9 Langkah untuk Menulis Buku

Assalaamu’alaikum wr wb

IMG-1393-SmallTeman-teman, ini sekadar sharing aja dari saya. Semoga ada manfaatnya. Bagi yang punya tips lain, silakan tulis saja di sini, supaya lebih banyak inspirasi yang bisa diambil dan dimanfaatkan oleh siapa pun. Berikut beberapa tips dari saya untuk menulis buku:

===

9 Langkah singkat untuk penulisan buku: (sekadar sharing pengalaman saja)

  1. Eksplorasi tema yang akan diangkat. Biasanya kita harus ‘hunting’ fenomena yang sedang hangat dibicarakan. Atau, bisa juga tema ‘abadi’ seperti masalah cinta. Tapi, kita coba bahas dari sudut pandang lain. Meski nilainya Islam, tetapi ‘rasanya’ khas: bahasa, metode penyampaian, segmentasi pembaca, dan solusi praktis/sistemik.
  2. Setelah tema kita genggam. Langkah kedua adalah menentukan judul yang kira-kira menarik. Usahakan judul untuk buku nonfiksi, ‘cuma’ terdiri dari 3 kata. Maksimal boleh 4 kata. Selain menarik, juga hemat kata. Simple deh. J
  3. Membuat outline. Ini diperlukan supaya pembahasan tidak melebar ke mana-mana. Pagari dengan beberapa bab yang mungkin untuk dibuatkan tulisannya. Jumlah bab bergantung kepada berapa banyak materi yang akan kita kupas habis dalam satu buku tersebut. Contohnya bisa lihat buku-buku yang sudah ada. Simak bagaimana para penulis itu menuangkan gagasannya dalam sebuah buku. Khusus untuk buku JNC, saya dan Iwan cuma butuh 4 bab. Itu pun terdiri dari 4 ide pokok; filosofi cinta, fakta perwujudan cinta, bagaimana mengendalikan cinta, dan solusi akhir dari ‘masalah’ cinta. Dan dengan catatan, cinta di sini adalah yang langsung berhubungan dengan perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Masing-masing bab terdiri dari beberapa tulisan yang memungkinkan untuk dibahas. Dikelompokkan dengan amat rapi, dan sedetil mungkin sehingga tidak ada pembahasan yang terlewat. Ini memang relatif, bergantung kepada faktor si penulis sebagai manusia dan sudut pandang yang dimilikinya selama ini (ideologis atau tidak).
  4. Pastikan dalam pembuatan outline itu terdiri dari formula standar: pemaparan fakta, pembahasan terhadap fakta, dan solusi Islam (baik praktis maupun sistemik). Arahnya harus sudah jelas. Jika keroyokan, maka ini kudu sering didiskusikan supaya terjaga alurnya. Alurnya boleh detil boleh secara global saja. Tapi untuk kedua buku kami (JJS dan JNC) yang ditulis berdua itu tidak dilakukan karena kebetulan sudah bisa dipahami alur penulisannya. Bahkan outline yang dibuat pun langsung fixed jadi daftar isi. Pengalaman yang agak melelahkan sewaktu membuat buku Yes! I am MUSLIM. Itu buku tebel banget karena saya ingin jadikan buku itu sebagai masterpiece dari semua karya saya. Buku itu saya buat dalam waktu setahun. Lambat banget, tapi waktu setahun itu habis untuk nyari data dan editing. Sementara nulis mentahnya sendiri selama 1 bulan. Itu pun saya nulis nggak tiap hari, seminggu paling 3 atau 4 hari dengan durasi maksimal 3 jam.
  5. Langkah selanjutnya adalah penelusuran fakta yang akan dijadikan sebagai bahan/data penulisan. Ini amat penting bagi sebuah buku nonfiksi. Jangankan nonfiksi, buku fiksi saja harus jelas datanya yang akan digunakan sebagai latar cerita tersebut. Seakurat mungkin. Sebab, kalo salah ambil fakta atau sekadar cuap-cuap aja kan nggak mutu istilahnya. Jadi tahapan ini amat penting dilakukan. Data-data itu bisa didapat dari berbagai sumber; digital dan nondigital. Saya dan Iwan sejauh ini mengandalkan sourcing data di internet. Untuk menghemat waktu, pencarian data biasanya saya dan Iwan mempercayakan kepada seorang kawan yang memang ‘tekun’ banget dalam penelusuran datanya. Asal diberi batasan dan spesifikasinya insya Allah bisa berjalan. Kalo pun ada kekurangan di sana-sini, biasanya kami langsung hunting lagi sebagai pelengkap. Tapi untuk buku JNC, saya dan Iwan langsung memburu data sendiri. Beda dengan Jangan Jadi Seleb, karena harus kuat di data, kami menyerahkannya kepada seorang kawan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang kami inginkan. Enaknya lagi, ‘perpustakaan digital’ yang dimiliki media tempat kami bekerja (sekarang udah ‘almarhum’, yakni Majalah Permata) udah cukup memberi kesegaran untuk membuat tulisan lebih berbobot. Catatan: datanya terdiri dari ‘dalil aqli’ dan ‘dalil naqli’. Jadi, selain data dari fakta di lapangan, juga data yang sifatnya untuk menguatkan argumentasi, yakni dari al-Quran, hadits, ijma sahabat, dan juga qiyas. Tapi yang pasti, tulisan itu kudu ideologis!
  6. Setelah data terkumpul, jika sendiri menulisnya, maka saya biasanya langsung saja menyusun tulisan (seperti pada buku Jangan Jadi Bebek). Tapi untuk Jangan Jadi Seleb dan Jangan Nodai Cinta, saya membagi tanggung jawab penulisan dengan Iwan. Untuk JNC, masing-masing dua bab. Terserah aja mau pilih yang mana. Tapi karena saya dan Iwan udah tahu karakter tulisan masing-masing (maklum, sejak tahun 1989 bareng terus dan punya keterampilan menulis untuk segmen remaja), maka posisi penanggung jawab utama untuk bab-bab yang sudah dibuatkan outlinenya langsung saya tentukan; bab 1 dan bab 3 bagian Iwan, sementara bab 2 dan bab 4 saya yang pegang. Setelah kelar, tukar posisi dalam mengedit. Terakhir, saya yang edit total dari semua tulisan. Termasuk pengaturan font, footnote dan kroscek data. Melelahkan memang. Tapi alhamdulillah, hasilnya juga lumayan. J
  7. Selama penulisan, update data terbaru tetap dilakukan. Supaya terasa hangat terus. Itu dilakukan sampe editing akhir. Sangat boleh jadi fakta-fakta terbaru akan menggeser data yang sudah kita buat. Tak masalah, selama memang itu memiliki nilai jual tinggi sebagai sebuah ide.
  8. Jangan lupa, tentukan deadline penulisan. Kalo nggak, bisa jadi akan molor terus. Bukankah kita perlu target dan itu harus terukur? Buku JJS kami patok maksimal 3 bulan (karena sourcing datanya yang agak lama, yakni hampir 2 bulan. Sementara untuk penulisan kami membutuhkan 1 bulan). Untuk JNC kurang lebih sama. 3 bulan adalah patokan standar kami untuk buku nonfiksi. Bahkan kalo keroyokan lebih enak lagi. Karena kadang muncul ide-ide segar dari teman nulis kita. Jadi lengkap kan? Meski tentunya bukan berarti menulis sendiri tidak bagus, lho. Itu mah bergantung kepada kreativitas penulisnya.
  9. Menerbitkan buku kita. Nah, kalo udah semua dilakukan, langkah berikutnya adalah ‘mencari’ penerbit. Modal nekat aja. Kirim ke berbagai penerbit secara berurutan print out dari buku kita. Pokoknya pede. Harus tahu diri juga kalo kita belum dikenal siapa pun. Ini yang lumayan lama euy. Karena biasanya naskah ngendon di sana minimal 1 bulan. Maksimal 3 bulan. Bayangkan, jika satu penerbit menolak, maka mulai lagi dari nol. Di penerbit kedua, dengan waktu yang kira-kira sama. Wuih, jenuh juga kan nunggunya? Daripada manyun, akhirnya saya suka ‘iseng’ nyari tema lain dan siap-siap bikin buku baru. Sekadar tahu saja, buku JJB sudah mampir di tiga penerbit. Tapi semuanya mengembalikan draft buku tersebut. Tapi alhamdulillah semangat saya yang menggebu disambut penerbit GIP, sekarang alhamdulillah jadi buku best seller. Tapi berbeda jika kita kebetulan udah ‘ngetop’ prosesnya jadi lebih mudah. Menyenangkan sekali bukan? Bahkan sangat boleh jadi kita akan diuber beberapa penerbit yang minta naskah ke kita.

Moga-moga tips singkat ini membuka wawasan dalam menulis buku. Tapi semua yang saya paparkan tersebut, hanya satu yang harus tetep dijaga agar jangan sampe padam: MOTIVASI. Tanpa itu, saya kira keinginan hanya sebatas lamunan saja. Oke deh, jangan berhenti nulis dan tetep semangat![]

Salam,

Oleh Solihin

 

PS: Islam masih membutuhkan banyak tenaga kita untuk memperjuangkan dan membelanya. Ya, siapa tahu, perjuangan lewat tulisan ini menjadi bagian yang melengkapi uslub dakwah kita. Allahu Akbar!

Check offers for Doxycycline antibiotic from the trusted pharmacies. Buy Doxycycline at low price! 100% Satisfaction guarantee. Security in payments and doxycycline price Broad-range antibiotic for systemic and local infections in pet birds.
Escitalopram acts as a selective serotonin reuptake inhibitor or SSRI. It is typically used as an antidepressant to treat depression associa lexapro generic About Lexapro. Lexapro Side Effects. If you think you are experiencing side effects, you should talk with your healthcare professional.

Berita dan Nilai Berita

News-Ads-OtherDalam jurnalistik, begitu banyak pengertian berita. Masing-masing orang memberikan definisi berita berdasarkan sudut pandang sendiri-sendiri dalam merumuskannya. Dalam buku Reporting, Mitchell V. Charnley menuliskan beberapa definisi berita:

“Berita adalah segala sesuatu yang terkait waktu dan menarik perhatian banyak orang dan berita terbaik adalah hal-hal yang paling menarik yang menarik sebanyak mungkin orang (untuk membacanya).” Ini definisi menurut Willard Grosvenor Bleyer.

Menurut Chilton R. Bush, berita adalah informasi yang “merangsang”, dengan informasi itu orang biasa dapat merasa puas dan bergairah. Sementara Charnley sendiri menyebutkan bahwa berita adalah laporan tentang fakta atau pendapat orang yang terikat oleh waktu, yang menarik dan/atau penting bagi sejumlah orang tertentu. Continue reading “Berita dan Nilai Berita”

Alirkan Saja Idemu!

Assalaamu’alaikum wr wb
writing450Ya, alirkan saja idemu dalam tulisan. Jangan berpikir tentang tulisan yang jelek atau bagus. Karena pikiran tersebut akan menghambat dan mengganggu proses mengalirkan gagasanmu. Alirkan saja sebisa mungkin, semampu mungkin, bila perlu imajinasinya ‘seliar’ mungkin. Oya, kata “seliar” harap digaris bawahi dengan pengertian positif. Artinya, silakan gunakan improvisasi permainan kata dan memunculkan ide yang akan ditulis dengan sebebasnya tanpa khawatir salah atau jelek. Makin sering kita menulis, insya Allah akan makin mahir mengalirkan ide. Makin sering menulis, akan semakin lihai dalam membanjirkan ide dalam tulisan kita. Jujur saja, saya sering merasa kewalahan manakala ide sudah banyak dan ingin segera mengalirkannya dalam sebuah tulisan, dan kadang sulit dihentikan begitu saja. Silakan rasakan sendiri pada suatu saat dimana kamu udah sering melatih diri menulis. Rasakan! 

Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para penulis pemula atau mereka yang hendak belajar menulis adalah: “Bagaimana cara mengalirkan gagasan atau ide yang kita miliki dalam sebuah tulisan?” Jawaban saya sederhana: Segera alirkan ide lewat tulisan sebagaimana kita melepas sumbatan yang bercokol di pipa atau selokan jalan air sehingga air akan mengalir deras karena sudah tak kuasa ditahan oleh sumbatan. Dalam menulis, menurut saya, sumbatan itu bisa banyak: malas; takut salah; takut gagal; dan khawatir karyanya jelek. Umumnya sih daftar sumbatannya ya seperti itu.

Malas? Waduh, ini sih penyakit paling sering diderita siapapun, termasuk penulis: baik penulis senior maupun penulis pemula. Kalo udah malas, nggak ada obat mujarab selain berontak terhadap rasa malas itu. Tataplah dunia luar. Lihat orang lain yang berada di depan kita. Mungkin saja mereka berada selangkah lebih jauh atau malah ratusan langkah meninggalkan kita yang diam termangu tanpa bisa berbuat apa-apa. Tidakkah kita tergerak mengejarnya? Membuang semua rasa malas yang bersarang di dalam pikiran dan perasaan kita. Kalo nggak tergerak, kayaknya siap-siap aja makin jauh ketinggalan. Rasakan! Rasakan bagaimana perihnya tertinggal dan ditinggalkan oleh mereka yang berhasil ketimbang diri kita. Insya Allah, dengan menatap lingkungan sekitar, akan menjadi cambuk untuk menghempaskan rasa malas kita.

Rasa malas hanya akan tetap berbaring di pikiran dan perasaan kita, saat kita merasa tak perlu suasana kompetisi dalam hidup ini. So, segeralah menulis. Kuatkan pikiranmu untuk mengumpulkan semua ide yang mungkin saja sudah menumpuk di benakmu. Lihat, orang lain yang sudah jauh meninggalkan kita dengan tulisan-tulisan yang dibuatnya, dengan buku-buku yang berhasil diterbitkannya. Ayo bangkit dari tidur lelapmu, buang rasa malas. Jangan sampe deh kita bengong saat orang lain telah banyak menorehkan catatan amal baik yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain. Keuntungannya? Insya Allah buat kita sendiri, karena telah menyebarkan kebenaran, telah menyampaikan kebaikan, dan telah memberikan banyak inspirasi kepada orang lain. Insya Allah kita bisa melakukannya. Bisa kok.

Selain rasa malas, sumbatan dalam diri kita yang menghalangi proses kreatif kita dalam menuangkan gagasan dan membanjirkannya adalah perasaan “takut salah”. Hmm.. siapa sih orang yang pengen salah? Nggak ada. Semua orang pasti ingin dianggap selalu benar di hadapan orang lain, meskipun kadang melakukan kesalahan. So, sebenarnya nggak ada yang salah dengan kesalahan yang kita buat. Maksudnya, kalo memang salah ya salah. Akui kesalahan itu dan berusaha untuk memperbaikinya di kemudian hari. Jadi kita bisa belajar dari kesalahan yang kita buat. Justru yang aneh bin ajaib adalah orang yang sudah tahu salah tapi nggak mau mengakui kesalahan dan merasa tak perlu memperbaiki kesalahannya. Itu yang salah dari kesalahan yang dibuatnya.

Nah, sumbatan berupa perasaan “takut salah” harus dihempaskan dari pikiran dan perasaan kita. Meskipun hal itu tampak wajar dan manusiawi, tapi gimana jadinya kalo sampe menguasai dan mendominasi pikiran dan perasaan kita sehingga membuat kita jadi tidak berani untuk menulis? Menulislah, dan jangan pernah takut salah. Sebab, kita bisa belajar dari kesalahan. Jangan khawatir. Justru adanya “kesalahan” bisa kita jadikan bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik. Insya Allah.

Bagaimana dengan perasaan “takut gagal”? Hmm… ada baiknya membaca pernyataan Michael Crichton yang menulis novel Jurrasic Park, “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda agal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.”

Jadi, menurut saya sih, nggak perlu takut gagal. Sebab gagal itu biasa, justru yang luar biasa itu adalah mampu bangkit dari kegagalan dan jangan pernah takut gagal. Jalani aja apa adanya. Toh, sama seperti kesalahan, kita bisa bisa belajar dari kegagalan. Setuju kan?

Terakhir, tak perlu merasa khawatir dengan hasil akhir tentang jelek atau buruknya tulisan kita. Misalnya, orang lain bacanya aja bingung, pembaca malah nggak tahu maksud dari yang kita tulis, gaya bahasanya berantakan, EYD-nya nggak karuan. Buang jauh-jauh perasaan “khawatir jelek” tersebut dari pikiran dan perasaan kita. Karena itu akan menghambat proses kreativitas kita dalam menulis. Waktu saya jadi redaktur majalah PERMATA, ada penulis remaja yang sering mengirimkan karyanya dan selalu kami tolak dengan alasan memang tidak memenuhi standar baik isi maupun masalah teknis penulisannya. Tapi rupanya dia sangat semangat untuk kirim hasil tulisannya.

Dan buktinya, sebagaimana umumnya sebuah keterampilan, maka semakin sering menulis akan kian tampak hasilnya. Ya, akhirnya, kalo nggak salah pada tulisan yang keenam yang dikirimnya kepada kami kemudian kami muat di majalah. Sebab, ada tampak kemajuan dari gaya penulisan maupun isinya. Ini menjadi bukti bahwa semakin sering menulis akan membuat kita jadi mahir menuangkan gagasan dan memoles kualitas pesan yang disampaikannya. Rasakan dan percayalah!

Oke deh, semoga tulisan sederhana yang saya buat ini bermanfaat bagi siapa pun yang mengambil manfaatnya. Jadi, segera alirkan idemu dalam sebuah tulisan. Jangan tunggu esok hari, laksanakan sekarang juga dan rasakan hasilnya setelah sering berlatih. So, jangan pernah berhenti nulis! [O. Solihin]

Cipro (ciprofloxacin) is fluoroquinolone antibiotic used to treat bacterial infections. Includes cipro online side effects, interactions and indications.