Mengapa bingung menuliskan kalimat pertama?

Saya hampir selalu ditanya oleh murid-murid saya di kelas menulis kreatif  di beberapa lembaga (atau peserta kursus menulis online), dengan pertanyaan yang sama, “Saya bingung menulis kalimat pertama dalam tulisan, gimana caranya Pak?”

Meski tidak selalu menjawab dengan lafadz yang sama, tetapi inti dari solusi saya adalah sama: “Menulis kata pertama atau kalimat pertama boleh sembarang. Sesuka kita, selama masih nyambung dengan judul dan tentu saja isi tulisannya. Bebas saja tuliskan. Mau dimulai dari sapaan silakan, boleh dimulai dari kutipan seseorang atau kata permintaan dan kata tanya, tak dilarang juga jika dimulai dengan kalimat pertama dalam tulisan dengan cerita yang pernah kita alami. Bebas. Sebagaimana halnya ketika kita mau keluar rumah. Mau lewat pintu depan, mau via pintu samping atau pintu belakang, boleh juga melalui jendela kamar jika mau. Semuanya boleh. Silakan. Tak ada yang melarang. Intinya adalah keluar rumah. Begitu pun dengan menulis. Mulai dari kalimat pertama dari jalur mana saja, intinya adalah menulis ”

Pernah saya diketawain seorang murid saya sambil guyon, “dasar penulis bisa saja ngasih ilustrasi” Saya hanya tersenyum. Hmm… sebab memang menulis kata pertama sebenarnya tak ada aturan baku. Maka saya mengilustrasikan sebagaimana orang mau keluar rumah. Umumnya kan bebas. Wong dari rumahnya sendiri. Tanpa beban. Begitulah menulis, tulis dengan kalimat pertama apa pun selama itu nyambung. Tak perlu terbebani dengan perasaan khawatir salah atau kurang bagus. Ringan saja, sebagaimana mau keluar rumah. Hehehe…

Ya, menulis kata pertama dalam sebuah tulisan seringkali menjadi beban bagi para penulis pemula. Saya juga dahulu mengalami hal serupa. Macet di awal tulisan. Sibuk memikirkan kata pertama yang bagus dan enak dibaca. Pikiran kita hanya berputar-putar di situ. Tetapi karena jarang membaca, jarang membaca tulisan orang lain, dan tentu saja jarang melatih menulis, maka energi yang dihasilkan untuk berpikir tampak sia-sia karena tak jua mendapatkan si “kalimat pertama itu”.

Dari ilustrasi dalam jawaban saya di atas, bisa dipetakan contohnya sebagai berikut:

  1. Mulailah dari sapaan. Bisa ditulis sebagai berikut: (Sobat muda muslim, gimana kabar kamu semua? Semoga tetap sehat, tetap sabar, tetap istiqomah dalam Islam. Jumpa lagi dengan tulisan saya di blog ini.. dst.. dst.) Insya Allah selanjutnya akan mengalir deras.
  2. Bisa dimulai dengan kutipan. Contoh: (Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. bersabda: “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Aku adalah penyekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang beramal suatu amal di dalamnya ia mensekutukan kepada selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (Hadits ditakhrij oleh Muslim). Setelah kutipan salah satu hadist Qudsi ini, bisa dilanjut dengan menuliskan pembahasan yang kita ingin tulis tersebut. Insya Allah selanjutnya kita lancar. Oya, boleh juga menulis kutipan dari pernyataan teman, guru atau orang tua atau siapa saja. Misalnya: (“Kamu harus rajin belajar!” kata-kata itu masih selalu aku ingat. Pesan dari ibu yang senantiasa aku ingat.) Seterusnya, bisa dilanjut dengan kalimat lainnya yang insya Allah bisa lebih mengalir.
  3. Bisa dimulai dari pertanyaan. Misalnya: (Belum tahu cara memilih baju? Coba ikuti saran dari ahlinya.) Seterusnya bisa ditulis lebih detil setelah kata atau kalimat pertama tadi ditulis. Insya Allah akan lebih lancar lagi.
  4. Boleh dengan cerita? Silakan saja. Misalnya: (Hari ahad kemarin adalah pengalaman yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Bagaimana tidak, hari itu saya untuk pertama kalinya belajar mengendarai sepeda motor.) Setelah itu, insya Allah bisa dilanjut dengan tulisan yang lebih panjang lagi.

Baik, sebenarnya itu hanyalah contoh. Dan, sekadar ‘alat’ saja untuk memulai kalimat pertama dalam menulis. Artinya, masih banyak cara lain. Tetapi setidaknya empat poin tadi bisa membantu memudahkan untuk tak lagi bingung menulis kalimat pertama. Silakan divariasikan saja sesukanya, semaunya. Tentu, selama itu masih cocok dengan judul dan isi tulisannya. Untuk kian menghasilkan variasi dalam memulai kalimat pertama, biasakan membaca, mengamati, melatih kepekaan atas suatu fakta atau peristiwa. Sebab, insya Allah biasanya kita banyak mendapat inspirasi dari sana. Silakan dicoba ya!

Salam,

O. Solihin

Comments

  • saya setuju banget dengan mas solihin, masukannya sangat bermanfaat, untuk menulis jiwa kita harus bebas, semua kekhawatiran harus kita buang

    • Oya, yang dimaksud “bebas” adalah tanpa beban secara psikologis. Tetapi bagi seorang muslim, isi tulisannya tidak boleh bebas sesukanya, karena harus terikat dengan akidah dan syariat Islam.

  • sya perna mncba untuk mnulis di koran, tp saat mnulis banyak kendala,sperti saat mnulis sya meluangkan smua apa yang ada dlam pkiran sya, shingga kdang-kdang tidak ssuai dengan topik, dan terkadang ap yang mau sya tulis ssah untuk dituangkan meskipun ada dlam pikiran sya. sehingga sya jdi mlas untuk mnulis.

    bagaimana solusinya dengan masalah sya ini????

    • Kendala seperti itu hampir bisa dipastikan pernah dialami banyak orang. Masalah tsb terjadi biasanya karena: 1) Tidak memiliki bahan/data 2) Tidak diberikan urutan pembahasan (outline) 3) Jarang berlatih menulis

      Maka, Solusinya adalah: 1) Banyak membaca atau mendapatkan informasi apapun 2) Buatlah poin-poin penting yg ingin dibahas 3) teruslah berlatih menulis, insya Allah makin lama makin mahir,sebab menulis adalah bagian dari keterampilan.

      salam,
      O. Solihin

  • Terima kasih atas tips Kang Solihin…semoga saya bukan sekedar berkomentar dan memuji, tapi take action dengan memulai menulis…sukses selalu..

  • Saya kok kayaknya familier dg nama Anda, ya? Apakah dulu sering muncul di cybersastra?

Leave a Reply