surga1Suami-istri itu tergopoh menyambut Farah di rumah besar itu. Wajah-wajah mereka menampakkan hal yang sama dengan perasaan Farah, bingung dan khawatir.

“Mbak Farah! Syukur, syukur, Mbak ke sini!” Pekik Mbok Sarmi.

Farah tidak berhenti. Kekhawatiran Mbok Sarmi dan Pak Udi mendorongnya untuk terus melajukan langkah ke lantai dua, ke kamar Kayla.

“Non Kayla sudah sejak empat hari yang lalu tidak keluar kamar,” info Mbok Sarmi terus mengiringi langkah Farah menuju kamar Kayla.

“Baru semalam Non Kayla sempat keluar. Pas Non Valens ke sini!”

Tambahan informasi dari Pak Udi mendadak membuat Farah berhenti. Ada kilatan kemarahan di matanya.

“Valens?! Kenapa Pak Udi ijinin dia masuk?! Pak Udi tahu, kan, Valens itu …”

“Tukang mabok! Ratu ganja! Itu, kan, yang pengen elo bilang?!”

Kayla berteriak bak halilintar dari ambang pintu kamarnya. Dia menampakkan wajahnya. Kemarahan dalam wajahnya yang lusuh. Farah segera menghampirinya. Kayla berusaha menghindarinya. Pintu akan segera ditutupnya.

Farah berlari menuju pintu … Brak! Ia mendorongnya kuat-kuat sebelum Kayla berhasil menguncinya rapat.

“Valens emang enggak kaya’ elo, Far! Dia enggak sesuci elo! Tapi, dia selalu ada buat gua! Elo tahu enggak?! Elo tahu enggaaaak?!”

Farah terpaku di ambang pintu, terdiam membiarkan Kayla berteriak di tengah suasana kapal pecah yang diciptakannya. Air bening menggenangi kelopak mata Farah perlahan. Kebenaran menerpa keegoan.

“Elo enggak bisa lakuin itu buat gua! Ngapain elo cape-cape ke sini?! Ngapain?!”

Kayla berteriak lebih dahsyat di tengah isaknya yang semakin kerap. Farah berjalan perlahan, mencoba menyentuhnya. Namun, sebuah asbak yang dilayangkan menghentikan usahanya sesaat. Beruntung Farah dapat menghindar dengan sigap.

“Ngapaiiiin?!”

Kayla melemparkan bantal, guling, semua peralatan melukis ke hadapan Farah. Satu demi satu wajah dan tubuh menerima hantaman. Farah merelakan. Air mata pun dihempaskan.

“Maafin aku, Kay.”

Akhirnya suara itu keluar dari mulut Farah setelah sekian menit tercekat. Kayla terduduk di lantai. Kini hanya isak yang bisa merefleksikan beban di hidupnya yang telah sarat.

Farah mendekatinya sangat pelan. Tangannya menjulur menuju wajah Kayla. Kayla segera menepisnya.

“Pergi!”

Farah semakin dekat. Jarak dirinya dan Kayla semakin rapat.

“Pergiiii!” jerit Kayla.

Farah meraih bahunya, merangkul Kayla dengan segenap rasa sayang dan … penyesalan. Kayla meronta. Farah menguatkan dekapannya.

“Aku enggak akan pergi! Aku kesini buat kamu !” Nyaring suara Farah berusaha menutupi pilu.

“Pergiii! Pergiii!” Kayla masih meronta, lalu perlahan melemah.

“Aku minta maaf, Kay. Maaf,” ucap Farah dalam tangis.

Kepala Kayla seketika rebah di pelukannya. Farah membiarkan Kayla menangis di atas kerudung birunya.

“Elo enggak harus minta maaf. Elo enggak butuh itu dari gua.”

Suara Kayla terdengar sendu, parau dalam kelabu. Farah semakin terisak. Sendu ucapan Kayla bagai sambaran petir buat dirinya.

“Kamu salah, Kay. Aku butuhin itu dari kamu. Supaya kita bisa sharing cerita lagi.”

Farah menyusutkan air mata yang seakan merajah wajah. Kayla tersenyum lemah menatap ruang kosong di alam pikirnya. Kepalanya masih rebah. Tangannya perlahan membalas pelukan, lemah.

“Gua pengen elo cerita tentang surga, Far.”

Farah memejamkan mata menata gejolak di hati. Kemudian sesungging senyum Farah berikan sambil bibirnya bergerak berbisik.

“Insya Allah. Aku janji, Kay.”

Kayla terpejam. Ada senyuman.

Farah melepaskan pelukan. Tubuh Kayla lunglai ke bumi.

“Kay!”

Farah terhenyak. Kepanikan segera menyergap. Ketidakrelaan atas sebuah kehilangan memampukan Farah berteriak membelah udara.

“Mbok Sarmiii! Pak Udiii! Toloooong!”

oooOooo

Di Lebaran hari kedua Farah mengunjungi makam. Dia beranjak berdiri usai berdoa dengan khidmat. Ada basah di pipi.

“Terimakasih elo udah mau nemenin gua ke sini.”

Farah tersenyum haru. Dia menoleh ke arah Kayla yang masih berdiri di sisinya.

“Aku memang seharusnya dari dulu nemenin kamu. Aku yang sering alpa. Maaf.”

Kayla tersenyum hangat. Dia menggenggam jemari Farah erat.

“Gua pengen surga itu juga buat Papa dan Mama, dan gua pengen elo yang kasih tahu, gua mesti ke jalan yang mana.”

Kayla menatap Farah dalam-dalam. Farah tersenyum membendung keharuan. Keduanya berpelukan dalam cuatan kasih yang sempat lama terkebiri. Seiring Farah menggemakan suara hati.

“Tangis ini biarkanlah. Karena ia yang akan merajut hubungan menjadi lebih indah. Akan kutunjukkan surga, Sahabat, agar kita bisa saling menjaga di bawah naungan cinta-Nya.”

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *