Program “Bimbingan Menulis Buku”

Assalaamu’alaikum wr wb

Kesempatan baik untuk Anda yang SUDAH BISA MENULIS, namun masih bingung untuk memulai menulis buku dengan berbagai alasan: bingung pilih tema, kehabisan ide, sulit mengembangkan ide tertentu yang layak dijadikan tulisan, tak terbiasa mencari bahan/data, bingung membuat argumen, sulit dalam menyimpulkan tulisan.

Program “Bimbingan Menulis Buku” (BMB) dikhususkan bagi Anda yang sudah terbiasa dan bisa menulis. Program BMB ini terbagi dua kategori: Menulis FIKSI dan Menulis NONFIKSI. Syarat utamanya, Anda harus sudah bisa dan terbiasa menulis. Syarat dan ketentuan secara detil untuk mengikuti Program “Bimbingan Menulis Buku” adalah sebagai berikut:

[box type=”info”]

[KMO BMB] Paket 1:

  • Sudah bisa dan terbiasa menulis.
  • Belum memiliki tema dan ide untuk menulis buku.
  • Belum menulis artikel yang akan dibukukan, tetapi bertekad menuliskannya ketika mengikuti Program BMB.
  • Tema dan isi tulisan yang akan dibukukan merupakan bagian dari SYIAR ISLAM. Setidaknya tidak bertentangan dengan akidah Islam.
  • Program bimbingan selama 2 bulan (privat). Ada tutorial khusus setiap pekan (total 8 kali tutorial).
  • Konsultasi via Yahoo! Mesengger atau Skype dan email. Waktu sesuai kesepakatan.
  • Bersedia menulis sesuai arahan dari mentor.
  • Jumlah tulisan untuk NONFIKSI, maksimal 20 tulisan, dengan panjang tulisan maksimal 8000 karakter (with spaces).
  • Untuk FIKSI, maksimal 12 cerpen (jika berbentuk kumpulan cerpen) dengan panjang tulisan maksimal 10.000 karakter (with spaces). Untuk jenis Novel, jumlah maksimal 25 episode dengan panjang tulisan rata-rata 10.000 karakter (with spaces).
  • Mendapat kesempatan untuk dibantu mengirimkan naskah ke penerbit.
  • Biaya Rp 1.400.000 (satu juta empat ratus ribu rupiah).

[/box]

 

Continue reading “Program “Bimbingan Menulis Buku””

Antara Belajar Menulis dan Belajar Setir Mobil

Menulis itu keterampilan, makin sering dilatih (biasanya) makin mahir. Begitu pula dengan menyetir mobil, adalah keterampilan. Jika sering berlatih, maka (biasanya) juga makin mahir. Pokoknya, semua hal yang ada prakteknya (tak sekadar teori) bisa diaplikasikan langsung. Kemahirannya berbanding lurus dengan seringnya berlatih dan berimprovisasi selama latihan.

Jangan takut gagal saat berlatih menulis. Gagal itu biasa. Namanya juga sedang belajar. Bunyi salah satu iklan pembersih pakaian: “nggak ada noda ya nggak belajar”. Jadi tak perlu khawatir salah atau gagal. Itu hal yang bisa menimpa semua orang. Jangankan bagi yang baru belajar, mereka yang sudah mahir pun adakalanya gagal dan salah perhitungan. Lihatlah Valentino Rossi dan Dani Pedrosa, pernah terlempar dari arena balapan saat kuda besi yang ditungganginya tergelincir di licinnya aspal sirkuit.  Siapa bilang pemain sepakbola berpengalaman akan selalu sukses mengeksekusi tendangan penalti. Roberto Baggio adalah salah satu contohnya. Ia pernah gagal mengeksekusi penalti terakhir di final Piala Dunia, sehingga Gli Azzurri Italia menangis sambil menatap cemburu kepada Brasil yang jadi Juara di Piala Dunia 1994 itu.

Bayang-bayang kegagalan bukan hanya milik mereka yang sedang berlatih atau belajar, tetapi juga menghantui mereka yang sudah mahir atau terampil. Itu sebabnya, tak perlu ciut nyali jika masih selalu gagal saat belajar menulis atau belajar menyetir mobil. Teruslah berlatih dan belajar dari kegagalan agar tak terulang pada latihan berikutnya. Jangan pernah menyerah, hingga benar-benar tak ada lagi yang mampu untuk diupayakan.

Belajar menulis dan belajar setir mobil itu ada kesamaannya, yakni sama-sama belajar keterampilan. Hanya saja nanti berbeda dalam perlakuan setelah bisa atau mahir. Apakah itu? Menulis, meski sudah mahir sekalipun tak perlu lisensi khusus sebagaimana menyetir mobil atau sepeda motor yang dikeluarkan instansi tertentu (setidaknya sampai saat ini) . Kualitas tulisan seseorang akan dilihat pada tulisannya, bukan sertifikat atau lisensi yang didapatkannya. Hal ini berbeda dengan menyetir mobil, seseorang yang sudah memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) alias driving licence, dianggap sudah bisa mengendarai kendaraan. Padahal, belum tentu.

Omong-omong, mengapa judulnya seperti ini? Ini ada kaitannya dengan saya selama belajar menyetir mobil dilatih seorang murid saya. Nah uniknya, murid saya itu belajar menulis dengan saya. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi murid saya yang sudah mengajari saya menyetir mobil, karena akhirnya saya bisa juga mengendarai kendaraan tersebut. Ini artinya pula, saya ingin memotivasi murid saya bahwa dengan serius dan terus belajar menulis, in sya Allah akan bisa juga menulis setelah menempuh kurun waktu tertentu. Setuju?

Ayo menulis! Teruslah berlatih dan belajar menulis agar tulisan kian bagus kualitasnya dan tersampaikan pesannya. Yuk, perkaya wawasan dengan banyak membaca dan berinteraksi dengan orang lain. Jangan mudah menyerah dan tetap semangat berlatih menulis!

Salam,
O. Solihin

*gambar dari sini

Belajar Menulis dengan Menulis

Banyak di antara murid saya yang merasa sudah kalah sebelum belajar dengan benar. Bahkan ada di antara mereka yang menjadikan rasa malas sebagai penyebab ketidak-berdayaannya dalam belajar menulis. Perlu diketahui bahwa rasa malas sebenarnya kita sendiri yang ‘menciptakannya’. Mungkin tepatnya membiarkannya agar terus menyelimuti pikiran dan perasaan kita. Akibatnya, kita kehilangan gairah untuk memulai belajar menulis (atau juga kegiatan lainnya).

Belajar menulis tidaklah sulit, jika kita mau beranjak untuk segera menuliskannya. Sebab, sama seperti belajar silat, jika kita tak segera menggerakkan badan untuk memeragakan jurus-jurus bela diri itu, amat wajar jika kemudian kita tak bisa lihai bermain silat. Setiap orang punya potensi yang sama, yang seringkali muncul pada kondisi ketika kita sudah memiliki minat yang kuat terhadap apa yang ingin kita raih. Boleh percaya boleh tidak, jika kita sudah berbulat tekad, maka halangan apapun tak akan mampu membendung kerasnya keinginan kita.

Menulis itu keterampilan, maka harus sering dilatih dengan rajin menulis. Itu sebabnya, belajar menulis itu solusinya adalah MENULIS. Lho, bukankah menulis erat kaitannya dengan membaca, sehingga jika kita malas membaca juga akan berakibat malas menulis? Hmm.. menurut siapa itu? Saya justru sering berhadapan dengan orang yang hobi membaca tetapi dia terang-terangan tak suka menulis. Fenomena apa ini?

Idealnya, memang orang yang rajin membaca adalah orang yang juga rajin menulis. Kedua aktivitas itu tak bisa dipisahkan. Tetapi faktanya, ada juga orang yang doyan membaca tapi berat untuk menulis. Membaca baginya sebatas memenuhi hasrat pengetahuannya semata, tak mau dibagikan lagi melalui tulisan kepada orang lain. Orang jenis ini hanya berhenti pada tataran kepuasan diri semata, ilmu yang didapat cukup baginya dan tak tergerak untuk menyebarkannya. Betul begitu?

Ah, tidak juga. Lho, bagaimana ini? Iya. Sebab, ada juga orang yang memang bukan tak suka menulis, tetapi karena ia tak bisa memulai menulis. Jika faktanya demikian, berarti harus diyakinkan bahwa menulis itu sarana berbagi dan berharap mendapat pahala dari kemanfaatan yang kita berikan kepada orang lain melalui tulisan.

Lalu bagaimana? Harus bagaimana? Jika ingin tetap belajar menulis, segeralah langsung menulis saja. Tak usah dipikirkan terlalu lama. Salah itu wajar kok, asal jangan sengaja berbuat salah. Berikutnya, kita harus mau belajar dari kesalahan dengan cara memperbaikinya. Bagaiamana pun, belajar itu memang butuh proses. Setuju? Jika setuju, segeralah menulis!

Salam,

O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

*Gambar dari sini