Resolusi 2012 dan Surat Al-‘Ashr

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

gambar dari: laksmindrafitria.wordpress.com

Apa yang biasa dilakukan orang-orang produktif di akhir tahun? Jawabannya, menggagas resolusi. Karena resolusi menjadi pilar untuk menentukan harapan demi harapan yang ingin diraih di tahun yang bakal dilalui. Harapan tersebut selalu berisi keinginan- keinginan untuk menempatkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Bolehkah menggagas resolusi dalam pandangan Islam? Jawabannya,  boleh. Karena Allah SWT. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Berdasarkan ayat tersebut, resolusi yang dianjurkan dalam agama Islam adalah resolusi yang arahnya mesti menapaki jalan terbaik menuju akhirat. Artinya, tak boleh ada kezhaliman yang terjadi dalam meraih harapan demi harapan yang ditargetkan. Semuanya harapan yang dilakukan semata-mata untuk makin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lalu, adakah konsep resolusi yang terbaik dalam Islam? Ada.

Adalah surat al-‘Ashr konsep terbaik untuk menjadi tolak ukur menggagas resolusi, karena di dalamnya tercakup peluang untuk meraih harapan-harapan yang positif, baik di dunia maupun di akhirat. Malah Imam Syafi’I, seperti yang dimaktubkan Muhammad Abduh di dalam Tafsir Juz ‘Ammanya, sangat tegas menyatakan keistimewaan suat al-‘Ashr, “Kalau seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kecuali surat ini kepada hamba-hambanya, niscaya sudah cukup bagi mereka.” Tentu saja ucapan Imam Syafi’i tersebut membuktikan bahwa surat al-‘Ashr memiliki rahasia yang luar biasa.
Makanya, bila ingin menggagas resolusi tahun 2012 layak merujuk ke surat al-‘Ashr. Karena di dalamnya terdapat empat kecerdasan yang siap membimbing siapa saja yang ingin menjadi orang yang berguna dan berbuah kesuksesan. Kecerdasan yang menjadi penyebab utama untuk bisa meraih apa yang diinginkan sesuai dengan perintah Allah SWT. karena tanpa keempat kecerdasaran tersebut akan sia-sia harapan yang ingin diraih dan bahkan minus nilai ibadah.

Dalam surat al-Ashr yang pertama, “Demi Masa”, Allah menjadikan masa sebagai landasan dasar. Meski ulama berbeda maksud dari kata al-‘Ashr, namun intinya Allah menganjurkan umat Muhammad dalam menjalani hidup harus memiliki kecerdasan intelegensi. Karena waktu melambangkan kecerdasan intelegensi. Sedangkan intelegensi sendiri berkembang seiring tingkat kemampuan mental (mental age) dan tingkat usia (chronological age).

Dalam menggagas resolusi hendaknya umat Islam tetap menjadikan peningkatan kecerdasan intelegensi menjadi bagian dari yang mesti diraih. Dengan memiliki kemampuan meningkatkan kecerdasan intelegensi mampu  membuktikan bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai ilmu, dan selalu siap untuk mengisi waktu demi waktu dengan belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Bila dikaji pada diri Rasulullah SAW., kecerdasan intelegensinya memang cukup terlihat. Kecerdesan intelegensi sangat sebanding dengan sifat fathonah (cerdas). Muhammad muda berbeda dengan remaja muda di sekitarnya saat itu. Jika remaja muda sibuk bermain, maka Muhammad muda menyibukkan diri dengan berdagang untuk meraih masa depan yang gemilang. Dia sibuk ikut berdagang dengan pamannya hingga mampu mendagangkan barang Khadijah binti Khuwailid. Kecerdasannya dalam berdagang juga tidak stagnan. Ia selalu cerdas dalam memasarkan. Ia menggunakan beragam metode untuk menarik minat konsumen. Pertanyaannya, bukankah kecerdasan Muhammad muda dalam berdagang adalah bagian dari kecerdesan intelegensi? Dengan kecerdasan intelegensi yang dimiliki, Muhammad muda bisa mendagangkan barang dagangan Khodijah dengan keuntungan yang mengejutkan.

Adapun ayat kedua surat al-Ashr, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian” menjadikannya sebagai landasan finansial. Karena di dalam ayat ini ada bicara rugi, maka lawannya adalah untung. Bila bicara untung-rugi tentu bicara masalah perdagangan. Karena itu, dalam menggagas resolusi harus ada nuanasa dagang. Namun bukan artinya harus ada keinginan menjadi pengusaha atau pedanag di tahun mendatang.

Tapi nuansa dagangnya yang harus dimiliki.Yaitu, adanya nilai-nilai dagang Rasulullah menghiasi kehidupan sehari-hari, seperti jujur (ash-shiddiq), terpercaya (al-Amiin), dan lain-lain. Harus mampu meraih harapan-harapan yang ingin diraih dengan konsep jujur dan terpercaya. Jika selama ini nuansa dagang Rasulullah tersebut belum terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari, maka saatnya di masa yang akan dilalui setahun ke depan nantinya bisa diterapkan.

Sedangkan ayat ketiga surat al-Ashr, “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” menunjukkan kecerdasan spiritual. Artinya,  dalam kehidupan ini mesti ditumbuhi kesadaran akan adanya Allah dan memaknai serta mewarnai kehidupan dengan perbuatan yang baik. Makanya, resolusi yang disusun dalam setahun ke depan harus mewujudkan kecerdasan spiritual.

Harus ada nilai-nilai yang meningkatkan kualitas iman dan menumbuhkan semangat beramal saleh. Pasalnya, Rasulullah SAW. bersabda, “Ada dua hal yang tak dapat sesuatu apa pun yang dapat mengungguli keduanya: beriman kepada Allah dan bermanfaat bagi kaum muslimin.”

Karena itu, peningkatan kualitas iman dan rasa solidaritas terhadap sesama muslim mesti menjadi prioritas harapan yang mesti dilakukan. Misalnya jika tahun 2011 shalat yang dilakukan hanya yang fardhu saja, maka pada tahun 2012 mesti lebih ditingkatkan lagi dengan shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tahajjud dan shalat-shalat sunnah lainnya. Demikian halnya dengan sedekah, maka pada tahun 2012 mesti lebih ditingkatkan lagi jumlahnya. Yakin bahwa Allah SWT. akan membalas uang yang dinafkahkan di jalan-Nya, dan menumbuhkan semangat untuk berbagi kepada sesama manusia.

Bila diperhatikan, kecerdasan spiritual yang terkandung dalam surat Al-‘Ashr ini juga mencakup sifat Rasulullah shiddiq (benar). Benar, bahwa apa yang dilakukan semata-mata karena Allah. Benar bahwa yang dilakukan semata-mata memberi manfaat bagi sesama. Hal ini senada dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Kandungan ayat terakhir surat al-‘Ashr,”Dan nasehat menasehati dalam kesabaran dan nasehat-menasehati dalam kebenaran,” menunjukkan kecerdasan emosional. Karena kesabaran dan kebenaran hanya bisa dicapai bila memiliki emosi yang positif. Ayat keempat surat Al-‘Ashr ini sangat berhubungan dengan sifat tablighnya Rasulullah SAW. Tabligh adalah kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan emosional. Sudah jamak didengar ihwal kesabaran Rasulullah SAW. yang luar biasa, baik dari sebelum diangkat statusnya menjadi nabi Allah hingga menduduki posisi sebagai Rasul Allah. Nabi Muhammad SAW. memang pribadi yang sangat sabar.

Karena itu, susunlah resolusi yang ingin dilalui di tahun 2012 dalam bingkaian surat al-‘Ashr. Di dalamnya harus ada pencapaian kecerdasan intelegensial, kecerdasan finansial, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional.

Sehingga, harapan demi harapan yang ditentukan tetap berada pada koridor yang telah ditetapkan Allah. Hidup penuh dengan ilmu, hubungan sosial dengan sesama manusia benar-benar bermutu, keimanan dan semangat beribadah menjadi nomor satu, dan tindakan yang dilakukan dengan penuh kejujuran tetap menjadikan hal yang tak mesti ditunggu-tunggu.

Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus  Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut

Mengapa banyak orang merasa berat dalam menulis?

Assalaamu’alaikum wr wb

Banyak orang merasa berat untuk memulai menulis. Tak sedikit dari mereka pada akhirnya memilih tidak menulis sama sekali. Sebagian kecil memilih meneruskan menulis meski ‘babak belur’ berjibaku melawan hambatan-hambatan menulis. Itu pun ada yang sukses melepas belenggu yang menghambatnya, namun tak sedikit yang menyerah di detik-detik menjelang akhir pertarungan. Melihat kenyataan ini, saya kadang bertanya: begitu beratkah menulis?

Saya memilih jawaban: tidak berat. Yang membuat berat adalah karena kita menganggapnya berat. Sulitkah menulis? Jawaban saya: tidak sulit. Yang membuat sulit adalah karena kita menganggapnya sulit. Jika pikiran dan perasaan kita sudah dipenuhi dengan kata berat dan sulit, maka yang hadir adalah BEBAN. Berbeda halnya ketika kita menganggapnya ringan dan mudah, insya Allah kita akan berusaha untuk membuktikannya dan sekuat tenaga mengupayakannya agar berhasil. Continue reading “Mengapa banyak orang merasa berat dalam menulis?”

Tentang Subyektif dan Obyektif

Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.

Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalisme–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu. Continue reading “Tentang Subyektif dan Obyektif”