tulisan

now browsing by tag

 
 

Sedang ingin menulis

kid and blob

Assalaamu’alaikum wr wb

Numpuk dan berjubel-jubel puluhan bahkan ratusan informasi di dalam kepala. Otak kita, dengan segala kelebihan yang telah diberikan Allah Swt., mampu menampung memori apa saja. Rekam jejak yang pernah kita lakukan ada. Kapan saja kita butuh, otak akan memunculkannya sesuai ‘pesanan’ kita. Proses index memori yang sangat fantastis. Ciptaan Allah Swt. ini pasti mengalahkan super komputer tercanggih saat ini. Bahkan super komputer tercanggih itu pun sejatinya ‘dihasilkan’ dari otak dan kemampuan berpikir yang telah Allah Swt. karuniakan kepada kita. Subhanallah.

Saya menemukan penjelasn tentang kemampuan daya ingat manusia dalam buku yang ditulis Pak Fauzil Adhim, Dunia Kata. Beliau mengutip pendapatnya John Griffith, seorang ahli matematika yang mengatakan, “Setiap manusia normal mampu mengingat 1.000.000.000.000 (1011) bit informasi”. Sementara John von Neumann, ahli teori informasi, menghitungnya sampai 280.000.000.000.000.000.000 (280 diikuti delapan belas angka nol di belakangnya) atau 280 kuintiliun bit. Oya, Anda perlu tahu, bahwa setiap satu bit mewakili satuan informasi terkecil, misalnya “ya”, “tidak”, “i” atau “o”, “on” atau “off” dsb. Read More…

Beranilah menuliskan buah pikiranmu!

writer-buram

Assalaamu’alaikum wr wb

Inspirasi menulis bisa dari mana saja. Termasuk untuk menulis artikel ini yang spontan idenya muncul saat ini juga. Hari ini saya berkunjung ke Bogor Islamic Book Fair sejak pagi tadi, selepas ngisi jadwal rutin kajian bareng temen-temen gaulislam, dengan tujuan utama membagikan buletin gaulislam edisi terbaru di event itu. Nah, saat itulah saya bertemu dengan Burhan, anak muda yang biasa memandu saya siaran Fresh! Air di MARS 106 FM. Bersamanya saya lalu membagikan buletin gaulislam edisi 168/tahun ke-4 ke para peserta remaja setelah mereka mengikuti sebuah talkshow di panggung utama. Seru! Karena ada di antara mereka yang tak sabar hingga berebutan mendapatkan gaulislam. Mungkin ia sudah pernah membaca gaulislam di edisi sebelumnya. Mungkin. Hehehe…

Lalu apa hubungannya dengan judul posting ini? Ada. Siang ini, tanpa sengaja saya menjadi ‘mentor’ dadakan untuk membantu Burhan, seorang pemuda yang sedang menempuh pendidikan berbeasiswa di sebuah lembaga zakat.

Setelah shalat Dhuhur, saya dan Burhan kembali ke studio MARS 106 FM. Di ruang rapat kami ngobrol. Burhan menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan tugas menulis feature dari dosennya. Nah, seperti dalam peribahasa “Pucuk dicinta ulam tiba”. Burhan, memanfaatkan betul kesempatan ini. Jadilah saya mentor dadakan bagi Burhan. Saya rangsang dia untuk berpikir dan mengungkapkan apa buah pikirannya ke dalam sebuah tulisan. Berat di awalnya memang. Burhan berkali-kali tampak bingung. Ujung balpoint-nya tak pernah bergerak untuk dituliskan sementara wajahnya begitu tegang. Saya diamkan beberapa saat sambil ngecek email.

“Saya bingung Pak” Burhan seakan menyerah.

“Bingungnya di mana?” saya tanya sambil melihat hasil tulisannya yang baru beberapa buah kata itu.

“Memulainya” sambil menatap mata saya dia bicara.

“Ok. Sekarang begini. Apa yang ada dalam pikiran Burhan saat ini? Mungkin beberapa peristiwa yang menarik akhir-akhir ini, adakah? Atau, mungkin pengalaman terbaru yang bisa diceritakan ke orang lain? Bisa juga, Burhan barangkali punya pendapat tertentu yang ingin disampaikan?” Panjang lebar saya pandu dia. Saya sengaja tidak memberikan taburan kalimat langsung agar ia bisa menulis lancar. Tidak. Saya memilih Burhan untuk menuliskan buah pikirannya dengan bahasanya sendiri.

Ketika ia meminta contoh, saya berikan beberapa tulisan saya di blog, termasuk yang di facebook. Dia membacanya sekilas. Lalu manggut-manggut tanda mengerti.

“Oh, bisa dimulai dari menuliskan pengalaman ya, Pak”

“Ya, bisa juga demikian” saya memastikan.

“Bisa dengan cara lain tidak?” dia tampak belum yakin.

“Kenapa tidak? Saya lalu contohkan bahwa dalam menulis feature bisa melalui berbagai angle (sudut pandang). Untuk satu tema saja bisa banyak sudut pandang. Contohnya, ini tulisan saya lainnya,” saya menyodorkan contoh tulisan saya yang lain.

Burhan lalu menulis. Menulis dan menulis terus. Beberapa kali ia tampak masih belum percaya diri dengan hasil tulisannya. Ia menunjukkan dan minta saya menilainya. Saya pastikan bahwa, Burhan harus berani menuliskan buah pikirannya. Jika saat ini yang muncul banyak ide, tulislah saja semuanya. Meski berantakan, nanti bisa ditulis ulang. Disusun sesuai runutan peristiwanya dan logika penuturannya. Baca lagi ketika sudah dianggap selesai. Insya Allah nanti akan ketemu, paragraf mana saja yang sebaiknya disimpan dalam susunan yang rapi. Burhan menurut dan akhirnya dia mampu menyelesaikannya setelah lebih dari lima belas menit menulis dan menuangkan buah pikirannya dalam selembar kertas.

“Sudah Pak!” seru Burhan sambil mengemas barang bawaannya untuk menuju kelas dan bertemu dosennya untuk menyerahkan tugas menulisnya hari itu juga.

“Yang penting ada dulu deh Pak!”

“Sip deh!” saya mensupport-nya.

Saya sampaikan ke Burhan bahwa untuk menulis lebih lancar lagi, harus sering latihan menulis. Sebab, menulis adalah keterampilan. Tidak instan. Perlu pengorbanan, perlu percaya diri dan perlu kesabaran. Jangan lupa sambil berikhtiar tetaplah berdoa memohon kepada Allah Swt. untuk dimudahkan dalam belajar menulis.

Saya berharap, Burhan dan siapapun yang hendak menulis, beranilah untuk menuangkan buah pikirannya. Jangan ragu, jangan bimbang, teruslah menulis. Asah kemampuan menulis secara teknik, dan kembangkan terus wawasan yang kita miliki. Insya Allah akan menghasilkan tulisan yang tidak saja enak dibaca, tapi juga berbobot. Ibarat makanan, bukan saja mengenyangkan karena enak dilahap, tetapi juga bergizi tinggi (Ah, jadi ingat tulisannya Pak Hernowo, Andai Buku Itu Sepotong Pizza). Di buku itu sangat menarik digambarkan bagaimana menikmati sebuah buku. Nah, agar bisa menghasilkan buku ‘bergizi’ maka penulisnya harus belajar untuk ‘memasaknya’.

Baiklah, ini sekadar catatan kecil saja. Sekadar membangkitkan motivasi bagi siapa saja yang mau memulai menulis atau membiasakan menulis. Intinya, aktivitas menulis itu tidak lepas dari membaca. Maka, jika diformulasikan begini; “membaca, menulis, membaca lagi, menulis lagi, begitu seterusnya”. Ada pameo terkenal juga bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Contohnya, para mantan presiden Amerika rata-rata bisa menulis biografinya. Karena mereka rajin baca. AS memiliki pe­mimpin-pemimpin besar yang gila buku, seperti John Quincy Adams, Abraham Lincoln, dan JF Kennedy; Inggris pernah memiliki pemimpin legendaris Winston Churchill yang maniak buku; dan India memiliki pemimpin besar Jawaharlal Nehru yang kutu buku.

Bagaimana dengan Islam? Wah, insya Allah banyak juga. Ribuan ulama adalah para penulis dan juga mereka adalah pembaca. Lihat Imam Syafi’i, beliau menulis karya masterpiece-nya yang berjudul al-Umm. Mungkin saja beliau terinspirasi dari penulis sebelumnya. Ya, dalam sebuah riwayat yang pernah saya dapatkan, ternyata beliau juga sudah membaca kitab al-Muwwatha karya Imam Malik sebelum berguru kepada penulisnya itu secara langsung. Hebat bukan?

Jika kita membaca kitab-kitab para ulama, lihatlah sumber rujukannya. Pasti bertaburan. Itu artinya, mereka juga membaca. Tradisi keilmuan di dunia Islam yang tinggi telah menghantarkan orang-orang hebat lainnya seperti Imam Ibnu Taymiyyah dengan Majmu al-Fatawa. Imam Bukhari dan Imam Muslim menuliskan kumpulan hadits shahihnya. Para ahli tafsir seperti Imam az-Zamakhsary yang menulis Tasfir al-Kasyaf, Imam Qurthubi yang menulis Tafsir al-Qurthubiy. Buya HAMKA menulis tafsir Al-Azhar dan masih ribuan ulama lainnya. Mereka semua para penulis hebat sepanjang sejarah. Ilmunya terus bermanfaat dan menyirami pikir serta rasa semua orang yang haus ilmu. Pahala bagi penulisnya hingga hari kiamat. Insya Allah.

Jika Clinton dalam otobiografinya My Life menje­laskan bahwa buku adalah jembatan menuju abad 21, demikian juga yang dilakukan Khalifah Harun al-Rasyid di negeri Seribu Satu Malam. Lewat perpustakaan Baitul Hikmah, Khalifah Harun al-Rasyid mampu menghadirkan digdayanya kekhalifahan Islam dari bani Abbasiyah sebagai tonggak peradaban dunia paling monumental. Fantastis!

Yuk, beranilah menuliskan buah pikiran Anda sekarang juga. Jangan tunggu sampai lupa apalagi malas. Latihlah kemampuan menulis seiring dengan ditingkatkannya kemampuan membaca. Semoga tulisan hasil dari ide spontan saya dalam menangkap inspirasi siang ini bisa bermanfaat bagi siapa saja. Tetap semangat menulis!

Salam,

O. Solihin

Untuk apa sih menulis?

pageaday1

Assalaamu’alaikum wr wb

Saya pernah mendapatkan pertanyaan seperti judul yang saya gunakan untuk tulisan kali ini. Penanya tersebut menurut saya sudah tepat menanyakan demikian. Why? Karena seharusnya setiap melakukan sesuatu kita memiliki niat dan tujuan yang jelas. Bisa tergambar, bisa dikerjakan, dan bisa menghasilkan serta bermanfaat. Itu sebabnya, sebagaimana kegiatan lainnya, menulis juga pasti ada tujuannya. Setiap orang bisa saja berbeda cara pandang dalam menentukan motivasi dan tujuan menulisnya. Maka, setiap kali saya mengajar kelas menulis atau mengisi workshop menulis maupun yang lebih spesifik seperti jurnalistik, yang pertama kali saya sampaikan kepada peserta adalah: “Apa sih motivasi Anda menulis?” Selain saya ingin mengukur minat yang mereka inginkan, juga agar saya bisa urun rembug memberikan sedikit sharing agar niat dan tujuan menulis tidak sia-sia atau tidak hanya mandeg pada tataran yang sangat sederhana atau bahkan ‘sampah’.

Nah, jawaban saya untuk pertanyaan sesuai judul artikel ini adalah: menulis ditujukan untuk BERBAGI. Memberi manfaat kepada pembaca agar mereka bisa merasakan nikmatnya pengetahuan. Berbagi itu indah. Apa sajalah, pasti kita senang juga ketika memberi kebahagiaan kepada orang lain. Ada sebuah pesan yang menarik, “Jika ilmu yang Anda pelajari dari saya dapat berguna untuk diri Anda, maka tolong berbagilah kepada orang lain agar orang lain pun dapat memetik manfaat dari ilmu tersebut,” demikian pesan Milton Erickson pada murid terbaiknya, Stephen Gilligan, PhD. Siapa Milton Erickson dan siapa pula Stephen Gilligan? Bagi Anda yang peminat atau praktisi hynotherapy atau juga Neuro-Linguistic Programming, pastinya mengenal guru dan murid di bidang tersebut. Ini sekadar contoh saja.

Dalam Islam, kita sudah diberikan tuntunan. Dakwah salah satunya. Dakwah itu adalah bentuk kepedulian. Menyampaikan informasi dan pengetahuan itu terasa indah dan menyenangkan. Menulis, adalah salah satu cara untuk mendukung terlaksananya dakwah. Andai saja tak ada orang yang mau berdakwah, mungkin akan banyak manusia di bumi ini yang tersesat di jalan kehidupan. Jika tak ada guru yang mengajarkan banyak ilmu, mungkin tak akan banyak orang-orang cerdas dan terpelajar di dunia ini. Mungkin saja jika orang tua kita tidak mendidik kita tentang kepribadian dan etika, akan banyak hadir di dunia ini anak-anak yang tak beradab. Indahnya berbagi.

Menulis pun bagi kita semestinya diniatkan untuk berbagi. Ya, sekemampuan kita. Sebab, adakalanya untuk menjelaskan sesuatu kita butuh detil dan pemaparan fakta. Dan, itu tentunya harus dituliskan. Bukan dikatakan. Bahkan bila perlu dilukiskan dengan rangkaian kata yang indah untuk menjelaskan suatu definisi atau makna. Tulisan pun akan lebih awet dan bisa dipindah-pindah dengan mudah, dicetak dan disebar sebanyak mungkin melalui berbagai media penyampai pesan. Di era digital saat ini, tulisan bisa diproduksi dengan massal, bertebaran di internet, di surat kabar, di majalah dan ribuan buku. Jutaan para penulis lahir dari generasi ke generasi, berbilang tahun dan abad.  Subhanallah, hadis-hadis Rasulullah saw. sampai kepada kita. Kita bisa membacanya melalui riwayat yang disampaikan berabad-abad lamanya. Dibacakan, ditulis, dibacakan lagi, ditulis lagi. Begitu seterusnya. Kita, generasi mutaakhirin, tetap harus merasa bangga, karena ilmu banyak hadir. Karya Imam Bukhari masih bisa kita baca. Padahal, penulisnya sudah ratusan tahun lalu meninggalkan dunia ini. Menulis, memiliki kekuatan tersendiri untuk berbagi ilmu pengetahuan dan mendukung dakwah.

Saya insya Allah merasa yakin bahwa motivasi menulis para ulama adalah menggapai pahala. Para ulama terdahulu senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Swt. sebelum menulis karya-karya mereka. Dalam beberapa kisah bahkan para ulama itu menulis dalam keadaan bersuci. Banyak di antara mereka yang melakukan shalat sunnah terlebih dahulu untuk menuliskan ilmunya. Subhanallah, pantas saja ilmu mereka barokah. Pantas saja karya mereka bermanfaat dan mencerahkan pembacanya hingga kini. Kita wajib iri dengan karya-karya para ulama. Apa yang akan kita wariskan bagi kaum muslimin saat kita sudah tak ada dunia ini lagi? Apa yang akan kita titipkan untuk anak-cucu kita jika kita tak mencoba untuk meninggalkan sebuah saja karya tulis kita yang bisa dibaca dan menginspirasi banyak manusia untuk mengenal Islam? Siapa tahu, yang satu tulisan itu pahalanya terus mengalir sebagai bagian dari amal jariah kita untuk kemaslahatan umat. Apalagi, jika kita berhasil menuliskannya dalam sebuah buku, belasan, puluhan atau bahkan ratusan buku yang bermanfaat. Subhanallah, pasti bahagianya kita karena telah berbagi dengan sesama. Semoga kita bisa meneladani para ulama yang berkarya lewat tulisan.

Sahabat, satu hal yang mungkin perlu menjadi perhatian kita adalah soal NIAT. Jika kita menulis diniatkan untuk semata mencari popularitas dan decak kagum pembaca, tolong diluruskan niat itu. Jika kita menulis diniatkan untuk semata mencari harta, sepertinya perlu dipoles lagi keikhlasan kita. Yakinlah sahabat, ketenaran dan memiliki materi itu adalah efek samping saja dari kegiatan kita menulis. Allah Swt. sudah memberikan rejeki bagi makhlukNya sesuai keputusanNya, kok. Tak usah pusing. Karena kita hanya diminta untuk mencarinya, yang kadang itu pun datangnya bukan dari pekerjaan yang kita geluti. Dan, perlu dicetak tebal dalam ingatan kita bahwa rejeki tak selalu berarti materi. Kesehatan, ilmu, banyaknya teman, keluarga, waktu luang, bisa berdakwah, dan lain sebagianya yang bermanfaat bagi kita, adalah bagian dari rejeki juga. Insya Allah. Hal itu juga adalah nikmat yang bisa kita rasakan sebagai bagian dari rejeki.

Dengan demikian, “untuk apa kita menulis?” Ya, untuk beribadah, berdakwah, berjuang, dan berbagi dengan sesama. Bagi saya, menulis adalah perjuangan. Teruslah menulis jika ingin tetap berjuang. Tetap semangat dan jangan berhenti menulis. Teruslah menulis, meskipun profesi penulis tak segemerlap selebritis. Baik dari ketenaran, apalagi penghasilan. Kata seorang kawan yang sama-sama penulis sering berseloroh, “Kita-kita ini insya Allah kuat pendapatnya (termasuk dalam menulis), yang nggak kuat adalah pendapatannya”. Tetapi, tetaplah tegar di jalan dakwah.  Dan, tetaplah menulis menjadi bagian dari keterampilan yang harus kita miliki untuk membantu dakwah.

Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,

O. Solihin

Menulis melancarkan berbicara

speaker2

Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!

Ya, jika Anda termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah, jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan bisa jadi deras.

Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai. Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih, tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi. Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair. Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.

Intinya: menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun lisan. Tetaplah menulis!

Salam,

O. Solihin

Cara Membuat Tulisan yang Menarik

essayBIG_21447t

Asyik nih, ada konsultasinya. Mau tanya: bagaimana ya cara membuat tulisan yang menarik? Agar orang lain senang membaca tulisan kita. Ada gak kiatnya?Terima kasih.

Pengirim: Ryan

==========
Jawaban
==========
Ryan, menulis itu adalah keterampilan. Jadi, latihan adalah kuncinya. Makin sering kita latihan menulis, maka tulisan kita bukan saja menarik, tapi juga hidup dan bisa mencerahkan pembacanya. Ada beberapa kiat praktis untuk pemula agar tulisan kita menarik:

  1. Kuasai huruf-huruf agar kita bisa menuliskan kata. Jangan sampe ketukar dalam penulisan “f”, “p” dan “v” misalnya. Yang benar adalah “foto” bukan “poto”; “televisi” bukan “telepisi” apalagi “telefisi”. “Fatamorgana”, bukan “patamorgana” apalagi “vatamorgana”. Yang benar adalah “favorit”, bukan “vaporit” apalagi “paporit”. So, latih terus ya. Yang paling gampang, cocokkan dengan kamus bahasa.
  2. Kuasai kata agar kita bisa menuliskan kalimat. Banyak kata yang ada dalam kamus. Jangan gunakan kata-kata untuk menunjukkan makna yang sama dengan satu kata itu. Eksplorasi banyak kata supaya tulisan itu lebih cerdas. Misalnya, kata “semakin”, sekali-kali kita menuliskannya dengan “kian”. Kata “lalu” boleh bergantian ditulis dengan “kemudian” atau “seterusnya”. Kata “Terkadang”, boleh juga ditukar sekali-kali dengan “adakalanya”. Kata “seandainya”, boleh juga digilir nulisnya dengan “andaikata” dll. Silakan eksplor sendiri. Cara yang paling gampang adalah “bersahabat” dengan kamus. Insya Allah banyak kata yang baru yang bisa kita gunakan nantinya dalam tulisan kita. Selain itu, dalam hal kata ini kita bisa memperkaya kosakata. Setiap hari 5 istilah baru yang bisa kita kuasai, insya Allah bakalan banyak kosakata tambahan yang bagus dalam sebulan. Iya kan? Coba deh.
  3. Latihlah terus membuat kalimat agar bisa menciptakan paragraf. Dan, biasakanlah menulis banyak paragraf agar menjadi satu tulisan utuh yang bisa dibaca. Kemampuan kita menguasai huruf, kata, kalimat dan paragraf akan semakin bagus manakala kita latihan terus. Percaya dan yakinlah bahwa berlatih menulis adalah cara paling mudah untuk bisa mahir menulis atau menjadi penulis. Cobalah.
  4. Tema yang diambil yang sedang jadi bahan pembicaraan banyak orang. Sedang menjadi tren untuk jangka waktu tertentu. Misalnya tentang kasus seks bebas, lumpur Lapindo, narkoba dll. Atau bisa juga tema-tema sederhana yang dekat dengan lingkungan kita sehari-hari. Tentang kucing di rumah kita yang lucu-lucu. Kita bisa menuliskan banyak hal dari kucing kesayangan kita itu; cara larinya, suaranya, bulu-bulunya, matanya, dan hal unik lainnya. Atau bisa juga tentang kondisi rumah kita: berantakan, asri, nyaman, catnya keren, lantainya bersih dll bisa dieksplor dengan mudah. Coba ya.
  5. Setelah mengambil tema, maka siapkan bahan tulisannya. Biasanya data-data pendukung. Bisa dari sumber lain: koran, televisi, radio, internet, tabloid, majalah dan sejenisnya. Bisa juga dari pengamatan langsung yang bisa dilihat dan dirasakan. Atau bahkan kita terlibat di dalamnya. Ini akan diperlukan untuk memoles tulisan kita menjadi lebih kuat dan hidup karena ada data pendukung.
  6. Selain memaparkan fakta, jangan lupa solusinya. Sebab, tulisan yang bagus memaparkan fakta tapi solusinya mengada-ada atau hampir mustahil untuk dicerna pembaca, juga jadi tidak menarik. Saya pribadi saat ini memang lebih banyak menulis tentang Islam. Jadi, solusi yang saya sampaikan adalah Islam. Proses pengemasannya saja yang harus menarik supaya tak terkesan menggurui apalagi menghakimi. Tapi jika hal itu adalah tulisan umum, pastikan punya kesimpulan yang masuk akal dan mudah dimengerti pembaca.

Saya pikir itu saja dulu ya. Silakan mencoba tips-tips tersebut. Insya Allah lain waktu disambung lagi. Terima kasih.

Salam,

O. Solihin