Oleh: Mia Yunita [Banjarmasin | http://diarypuan.wordpress.com]

Kau lihat langit malam?

malam-gelap-jiwaKelam bila tanpa benderang bintang. Hampa tanpa gumpalan awan. Tapi ia mampu ceria bila gemerlap bintang menghiasinya. Dan dimanakah penyangga malam itu? Capai aku berkelana… capai aku memikirkan… seindah apa tonggak yang mampu menyangga malam? Tahukah kau jawabnya?

Kudongakkan kepalaku kembali ke langit malam. Suara jengkerik terdengar saling bersahutan. Ritme kumandang insekta malam tak pernah henti. Dan langit tampak megah terbentang. Ibarat permadani hitam. Digelayuti bintang-gemintang dan rembulan. Ia tak runtuh… Tak runtuh!

Ia hanya takluk saat mentari terbit di ufuk timur. Permadani hitam itu perlahan tergulung saat secarik garis fajar menyembul. Ia perlahan mengendap dari kentalnya kelam malam begitu azan salat subuh berkumandang. Ia perlahan lenyap dari hadapanku. Tapi ia tak runtuh. Wahai zat yang Maha Agung… Kupikir hanya diri-Mu lah yang mampu menyangga langit malam itu. Dengan seluruh keindahan nokturnalnya. Dan aku pun mendapati kelemahanku.

Ah… andai saja tidak hanya aku yang menikmati indahnya gelapnya malam. Indahnya ritme nokturnal yang bersahutan. Andai saja tidak hanya aku yang menikmati endapan sisa kelam hingga berganti jingga. Mungkin ‘kan temukan diri-Mu yang tak pernah berlibur dalam kehidupan yang Kau ciptakan. Dan melucuti seluruh rasa enggan untuk tunduk dalam kuasa-Mu. Lalu memadu-madan gerak, hati dan pikir agar seirama dengan Sang Penguasa penyangga malam.

Ia tertidur lelap. Ia tak terusik karena sedari tadi aku hanya terdiam menikmati malam dari balik jendela yang terbuka lebar. Sesekali aku mengernyitkan dahi dan menghembuskan nafas melalui hidungku kuat-kuat. Ah, bau ini! Andai saja kau tidak kutemukan tergeletak di depan pintu rumahku. Dan malammu selalu berhias aroma ini. Air setan penuh najis dan memabukkan. Maras aku malihat…

Abahmu sudah lelah menjemputmu berkali-kali dari rumahku.

Umamu kian ringkih dengan penyakitnya.

Kau pikir kau adalah penyangga malam? Dan kau pikir aku adalah penyangga hidupmu?

Sampai kapan harus selalu begini?

Kusut masai rambutmu. Untung kau tidak apa-apa di jalan. Tak ada asusila menerkammu di sudut malam. Tak pernahkah kau berpikir seandainya langit runtuh menimpamu? Dan kau tinggalkan dunia tanpa pesan? Mungkin yang tersisa hanya aromamu ini.

Ketika kau lelah hidup. Dan kau bunuh rasa itu dengan mencintai malam. Tapi kau cintai dengan cara yang salah! Lihat! Aku sangat ingin mengajakmu untuk menari bersama malam. Bersama renungi di manakah penyangga malam itu… dan aku hanya ingin kita mampu mencintai hal yang sama. Cinta kepada yang memiliki malam. Cinta kepada yang mampu menopang malam. Cinta kepada yang tak membuat malam ini runtuh hingga menimpamu.

Menari bersama malam. Ya, aku akan mengajarimu. Aku akan mengajakmu untuk tenggelam dan hanyut di dalamnya. Tapi dengar pesanku : “Jangan pernah datangi tempat itu lagi!”

Tempat itu bukan untuk menari bersama malam. Kau pikir, kepenatan kerja… kekecewaan hidup… akan musnah bila kau ada di dalamnya? Tidak. Ia hanya musnah sekejap lalu perlahan memupuk pembangkangan yang kian bertambah-tambah kepada Penguasa penyangga malam.

Ah…. sudah jam 5 subuh. Ritme para nokturnal masih terdengar indah. Mereka ingin khatamkan di penghujung subuh. Alunan ayat-ayat Sang Penguasa penyangga malam pun lamat-lamat terdengar dilantunkan oleh para pecinta-Nya. Kukhatamkan dulu kontemplasiku. Perlahan kuruntuhkan pulas tidurmu. Tapi kau tetap bergeming.

Baiklah… Semoga pagimu indah. Dan berjanjilah untuk menari bersama malam, denganku. Mulai malam ini. Bersama nikmati ritme nokturnal. Mengendus lalu menghirup dalam-dalam aroma khas malam. Lalu berpetualang demi buktikan bahwa penyangga malam ada di tangan-Nya.

[kamar kontemplasi, 17’03’09]

Keterangan :

-Maras aku melihat : Kasihan aku melihat

-Uma/Abah : Ibu/ Ayah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *