remaja

now browsing by tag

 
 

Jangan Matikan Ramadhan!

O. Solihin

Siap nggak sih kalo kita ngejalanin puasa di bulan Ramadhan dengan benar dan baik? Siap nggak sih kalo ibadah puasa kita dibarengi dengan amalan-amalan yang lain? Hmm… pastinya sih kudu siap ya. Sayang banget kalo sampe nggak meman-faatkan momen Ramadhan ini. Datangnya sih emang sama dengan bulan lainnya, setahun sekali. Tetapi keutaman bulan Ramadhan ini oke banget. Apa aja sih keutamannya?

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Ummatku telah diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya ketika bulan Ramadhan: 1) Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada minyak kesturi di sisi Allah, 2) Para Malaikat beristighfar untuk mereka hingga berbuka, 3) Allah memperindah SurgaNya setiap hari, seraya berfirman kepadanya: “Hampir-hampir para hambaKu yang shalih akan mencampakkan berbagai kesukaran dan penderitaan lalu kembali kepadamu,” 4) Syaithan-syaithan durjana dibelenggu, tidak dibiarkan lepas sseperti pada bulan-bulan selain Ramadhan, 5) Mereka akan mendapat ampunan di akhir malam.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu terjadi pada Lailatul Qadar?” Beliau menjawab, “Bukan, namun pelaku kebaikan akan disempurnakan pahalanya seusai menyelesaikan amalannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Baihaqi dalam kitab ats-Tsawaab sanadnya lemah sekali, tetapi sebagian lafazh hadits tersebut mempunyai shaid, yakni penguat yang shahih) Read More…

Tak Putus Dicekik Konflik

O. Solihin

Ampun dah negeri kita ini, tak putus dicekik konflik dan tak reda dirundung sengsara. Sejak sebelum kemerdekaan, ketika jaman awal-awal kemerdekaan, hingga jaman kiwari. Konflik selalu ada dan tetap menjadi bagian dari hidup hampir seluruh rakyat negeri ini. Jaman penjajahan nenek moyang kita hidup susah bin sulit. Saat awal-awal kemerdekaan konflik melanda hampir di seluruh pelosok negeri. Berbagai kepentingan policik, eh politik menghiasi perjalanan sejarah negeri ini. Berganti tahun, berganti pemimpin, namun tetap saja konflik tidak bisa dipadamkan. Musim berganti, cuaca tak selalu sama, rezim satu berganti dengan rezjim lainnya, pemimpin satu lengser pemimpin lainnya menggantikan, tetapi resah gelisah terus merajam pikiran dan perasaan rakyat jelata di seluruh negeri menghadapi kenyataan getirnya kehidupan ekonomi mereka. Harga bahan pokok melonjak naik cepat, apalagi menjelang bulan puasa dan lebaran. Bahan bakar minyak (BBM) di beberapa pelosok langka.Akibatnya, harganya juga ikutan meroket tajam. Biaya pendidikan sangat mahal, biaya kesehatan nyaris tak terbeli kantong kempes rakyat miskin. Menyedihkan.

Padahal dalam waktu yang bersamaan, elit politik saling sikut kepentingan, saling serang demi rasa aman diri dan kelompoknya. Korupsi seperti wabah yang merajalela dari tingkat atas dan mengalir deras hingga tingkat pegawai dan lembaga rendahan. Ironi yang tak kunjung berhenti. Rakyat miskin sibuk mikirin nasibnya esok hari, yang masih ragu apakah masih bisa makan atau tidak, tetapi para elit partai dan penguasa serta pengusaha sibuk mikirin agar harta tak halalnya tak tersentuh lembaga hukum. Orang-orang model begini tak perlu pusing mikirin makan, karena yang jadi fokus perhatiannya, bagaimana bisa menimbun miliran rupiah demi memberi makan oknum penegak hukum agar mau mendukungnya, agar mau melindunginya dari jeratan hukum. Lihatlah Gayus, tengoklah Nazaruddin. Kini mereka jadi selebritis berlabel koruptor. Insya Allah yang lainnya juga akan segera menyusul menjadi bintang utama. Tunggu saja tanggal mainnya dalam panggung sandiwara berikutnya jika kondisi kehidupan seperti ini terus. Read More…

Kekonyolan MOS

O. Solihin

Hari Sabtu kemarin saya ketemu dengan seorang teman untuk membicarakan satu proyek workshop penulisan bagi para guru. Nah, dia bawa keluarganya saat janjian di area foodcourtsebuah tempat perbelanjaan. Yang menarik, adalah anaknya. Hehehe bukan soal penampilannya, tetapi teman saya ini lagi nyiapin segala keperluan yang dibutuhkan anaknya untuk MOS di sekolahnya. Kebetulan anaknya ini diterima di salah satu SMP negeri di kota Bogor. Teman saya menjelaskan ihwal kenapa ketemuannya di tempat tersebut. Alasanya, karena sekalian jalan aja abis nganter anaknya ke sekolah untuk mendapatkan informasi seputar kegiatan MOS yang akan dilaksankan pekan ini (saat buletin kesayangan kamu ini terbit di hari Senin, 18 Juli 2011). Hmm.. saya langsung dapat ide untuk membuat tulisan ini di gaulislam edisi 195. Pekan ini. Yup, ide memang bisa datang kapan saja, di mana saja dan dari mana saja. Asik juga lho dapet ide dan bisa diwujudkan dalam sebuah tulisan utuh.

Sobat muda muslim, alasan saya memilih istilah “kekonyolan” yang disematkan dengan kata MOS di judul ini, karena pelaksanaan MOS dari tahun ke tahun konsepnya nggak berubah. Setidaknya secara umum ya. Mungkin ada juga sih yang udah agak mendingan, misalnya memang murni Masa Orientasi Siswa—ada juga yang nyebutnya Masa Orientasi Sekolah (baca: ngenalin apa aja yang bakalan dipelajari di sekolah, menjalin pertemanan, mengenal para guru dan lingkungan sekolah serta belajar hal-hal yang bisa memotivasi kita dalam melakukan suatu kegiatan di sekolah). Read More…

Maaf

O. Solihin

Hehehe.. judul edisi gaulislam ke-194 ini cukup singkat. Satu kata: Maaf. Biarin deh sekali-kali simpel. Mudah dipahami. Semoga saja buka judul yang absurd. Hmm… gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya sih lebih baik tubuh tertusuk pedang ketimbang ditusuk lidah dengan omongan yang nggak enak en nggak sedap. Mungkin bener juga kali ya kalo Bung Meggy Z semasa hidupnya sempat berdendang: “Kalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin masih dapat kutahan. Tapi ini.. sakit lebih sakit, kecewa karena cinta…. Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa…” (ih, kalo saya sih nggak kepengen dua-duanya tuh!)

Sobat muda muslim, ngasih maaf kepada orang yang udah nyakitin perasaan kita tuh rasa sakitnya kadang nggak bisa ditelan oleh waktu (duilee lebay mode “on”). Gimana nggak, kita suka gondok kalo ada teman yang udah ngerendahin kita misalnya. Apalagi di depan banyak orang. Wuih, dendamnya bisa delapan turunan tuh. Iya, nyebelin nggak sih kalo kita misalnya minta diajarin ngaji Quran, terus doi ngomentarin: “Udah gede kayak gini masih belum bisa baca Quran? Kalah ama adek gue tuh yang masih SD!” Waduh, kalo di film kartun tuh muka kita udah merah padam dan keluar asap dari idung (banteng kalee…)

Mungkin wajar kalo kita gondok abis kalo dihina. Mendingan dipukul pake kayu atau benda lainnya kali ya daripada dirajam pake kata-kata hinaan di depan banyak orang pula. Malu, kesel, dan juga marah sama orang yang model begitu. Nah, suatu ketika doi minta maaf nih sama kita. Hmm.. kayaknya sampe sujud juga nggak bakalan dikasih kali tuh. Mau nangis darah dan ngesot-ngesot juga kayaknya nggak bakalan dikasih maaf. Saking kesel dan gondoknya tentu. Read More…

Mengukur Manfaat Ikhlas

O. Solihin

Bro en Sis, ketemu lagi dengan gaulislam. Edisi pekan ini, pekan  ke-193, sengaja buletin kesayangan kamu ini membahas seputar ikhlas. Tema ini sebenarnya sudah banyak dikupas, tetapi nggak ada salahnya juga kalo kita bahas lagi. Tentu dari sudut yang berbeda tetapi tetap memberi solusi islami.

Kalo kita mau merhatiin, semua orang berbuat insya Allah ingin dapetin manfaat dari apa yang diperbuatnya. Itu sudah pasti. Tapi memang bukan tujuan utama. Karena sebagai muslim yang kita ingin raih sebagai tujuan utama adalah mendapatkan ridho Allah Swt. Manfaat adalah efek samping yang secara manusiawi ingin kita dapatkan juga. Misalnya belajar. Memang manfaatnya yang ingin kita dapatkan adalah menjadi bisa. Nah, kerjakan kegiatan belajar itu dengan niat ikhlas karena ingin dapetin ridho Allah Swt. agar manfaat yang didapatkan menjadi barokah bagi kita. Iya nggak sih? Jadi tetap nggak kering dari nilai-nilai yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah Swt. sebagai pencipta kita. Gitu, Bro. Read More…