Oleh: Arum Suprihatin

Di atas sungai Seine yang mengalir tenang, waktu seakan berhenti berputar. Di dalamnya, aku adalah seorang musafir yang tersesat dan kehabisan bekal. Tenggelam dalam kepedihan di tengah keindahan Paris yang menakjubkan. Dengan menara Eiffel yang angkuh menjulang dan gemerlap cahaya lampu di sepanjang L’avenue des Champs-Elysees. Aku rindu maman dan grand-pere.

Namaku Renaud Durand. Lahir dua puluh tiga tahun yang lalu di Toulouse, ibukota Midi-Pyrenees, sebuah daerah di sebelah selatan Prancis. Ibuku adalah seorang wanita yang cantik dan lembut. Ayahku? Aku tak pemah mengenalnya. Melihat fotonya pun belum pernah. Kenangan tentang ayahku ada di benak seorang balita yang bertanya tentang ayah kepada ibunya. Maman, ibuku, menyentuh lembut hidungku sambil berkata:

“Papa sudah pergi, mignon. Dia tak kan kembali. Tak akan pernah.”

Ya. Papaku pergi dan tak kan kembali. Jawaban maman membuatku sedih dan berhenti bertanya tentang papa.

Pada umur tujuh tahun, maman membawaku pulang ke Toulouse. Waktu itu ia kehabisan uang. Karirnya sebagai model di Paris mulai surut. Aku suka Toulouse. Suasananya lebih tenang dan iklim mediterane yang kering dan panas membuat udara di Toulouse lebih hangat dari Paris. Dan yang paling penting di sana ada grand-pere, kakekku.

Grand-pere adalah idolaku, pengganti ayah yang tak pernah kukenal. Sifat-sifatnya hampir sama dengan maman, lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi wajah mereka tidak mirip. Wajah maman oval dengan hidung lancip dan rambut pirang. Sementara wajah grand-pere persegi dengan hidung agak besar dan rambut coklat tersaput uban keperakan. Hanya mata mereka saja yang sama, besar berwama biru terang.

Kurasa maman lebih mirip grand-mere, nenekku. Aku pernah melihatnya sekali, dalam sebuah acara keluarga beberapa tahun sebelumnya. Dari situ aku tahu kalau maman dan grand-mere tidak akur. Maman membenci ibunya yang telah meninggalkan dia dan ayahnya. Ketika grand-mere pergi, maman baru berumur enam belas tahun.

Sekarang grand-mere tinggal di Marseille bersama kekasih yang dinikahinya. Kakekku pun pernah menikah sekali lagi, tetapi kemudian bercerai.

Dulu grand-pere adalah seorang pegawai negeri. Setelah pensiun ia membuka sebuah toko roti di dekat rumah untuk mengisi hari tuanya. Aku sering menemani kakek melayani para pelanggan.

Setiap hari minggu, grand-pere mengajakku pergi ke sebuah gereja kecil di dekat rumah. Gereja itu sepi sekali. Hanya orang-orang tua dan anak-anak kecil saja yang rajin berkunjung. Di sini orang-orang muda adalah makhluk langka.

Di situlah pertama kali aku diperkenalkan kepada Tuhan. Maman tak pemah mengajariku hal semacam itu. Aku juga belajar di sekolah negeri yang menerapkan sistem sekuler. Sistem ini memisahkan moral dari agama. Agama dan moral adalah dua hal yang berbeda.

Di gereja itu aku melihat patung tuhan di pajang. Temyata tuhan adalah seorang lelaki yang meninggal di kayu salib. Kata kakek, tuhan mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia. Tetapi aku tidak mengerti. Barangkali karena aku masih terlalu kecil.

Pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku ketika itu adalah:

“Siapa Tuhan itu?”

“Tuhan adalah yang menciptakan semuanya. Kau, aku dan ibumu.”

“Apakah Dia juga yang menciptakan ayahku?”

“Ya, tentu saja.”

“Dapatkah Tuhan membuat ayahku kembali?”

Grand-pere menghela nafas. Latu menatapku dengan wajah sedih.

“Berdoalah, mon petit. Tuhan akan mengabulkan doa kita.”

Sejak itu grand-pere menjadi lebih sayang padaku. Seakan ia ingin menggantikan figur ayah yang kurindukan. Aku pun jadi sering berdoa. Meminta apa saja yang kuinginkan. Aku tahu grand-pere tidak bohong. Tuhan akan mengabulkan doaku.

Sementara itu, maman mulai menjalani hidupnya yang baru. Setelah beberapa minggu sibuk mencari pekerjaan, akhimya ia diterima bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel di pusat kota.

Maman kembali sibuk seperti dulu. Untunglah sekarang ada grand-pere yang selalu menemaniku. la suka mengajakku jalan-jalan naik metro. Kami melihat hotel-hotel tua, mengunjungi museum, mengagumi gereja Saint Semin yang megah atau menikmati keindahan sungai Garonne.

Berbeda sekali dengan ketika kami masih tinggal di Paris dulu. Maman memang menyayangiku, namun nyaris tak punya waktu untukku. Aku lebih sering dititipkan pada orang tuanya Jean Paul, teman sekelasku yang kebetulan tinggal di apartemen yang sama. Di rumah pun kami jarang bertemu karena ia selalu pergi.

Bahkan pada hari libur pun maman tetap sibuk. Kali ini bukan mencari uang, tapi mengurusi Louis, pacamya yang photographer itu. Kadang-kadang aku menangis karena jengkel. Maman lebih sayang Louis dari pada aku. Maman hanya diam sambil mengecup mataku yang basah.

Hingga suatu hari ada kabar gembira. Maman dan Louis putus. Maman sedih dan menangis. Kemudian ia mulai minum-minum. Bersamaan dengan itu pekerjaannya sebagai model mulai berantakan. Suatu pagi di musim panas ia berkata:

“Ayo kita ke rumah grand-pere!”

ooOoo

Tiga tahun kemudian maman menikah dengan anak pemilik hotel tempat ia bekerja. Namanya Jerome Durand, putera seorang konglomerat pemilik hotel, bank, dan beberapa perusahaan industri teknologi di Toulouse. Jerome adalah seorang pria tampan berusia tiga puluh tahun. Maman sungguh beruntung.

Hanya grand-pere yang tampak sedih. Mungkin karena ia tahu babwa sebentar lagi kami akan berpisah.

Akhimya aku dan maman memang pindah ke rumah Jerome yang mewah di pinggiran kota. Aku senang sekali. Semua yang kubutuhkan ada di sini. Ada taman bunga yang indah, kamar-kamar yang besar dan nyarnan, perabotan lux, kolam renang yang bagus, dan dapur yang rapi dan bersih.

Jerome juga melengkapi kamarku dengan berbagai jenis alat elektronik yang mahal dan canggih. Ada TV, komputer, radio-tape, DVD, dan berbagai macam gim yang paling baru.

“Bagaimana Renaud? Kamu suka?”

“Oui! Merci, Jerome!” aku memeluk Jerome kegirangan. Semuanya seperti mimpi.

“Cheri, sekarang dia tak akan mau belajar,” keluh maman pada suami barunya.

Tahun-tahun pertama kehidupan kami adalah hari-hari yang penuh suka cita. Apalagi jika liburan tiba. Kami mengunjungi berbagai tempat yang belum pernah kulihat.

Aku senang pergi ke Quebec, tempat asal keluarga Jerome. Di sana banyak danau besar dan hutan berwama indah pada musim semi.

Jerome juga sering mengajak kami ke Monaco, yang jaraknya hanya lima belas menit dari Cote d’ Azure. Di sana Jerome biasa menghabiskan uangnya di casino-casino di Monte Carlo.

Aku pun melupakan grand-pere yang sendiri dan kesepian di rumahnya.

Memasuki tahun ketiga pemikahan mereka, segalanya mulai berubah. Maman dan Jerome mulai seeing berdebat kecil-kecilan. Masalah sepele bisa menimbulkan keributan. Mula-mula mereka saling berteriak. Kemudian tamparan-tamparan mulai singgah di pipi maman. la membalas dengan lemparan gelas champagne atau benda-benda keramik di dekatnya.

Aku bersembunyi di dalam kamarku, menangis dan berdoa: “Ya Tuhan, hentikanlah pertengkaran ini.”

Namun teriakan mereka semakin keras. Rumah yang besar itu tiba-tiba menjadi sempit dan pengap. Selanjutnya, jika mereka sedang bertengkar, aku menyelinap diam-diam dan pergi naik metro ke rumah grand-pere.

Aku tak pemah menceritakan masalah yang sebenamya pada grand-pere.

Tu me manque, grand-pere,” hanya itu alasanku ketika ia bertanya tentang kedatanganku yang mendadak.

Aku sendiri tidak tahu persis apa masalah mereka sebenarnya. Kadang Jerome marah jika maman terlalu sering keluar rumah dan memboroskan uang. Kadang ia cemburu ketika maman berbicara terlalu lama dengan Oom Patrick, sahabatnya.

Maman pun tak mau kalah. Ia balas menuduh Jerome terlalu pencemburu, egois dan mulai pelit dalam memberinya uang.

Kurasa kedua-duanya benar. Namun aku tak menyangka bahwa masalah itu semakin lama semakin serius.

Maman mulai tidak betah di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di cafe atau di diskotik bersama teman-temannya. Kadang-kadang sampai pagi. Sementara itu, Jerome jarang pulang ke rumah. Jika pulang sering kali ia dalam keadaan mabuk.

Ulang tahunku yang ke empat belas dirayakan dengan kejutan yang menyedihkan. Mereka bertengkar lagi. Jerome menuduh maman telah berselingkuh. Ia memaki maman dengan kasar: “Putain!

Lalu la mulai menampar, memukul, mencekik dan menendang. Maman tak mampu melawan. Aku berusaha menolongnya dengan menggigit lengan Jerome. Temyata itu membuatnya semakin kalap.

Kali ini giliranku yang menjadi sasaran amukannya. Pukulan-pukulannya pun mendarat di kepala, mata, hidung, dan bibirku. Sayup-sayup kudengar maman berteriak-teriak seperti orang gila. Kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.

Dua hari lamanya aku berbaring di rumah sakit. Semua itu hanya karena aku ingin menolong maman. Kalau tidak, barangkali sekarang ia sudah mati.

“Tinggalkan dia, maman!” pintaku sambil meringis memegangi kepalaku yang dibalut verban.

“Lupakan saja. Sekarang yang terpenting adalah kau, mignon. Yang terpenting adalah kamu bisa mendapatkan semua yang kau inginkan,“ jawabnya datar.

Yang kuinginkan adalah Jerome berhenti memukulimu, sahutku dalam hati.

Saat itu aku tak melihat kakekku. Ke mana grand-pere?

Kabar buruk itu akhirnya harus kuterima. Grand-pere telah tiada. Setelah mendengar cerita maman, ia terkena serangan jantung. Maka lengkaplah sudah kepedihanku.

Di dekat makam grand-pere aku berdiri lemah sambil terisak. Kini aku benar-benar kehilangan kakek sekaligus ayah yang menyayangiku. Kali ini aku tidak berdoa, tetapi memprotes Tuhan karena telah mengambil orang yang salah. Seharusnya Jerome yang mati! Saat itu aku benar-benar marah. Aku merasa Tuhan bersikap tidak adil pada kami.

Temyata Jerome adalah seorang laki-laki frustasi yang hidup di bawah bayangbayang kesuksesan keluarganya. Sejak peristiwa itu, ia sering menyakitiku. Aku kerap pergi ke sekolah dengan bilur-bilur di punggungku. Aku bertahan demi maman. Dan maman bertahan demi uang Jerome! Menurut maman, uang bisa membeli segalanya. Termasuk kebahagiaan. Nyatanya, kami tidak bahagia.

Pada usia tujuh belas tahun, barulah aku berani melawan. Ketika itu ia baru saja membuat memar di seputar mata maman.

“Assez!” teriakku sambil melayangkan tinju yang paling keras ke rahangnya yang halus. Ia terjerambab dan menghantam karpet dengan keras.

Sejak itu, ia merasa bahwa aku sudah terlalu besar untuk dijadikan alat latihan tinjunya. Ia mengusirku dari rumah. Aku pergi. Dan maman menangis. Itulah terakhir kali aku melihatnya. Aku sudah muak dengan semuanya. Aku meninggalkan rumah dengan perasaan sedih. Di kota ini aku merasa sendiri dan kesepian.

ooOoo

Kepergian itu mengantarkanku kepada Julien Delvaux, seorang perancang muda yang baru saja menyelesaikan sekolahnya. Aku mengenalnya di sebuah restauran tempat aku bekerja sebagai pelayan. Julien adalah seorang pria yang ramah dan simpatik. Ia juga seorang pendengar yang baik. Kami pun bersahabat. Ia menampung semua keluh-kesah dan cerita sedihku. Bukan hanya itu, ia juga memberi masukan, nasihat dan pertolongan ketika aku membutuhkan.

“C’est la vie,” begitu katanya selalu.

“Kamu harus kuat menghadapi hidup ini.”

Temyata ia seorang gay. Dan ia menyukaiku! Tentu saja aku merasa risih dan canggung ketika mengetahui hal itu. Aku adalah seorang heteroseksual. Julien bukanlah orang yang kuharapkan.

Mula-mula aku menganggapnya sebagai teman baik. Lama-kelamaan hal itu berubah. Kesabaran dan kehangatan Julien telah merebut hatiku. Kekecewaan dan luka hatiku membuatku perlahan-lahan jatuh dan masuk ke dalam dunianya. Dari Julien-lah untuk pertama kali, aku benar-benar merasakan bagaimana dicintai dan mencintai.

Jadilah kami sepasang kekasih yang tak terpisahkan satu sama lain. Aku juga tak pernah menyangka ini akan terjadi padaku. Tetapi aku merasa nyaman dan bahagia bersamanya. Kadang-kadang perasaan bersalah menghantuiku. Namun dapat kuatasi. Saat itu Tuhan entah di mana. Julien sendiri tidak punya Tuhan.

“Tuhan mana yang mau menerima keberadaan seorang gay sepertiku?” begitu dalihnya.

“Hidup tanpa Tuhan membuatku merasa lebih kuat dan tidak membutuhkan siapapun,” tambahnya mantap.

Ketika mendapat pekerjaan di rumah mode Channel, Julien membawaku hijrah ke Paris. Ia juga mendorongku untuk belajar di sebuah sekolah mode paling elit di Paris atas biayanya. Kesibukanku sebagai mahasiswa membuatku semakin melupakan ibuku nun jauh di Toulouse.

Penduduk Paris tidak pernah menganggap kami sebagai pasangan yang rendah. Kehidupan di sana sangat modern dan bebas. Aku pun larut dalam arus kehidupan Paris yang membius. Kehangatan kafe-kafe teras dengan obrolan-obrolan akrabnya, restauran-restauran dan diskotik yang bergairah pada malam hari, dan kehidupan cintaku dengan Julien.

Hingga suatu hari, seusai liburan musim dingin, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Aku sering merasa cepat lelah dan berat badanku dalam dua bulan terakhir terus merosot. Aku juga sangat mudah terserang penyakit-penyakit ringan seperti influenza. Dan batukku tak kunjung sembuh.

Ketakutan mulai menyergapku. Aku berharap semua ini tidak benar. Aku hanya terlalu sibuk dan kecapekan.

Dengan hati berdebar, kuperiksakan darahku ke laboratorium. Dan hasilnya? HIV positif. Saat itu juga seluruh dunia runtuh dan menimpa kepalaku. Semua menjadi gelap. Tempatku berpijak seolah bergoyang.

Dengan perasaan remuk kutinggalkan rumah sakit. Entah apa yang harus kukatakan pada Julien. Kususuri Paris dengan langkah gontai. Tak tahu ke mana akan pergi dan tak tahu kepada siapa harus kernbali.

Ketika sampai di sungai Seine yang tenang, langkahku terhenti. Pertanyaan demi peitanyaan terus bermunculan di kepalaku. Siapa ayahku? Kenapa grand-pere yang baik begitu cepat pergi? Kenapa maman yang cantik selalu menderita? Kenapa Jerome yang kaya tidak bahagia? Dan kenapa aku harus mati muda? Jiwaku yang goyah berusaha mencari pegangan. Namun tak kudapati.

Lalu kenangan hidupku pun bermunculan. Semua diputar secara kilas balik seperti sebuah film. Perjalanan hidupku seolah telah diatur, diset dan dimainkan. Di dalamnya aku hanyalah seorang aktor. Lalu siapa sebenarnya sang sutradara? Tuhan? Siapakah Tuhan itu? Bayangan grand-pere menari di kepalaku.

“Tuhan adalah yang menciptakan semuanya. Kau, aku dan ibumu.”

Bagi kakekku, tuhan adalah lelaki yang mati di kayu salib. Bagi maman, tuhan adalah uang Jerome. Bagi Julien, tuhan adalah kesenangan dan kebebasan. Dan bagiku? Kadang-kadang aku masih mencari-cariNya. Bukan di gereja seperti kakekku, tetapi di buku-buku filsafat karya flisuf-filsuf besar Prancis. Atau dari ajaran Budha yang luhur. Semua tak mampu menjawab kekeringan jiwaku.

Jauh di lubuk hatiku yang paling bersih, aku percaya bahwa ada tangan kokoh yang begitu kuat. KekuasaanNya absolut dan tak bisa dilawan. Ia sangat perkasa. Dialah Tuhan. Hanya saja aku tak mengenalnya. Cuma sebatas itu yang berhasil kuserap dari buku-bukunya Montesqieu, Rousseau atau Voltaire. Hiruk pikuk kehidupan membuatku tak sempat mencariNya lebih jauh lagi.

Dan kini, di atas sungai Seine yang indah, bateau mouche membawaku membelah Paris, menyusuri kehidupan. Melewati gereja Notre-Dame, museum Louvre dengan piramidnya yang terkenal, lalu terus dan terus…

Tak terasa air mataku mengalir. Aku seperti seorang musafir yang tersesat. Terdampar di kota Paris yang gemerlapan. Kini aku harus menghadapi takdir yang tak mampu kulawan. Kesedihan mencabik-cabikku. Aku akan mati secara pelan-pelan dan menyakitkan. Kuharap aku sempat mengenal siapa yang memberiku hidup sebelum ini.

“Anda menangis, Tuan?” sebuah suara lembut menyentak lamunanku. Seorang gadis mengulurkan selembar tissu padaku. Sejak tadi ia berdiri di depanku, memperhatikanku.

Merci,” sahutku sambil menerima tissu itu. Ia tersenyum dan mengangguk sambil membetulkan letak kerudungnya. Wajahnya khas Timur Tengah. Barangkali ia warga Prancis keturunan Aljazair atau Maroko. Seorang gadis muslim pemberani di tengah belantara Paris yang xenophobe.

(Buat Ayah dan Mama: terima kasih telah menjagaku)

Catatan:

L’avenue des Champs-Elysees : nama sebuah jalan protokol yang terkenal di Paris

Metro : kereta cepat bawah tanah

Mignon : manis

Mon petit : sayangku

Merci : terima kasih

Oui : ya

Cheri : sayang

Quebec : sebuah daerah di Kanada

Monaco : kerajaan terkecil dan tertua di Eropa

Cote d’ Azure : daerah wisata terkenal di Prancis

Marseille : kota pelabuhan di Prancis

Tu me manque : aku rindu padamu

Putain : perempuan jalang

Assez : cukup

C’est la vie : begitulah kehidupan

Montesqieu, Rousseau, Voltaire: filsuf-filsuf besar Prancis

Bateau mouche: kapal pesiar untuk wisatawan di sungai Seine

Xenophobe : rasa benci atau tidak suka kepada orang asing

[Source: Majalah Permata, edisi 07/Tahun VII/Nopember 2002]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *