menulis
now browsing by tag
Posted by: menuliskreatif | on November 9, 2012
Menulis Tanpa Henti
Menulis sampai kapan? Saya memilih menjawab: saya akan menulis hingga nafas terakhir dihembuskan. Insya Allah. Terkesan lebay? Berlebihan dan sok? Itu tergantung persepsi Anda. Saya merasa bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Sehingga membuat saya harus terus menulis tanpa henti. Menulis tentang apa saja dan melalui berbagai media.
Terlalu banyak, atau sangat banyak peristiwa atau cerita dalam kehidupan di sekitar kita yang bisa menjadi inspirasi dan topik menulis. Cerita tetangga yang sakit, obrolan tentang tetangga sebelah yang baru saja mendapatkan hadiah mobil, atau cerita tukang sayur yang saban hari menjajakan dagangannya menyambangi para pelanggannya dan berpuluh cerita yang hadir silih berganti–atau berbarengan–bisa kita jadikan ide untuk menulis.
Ketika membuka laptop, colokkan modem lalu berselancar di internet, di sini juga banyak sekali informasi dan peristiwa yang bisa menjadi bahan tulisan. Itu artinya, kita sebenarnya bisa menangkap ide dan menuliskan terus menerus. Bisa sebagai tanggapan atas berita yang beredar atau bisa juga meluruskan berita, bahkan bisa saja membuat berita sendiri, hasil reportase sendiri.
Informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan asasi manusia. Betapa banyak media cetak diterbitkan, stasiun radio dan televisi didirikan, perusahaan internet berlomba menarik perhatian masyarakat akan informasi yang mereka tawarkan. Itu artinya pula, kita memiliki peluang untuk menuliskan informasi yang bisa kita produksi sendiri. Omong-omong soal produksi tulisan sendiri, kini sebenarnya kita amat dimudahkan oleh adanya layanan blog. Di situlah kita bisa berkreasi dengan meng-upload tulisan kita atau hasil kreasi foto dan desain serta video yang kita buat. Menyenangkan.
Ayolah, masih banyak kesempatan untuk berkarya. Di era digital ini, kita bisa memanfaatkan sarana tersebut untuk menyampaikan informasi dan opini. Terlebih, bagi pengemban dakwah, inilah saatnya kita memanfaatkan untuk kepentingan syiar Islam. Ayo menulis tanpa henti!
Salam,
O. Solihin
Posted in Motivasi Menulis | 1 Comment »
Tags: inspirasi, menulis
Posted by: osolihin | on January 21, 2012
Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?
Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?”
Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ”
Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe…
Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”.
Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut:
- Mulailah dari sapaan. Bisa ditulis sebagai berikut: (Sobat muda muslim, gimana kabar kamu semua? Semoga tetap sehat, tetap sabar, tetap istiqomah dalam Islam. Jumpa lagi dengan tulisan saya di blog ini.. dst.. dst.) Insya Allah selanjutnya akan mengalir deras.
- Bisa dimulai dengan kutipan. Contoh: (Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (Hadits ditakhrij oleh Muslim). Setelah kutipan salah satu hadist Qudsi ini, bisa dilanjut dengan menuliskan pembahasan yang kita ingin tulis tersebut. Insya Allah selanjutnya kita lancar. Oya, boleh juga menulis kutipan dari pernyataan teman, guru atau orang tua atau siapa saja. Misalnya: (“Kamu harus rajin belajar!” kata-kata itu masih selalu aku ingat. Pesan dari ibu yang senantiasa aku ingat.) Seterusnya, bisa dilanjut dengan kalimat lainnya yang insya Allah bisa lebih mengalir.
- Bisa dimulai dari pertanyaan. Misalnya: (Belum tahu cara memilih baju? Coba ikuti saran dari ahlinya.) Seterusnya bisa ditulis lebih detil setelah kata atau kalimat pertama tadi ditulis. Insya Allah akan lebih lancar lagi.
- Boleh dengan cerita? Silakan saja. Misalnya: (Hari ahad kemarin adalah pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, hari itu saya untuk pertama kalinya belajar mengendarai sepeda motor.) Setelah itu, insya Allah bisa dilanjut dengan tulisan yang lebih panjang lagi.
Baik, sebenarnya itu hanyalah contoh. Dan, sekadar ‘alat’ saja untuk memulai kalimat pertama dalam menulis. Artinya, masih banyak cara lain. Tetapi setidaknya empat poin tadi bisa membantu memudahkan untuk tak lagi bingung menulis kalimat pertama. Silakan divariasikan saja sesukanya, semaunya. Tentu, selama itu masih cocok dengan judul dan isi tulisannya. Untuk kian menghasilkan variasi dalam memulai kalimat pertama, biasakan membaca, mengamati, melatih kepekaan atas suatu fakta atau peristiwa. Sebab, insya Allah biasanya kita banyak mendapat inspirasi dari sana. Silakan dicoba ya!
Salam,
O. Solihin
Posted in Tips Menulis | 5 Comments »
Tags: kalimat, menulis, tips, writing
Posted by: menuliskreatif | on June 18, 2011
Mengapa banyak orang merasa berat dalam menulis?
Assalaamu’alaikum wr wb
Banyak orang merasa berat untuk memulai menulis. Tak sedikit dari mereka pada akhirnya memilih tidak menulis sama sekali. Sebagian kecil memilih meneruskan menulis meski ‘babak belur’ berjibaku melawan hambatan-hambatan menulis. Itu pun ada yang sukses melepas belenggu yang menghambatnya, namun tak sedikit yang menyerah di detik-detik menjelang akhir pertarungan. Melihat kenyataan ini, saya kadang bertanya: begitu beratkah menulis?
Saya memilih jawaban: tidak berat. Yang membuat berat adalah karena kita menganggapnya berat. Sulitkah menulis? Jawaban saya: tidak sulit. Yang membuat sulit adalah karena kita menganggapnya sulit. Jika pikiran dan perasaan kita sudah dipenuhi dengan kata berat dan sulit, maka yang hadir adalah BEBAN. Berbeda halnya ketika kita menganggapnya ringan dan mudah, insya Allah kita akan berusaha untuk membuktikannya dan sekuat tenaga mengupayakannya agar berhasil. Read More…
Posted in Motivasi Menulis | 3 Comments »
Tags: inspirasi, komitmen, malas, menulis, motivasi, niat, writing
Posted by: menuliskreatif | on May 8, 2011
Tentang Subyektif dan Obyektif
Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.
Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalisme–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu. Read More…
Posted in Jurnalistik | 1 Comment »
Tags: amerika, berita, jurnalisme, Jurnalistik, menulis, obama, Opini, osama, terorisme
Posted by: menuliskreatif | on April 10, 2011
Perlukah motivasi dari orang lain?
Assalaamu’alaikum wr wb
Sampai sekarang saya masih percaya, bahwa saya hanya butuh inspirasi. Bukan motivasi. Tetapi saya tidak pernah melarang siapapun untuk memotivasi. Bahkan saya sendiri sering memotivasi. Lah, lalu apa esensinya menulis catatan ini? Ada. Justru karena ada esensinya saya menuliskannya. Dalam beberapa kondisi kita memang butuh motivasi orang lain. Mungkin sekadar untuk membangkitkan potensi yang sebenarnya sudah kita miliki, hanya saja kita belum merasakannya bahwa itu adalah potensi kita. Kadangkala kita baru sadar ketika diberikan motivasi agar mau bergerak, mau melakukan sesuatu, mau bertindak. Pada kondisi ini, motivasi memang diperlukan.
Namun, kenyataannya motivasi tak selalu menjadi ‘vitamin’ bagi orang yang menerimanya, bahkan ironinya adakalanya sang motivator justru malah yang harus dimotivasi. Salahkah? Tidak juga. Ini sisi manusiawi setiap orang. Sebagaimana khatib jumat yang selalu mewasiatkan pesan takwa kepada jamaah, dan juga dirinya: Usiikum wa nafsi bitaqwallah (aku menasihati kalian dan aku sendiri dalam bertakwa kepada Allah). Nasihat memang untuk diri kita dan juga orang yang kita beri nasihat.
Sama seperti saya ketika menulis. Sejatinya adalah pesan bagi saya sendiri dan juga siapapun yang membaca pesan yang saya tulis. Sebab, saya—dan juga siapapun yang menyampaikan pesan nasihat—wajib bertanggungjawab dengan apa yang disampaikannya. Secara sederhana bisa dirumuskan: tuliskan apa yang Anda kerjakan dan kerjakan apa yang Anda tulis. Ini agar apa yang kita tulis bukan semata ‘nyuruh-nyuruh’ saja. Tetapi kita juga aktif melaksanakannya. Termasuk apa yang dikerjakan perlu ditulis dan dicatat agar bisa mengevaluasi di lain waktu. Sehingga apa yang kita kerjakan senantiasa menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Beda motivasi dan inspirasi
Secara bahasa, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), motivasi adalah: dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Penjelasan tambahannya (dalam bidang psikologi), motivasi adalah usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Bagaimana dengan inspirasi? Masih menurut KBBI, inspirasi sama maknanya dengan ilham, yakni pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati; bisikan hati. Bisa juga sesuatu yang menggerakkan hati untuk menciptakan (mengarang syair, lagu,menulis, membuat kendaraan tertentu dsb).
Dari kedua definisi ini, menurut saya, tampak sedikit perbedaan meski agak mirip dalam aksinya. Namun, saya lebih suka menggunakan istilah inspirasi. Terasa lebih kuat karena pelakunya seolah-olah berusaha secara keras untuk melakukannya. Berbeda dengan motivasi (yang dipahami banyak orang saat ini sebagai sebuah jenis pelatihan atau training untuk membangkitkan motivasi seseorang atau khalayak ramai), karena sifatnya yang seolah-olah seseorang itu “menunggu” untuk mendapatkan sesuatu dan kemudian bergerak. Inspirasi lebih aktif, sementara motivasi cenderung pasif. Saya tidak berkesimpulan pasif, tetapi memilih diksi “cenderung pasif”. Sebab, berdasarkan kenyataan memang demikian adanya. Banyak orang meminta untuk dimotivasi, jarang yang meminta untuk diinspirasi.
Apa contohnya? Saya sering mendapatkan permintaan dari beberapa orang agar saya memotivasi diri mereka dalam segala hal, terutama yang paling sering adalah dalam menulis. Saya diminta memberikan motivasi-motivasi seputar menulis. Tugasnya memang jadi semacam motivator khusus dalam penulisan. Saya bahkan membuat modul pelatihan menulis yang salah satu pembahasannya mencantumkan materi khusus; motivasi menulis. Sebenarnya, jujur saya masih merasa ragu. Sebab, motivasi itu tak akan ada apa-apanya sama sekali jika orang yang saya motivasi tak melakukannya sesuai petunjuk. Tidak bergerak. Secanggih apapun sang motivator atau guru atau instruktur dalam memotivasi para peserta pelatihan, jika yang diberi motivasi menolak melakukannya atau minimal tidak merasa yakin dengan apa yang disampaikan pemberi motivasi. Sehingga dalam hal ini memang diperlukan kerjasama dua arah. Tidak bisa satu arah.
Lebih sering terinspirasi daripada termotivasi
Beberapa orang dengan keyakinan diri yang penuh, biasanya lebih suka dengan inspirasi. Ia bahkan mencari inspirasi sampai jauh. Aktif bergerak. Ia mungkin saja membutuhkan motivasi. Namun tidak mengandalkan secara penuh kepada motivasi. Apalagi jika harus menunggu motivasi dari orang lain.
Oya, saya juga pernah memberikan arahan bahwa motivasi menulis adalah untuk beribadah dan berjuang. Pengertian motivasi seperti ini lebih dekat dengan istilah niat dalam khasanah Islam. Tentu agak berbeda dengan istilah motivasi yang dipahami saat ini (termasuk dalam tema tulisan ini), khususnya jika dihubungkan dengan orang yang meminta untuk dimotivasi. Demi mendapatkan motivasi dari orang yang dianggap mampu, sebagian orang bahkan mau membelinya dengan harga tinggi. Misalnya dengan mengikuti pelatihan atau training motivasi. Salahkah mereka? Tidak juga. Itu kan seperti jual beli. Jika mampu membeli untuk mendapatkan motivasi yang diinginkannya, silakan saja. Begitu pun jika ada orang yang berani dan mau menjual pelatihan motivasi, sah-sah saja. Apalagi saat ini memang sedang gandrung. Mereka yang membutuhkan banyak, yang menawarkan juga tak sedikit.
Untuk kondisi tersebut saat ini, kita bisa menyaksikan, beragam motivasi ditawarkan: motivasi usaha/bisnis, motivasi menjalani kehidupan rumah tangga, motivasi persiapan pernikahan, motivasi belajar, motivasi untuk meraih impian menjadi pribadi yang unggul, termasuk motivasi menulis. Ya, konon kabarnya semua orang sebenarnya punya potensi untuk menjalani bisnis, belajar, dan termasuk menulis. Hanya saja mereka perlu kemauan yang kuat untuk memulai dan menjalaninya sehingga kemampuannya akan terasah. Konon kabarnya, dalam pelatihan atau traning seperti itulah diberikan kunci-kuncinya.
Pentingkah sebuah kemauan? Penting. Saking pentingnya kemauan, seringkali bisa mengalahkan kemampuan. Buktinya, orang yang kemauannya tinggi untuk menjadi penulis misalnya, maka ia akan terus berusaha dan belajar serta berlatih menulis. Sementara yang sudah memiliki kemampuan menulis—meski belum mahir benar—tetapi jika kemampuannya tidak diasah terus secara konsisten, maka ia akan mudah disalip oleh yang hanya mengandalkan kemauan di tahap awal. Mereka yang kuat kemauannya dan terus berlatih, akan memiliki kemampuan juga pada akhirnya. Cepat atau lambat.
Saya sendiri merasa lebih sering terinspirasi dari bacaan atau perkataan dan perbuatan orang lain. Meskipun ia tidak memberikan motivasi secara langsung kepada saya. Contohnya, ketika saya membaca sebuah quote menarik dari Syaikh Sayyid Quthb dalam sebuah artikel, “Jari telunjuk yang setiap hari memberi kesaksian tauhid kepada Allah saat shalat, menolak menulis satu kata pengakuan untuk penguasa tiran”. Subhanallah. Melalui quote ini, jujur saya terinspirasi untuk menguatkan keyakinan saya bahwa hanya Allah Swt. yang wajib disembah dan ditaati serta diakui sebagai satu-satunya pencipta. Bukan yang lain. Saya pun terinspirasi untuk terus menulis dengan tujuan menyampaikan kebenaran Islam. Dan, berazzam untuk tidak pernah mengakui sesuatu yang bertentangan dengan akidah Islam. Insya Allah.
Begitupun saya merasa terinspirasi ketika saya membaca sebuah tulisan yang memuat pernyataan tokoh pergerakan sekelas KH M Isa Anshary. Beliau menuliskan bahwa, “Revolusi-revolusi besar di dunia selalu didahului oleh jejak pena dari seorang pengarang. Pena pengarang mencetuskan suatu ide dan cita, menjadi bahan pemikiran pedoman berjuang”. Jika beliau saja yang sudah banyak makan asam-garam kehidupan dan perjuangan tetap percaya bahwa revolusi digerakkan dari ide-ide yang ditulis oleh para penulis,maka saya yang sedang merintis dan berada di jalur perjuangan harus semakin percaya diri untuk menempuhnya dan membuktikan bahwa saya bisa menulis untuk menginspirasi dan menggerakkan banyak orang. Insya Allah.
Dalam melatih kemampuan menulis, saya juga tidak anti untuk mendapatkan inspirasi dari penulis lainnya. Michael Crichton salah satunya, ia menuliskan pesan inspiratif, “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.” Karena sebuah karya akan menginspirasi banyak orang, maka saya sering menyiapkan diri untuk ‘menghidangkannya’ kepada pembaca tulisan-tulisan saya. Semaksimal kemampuan saya.
Baiklah, mengakhiri tulisan ini, sesuai dengan judulnya, saya akan menjawab pertanyaan yang saya jadikan sebagai judul tulisan ini: ya, kita butuh motivasi (termasuk menurut saya, inspirasi) dari orang lain. Tetapi, peran kita tetap menentukan langkah kita sendiri. Para inspirator dan motivator, kelas dunia sekalipun, tak akan mampu menolong keterpurukan kita jika kita tak mau berubah. Mereka bisa berhasil karena kita bekerjasama dengan mereka. Kita mengikuti sarannya, dan mengembangkannya lebih hebat. Semoga kita siap mengubah diri kita, baik awalnya terinspirasi dan termotivasi dari orang lain, ataupun kita sendiri yang merenung dan melakukan usaha maksimal sehingga inspirasi itu muncul dari hasil kreasi kita. Apapun itu, yang penting: tuliskan apa yang Anda kerjakan dan kerjakan apa yang Anda tulis. Sebab, di situlah inspirasi dan motivasi terbesar yang (telah) kita miliki. Setidaknya, menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
Salam,
O. Solihin
Posted in Motivasi Menulis | 4 Comments »
Tags: belajar, bisnis, inspirasi, menulis, motoivasi, usaha, writing


D5 Creation