Oleh: Radinal Mukhtar Harahap

beasiswa2Alkisah, di sebuah sekolah menengah atas di Medan, Sumatera Utara, hiduplah dua orang siswa yang mempunyai nasib berbeda. Siswa yang pertama adalah anak seorang pengusaha terkenal di Medan sedangkan siswa kedua adalah anak yatim piatu yang bersekolah dari penghasilan kakak perempuannya yang bekerja sebagai seorang sales. Walaupun demikian, ada persamaan yang menjadi perhatian banyak guru diantara mereka berdua. Siswa berprestasi.

Sebut saja siswa yang pertama bernama Andi dan siswa yang kedua Dani. Andi dan Dani, semenjak masuk ke sekolah tersebut dikenal sebagai dua siswa yang selalu bersaing di segala bidang. Keduanya bersaing secara sehat memperebutkan prestasi. Walaupun sering bersaing, pertemanan diantara dua orang tersebut sangatlah akrab. Bahkan, Andi dan Dani duduk berdampingan di kelas.

Di kelasnya, jika Andi yang menjadi juara I kelas, maka dapat dipastikan juara II nya adalah Dani. Sebaliknya, bila Dani yang menjadi juara I, pastilah Andi yang menjadi juara II. Begitu juga di dalam perlombaan-perlombaan yang diadakan pihak sekolah. Andi menjadi juara I lomba penulisan opini, sementara Dani menjadi juara I lomba penulisan cerpen. Andi menjadi juara I di olimpiade matematika, Dani menjadi juara I dalam bidang fisika.

Persaingan tersebut berlanjut hingga keduanya terpilih untuk mendapatkan beasiswa kuliah gratis selama empat tahun di salah satu perguruan tinggi terbaik di Surabaya, Jawa Timur. Pihak sekolah, ketika melepaskan dua murid terbaiknya untuk melanjutkan pendidikannya, sangat senang dengan persaingan sehat yang berlangsung diantara dua anak tersebut.

Hingga empat tahun kemudian, saat kedua anak tersebut kembali ke kota asalnya, perubahanpun terjadi. Andi, seorang anak kaya raya nan pintar kini pulang dengan gelar sarjana. Begitu juga dengan Dani. Namun bedanya, kepulangan Dani, anak yatim piatu adiknya seorang sales pulang dengan segenap karya ditangannya berupa buku-buku best seller sementara Andi tidak.

Setelah diusut apakah yang menyebabkan Dani dapat menghasilkan buku-buku best seller tersebut sementara Andi tidak, jawabannya terletak pada cara pandang mereka mengenai beasiswa yang mereka terima.

Andi, dengan fasilitas yang diperoleh dari beasiswa dan fasilitas orang tua, memandang bahwa kewajibannya hanyalah menyelesaikan pendidikannya dengan cepat agar menjadi sarjana dan kembali ke kota asalnya. Dan terbukti, dalam jangka waktu empat tahun, Andi telah berhasil menjadi sarjana.

Sementara Dani, ia hanya memiliki fasilitas beasiswa tanpa ada fasilitas pendorong lainnya. Dengan keadaan seperti itu, ia akhirnya berpikir untuk meraih fasilitas-fasilitas lainnya. Kemampuannya dalam menulis cerpen ketika di Medan dulu digunakannya. Ia mengirim tulisannya ke koran, majalah, hingga situs-situs yang berada didunia maya.

Beberapa kali ia gagal, namun kegagalan tersebut ia pandang sebagai sebuah batu loncatan untuk mendapatkan keberhasilan yang sesungguhnya. Hingga akhirnya, cerpen-cerpennya dibukukan dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat luas.

ooOoo

Berbicara mengenai beasiswa, sebenarnya sering sekali kita terjebak pada sebuah kata yang menjadi sandingan dari kata beasiswa itu sendiri yaitu ‘kenikmatan’. Sering kali kita menafsirkan bahwa ketika kita mendapatkan beasiswa, kita telah mendapatkan sebuah kenikmatan yang pantas untuk dinikmati. Padahal, dengan belajar dari cerita di atas, beasiswa itu sebenarnya, menurut saya, hanyalah sebuah sarana dan jembatan untuk mencapai kesuksesan yang hakiki.

Sekali lagi, menurut saya, kenikmatan yang ada dalam program-program beasiswa sering sekali menjadi sebuah boomerang yang akan kembali kepada diri sendiri. Sering sekali ditemukan mereka yang menerima beasiswa tidak mempunyai kelebihan dibanding mereka yang tidak menerima. Lebih miris lagi, jika kita menemukan para penerima beasiswa lebih buruk dari pada mereka yang menerima beasiswa.

Ini bisa saja terjadi jika cara pandang terhadap beasiswa itu sendiri tidak kita sadari. Bayangkan bila kita beranggapan bahwa beasiswa adalah sebuah kesuksesan. Dan coba bandingkan bila beasiswa kita anggap sebagai ‘proses’ menuju sebuah kesuksesan.

Bagi mereka yang beranggapan bahwa beasiswa adalah sebuah kesuksesan, mereka akan puas dengan hasil yang ada saat ini. Walhasil, tidak ada pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesuksesan. Toh, kesuksesan telah dicapai, apalagi yang ingin diraih? Kini saatnya bersantai.

Sedangkan mereka yang beranggapan bahwa beasiswa adalah sebuah ‘proses’ kesuksesan, mereka akan menggunakan beasiswa tersebut untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan yang lainnya. Mereka akan terus melakukan pekerjaan dan perbuatan yang meningkatkan kemampuan mereka tanpa berhenti pada satu titik tertentu.

Sebagai penutup, saya ingin menceritakan tentang trik suku Eskimo dalam memburu kenikmatan. Suku Eskimo yang mendiami Kutub Utara memiliki teknik yang unik untuk berburu serigala sebagai santapan hariannya. Mereka menggunakan pisau yang sangat tajam lalu merendamnya di dalam darah hewan lain. Darah yang menyelimuti pisau itu mereka biarkan membeku. Selanjutnya, pisau yang telah terbalut darah tersebut ditanam didataran tinggi tempat serigala sering bermain. Pisau itu ditanam dengan posisi mata pisau menghadap keatas.

Dapat ditebak, serigala yang mengendus-endus bau darah yang menyelimuti pisau tersebut akan menjilati hingga melukai lidahnya sendiri. Walaupun demikian, udara yang dingin membuat serigala tidak merasa sakit meski ia telah menjilati pisau yang tajam dan darahnya sendiri. Lama-kelamaan serigala melemas dan mati karena kehabisan darah. Dan itulah saatnya, suku Eskimo berpesta ria menyantap buruannya.

Selamat mendapatkan beasiswa, namun jangan sampai beasiswa tersebut menjadi pisau berselimut darah yang akan menjadikan kita sebagai ‘serigala’ yang mati akibat kebodohan dan kecerobohan kita sendiri.[]

Penulis adalah President of Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA) IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kini ‘nyantri’ di pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya setelah menjadi alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *