Oleh: Kang Ewink

“Kuberikan padamu setangkai kembang pete, Tanda cinta abadi namun kere…” (Kembang Pete, Iwan Fals)

Berawal dari lamunan sambil ditemani lagu inilah, kisah Koalisi Peuteuy bergulir. Saya sampaikan ucapan selamat menikmati hidangan ekstra peuteuy.

Tersebutlah kisah dari sebuah dusun di pinggiran kota kecil di sebelah barat pulau Jawa, yang dikenal dengan sebutan Dusun Wanteuy.

Berdasarkan cerita turun temurun, konon katanya pada jaman dulu yang ada di dusun ini hanyalah hamparan hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon pete. Penduduk asli pribumi sering menyebut hutan belantara itu dengan sebutan Wana Peuteuy (wana=hutan, peuteuy=pete).

Suatu ketika, terjadilah bencana alam berupa musim kemarau yang berkepanjangan. Banyak warga dusun yang memilih untuk hijrah dan mengadu nasib ke kota. Hanya sebagian kecil warga yang memilih untuk tetap tinggal di dusun.

Seiring dengan berjalannya waktu, bencana kemarau akhirnya pergi meninggalkan dusun. Warga penghuni dusun terlihat mulai kembali menjalankan aktifitasnya sehari-hari, berkebun, berladang dan bertani. Karena memang mayoritas warga dusun bermatapencaharian sebagai petani.

Mendengar kabar Dusun Wana Peuteuy telah kembali normal, maka semua warga yang pada saat bencana terjadi memilih ber-urbanisasi, memutuskan untuk kembali pulang ke dusun mereka.

Pada peristiwa pulang kampung inilah proses asimilasi budaya terjadi. Kebetulan pada waktu itu sedang ngetrend musik rap, sebuah aliran musik dan budaya dari barat. Musik rap sangat kental dengan intonasinya yang cepat dalam melantunkan syair lagu. Nah, kebiasaan bernyanyi dan berbicara cepat inilah yang ikut terbawa sampai ke komunitas warga dusun.

Diceritakan, dalam perjalanan pulang ke dusun, seorang remaja yang sudah terkontaminasi budaya rap melantunkan sebuah lagu gubahannya sendiri yang berjudul “Mari Pulang”. Tanpa henti ia terus menyanyikan lagu yang sama. Karena lagu yang dinyanyikan terdengar cukup asyik oleh rombongan warga dusun, easy listening kata dosen bahasa Inggris mah, maka pada saat lagu sampai di bait refrain, rombongan pun ikut bernyanyi bersama mengikuti suara si remaja dusun tadi.

“mari pulang, marilah pulang ke Dusun Wana Peuteuy…”

Lagu ini dinyanyikan dengan gaya nge-rap, sehingga penyebutan kata Wana Peuteuy pun terdengar seperti berubah menjadi “Wanteuy”.

Mereka terlihat sangat bersemangat bernyanyi dengan gaya nge-rap secara bersama-sama. Tanpa mereka sadari, gaya nge-rap telah merubah pelisanan kata Wana Peuteuy menjadi Wanteuy. Perubahan ini terjadi secara kolektif.

Perubahan dalam melisankan kata Wana Peuteuy menjadi Wanteuy inilah yang sangat dominan, sehingga terbawa oleh rombongan warga sampai ke dusun, sampai sekarang.

Itulah sekilas hikayat tentang Dusun Wanteuy.

Berdasarkan hasil sensus penduduk dari salah satu lembaga survey independen, jumlah warga Dusun Wanteuy yang terdata sekitar 37.370 jiwa (9300 KK), dengan rincian 22.422 laki-laki dan 14.948 perempuan.

Dari total jumlah warga tercatat sekitar 26.159 orang yang sudah memiliki hak pilih, dengan rincian 15.695 pemilih laki-laki dan 10.464 pemilih perempuan.

Selain terkenal sebagai penghasil utama komoditas peuteuy, Dusun Wanteuy juga dikenal sebagai dusun teladan yang paling demokratis. Kondisi ini sangat terasa pada saat menjelang pemilihan Kepala Dusun periode 2009-2014, yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 8 Juli 2009.

Pembentukan KPK-DW (Komisi Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy)

Seperti lazimnya proses pemilihan kepala daerah di negeri ini, maka dibentuklah Komisi Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy (KPK-DW) yang berjumlah sembilan orang dengan komposisi personalia mewakili kelompok masyarakat yang paling dominan. KPK-DW diberi waktu 30 hari untuk mempersiapkan proses pemilihan.

Berdasarkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya, KPK-DW mendapatkan dana hibah yang sangat besar dari salah satu organisasi nirlaba yang peduli terhadap program pendidikan demokratisasi untuk pelaksanaan Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy ini.

Setelah melaksanakan Rapat Kerja yang ditutup secara resmi oleh Kang Yoyo Kepala Dusun Wanteuy incumbent, seluruh Anggota KPK-DW mengadakan konferensi dusun yang dihadiri oleh perwakilan warga Dusun Wanteuy untuk mengumumkan hasil Rapat Kerja Perdana Anggota KPK-DW.

Bertempat di sekretariat KPK-DW yang lokasinya persis di tengah alun-alun Dusun Wanteuy. Rapat Kerja KPK-DW merekomendasikan enam poin mendesak yang harus segera dilaksanakan, yaitu:

1. Segera dibuat seragam dinas anggota KPK-DW.

2. Segera disediakan fasilitas kendaraan operasional untuk seluruh Anggota KPK-DW.

3. Segera disediakan fasilitas komunikasi untuk seluruh Anggota KPK-DW.

4. Segera dibuka tender pengadaan logistik Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy.

5. Segera dibuka lowongan pekerjaan untuk posisi staf secretariat dan office boy, untuk membantu tugas KPK-DW.

6. Segera dibuka proses pendaftaran Calon Kepala Dusun Wanteuy, dengan syarat menyertakan bukti dukungan dari minimal 6.540 orang (25%) warga Dusun Wanteuy yang telah memiliki hak pilih.

Keesokan harinya, berbondong-bondong orang mendatangi Sekretariat KPK-DW. Ada yang mengajukan surat lamaran pekerjaan, ada yang memasukan proposal penawaran harga proyek pengadaan logistik, ada yang meminta berkas pencalonan Kepala Dusun, bahkan ada pula warga dari luar Dusun Wanteuy yang melakukan studi banding untuk mengadopsi proses Pemilihan Kepala Dusun yang demokratis ini. Kondisi seperti ini berulang setiap hari selama satu minggu.

Di minggu kedua masa kerjanya, akhirnya KPK-DW menetapkan nama sejumlah pelamar yang lulus seleksi untuk menempati posisi staf secretariat dan office boy.

Ternyata, semua pelamar yang terpilih masih memiliki hubungan kekerabatan dengan para Anggota KPK-DW. Begitupula yang terjadi dengan penetapan pemenang tender pengadaan logistik. Apa kata dunia…?

Koalisi Peuteuy

Dengan jumlah warga yang cukup besar ditambah dengan tingkat kemajemukan yang sangat tinggi, banyak bermunculan lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang dibentuk dengan maksud dan tujuan untuk menunjukan eksistensi kelompoknya di Dusun Wanteuy.

Dari sekitar 43 LSM yang terdaftar resmi di Kantor Dinas Catatan Sipil Pembantu Dusun Wanteuy, hanya 9 LSM yang paling dominan dan memiliki jumlah anggota terbanyak sampai saat ini.

Kesembilan LSM tersebut, yaitu: LSM Biru binaan Kang Yoyo; LSM Koneng pimpinan Kang Ucup; LSM Kebo salah satu LSM yang dipimpin oleh seorang perempuan bernama Ceu Ati; LSM Hideung sebuah LSM yang memiliki pola kaderisasi sangat sistematis, saat ini dipimpin oleh Kang Fatul; LSM Biru Laut pimpinan Mas Tisno; LSM Heulang salah satu LSM yang sedang naik daun berkat dukungan promosi yang sangat intensif ditunjang dengan modal yang sangat besar, saat ini dipimpin oleh Mas Bowo; LSM Hejo yang cenderung diam, saat ini dipimpin oleh Mas Ali; LSM Boled satu lagi LSM yang baru dibentuk pimpinan Mas Anto; dan LSM Kobong yang sering dilanda konflik internal, namun berkat kepemimpinan Mas Muhe, LSM Kobong masih memiliki anggota yang setia sebanyak 520 orang.

Para pengurus LSM memahami konsekuensi dari rekomendasi hasil Rapat Kerja KPK-DW, yang mengharuskan para pengurus LSM mengambil kebijakan strategis berupa koalisi dengan LSM lain yang memiliki kesamaan visi dan misi untuk memenuhi syarat minimal yang telah ditetapkan oleh KPK-DW.

Pada saat ini, hanya LSM Biru yang dapat langsung mendaftarkan kader terbaiknya untuk menjadi Calon Kepala Dusun Wanteuy, karena telah memenuhi syarat minimal yang telah ditetapkan oleh KPK-DW.

LSM Biru memiliki keunggulan dibandingkan LSM lainnya. Sebab Kepala Dusun Wanteuy Periode 2004-2009 saat ini dijabat oleh Kang Yoyo Pembina LSM Biru, yang didampingi oleh wakilnya Kang Ucup Ketua LSM Koneng.

Yang menjadi pusat perhatian warga Dusun Wanteuy saat ini sebenarnya adalah kinerja Kabinet Kang Yoyo dan Kang Ucup, karena warga telah mengetahui bahwa keduanya telah menyatakan diri akan maju sebagai Calon Kepala Dusun Wanteuy Periode 2009-2014 mewakili LSMnya masing-masing. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengganggu kinerja Kabinet Dusun Wanteuy saat ini.

Nah, untuk menjaga stabilitas dusun, sepertinya Kang Yoyo dan kang Ucup selalu jaim dihadapan warga, seolah-olah mereka masih bergandengan mesra seperti layaknya sepasang kekasih yang dimabuk cinta, padahal menurut informasi dari Staf Rumah Tangga Istana Peuteuy, benih-benih perceraian telah jelas terlihat dan sangat terasa setelah keduanya menyatakan diri akan ikut serta dalam bursa Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy Periode 2009-2014.

Di luar Istana Peuteuy, para pengurus LSM telah giat melakukan manuver politik. Penjajakan koalisipun segera dimulai oleh LSM Heulang dengan mendekati LSM Kebo. Langkah ini selanjutnya diikuti oleh LSM Koneng dan LSM Boled.

Setelah melewati berbagai perdebatan, dengan mengambil tempat di rumah kediaman Ketua LSM Kebo, diadakanlah konferensi dusun untuk mengumumkan koalisi sementara yang terdiri atas LSM Kebo, LSM Heulang, LSM Koneng, LSM Boled dan beberapa LSM kecil lainnya. Sebagian warga menilai bahwa koalisi ini dibentuk hanya sementara untuk membendung langkah LSM Biru.

Benar juga, terbukti bahwa koalisi ini tidak bertahan lama, karena beberapa hari kemudian, bertempat di Tugu Peuteuy, LSM Koneng dan LSM Boled mendeklarasikan koalisinya dengan mengusung Kang Ucup dan Mas Anto sebagai Pasangan Calon Kepala dan Wakil Kepala dusun Wanteuy.

Empat hari kemudian, bertempat di Gedung Serbaguna Peuteuy, giliran Kang Yoyo dari LSM Biru yang melakukan deklarasi. Dengan dalih mempertimbangkan kompetensi dan profesionalisme, serta untuk menjaga harmoni agar tidak timbul kecemburuan antar LSM pendukung koalisi, Kang Yoyo akhirnya memilih untuk tidak memilih kandidat dari LSM pendukung koalisinya, ia lebih memilih Kang Ibud, seorang profesional yang ahli di bidang ekonomi untuk menjadi pendampingnya. Koalisi ini didukung oleh LSM Biru, LSM Hideung, LSM Biru Laut, LSM Hejo, LSM Kobong, dan beberapa LSM kecil lainnya.

Setelah melewati berbagai tahapan negosiasi dan perdebatan mengenai siapa yang lebih pantas menjadi Calon Kepala Dusun, berselang dua hari setelah deklarasi Kang Yoyo dan Kang Ibud, akhirnya Ceu Ati dari LSM Kebo dan Mas Bowo dari LSM Heulang mendeklarasikan dirinya sebagai pasangan Calon Kepala Dusun Wanteuy Periode 2009-2014. Deklarasi ini cukup menarik perhatian warga karena dilangsungkan di tempat pengolahan kulit peuteuy.

Pohon Peuteuy Keramat

Seminggu menjelang hari H pencoblosan, KPK-DW mengumumkan tiga pasangan calon yang telah lulus persyaratan yang ditetapkan oleh KPK-DW dan berhak mengikuti Bursa Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy. Ketiga pasangan calon tersebut masing-masing adalah, pasangan Kang Ucup dan Mas Anto, pasangan Ceu Ati dan Mas Bowo serta pasangan Kang Yoyo dan Kang Ibud.

Agenda ini dilanjutkan dengan acara seremonial pembukaan masa kampanye terbuka bagi para pasangan calon.

Seiring dengan tampilnya artis ibu kota di atas panggung, organ tunggalpun semakin diserbu oleh penonton yang berlomba untuk mendapatkan tempat paling strategis dipinggir panggung utama.

Selama tiga hari tiga malam, kampanye terbuka berjalan dengan tertib dan lancar. Masing-masing pasangan calon telah memaparkan visi, misi dan janji-janji politiknya.

Ada kesamaan visi yang disampaikan ketiga pasangan calon pada kampanye terbuka, yaitu tentang konsep ekonomi kerakyatan. Ketiganya berjanji akan meningkatkan Pendapatan Asli Dusun Wanteuy dengan cara meningkatkan kapasitas produksi peuteuy, meningkatkan volume penjualan (ekspor) peuteuy, dan diversifikasi hasil olahan peuteuy.

Diversifikasi yang dimaksud adalah mengolah peuteuy menjadi bentuk olahan yang lebih bernilai ekonomis seperti keripik peuteuy, dodol peuteuy, jus peuteuy, minyak peuteuy, krim lulur peuteuy, bakso peuteuy, sate peuteuy, pais peuteuy, asinan peuteuy, pizza peuteuy, parfum peuteuy, dan sebagainya.

Peuteuy menjadi isu yang sangat penting untuk disampaikan kepada para calon pemilih karena peuteuy telah menjadi ikon budaya bagi warga Dusun Wanteuy dan merupakan sumber penghasil devisa utama selain jengkol.

Setelah melewati masa kampanye terbuka, saatnya memasuki masa tenang. Semua atribut kampanye pasangan calon mulai dibersihkan. Sehingga diharapkan pada hari H pencoblosan, lingkungan Dusun Wanteuy telah steril dari segala macam bentuk atribut kampanye.

Namun, sepertinya harapan itu tidak akan terwujud, karena ada satu tempat yang tidak mungkin tersentuh untuk disterilkan. Ditempat itu berkibar bendera ukuran raksasa ketiga pasangan calon. Tidak ada satu orang pun yang berani menurunkan ketiga bendera tersebut, karena bendera terikat dengan kuat di atas pohon peuteuy keramat.

Banyak warga yang khawatir (terutama para sesepuh), akan terjadi sesuatu hal buruk yang akan menimpa Dusun Wanteuy dalam waktu dekat ini.

Berdasarkan saran dari para kasepuhan, diselenggarakanlah Kongres Istimewa Dusun Wanteuy pada malam hari H pencoblosan. Kongres istimewa ini dilaksanakan dalam rangka menyikapi kasus pemasangan bendera diatas pohon peuteuy keramat.

Setelah melalui diskusi, pandangan dan arahan dari para kasepuhan, diputuskan bahwa pencoblosan tetap dilaksankan esok hari dan kepada seluruh warga untuk bersikap waspada menjaga kemungkinan terburuk yang akan terjadi menimpa Dusun Wanteuy.

Keesokan harinya, tepat pukul 07.00 WIB, dengan perasaan was-was dimulailah secara serentak pesta demokrasi Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy Periode 2009-2014. Proses pencoblosan suara berjalan dengan lancar dan ditutup secara serentak tepat pukul 17.00 WIB.

Tidak ada kejadian istimewa yang terjadi pada siang hari itu. Kotak suara dari masing-masing TPS telah terkumpul di Sekretariat KPK-DW untuk dilakukan penghitungan suara secara manual pada pukul 20.00 WIB.

Ketiga pasangan calon dengan diikuti oleh para pendukungnya turut menghadiri proses penghitungan suara di sekretariat KPK-DW. Sesuai dengan rencana tepat pukul 20.00 WIB, anggota KPK-DW membuka seluruh segel kotak suara dan mulai menghitung jumlah suara yang telah terkumpul. Pukul 21.00 WIB, baru setengah dari total surat suara yang berhasil direkap.

Pada saat konsentrasi seluruh warga yang hadir tertuju pada proses penghitungan suara, tiba-tiba dikagetkan oleh suara gaduh yang berasal dari pintu masuk sekretariat KPK-DW.

Ternyata sekelompok orang berseragam, berjumlah sekitar tiga puluh orang telah berdiri mengelilingi ruangan tempat penghitungan suara. Lima orang bersenjata lengkap, lima belas orang memegang borgol, lima orang wartawan dari jaringan televisi internasional dan sisanya adalah warga sipil yang merupakan perwakilan organisasi nirlaba yang telah memberikan hibah dana untuk proses pelaksanaan Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy.

Kemudian terlontar satu kalimat diucapkan oleh pemimpin kelompok berseragam yang berdiri di barisan paling depan. Ia berkata, “Atas nama Undang-Undang kalian berlima berlima belas kami tangkap!”.

Setelah memperlihatkan Surat Tugas Penangkapan, tanpa banyak bicara kelima belas orang yang memegang borgol langsung menangkap sembilan Angota KPK-DW dan ketiga Pasangan Calon Kepala Dusun Wanteuy. Semuanya digiring ke atas truk yang telah disiapkan di depan sekretariat KPK-DW. Tak lama berselang, truk itupun pergi meninggalkan Dusun Wanteuy diikuti oleh tiga mobil patroli yang berjalan beriringan.

Semua warga yang hadir di Sekretariat KPK-DW, saling pandang dengan mimik keheranan. Melihat kejadian ini, para kasepuhan dusun langsung turun tangan menenangkan warga dan meminta mereka untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing.

Keesokan harinya, semua media masa baik media cetak maupun elektronik memuat head line dengan judul yang hampir sama, “Korupsi di Dusun Wanteuy”.

Ternyata, Anggota KPK-DW telah melakukan tindak pidana korupsi dana hibah untuk pengadaan logistik dan pelaksanaan Pemilihan Kepala Dusun Wanteuy disertai dengan penyalahgunaan wewenang.

Begitupun dengan ketiga pasangan calon yang ikut ditangkap, mereka telah melakukan peresekongkolan dalam pengaturan perolehan jumlah suara yang diarahkan untuk memenangkan salah satu pasangan calon, dengan kompensasi pembagian jatah kekuasaan di kabinet, pembagian jatah tanah bengkok, pembagian jatah pajak penghasilan peuteuy, dan pembagian jatah dana hibah Program Pembangunan Dusun Wanteuy.

Semenjak kejadian itu, Dusun Wanteuy kembali dipimpin oleh Dewan Presidium Kasepuhan, dengan menganut sistem pemerintahan kolektif yang berlandaskan kearifan budaya dan hukum adat lokal yang ramah lingkungan dan religius.

Pohon peuteuy keramat telah kembali bersih dari atribut kampanye dan hasil produksi panen raya peuteuy tahun ini pun sangat melimpah. Sebuah hikmah dan berkah tersendiri bagi Dusun Wanteuy.[]

Koalisi yang dilandasi semangat pragmatis, sangat rentan dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Wassalam,
Kang Ewink
Siswa KMO-1 dan Penggemar Peuteuy (240509/05:25)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *