cimg0287-300x225

Kenangan itu masih membasahi otakku
Lihat! Banjir resah menggunung di keramaian tanda tanya

Duduklah…
Kuberbagi harta kenangan yang kini mungkin tak lagi berharga
Duduklah…
Mungkin lisan luguku mampu membungkam tawamu yang selugu lisan dan otakku
Duduklah…

Berjalanlah di liku-liku koridor kenanganku yang tak lurus tak membujur kaku
Dulu ia begitu rimbun
Sejuk
Ia mengintip di sela-sela kaki bumi
Tak ada yang mengetahui

Mari genggam erat tanganku, peluh dingin membasahi telapak tanganku
Tak enak bukan?
Ya, kau merasa tak enak juga?
Syukurlah, akhirnya mampu membungkam tawamu yang selugu lisan dan otakku
Mereka menawarku dengan in God we trust
Ia mengintip di sela-sela kaki bumi
Aku masih tak mengetahui

Bukit pasir itu makin bertambah-tambah
Gurun…gurun…gurun…
Aku tertimbun!
in God we trust

Kenangan ini tak kering…
Lekas! Kau angkat kaki dari sisiku!
Ia masih banyak mengintip di sela-sela kaki bumi
Lekas!!!
Aku kian tertimbun kini
Hingga hanya kedua lenganku menggapai-gapai
Menggelepar..
Menyesal terkubur dalam buaian in God we trust
(untuk emas hitam kami di Borneo tercinta; 6.12.08)

(pernah dipublikasikan di blog Apresiasipuisi.multiply.com dengan nama pena Nita Rasyid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *