Judul buku: Menantang Amerika; Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama | Penulis: Farid Wadjdi | Penerbit: Al Azhar Press, 2010 | Jumlah halaman: 261 hlm; 21 cm

Pilihan kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan rezim pemerintah Amerika adalah “Penjahat Dunia”, bukan “Polisi Dunia”. Ini dibuktikan karena nafsu menjajahnya yang tinggi dan sebagai pelanggar HAM di beberapa negara. Irak dan Afghanistan adalah contoh dua negara yang menjadi ladang peperangan sekaligus medan pelanggaran HAM oleh Amerika Serikat.

Bagi pemerintah Amerika kebijakan luar negerinya tetap sama: menjajah. Ketika berkuasanya George Bush yang menyulut api peperangan dengan negeri-negeri Islam setelah tragedi 11 September 2001, juga semasa presiden baru saat ini, Barrack Obama. Sudah, tak ada bedanya. Sebab, baik Bush maupun Obama, bukanlah penguasa tunggal. Ya, karena Amerika tak mungkin dipimpin oleh satu orang dan memiliki kekuasaan penuh. Tidak. Masih ada “bos-bos” yang memiliki pengaruh dan cukup kuat dalam mewujudkan tatanan dunia baru sesuai keinginan mereka.

Melihat sepak terjang Amerika Serikat selama ini, wajar jika ia menjadi musuh di mana-mana. Termasuk pada pegelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, setiap tim nasional Amerika berlaga selalu membuat repot pihak keamanan. Tempat yang dijadikan markas tim, stadion tempat bertanding, hingga jalan-jalan tertentu yang dilalui para suporter tim nasional Amerika harus steril dari orang asing sejauh 500 meter. Ketakutan yang sangat berlebih. Kabarnya, hal itu dilakukan karena adanya informasi dari badan intelijen mereka yang mengabarkan adanya ancaman yang ditujukan kepada Amerika. Padahal sebenarnya, ancaman itu diundang sendiri oleh pemerintah Amerika akibat aksi-aksi kejahatan mereka di berbagai negara, terutama di negeri-negeri muslim.

Amerika seperti sudah menjadi musuh bersama bagi semua negara yang merasa dirugikan oleh sikap dan kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis. Banyak negara, kelompok, dan termasuk individu yang benci Amerika. Kebencian itu disalurkan melalui beragam aksi. Pemboman di tempat-tempat strategis milik pemerintah Amerika atau tempat apapun yang ‘berlabel’ Amerika. Unjuk rasa menentang perang yang dikobarkan Amerika terjadi di mana-mana termasuk di dalam negeri mereka sendiri. Orasi dan tulisan tersebar luas di seantero dunia. Salah satunya, buku ini. Dengan ‘headline’ judul yang provokatif: “Menantang Amerika”, buku ini memang berisi banyak kritikan pedas terhadap kebijakan politik luar negeri Amerika yang imperialis.

Membaca buku ini, kita akan disajikan beragam fakta kejahatan Amerika. Sesuai dengan tagline-nya: ‘Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama’, buku ini lebih memfokuskan kebijakan Amerika di bawah Obama. Menguatkan argumentasi untuk menolak kebijakan-kebijakan Obama yang tetap merugikan umat Islam. Tak berbeda dengan era kepemimpinan Bush. Hanya saja menurut sebagian kalangan, Obama menggunakan soft power. Bukan hard power sebagaimana dilakukan Bush. Tapi nyatanya , Obama diam-diam menumpuk pasukannya di Afganistan untuk perang yang tak pernah dimengerti tujuannya oleh rakyatnya sendiri. Itu artinya, kebijakan Obama sama dalam imperialisme: hard power. Menggunakan kekerasan. Bahkan ketika Israel yang sudah nyata-nyata melanggar HAM, Obama bergeming dengan menutup mata dan telinganya dari aksi vulgar yang dipertontonkan Israel. Kejadian terbaru ketika kafilah relawan kemanusian bertajuk Freedom Flotilla ditembaki kapalnya oleh tentara Israel. Keadaan ini kian diperparah dengan pengkhianatan para pemimpin negeri-negeri Arab yang tak membalas kejahatan Israel. Mereka hanya mampu diam. Paling banter menyerukan kutukan. Basi dan memalukan!

Buku yang ditulis Farid Wadjdi, alumnus Hubungan Internasional FISIP Unpad ini terasa pas analisisnya. Didukung dengan fakta dan data yang berlimpah, menjadikan buku ini sebagai gudang fakta yang bisa dijadikan alternatif rujukan menghantam kebijakan Amerika. Analisis dan argumentasi yang ditulis juga membuat buku ini memiliki frame thingking yang jelas dalam memandang kebijakan imperialisme Amerika sebagai bagian dari ideologi kapitalisme yang dianutnya.

Dalam tiga bab yang dibaca dari daftar isinya, buku ini secara ‘ngebut’ tanpa jeda membongkar-menyingkap-menelanjangi kebijakan politik Amerika dan membandingkannya dengan Daulah Islam. Ya, terasa sedikit janggal mengapa tiba-tiba dimasukkan pembahasan mengenai Daulah Islam . Tapi setelah dibaca detil, memang sengaja penulisnya menyisipkan pembahasan Politik Luar Negeri Daulah Khilafah untuk memberikan gambaran yang sesungguhnya ketika Khilafah Islam berkuasa. Berbeda dengan politik luar negeri Amerika yang imperialis, politik luar negeri Daulah Khilafah justru menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (termasuk manusia). Jika negara kapitalis berperang untuk mengeruk dan mengeksploitasi kekayaan negeri yang diajajah, maka Daulah Khilafah justru memakmurkan negeri-negeri yang ditaklukan. Perang, bagi negara imperialis adalah bumi hangus, tapi bagi Daulah Khilafah perang adalah untuk memberikan kehidupan yang lebih layak. Hanya memusnahkan penghalang utama, bukan pembantaian.

Sayangnya, buku ini kurang terasa alur pembahasannya secara runut dari awal sampai akhir. Ini disebabkan karena isi buku ini merupakan kumpulan tulisan yang tentu saja dari mulai pemaparan, analisis, sampai kesimpulannya selesai dalam setiap tema tulisan. Di satu sisi memang memudahkan pengkajian jika pembaca lebih suka kecepatan dalam memahami maksud setiap tulisan. Tapi bagi yang ingin mengkaji secara sistematis, rasanya kurang terwakili dalam buku ini.

Namun demikian, buku ini tetap bisa menjadi alternatif bacaan bagi siapa yang ingin mendapatkan informasi seputar kebijakan politik luar negeri Amerika dan mengenal secara singkat kebijakan politik luar negeri Daulah Khilafah. Tambahannya, buku ini juga berisi hukum-hukum seputar menerima tamu penjajah. Ini tentu ada alasannya, buku ini menurut penerbitnya dirancang jika Obama jadi datang ke Indonesia. Sayangnya, sampai buku ini saya ulas, tak ada tanda-tanda Obama bakal datang. Tak jadi persoalan sebenarnya, karena yang terpenting secara kesuluruhan informasi di buku ini tetap penting untuk diketahui oleh siapa saja yang ingin mengambil manfaatnya.

Salam,
O. Solihin | Instagram @osolihin

Foto diambil dari sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *