam, serta mendidik siswa agar paham dan mengerti praktik sistem hukum Islam. Sebab, Islam bukan sekadar ajaran ritual, melainkan sistem hidup yang bersifat ideologis dan politis. Setelah itu, barulah sekolah ditempatkan sebagai wahana untuk menuntut ilmu, sains, dan teknologi untuk memperoleh manfaat dari hasil-hasil temuan dan produk akal manusia berupa industri dan sains.

Dengan demikian, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan tentu saja pandai menghiasi kehidupannya dengan amal shaleh. Lha, kalo sekarang? Duh, Kapitalisme udah menggerus kepribadian kita: akhlak yang rusak, termasuk kualitas penguasaan ilmu pengetahuannya yang kurang bagus. Jadi, kalo masih banyak pelajar yang nggak lulus UN, tentu kesalahan bukan cuma pada pelajar tersebut, tapi ideologi yang mengatur kehidupan ini yang wajib disalahkan. Itu sebabnya, mending “talak tiga” aja terhadap Kapitalisme, dan ganti dengan syariat Islam.

Oke deh, kalo pengen seperti di masa kejayaan Islam, saat Khilafah Islamiyah masih berdiri, mari kita perjuangkan tegaknya ‘rumah’ milik kita itu. Yuk, kampanyekan penerapan Islam sebagai ideologi negara. Tentu, itu dilakukan jika kita mau sama-sama bangkit dari keterpurukan ini. Tetep semangat! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 234/tahun ke-5, 16 April 2012]

Remaja dan Terorisme

O. Solihin

Jangan keburu ngeper dan kaget sampai keluar kentut disertai koloid (baca: mencret) segala pas kamu baca judul ini. Biasa aja lagi. Kalem bin nyantai. Tema terorisme sama enaknya untuk dibahas dengan tema musik, game dan seks. Hah, seks? Kalo game dan musik sih emang doyan. Kok seks juga sih? Iya, soalnya banyak juga teman remaja yang ketahuan berlama-lama di depan komputer warnet, sampe lupa menghapus browsing history-nya. Hayoo ngaku! Hehehe.. saya bukan penjaga warnet, tapi seringkali harus ke warnet jika koneksi internet di rumah mendadak lemot kayak keong. Nah, di situlah saya seringkali pas duduk manis di depan komputer warnet, setelah ngisi data billing lalu membuka web browser, mata saya dikagetkan dengan pemandangan tak senonoh. Memang sih, bukan berarti yang ngelakuin hal itu remaja, bisa aja orang dewasa di warnet itu. Tetapi kan kalo mayoritas pengguna warnet anak sekolah, dugaan kuat pelakunya ya anak sekolah juga. Kemungkinan besar lho, bukan nuduh. Hehehe…

Bro en Sis, prolog saya di paragraf pertama tadi sekadar menginformasikan aja, bahwa ada fakta remaja yang senang dan lebih menyukai hal-hal ringan. Maka tema-tema seperti musik, game, dan juga seks (termasuk dalam hal ini pergaulan antar laki dan perempuan) bertebaran memenuhi halaman media massa (cetak, elektronik, termasuk internet). Sementara tema-tema berat macam politik, perkembangan ekonomi, hukum, pemerintahan kayaknya jauh banget dari pembahasan hot kamu semua. Mungkin saking bingungnya dengan masalah politik dan juga demi menghilangkan kepenatan rutinitas belajar, nggak sedikit remaja yang ngocehnya seputar musik, game, dan juga seks. Seringkali juga hal-hal sepele ditaburkan di situs jejaring sosial. Kasihan juga remaja kita ya, otak encernya cuma dipake buat nyampah di facebook. Ckckckck… Read More…

Nasihat untuk Waria

O. Solihin

Sobat muda muslim, selama ini waria alias wadam alias banci emang amat akrab dengan dunia malam dan pinggiran jalan. Berbaur dengan para penjaja cinta dan hawa nafsu di keremangan malam dan temaram lampu jalanan. Biasanya begitu ada petugas tramtib, mereka larinya paling kenceng. Maklum, secara fisik mereka memang laki-laki. Tetapi kini para waria berani tampil beda. Ada yang pernah mencalonkan dirinya jadi anggota legislatif daerah, ada yang berani menulis buku menyuarakan pendapatnya memilih jadi waria, di televisi makin banyak orang yang memerankan (atau memang sudah?) jadi waria, ada penyelenggaraan khusus untuk kontes waria seperti gelaran Miss Waria, bahkan ada yang nekat akan menikah sesama waria. Wah, gimana jadinya ya kalo pria nikah dengan pria lagi? Ada-ada saja! Padahal manusia kan berkembang biak secara generatif, bukan vegetatif alias bertunas kayak pohon pisang atau membelah diri kayak molusca. Tul nggak?

Menurut Guru Besar Psikologi UGM Prof Dr Koentjoro, ketika ditanya alasan orang yang menjadi waria, hal itu bisa diakibatkan bila peran ibu dalam mengasuh anaknya lebih besar dan memperlakukan anak laki-laki layaknya perempuan. Mungkin dalam kehidupan keluarga mayoritas perempuan sehingga jiwa yang terbentuk adalah jiwa perempuan (www.jawapos.com, 08/06/2005) Read More…

Pendidikan yang Mendidik

O. Solihin

Sebenarnya tulisan ini termasuk dadakan lho. Baru ditulis hari Kamis, pas saya ikut nganterin buletin gaulislam edisi cetak ke sekolah-sekolah di Bogor. Padahal ada tulisan yang sudah dijadwalkan siap diedit, tapi sementara digeser ke pekan depan aja tulisan yang rencananya pekan ini dimuat ya. Jadi, harap dipersori ya buat Utha, yang udah saya tugaskan nulis. Hehehe… kalem Bro, insya Allah pekan depan dimuatnya.

Sobat muda muslim, kalo kamu coba ngikutin perkembangan saat ini, ternyata masih banyak lho pendidikan yang justru nggak mendidik. Banyak faktor yang menjadikannya seperti itu. Mulai dari bahan bakunya, alias siswanya yang belajar. Banyak kok siswa yang belajar di sekolah sebenarnya mereka nggak siap dididik. Tetapi sebaliknya, siap kalo nggak dididik. Hehehe… buktinya, kalo sekolah seringnya bolos. Jika guru mata pelajaran tertentu nggak hadir, langsung nyanyi sorak-sorak bergembira. Merdeka! Ayo ngaku! Saya nggak nuduh, lho. Heheh.. kalem Bro. Read More…

Amerika Harus Dilawan!

100_1665-resize-225x300

Judul buku: Menantang Amerika; Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama | Penulis: Farid Wadjdi | Penerbit: Al Azhar Press, 2010 | Jumlah halaman: 261 hlm; 21 cm

Pilihan kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan rezim pemerintah Amerika adalah “Penjahat Dunia”, bukan “Polisi Dunia”. Ini dibuktikan karena nafsu menjajahnya yang tinggi dan sebagai pelanggar HAM di beberapa negara. Irak dan Afghanistan adalah contoh dua negara yang menjadi ladang peperangan sekaligus medan pelanggaran HAM oleh Amerika Serikat.

Bagi pemerintah Amerika kebijakan luar negerinya tetap sama: menjajah. Ketika berkuasanya George Bush yang menyulut api peperangan dengan negeri-negeri Islam setelah tragedi 11 September 2001, juga semasa presiden baru saat ini, Barrack Obama. Sudah, tak ada bedanya. Sebab, baik Bush maupun Obama, bukanlah penguasa tunggal. Ya, karena Amerika tak mungkin dipimpin oleh satu orang dan memiliki kekuasaan penuh. Tidak. Masih ada “bos-bos” yang memiliki pengaruh dan cukup kuat dalam mewujudkan tatanan dunia baru sesuai keinginan mereka.

Melihat sepak terjang Amerika Serikat selama ini, wajar jika ia menjadi musuh di mana-mana. Termasuk pada pegelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, setiap tim nasional Amerika berlaga selalu membuat repot pihak keamanan. Tempat yang dijadikan markas tim, stadion tempat bertanding, hingga jalan-jalan tertentu yang dilalui para suporter tim nasional Amerika harus steril dari orang asing sejauh 500 meter. Ketakutan yang sangat berlebih. Kabarnya, hal itu dilakukan karena adanya informasi dari badan intelijen mereka yang mengabarkan adanya ancaman yang ditujukan kepada Amerika. Padahal sebenarnya, ancaman itu diundang sendiri oleh pemerintah Amerika akibat aksi-aksi kejahatan mereka di berbagai negara, terutama di negeri-negeri muslim.

Amerika seperti sudah menjadi musuh bersama bagi semua negara yang merasa dirugikan oleh sikap dan kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis. Banyak negara, kelompok, dan termasuk individu yang benci Amerika. Kebencian itu disalurkan melalui beragam aksi. Pemboman di tempat-tempat strategis milik pemerintah Amerika atau tempat apapun yang ‘berlabel’ Amerika. Unjuk rasa menentang perang yang dikobarkan Amerika terjadi di mana-mana termasuk di dalam negeri mereka sendiri. Orasi dan tulisan tersebar luas di seantero dunia. Salah satunya, buku ini. Dengan ‘headline’ judul yang provokatif: “Menantang Amerika”, buku ini memang berisi banyak kritikan pedas terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis.

Membaca buku ini, kita akan disajikan beragam fakta kejahatan Amerika. Sesuai dengan tagline-nya: ‘Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama’, buku ini lebih memfokuskan kebijakan Amerika di bawah Obama. Menguatkan argumentasi untuk menolak kebijakan-kebijakan Obama yang tetap merugikan umat Islam. Tak berbeda dengan era kepemimpinan Bush. Hanya saja menurut sebagian kalangan, Obama menggunakan soft power. Bukan hard power sebagaimana dilakukan Bush. Tapi nyatanya , Obama diam-diam menumpuk pasukannya di Afganistan untuk perang yang tak pernah dimengerti tujuannya oleh rakyatnya sendiri. Itu artinya, kebijakan Obama sama dalam imperialisme: hard power. Menggunakan kekerasan. Bahkan ketika Israel yang sudah nyata-nyata melanggar HAM, Obama bergeming dengan menutup mata dan telinganya dari aksi vulgar yang dipertontonkan Israel. Kejadian terbaru ketika kafilah relawan kemanusian bertajuk Freedom Flotilla ditembaki kapalnya oleh tentara Israel. Keadaan ini kian diperparah dengan pengkhianatan para pemimpin negeri-negeri Arab yang tak membalas kejahatan Israel. Mereka hanya mampu diam. Paling banter menyerukan kutukan. Basi dan memalukan!

Buku yang ditulis Farid Wadjdi, alumnus Hubungan Internasional FISIP Unpad ini terasa pas analisisnya. Didukung dengan fakta dan data yang berlimpah, menjadikan buku ini sebagai gudang fakta yang bisa dijadikan alternatif rujukan menghantam kebijakan Amerika. Analisis dan argumentasi yang ditulis juga membuat buku ini memiliki frame thingking yang jelas dalam memandang kebijakan imperialisme Amerika sebagai bagian dari ideologi kapitalisme yang dianutnya.

100_1639-resize-225x300Dalam tiga bab yang dibaca dari daftar isinya, buku ini secara ‘ngebut’ tanpa jeda membongkar-menyingkap-menelanjangi kebijakan politik Amerika dan membandingkannya dengan Daulah Islam. Ya, terasa sedikit janggal mengapa tiba-tiba dimasukkan pembahasan mengenai Daulah Islam . Tapi setelah dibaca detil, memang sengaja penulisnya menyisipkan pembahasan Politik Luar Negeri Daulah Khilafah untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya ketika Khilafah Islam berkuasa. Berbeda dengan politik luar negeri Amerika yang imperialis, politik luar negeri Daulah Khilafah justru menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (termasuk manusia). Jika negara kapitalis berperang untuk mengeruk dan mengeksploitasi kekayaan negeri yang diajajah, maka Daulah Khilafah justru memakmurkan negeri-negeri yang ditaklukan. Perang, bagi negara imperialis adalah bumi hangus, tapi bagi Daulah Khilafah perang adalah untuk memberikan kehidupan yang lebih layak. Hanya memusnahkan penghalang utama, bukan pembantaian.

Sayangnya, buku ini kurang terasa alur pembahasannya secara runut dari awal sampai akhir. Ini disebabkan karena isi buku ini merupakan kumpulan tulisan yang tentu saja dari mulai pemaparan, analisis, sampai kesimpulannya selesai dalam setiap tema tulisan. Di satu sisi memang memudahkan pengkajian jika pembaca lebih suka kecepatan dalam memahami maksud setiap tulisan. Tapi bagi yang ingin mengkaji secara sistematis, rasanya kurang terwakili dalam buku ini.

Namun demikian, buku ini tetap bisa menjadi alternatif bacaan bagi siapa yang ingin mendapatkan informasi seputar kebijakan politik luar negeri Amerika dan mengenal secara singkat kebijakan politik luar negeri Daulah Khilafah. Tambahannya, buku ini juga berisi hukum-hukum seputar menerima tamu penjajah. Ini tentu ada alasannya, buku ini menurut penerbitnya dirancang jika Obama jadi datang ke Indonesia. Sayangnya, sampai buku ini saya ulas, tak ada tanda-tanda Obama bakal datang. Tak jadi persoalan sebenarnya, karena yang terpenting secara kesuluruhan informasi di buku ini tetap penting untuk diketahui oleh siapa saja yang ingin mengambil manfaatnya.

Salam,
O. Solihin