Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi. Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.

Itu sebabnya, dalam dunia tulis-menulis–apalagi jurnalisme–seringkali teori nggak sama dengan pratiknya. Dalam menulis berita, apalagi itu adalah media asing yang punya kepentingan menyudutkan Islam, seringkali berita berubah jadi opini. Hampir semua berita yang disajikan sudah diseleksi dulu sebelum tayang untuk pembaca. Seluruh isi berita diedit oleh pihak berwenang sebuah penerbitan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari penerbitan tersebut. Jadi, akhirnya memang nggak ada yang obyektif jika itu berkaitan dengan ideologi tertentu.

Saya sampaikan di sini, berdasarkan pengalaman juga tentunya, bahwa tidak pernah ada yang namanya media massa yang obyektif dalam pemberitaan. Sebab, jika memang ada, semua pesan yang ada seharusnya menjadi menu berita sebuah media. Nyatanya? Nggak begitu. Semua sudah disaring, sampai-sampai sekadar surat pembaca pun itu akan ditampilkan setelah diseleksi di sana-sini, mungkin ditambahi ini dan itu oleh redaksinya.

Nggak usah bingung. Itu wajar saja kok. Selama saya bekerja di penerbitan Islam, memang selalu harus ada keberpihakan kepada kepada sesuatu, dalam hal ini berpihak kepada kebenaran. Cenderung membela Islam. Kamu kudu tahu, mana mungkin kan kita yang menggembar-gemborkan kampanye antipacaran, tapi tiba-tiba memasukkan tulisan yang justru propaganda pacaran? Itu sebabnya, memang tidak ada media yang obyektif. Tidak satu pun di dunia ini. Semua berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah dibuatnya.

Oke, berangkat dari kenyataan ini, apa yang bisa kita lakukan ketika akan menulis? Di sinilah kamu kudu belajar juga tentang kesadaran politis. Unsur pendukung kesadaran politik itu adalah pandangannya mondial alias mengglobal, dari kelas RT sampe kelas dunia. Kedua, kudu dilakukan dengan zawiyatun khashah alias sudut pandang yang khas. Nah, itu artinya kamu kudu bertindak subjektif dan objektif. Kok bisa? Iya, itu artinya, setiap kamu menyeleksi berita atau akan membuat tulisan, pastikan kamu udah bertindak objektif sekaligus subjektif. Masih bingung?

Begini penjelasannya. Cara paling mudah untuk melakukan ini adalah saat kamu membaca, menyaring berita, mengumpulkan data dan fakta, pastikan itu objektif. Artinya, memang frakta dan data itu benar adanya. Bukan hasil karangan, tebakan, atau prasangka lainnya dari pikiranmu. Semua data itu kudu didapatkan dengan hasil seobjektif mungkin. Bahkan bila perlu dari sekian banyak sumber. Nah, kalo kebetulan ada perbedaan dalam penyajian fakta itu, pastikan kamu kroscek dengan mengandalkan subjektifitas kamu sebagai seorang muslim. Ya, sudut pandang Islam itu harus dipakai dalam bersikap. Jadi, standar untuk melakukan penilaian itu adalah sudut pandang Islam. Bukan yang lain. Di sinilah mengapa kita harus subjektif. Iya dong, masak kita mau percaya kepada kabar dari selain Islam? Tul nggak?

Bagaimana kalo berita dari kalangan Islam justru khawatirnya malah yang salah? Oke, kita bisa menilai suatu informasi atau data atau fakta itu salah atau benar adalah dari tingkat kenyataan di lapangan dengan membandingkan hasil investigasi dari orang lain untuk masalah yang sama itu. Sebab, meski mebela Islam, bukan berarti kita mengabaikan aspek profesionalisme. Nggak lah. Kita justru kudu bisa membangun keberpihakan kepada Islam itu dengan cara mengkoordinasikan antara fanatisme, militansi, dan juga profesionalisme. Artinya, kita nggak mudah terkecoh oleh kabar dari pihak-pihak yang menyudutkan Islam, tapi juga terhindar dari taklid buta terhadap informasi yang muncul. Jadi, kudu main cantik memang.

Tugas kita dalam menulis berita tentang Islam dan kaum muslimin, tentunya kita pastikan sumbernya dari kalangan kita sendiri. Boleh juga dari kalangan yang lain, asal benar-benar sudah terbukti kenyataannya. Sekali lagi, ini bukan menafikan peran media asing dalam memberikan informasi kepada kita, tapi kita sekadar bersikap waspada. Jangan sampe kita malah menjadi mesin penghancur bagi Islam itu sendiri.

Nah, inilah yang saya maksud mengapa kita harus pandai dalam menilai suatu informasi atau data. Salah-salah, malah bikin berabe di kemudian hari. Jadi, carilah data sesusai prosedur dalam pencarian data dan informasi sumber berita pada umumnya, tapi sudut pandang penilaian tetep dengan kerangka berpikir Islam. Objektif tapi sekaligus subjektif. Kita males tuh dikibulin terus dengan pemberitaan aneh bin ajaib media asing yang nggak suka dengan kebangkitan Islam.

Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya. Dan kerap menutup-nutupi berita. Misalkan, satu orang Palestina yang menyerang tentara Yahudi Israel, tapi aneh bin ajaib yang muncul di koran adalah tentara Israel diserbu teroris. Dan sebaliknya ketika ratusan tentara Israel membantai penduduk Palestina, yang muncul dalam berita adalah, upaya pembelaan diri tentara Israel. Wah, ini kan nggak benar. Maka, akhirnya kamu memang kudu obyektif juga. Begitu, Bro!

Contoh lain masalah ini adalah kasus terorisme selama ini. Terakhir Amerika sepertinya berusaha mengakhiri war on terrorism-nya dengan episode berita tewasnya Osama bin Ladin oleh pasukan US Navy Seal pada 1 Mei 2011. Begitu banyak opini dilancarkan. Beritanya malah nyaris tidak ada. Pembaca dan pemirsa disuguhi berita yang sudah diselipi dengan opini.  Tujuannya, Amerika berharap bisa mendapat simpati publik dunia atas keberhasilannya membunuh musuhnya. Opini yang kadung berkembang seputar terorisme adalah mencitraburukkan Islam dan kaum muslimin.  Itu sebabnya, amat wajar jika kita menilai dan menulis sebuah berita atau tulisan dengan sudut pandang Islam. Bukan yang lain. But, tetep menjaga profesionalisme dalam mencari berita dengan mengedepankan keobyektifan terhadap masalah yang dibidik. Oke deh, paham kan?

Jadi, mulai sekarang menulislah dengan data selengkap-lengkapnya dan seakurat-akuratnya. Tapi ingat, hasil akhir dan arah berita or tulisan itu adalah dengan sudut pandang Islam. Kudu ada keberpihakan kepada Islam yang tinggi. Memang harusnya begitu kok. Oke deh, selamat mempraktikkan dan tetap semangat wahai para calon jurnalis muslim pembela Islam!

salam,

O. Solihin | Instagram @osolihin

Foto diambil dari sini

1 thought on “Tentang Subyektif dan Obyektif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *